![]() |
| Suasana saat Mahalul Qiyam di Pondok Pesantren Putri At Taqwa Nagrak, Gunung Putri pada Jum'at, 14 Agustus malam. | Dokpri/Fatah. |
Jumat malam kemarin menjadi salah satu malam yang begitu berkesan dalam catatan perjalananku. Bagaimana tidak? Ini adalah malam kedua berturut-turut bagiku hadir di majelis sholawat yang dipimpin langsung oleh sang idola, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf. Jika malam sebelumnya, aku hadir di Pondok Daarul Mughni Al-Maaliki Klapanunggal, Bogor, maka malam Sabtu ini tujuanku bergeser ke Pondok Pesantren Putri At-Taqwa yang berlokasi di Nagrak, Kecamatan Gunung Putri.
Secara jarak, lokasi majelis malam ini relatif lebih dekat dari tempat tinggalku dibandingkan malam sebelumnya. Kalau menuju Klapanunggal kemarin aku membutuhkan waktu sekitar setengah jam, kali ini cukup dengan 15 menit perjalanan saja aku sudah bisa sampai di area pesantren. Namun, perbedaan yang paling terasa bukan sekadar soal jarak tempuh, melainkan sosok yang mendampingi perjalananku.
Jika di malam Jumat kemarin aku berangkat sendirian menembus dinginnya jalanan, maka malam ini aku berkesempatan ditemani oleh salah satu orang yang aku sayang. Dia adalah Muhammad Azzam Ismail, salah satu cucu dari Abah Guruku, Allahyarham Abah Ustadz Mahfudzin bin H. Alif Yunus — sosok yang sudah aku anggap seperti orang tua sendiri dalam perjalanan hidup dan spiritualku. Di dalam keluarga Abah, beliau biasa disapa dengan panggilan Kak Azzam atau Kakak. Panggilan sayang itu pun ikut aku gunakan agar hubungan kami terasa makin akrab, dekat, dan hangat.
![]() |
| Swafoto bareng Kakak (Azzam). Btw, itu kayu bendera ya yang dia pegang, ada kok fotonya yang bagus, cuma pingin up yang ini aja hehe. |
Cerita perjalanan malam ini sebenarnya bermula menjelang waktu Maghrib. Saat itu, Umi (istri dari almarhum Abah) tiba-tiba bertanya kepadaku, apakah malam ini aku berniat untuk hadir kembali di majelisnya Habib Syech. Umi menyampaikan bahwa jika aku berangkat, Kak Azzam ingin ikut serta. Tentu saja tanpa ragu aku langsung mengiyakannya. Lagipula, jauh-jauh hari aku memang sudah berniat kuat untuk hadir kembali.
Mendengar Kak Azzam mau menemani, rasa bahagiaku makin membuncah. Kehadirannya bukan cuma sekadar teman di perjalanan, tetapi juga menjadi momen indah untuk merekatkan tali silaturahmi dan keakraban di antara kami berdua, sehingga kami bisa makin tidak canggung untuk bersahabat layaknya saudara.
Kalau bicara soal hal yang paling seru sekaligus menantang dari perjalanan malam ini, jawabannya adalah kondisi fisik. Bayangkan saja, malam sebelumnya aku baru pulang dari majelis Habib Syech di Klapanunggal sekitar jam setengah sebelas malam. Sampai di rumah pun aku tidak bisa langsung tidur nyenyak; baru sekitar jam satu dini hari mataku benar-benar terpejam. Tak lama berselang, sekitar jam tiga atau setengah empat subuh, aku sudah harus terbangun kembali tanpa sempat menyambung tidur.
Begitu selesai menunaikan salat Subuh, aku melanjutkan agenda dengan berziarah ke makam almarhum Abah Guru. Sepulang dari ziarah, tugas rutin harian sudah menanti: mengantar Kakak dan Adik ke sekolah, lalu meluncur untuk bekerja seharian penuh. Tanpa jeda istirahat yang cukup, badan ini sebenarnya sudah berteriak lelah.
Namun anehnya, tidak ada rasa kantuk yang menggelayuti. Sama sekali tidak ada rasa terbebani di dalam hati. Yang ada justru rasa menggebu-gebu dan ketidaksabaran untuk segera melangkahkan kaki dan duduk di tengah-tengah majelis ilmu dan sholawat.
Karena ini adalah pengalaman pertamaku berkunjung ke Pondok Pesantren Putri At-Taqwa di Nagrak, aku belum benar-benar paham seluk-beluk lokasinya. Seperti biasa, aplikasi peta daring di ponsel menjadi andalan utama.
Setibanya di sekitar lokasi, aku sempat salah jalan saat mencari tempat parkir kendaraan. Aku mengira bangunan pondok berada jauh masuk ke dalam gang kecil. Alhasil, aku sempat berputar-putar melewati jalan-jalan sempit di pemukiman warga yang ternyata mengelilingi area luar pesantren.
Namun, salah jalan itu justru membawa berkah tersendiri. Aku sangat bersyukur karena akhirnya bisa mendapatkan tempat parkir gratis yang sangat aman di area masjid pesantren.
Awalnya aku sempat ragu dan mengira kompleks pesantren ini tidak terlalu luas, tetapi ternyata perkiraanku keliru. Pekarangan dan areanya sangat memadai untuk menampung lautan jamaah yang membludak. Kita semua tahu betul bagaimana antusiasme masyarakat jika sudah mendengar nama Habib Syech yang bersholawat; tempat seluas apa pun pasti akan dipadati. Nilai tambah lain yang membuatku makin kagum adalah penataan majelisnya yang sangat rapi, di mana jamaah laki-laki dan perempuan benar-benar dipisahkan secara tertib.
Mumpung sedang jalan berdua dengan Kak Azzam, aku pun tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen kebersamaan ini. Aku sempat mengajaknya swafoto di tengah keramaian majelis. Pun demikian saat kita hendak meninggalkan lokasi. Saat melintas di depan masjid pesantren, mataku tertuju pada logo tulisan Arab Pondok Pesantren At-Taqwa yang tampak anggun. Aku pun meminta tolong Kak Azzam untuk memfoto diriku di depan logo tersebut.
Pas Kak Azzam sudah siap memegang ponsel dan bersiap mengambil gambar, tiba-tiba ada seorang bapak-bapak jamaah yang menghampiri kami. Dengan ramah beliau menawarkan diri, "Sini tak fotokan, biar sekalian foto berdua, fotonya barengan," demikian ujar bapak yang tak sempat aku tanyakan namanya - menawarkan diri.
![]() |
| Hasil jepretan foto bersama kakak |
Kami pun tertawa kecil dan menyambut baik tawaran ramah tersebut. Tapi belakangan kami baru tahu, ternyata si Bapak menawarkan bantuan sekalian ada "maksudnya" — rupanya beliau juga minta tolong dibantu fotokan balik!
Dari obrolan singkat itu, terungkap kalau si Bapak datang jauh-jauh dari Jakarta sengaja hadir di majelis ini untuk menyambung tali silaturahim, sekaligus bernostalgia karena anaknya merupakan salah satu alumni dari pesantren ini. Kejadian kecil ini bikin suasana makin hangat; majelis seperti inilah yang selalu mempertemukan orang-orang baik dari berbagai tempat.
Sama seperti malam sebelumnya, meskipun aku dan Kak Azzam tidak datang dari awal acara, Alhamdulillah kami masih mendapatkan tempat duduk yang cukup nyaman. Yah, walau tidak persis berada di depan panggung utama, posisinya masih terbilang cukup dekat untuk menikmati suasana majelis. Para jamaah yang hadir malam itu terasa begitu ramah dan tertib. Suasana majelis relatif tenang dan tidak bising oleh obrolan yang tidak perlu.
Memang, di antara ribuan orang yang hadir, masih saja ada satu atau dua oknum yang kurang memperhatikan adab dengan merokok di tengah jalannya majelis. Terhadap hal ini, tentu kita tidak perlu mengutuk; cukuplah kita doakan di dalam hati agar Allah SWT senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya untuk mereka, dan juga untuk kita semua agar selalu dijaga dalam kebaikan.
Momen puncaknya tiba saat lantunan sholawat mulai mengudara. Bagian yang paling sukses membuat dadaku bergetar, merinding, dan menghadirkan rasa rindu yang membuncah masih tetap pada saat Mahalul Qiyam. Apalagi ketika bait-bait Marhaban Ya Marhaban hingga Thola'al Badru 'Alayna dilantunkan secara bersahut-sahutan oleh ribuan manusia. Gema dan getaran energinya sungguh tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Sementara untuk deretan qasidah favorit yang paling menyentuh hati malam itu, pilihanku masih jatuh pada qasidah Ahmad Ya Habibi, Kisah Sang Rasul, dan Ya Rasulullah Salamun 'Alaik. Setiap kali syair-syair itu terdengar, rasanya ada kehangatan luar biasa yang menyiram jiwa yang dahaga.
Rangkaian acara akhirnya selesai menjelang jam setengah sebelas malam. Saat melangkah keluar dari area pesantren untuk perjalanan pulang, jujur saja rasanya hati ini menjadi sangat lapang. Rasa lelah fisik yang menggayut sejak pagi mendadak hilang tanpa bekas, bahkan rasa kantuk pun sirna begitu saja.
Namun, ada satu hal yang tidak bisa kubendung: air mata. Air mata itu mampir lagi di sudut mataku, menetes atas nama rindu yang teramat sangat. Rindu yang masih dialamatkan pada sosok yang sama — sosok Abah Guru yang teladannya selalu membimbing langkahku. Kehadiran cucu beliau di sampingku sepanjang malam seolah menjadi penawar sekaligus penguat rasa rindu tersebut.
Malam itu aku memutuskan untuk tidur lebih awal begitu sampai di rumah. Bukan karena lelah, melainkan karena aku harus menyiapkan energi untuk malam esoknya. Ya, malam Ahad nanti aku sudah terjadwal untuk kembali "begadang" dalam kebaikan, menghadiri undangan peringatan Maulid Nabi dari salah satu murid terbaik almarhum Abah di Majelis Taklim Baitul Hidayah, yang berlokasi di Kampung Bantar Kuning, Desa Nameng, Kecamatan Cariu.
Dua malam berturut-turut berada di majelis sholawat Habib Syech — dari Klapanunggal hingga ke Nagrak, Gunung Putri — telah menjadi cas energi spiritual yang teramat berharga. Perjalanan ini mengajarkanku bahwa lelahnya fisik tidak akan pernah sanggup mengalahkan nikmatnya rasa cinta dan rindu yang dihadirkan dalam majelis-majelis kebaikan.








