Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Thursday, October 5, 2017

Gadis Berjilbab

Foto Ayo Semarang. Ist



Gadis berjilbab
Parasmu begitu indah nan rupawan
Hatimu begitu tulus nan lembut
Perhatianmu terhadapku tak pernah putus


Cinta dan sayangmu
Membuat kau rela mengorbankan waktumu untukku
Setiap pagi kau suguhkan minuman hangat untukku
Tidak lupa sepotong roti untuk menemaninya
Siang dan malam hari kau kirimiku dengan berbagai hidangan


Gadis berjilbab
Seandainya engkau tahu akan perasaan hati ini
Sejak awal kita jumpa,  hati ini sudah jatuh
Ingin rasanya aku bersamamu


Namun aku sudah berjanji kepada diriku
Untuk tidak bermain cinta
Apalagi agama kita sudah menegaskan
Tidak ada suatu ikatan kepada selain mahramnya terkecuali persaudaraan


Aku juga takut,  akan hal yang sama terulang kembali
Sebagaimana aku pernah mencintai
Beberapa hati yang kini telah pergi


Aku takut suatu saat nanti
Kau pergi meninggalkanku
Aku takut menyakitimu dan kau melupakanku
Aku takut suatu saat nanti
Kita tak menjalin suatu hubungan apapun
Sebagaimana orang-orang tersayang
Meninggalkanku tanpa aku tahu dan mengerti
Apa salahku

Gadis berjilabab
Terima kasih atas perhatian,  cinta,  dan sayangmu terhadapku
Semoga engkau tetap menjadi insyan yang kukenal
Semoga cinta,  kasih,  dan sayangmu tetap tulus dan setia menanti
Hingga tibalah saatnya Allah meridhoi kedua hati
Untuk saling berbagi dan bersatu

Way Kanan,  4 Oktober 2017
Share:

Tuesday, October 3, 2017

Secangkir Kapal Api




Secangkir kapal api hangat
Yang kau buat khususkan untukku
Menjamu kantukku malam ini


Sengaja ku memintanya kepadamu
Sebab aku rindu akan hangat nya kapal api buatanmu
Sudah lama kau tak suguhkan itu untukku


Kini malam ini aku bebas menyuruput nya
Mencium aromanya yang khas akan buatanmu


Way Kanan,  03 Oktober 2017
Share:

Monday, September 4, 2017

Rindu Yang Tak Tersampaikan



Rinai hujan di senja sore itu
Menghantarkan puing-puing rinduku
Yang tak sempat kusampaikan kepadamu

Akankah rinduku ini bisa terobati
Ketika suaramu memanggil-manggil namaku
Mengajakku pergi ke alam damaimu
Dan senyum di bibirmu yang mampu tenangkan ku.

Baradatu, 3 September 2017
Share:

Saturday, August 26, 2017

Rindu

Foto bola. ist



Tetesan hujan sore itu
Mengingatkan aku akan sebuah rindu
Ku teringat pada suatu
Disaat ku suguhkan secangkir kopi untukmu pagi itu


Asshiddiqiyah 11Way Kanan, 25Agustus 2017
Share:

Wednesday, August 23, 2017

Menilik Kembali Kemerdekaan Bangsa Indonesia

Sumber: Nusantara News. ist



Sebuah sajak di HUT RI ke-72 dari "Disisi Saidi Fatah" untuk mengenang kembali perjuangan para pejuang bangsa. Sebagai renungan kita yang telah merdeka selama 72 tahun.
Share:

Tuesday, August 8, 2017

Kemarin

Foto Ngopibareng. ist



Kemarin adalah awal cerita kita dimulai
Kau yang datang penuh dengan warna
Membuatku jatuh cinta


Senyummu adalah  cinta
Tawamu adalah cerita 
Yang menandakan kau sedang bahagia
Diam mu adalah sebuah luka
Yang membuatku bertanya?


Tahukah engkau
Aku jatuh cinta, 
Bukan masalah cinta, namun ini adalah rasa
Sebuah kenyataan yang aku punya


Sejak kita jumpa kemarin,
Kau telah merubah warna di hidupku,
Kau selalu ada di dekatku, 
Meski kau adalah semu.


Kini semua hanya tinggal cerita
Yang hanya aku dan kau yang punya
Dan akan abadi dalam goresan pena
Yang akan dikenang masa


#rinduku  


Asshiddiqiyah 11,  8 Juli 2017
Share:

Thursday, July 13, 2017

Santri Ganteng Yang di Sangka Teroris

CERITA ini bermula ketika keluarga besar AIC (Asshiddiqiyah Islamic Collage) Way Kanan pergi ke kota untuk mengurus berkas Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Dinas Pendidikan Provinsi Lampung di Telukbetung, Bandar Lampung.
Keluarga besar AIC Way Kanan di Dinas Pendidikan Provinsi Lampung
Kurang lebih empat jam perjalanan, akhirnya keluarga besar AIC Way Kanan tiba di lokasi. Sampai di lokasi mereka langsung melaksanakan Sholat Dzuhur berjamaah, dipimpin salah satu ustadz Asshiddiqiyah 11.
Usai melaksanakan sholat berjamaah, ustadz dan ibu nyai kemdudian menyerahkan berkas ke dinas, meninggalkan beberapa santri yang terpaksa harus menunggu di luar.
Menghilangkan jenuh, Salman, salah satu santri mengajak teman-temannya untuk mencari makan siang di kantin terdekat. Singkat cerita, setelah makanan ludes masuk perut, ternyata ustad dan nyai tak juga keluar dari gedung.
Salman bersama kawan-kawannya lalu memutuskan untuk menunggu di halaman. Pada saat bersamaan, mereka melihat banyak polisi dan polwan muda tengah latihan di halaman kantor Sabhara Lampung.
Karena menarik, pandangan mata Salman dan kawan-kawan jelas memperhatikan para polisi muda itu latihan. Entah kenapa, beberapa polisi yang latihan itu datang menghampiri Salman dan kawan-kawannya. Mereka lalu bertanya dengan nada keras.
Polisi : Bapak mau kemana?
Salman : Kami sedang menunggu ibu nyai, beliau ada di dalam (Kantor Dinas Pendidikan).
Polisi : Bapak dari mana?
Salman : Kami dari Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 11 Way Kanan pak. Ada apa ya?
Polisi : Ooh dari pesantren ya. Gak papa pak, hanya bertanya saja!
Tidak berlangsung lama, si polisi itu meninggalkan Salman dkk. Namun Salman masih penasaran dan bingung, sebab apa polisi bertanya kepada mereka.
Karena masih penasaran, akhirnya Salman bertanya kepada sahabatnya yang kebetulan juga polisi muda dan bertugas di kantor yang sama.
Usut punya usut ternyata Salman dan kawan-kawannya disangka kelompok teroris oleh polisi-polisi tersebut .
Mendengar info tersebut Salman dan kawan-kawan tertawa terbahak-bahak.
Masa iya Santri yang hanya mengenakan peci dan membawa tas saku kecil disangka teroris. Apalagi santrinya masih muda banget.
Memangnya mukanya seram dan menakutkan ya, makanya si polisi tersebut menyangka teroris. Mana ada teroris berwajah ceria dan cerah, membawa tas saku kecil. Aduh pak polisi, belum minum Aqua kali ya??.
Pesan untuk para polisi; memang polisi adalah pihak yang memiliki kewajiban untuk pengamanan, namun enggak gitu juga kali. Sampai-sampai santri yang berwajah tampan dan ceria serta murah senyum di sangka teroris apalagi santrinya masih muda dan masih berstatus sekolah.
Maaf ya pak polisi, cerita ini aku post ke media. Selamat bertugas bapak.Semangat. (Ditulis oleh Disisi Saidi Fatah)

Cerita ini juga dimuat di media NU Lampung Online
Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive