Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Monday, August 17, 2026

Merawat Rindu di Bantar Kuning: Momen Maulid Pertama Tanpa Abah

 

Dokpri/Fatah

     Malam Ahad lalu, sebuah niat lama akhirnya tertunai. Kampung Bantar Kuning, Desa Nameng, Kecamatan Cariu, selalu punya tempat tersendiri di dalam dada. Di sanalah berdiri Majelis Ta’lim Baitul Hidayah, sebuah tempat yang menjadi saksi bisu betapa eratnya ikatan batin dan mahabbah antara seorang murid dan gurunya.

Sebenarnya, majelis di sana menggelar pengajian hampir setiap malam. Namun karena keterikatan jam kerja, aku biasanya hanya bisa ikut hadir di jadwal malam Ahad atau saat libur bekerja. Secara kebetulan, jadwal rutinan malam Ahad di rumah Abah sedang libur pekan ini — karena di rumah Abah pengajian memang diadakan dua pekan sekali.

Aku memang sudah berencana ingin berkunjung ke Cariu pekan ini. Dan, di pertengahan pekan, sekitar malam Rabu atau Kamis, Pak Obay menelepon. Beliau mengundang kami (aku dan putra Abah) secara khusus untuk hadir karena Majelis Baitul Hidayah hendak menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam (SAW). Undangan itu seperti gayung bersambut; tanpa pikir panjang, aku mengiyakan untuk berangkat.

Awalnya, kami berencana berangkat menggunakan dua sepeda motor untuk empat orang: aku, Pak Makmun (kakanda dari almarhum Abah), Bang Farid (putra kedua Abah), serta Bang Nouval (keponakan Abah). Namun hingga menit-menit terakhir menjelang keberangkatan, Bang Nouval belum juga tiba di rumah karena terjebak kemacetan lalu lintas. Akhirnya, agar tidak terlalu larut, kami memutuskan berangkat terlebih dahulu berempat bersama Kak Azzam, cucunda dari Abahku. Karena ada satu porsi motor yang kosong, Kak Azzam yang ingin ikut pun kami ajak, sementara Bang Nouval menyusul dari belakang.

Beberapa menit menjelang azan Maghrib, roda motor kami mulai berputar membelah jalan. Seperti yang sudah diduga, perjalanan malam minggu memang selalu menyajikan ujian kesabaran. Ada tiga titik kemacetan parah yang memaksa kami ekstra hati-hati: Jalan Raya Wanaherang menuju arah pasar, kawasan Cileungsi, hingga sepanjang Jalan Jonggol–Cariu. Lalu lintas padat merayap oleh deretan kendaraan warga, anak-anak muda yang hendak menikmati malam akhir pekan, serta arus pekerja yang baru pulang.

Beruntung, cuaca malam itu sangat bersahabat. Walau sinar rembulan dan gemerlap bintang tak begitu nampak di langit malam, udaranya terasa sejuk menyegarkan — bukan jenis dingin yang membuat tubuh menggigil atau mata mengantuk. Tidak ada tanda-tanda kabut maupun tumpahan hujan, maklum saja, kawasan ini memang sudah sekitar dua bulan tidak diguyur hujan.

Sejujurnya, ini adalah perjalanan keempat atau kelima kalinya aku menuju Cariu tanpa kehadiran sosok Abah, Allahyarham Abah Ustadz Mahfudzin bin H. Alif Yunus. Langkah kaki ini perlahan mulai belajar terbiasa. Perasaan sedih di dalam dada sebenarnya sudah sedikit melandai dibanding hari-hari pertama kepergian beliau. Namun, karena malam ini adalah acara Maulid — sebuah Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) — gelombang nostalgia dan kenangan bersama Abah mendadak berembus kencang, memenuhi seluruh ruang di kepala.

Dulu, setiap kali ada acara peringatan Maulid Nabi di tempat-tempat jauh seperti ini, kami selalu berangkat berombongan naik mobil bersama keluarga besar Abah. Umi dan anggota keluarga yang lain biasanya ikut serta, mengisi sepanjang perjalanan dengan kehangatan, canda tawa, dan perbincangan hangat. Mengingat kembali memori perjalanan masa lalu itu benar-benar mengusik hati. Sepanjang jalan menuju Bantar Kuning, berkali-kali aku harus menguatkan diri dan menahan air mata agar tidak menetes. Meski kadang, pertahanan itu jebol juga dan beberapa bulir air mata lolos membasahi pipi di balik kaca helm yang kukenakan.


Senyum hangat di Majelis Baitul Hidayah

Sesampainya di lokasi, kehangatan pimpinan majelis langsung menyambut kami. Pak Obay — begitu kami biasa memanggil beliau — adalah salah satu murid terbaik dan jamaah kesayangan almarhum Abah. Di mata Abah, Majelis Ta'lim Baitul Hidayah memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Hal itu terbukti dari betapa riang dan bahagianya Abah setiap kali hendak hadir ke sana. Bayangkan saja, dalam satu pekan, Abah bisa dua hingga empat kali berkunjung ke Cariu hanya untuk menghadiri pengajian rutinan di majelisnya Pak Obay. Sewaktu masih sehat, semangat beliau begitu membara. Bahkan saat kondisi fisiknya mulai menurun dan sakit-sakitan pun, Abah masih mengusahakan hadir satu hingga dua kali dalam sepekan.

Sikap dan penerimaan Pak Obay malam itu sama sekali tidak berubah dibanding saat Abah masih ada. Beliau tetap sosok yang santun, hangat, dan sangat memuliakan tamu. Bahkan menurut sudut pandangku, rasa perhatian dan antusiasme Pak Obay terhadap kami justru bertambah — seolah-olah beliau sedang menjaga sanad kasih sayang yang ditinggalkan oleh gurunya kepada kami.

Malam semakin larut, dan rangkaian acara dimulai. Aku, Bang Farid, dan Bang Nouval (yang akhirnya tiba menyusul) diajak duduk di atas panggung utama bersama Pak Obay, para ustadz, Pak Haji, serta para tokoh jamaah Majelis Ta'lim Baitul Hidayah. Kami bertugas membaca kitab rawi maulid secara bergiliran.

Saat mengambil tempat duduk, dadaku mendadak berdesir hebat. Posisi dudukku malam itu benar-benar persis seperti acara maulid besar yang kami hadiri sekitar bulan November atau Desember tahun lalu — acara PHBI besar terakhir yang kami hadiri bersama-sama sebelum Abah wafat. Kala itu, panggungnya sama, sound system besarnya sama, dan suasana bahagianya pun sama. Bedanya, saat itu Abah duduk tak jauh dariku, hanya berjarak sekitar tiga atau empat jamaah saja dari posisiku.

Bayangan sosok Abah malam itu mendadak melintas begitu terang di ingatan. Aku teringat jelas bagaimana senyum beliau kala mengenakan gamis berwarna hijau sage, peci putih yang bersahaja, serta sorban merah maroon yang tersampir di bahunya. Kala itu, Abah memegang mikrofon dan menyenandungkan salah satu qasidah penuh nasihat dengan suaranya yang khas dan menyejukkan:


“Di malam ini kita berkumpul, panjatkan doa juga tawasul...
Ikut ajaran Nabi dan Rasul, semoga hajat kita dikobul...
Janganlah lupa baca sholawat, Nabi wasiat kepada Umat...
Agar selamat dan turun rahmat, dihari nanti dapat syafaat...
Berbaju koko warnanya cokelat, menghadap kiblat ketika sholat...
Waktu badanmu sehat dan kuat, jangan dipakai untuk maksiat..."


Bait-bait syair itu seperti bergema kembali di telingaku malam itu. Rasa rindu yang menumpuk membuat kepalaku tertunduk dalam-dalam. Buih air mata merembes perlahan, tak sanggup lagi kutahan. Apalagi malam ini, Bang Farid yang memimpin pembacaan, membuat kemiripan nada dan suasana itu semakin melemparkan ingatanku pada sosok beliau.

Ketika giliran pembacaan rawi sampai padaku, jari-jemariku memegang kertas dan mikrofon dengan gemetar. Aku berjuang setengah mati menahan napas dan menata emosi agar suaraku tidak pecah oleh tangisan di atas panggung. Aku ingin tetap tegar di hadapan para jamaah.

Puncak emosi itu akhirnya pecah saat momen Mahalul Qiyam — saat seluruh jamaah berdiri memperagakan penghormatan atas kelahiran Sang Nabi. Di tengah gema shalawat dan gemuruh suara jamaah yang memenuhi ruang majelis, air mataku menetes tanpa bisa dibendung lagi. Dalam berdiriku yang hening di tengah keramaian, kusebut nama Abah di dalam hati. Kutitipkan doa-doa terbaik untuk almarhum Abah, untuk kedua orang tuaku, untuk keselamatan diriku, serta untuk keberkahan bagi seluruh jamaah yang hadir malam itu.

Selesai rangkaian acara formal, suasana berubah menjadi sangat hangat dan cair. Kami menikmati momen ramah tamah bersama Pak Obay dan para pengurus majelis. Hidangan sederhana khas majelis disantap bersama, diiringi perbincangan ringan yang diselingi kenangan manis tentang almarhum Abah. Mengenang Abah bersama orang-orang yang juga mencintainya ternyata menjadi obat pelipur lara yang begitu menenangkan.

Perjalanan pulang menembus dinginnya malam menuju rumah terasa jauh lebih ringan. Rasa sesak dan air mata yang jatuh di Bantar Kuning tadi tidak meninggalkan rasa sakit, melainkan menyisakan kedamaian dan keikhlasan yang lapang di dalam dada.

Kehadiran kami malam itu menyadarkanku pada satu hal: fisiknya memang telah berpulang ke hadirat Allah SWT, namun ilmu, kasih sayang, kebaikan, dan jejak langkah Abah tidak pernah benar-benar pergi. Semua itu akan terus hidup dan abadi di dalam Sanubari murid-muridnya, di majelis-majelis ilmu yang pernah beliau singgahi, serta dalam setiap lantunan shalawat yang terus kita gemakan.


Baca juga:

Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Segelas Kopi dan Jejak Langkah Murobbi

Ilustrasi didesain oleh AI-GMN Tak ada satu hari pun melintas tanpa gerimis bening di pipi Menetes pelan membasahi sajadah rindu yang sunyi ...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive