Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Friday, August 14, 2026

Saban Jumat Menjadi Duka: Tiga Bulan Setelah Segelas Kopi Terakhir Abah

Temaram di bawah cahaya rembulan, di makam Allahyarham Abah Ustadz Mahfudzin bin H Alif Yunus - Sang Kekasih Hati, Penuntun Jiwa. | Dokpri, Agustus 2026.



Jumat selalu punya aroma yang khas. Bagi sebagian orang, ia adalah wangi peci yang dianginkan di ambang jendela, aroma minyak wangi non-alkohol yang diusap ke telapak tangan, atau gemerisik sarung yang dikibas sebelum berangkat ke masjid. Namun, sejak tiga bulan yang lalu, Jumat bagiku punya rasa yang berbeda. Ada getir yang tertinggal di dasar tenggorokan, ada rindu yang tiba-tiba meluap tanpa permisi. Saban Jumat kini menjelma menjadi hari-hari di mana kenangan tentang Abah — murobbi dan pembimbing jiwaku — datang paling riuh.

Padahal, rasanya baru kemarin. Ya, sungguh berasa baru kemarin malam Senin itu terjadi.

Malam itu, angin dingin berembus pelan. Abah duduk di sudut ruangan yang teduh, tempat yang biasa beliau gunakan untuk menerima tetamu atau sekadar beristirahat seusai beraktivitas maupun majelisan. Dengan senyumnya yang khas — senyum yang selalu sanggup meredakan kegelisahan siapa pun yang melihatnya; terutama bagi diriku — beliau menyuguhkan segelas kopi hitam tanpa gula padaku. Kopi yang pekat, pahit, namun selalu terasa hangat karena disajikan oleh tangan seorang guru yang penuh keberkahan.

"Kopi yang pahit itu mengajarkan kita untuk jujur pada rasa. Hidup pun begitu, tak perlu dipaksakan manis jika memang sedang ditempa prihatin. Yang penting hatinya tetap tenang."

— Anonim


Sebelumnya, beliau memintaku membelikan sekoteng hangat. Jujur, mendengar kalimat itu, hatiku membuncah, riang gembira. Bagaimana tidak, sangat jarang beliau meminta sesuatu padaku, jadi saat beliau meminta hal itu, aku sangat senang melakukannya. Kami pun duduk tak berjauhan. Di antara kepulan uap sekoteng dan aroma jahe yang menyengat halus, kami menikmati malam dengan perbincangan santai.

Tidak ada bahasan yang berat atau menggurui. Abah bercerita tentang beberapa niat dan rencana beliau ke depan. Rencana-rencana mulia yang semuanya berpusat pada satu hal: menggapai ridha Allah dan cinta Rasullullah.

Aku mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir beliau dengan takzim. Dalam hatiku saat itu, aku membatin betapa beruntungnya aku memiliki seorang murobbi yang tak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menuntun lewat keteladanan hidup. Aku membayangkan masa depan yang masih panjang, di mana aku bisa terus berjalan di belakang beliau, menimba samudra kearifan yang tak pernah kering.

Namun, manusia hanya mampu merajai angan, sementara takdir sepenuhnya milik Sang Pencipta. Siapa yang mengira, malam Senin yang hangat dan penuh cinta itu ternyata menjadi helaan napas kebersamaan kami yang terakhir?

Tiga bulan. Waktu ternyata berjalan begitu cepat tanpa kompromi. Sudah sembilan puluh satu hari berlalu sejak beliau memenuhi panggilan-Nya kembali ke haribaannya. Tiga bulan yang terasa seperti satu kejapan mata, namun juga terasa bagai perjalanan ribuan mil yang melelahkan karena tak ada lagi tempat bersandar.

Setiap kali hari Jumat tiba, kenangan itu kembali memukul dada. Kenapa harus Jumat? Mungkin, karena di hari yang mulia itulah beliau berpulang, meninggalkan ruang hampa yang hingga kini tak mampu diisi oleh siapa pun. Setiap mendengarkan azan Jumat berkumandang, ingatan tentang senyum beliau, nasihat-nasihatnya, hingga suara khas beliau saat membawakan kasidah dan syair sholawat yang menggetarkan jiwa seolah berputar ulang dalam ingatan dengan sangat jernih.

Tak adakah satu hari saja terlewati tanpa ada air mata yang jatuh sebab merindukanmu, Murobbi?

Jawabannya adalah tidak. Rindu kepada seorang guru Rabbani bukanlah rindu biasa. Ia adalah kerinduan jiwa yang kehilangan kompas. Ada masa di mana aku duduk sendirian di sudut rumah, menyeduh segelas kopi hitam tanpa gula, mencoba mengingat kembali cita-cita dan pesan yang pernah beliau titipkan. Namun, kerap kali cangkir kopi itu mendingin tanpa tersentuh karena mataku keburu kabur oleh genangan air di ujungnya.

Meski begitu, kehilangan Abah mengajarkanku satu pelajaran yang sangat berharga tentang arti mendalam dari sebuah kepergian. Guru yang sejati, sejatinya tidak pernah benar-benar pergi. Jasad beliau mungkin telah membatu di bawah gundukan tanah yang basah, tetapi ilmu, doa, dan arah jalan yang pernah beliau tunjukkan akan terus hidup dan berdenyut di dalam dada murid-muridnya.

Kehilangan ini memang duka yang mendalam, tetapi duka ini tidak boleh membuat langkahku terhenti. Abah telah menyelesaikan tugasnya di dunia ini dengan sangat indah. Beliau telah menanam benih-benih kebaikan, dan kini giliranku — sebagai generasi penerus yang pernah dituntunnya — untuk menjaga agar benih itu tumbuh menjadi pohon yang rindang.

Kini, setiap kali Jumat menyapa dan duka itu hadir kembali, aku mencoba menyambutnya dengan cara yang berbeda. Tak lagi hanya dengan ratapan air mata, tetapi dengan tengadahan tangan yang tulus. Aku kirimkan bait-bait Al-Fatihah dan doa terbaik untuk beliau di sana. Bahkan, hampir tiap rindu itu mampir meski hanya sebentar.

"Cinta seorang murid kepada gurunya tidak diukur dari seberapa banyak air mata yang menetes saat beliau wafat, melainkan seberapa teguh murid itu berjalan di atas jalan kebaikan yang telah diajarkannya."

— Anonim

Segelas kopi hitam malam Senin itu kini telah usai, namun kehangatan petuah Abah akan terus mengalir dalam nadi. Tiga bulan telah berlalu, dan waktu akan terus berjalan. Namun, sampai kapan pun, Abah akan tetap menjadi Murobbi, pembimbing jiwa yang takkan pernah tergantikan, dan sebagai kekasih jiwa. Semoga kelak, di akhirat yang abadi; di Barsyah dan Jannah-Nya kita dipertemukan kembali dalam majelis ilmu yang penuh dengan cahaya-Nya. 

Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Segelas Kopi dan Jejak Langkah Murobbi

Ilustrasi didesain oleh AI-GMN Tak ada satu hari pun melintas tanpa gerimis bening di pipi Menetes pelan membasahi sajadah rindu yang sunyi ...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive