Skip to main content

Di Bawah Langit yang Menyaksikan Perpisahan Terakhir

Di ufuk Bogor yang menyimpan jejak kaki kita,
Dulu, debu jalanan adalah saksi bisu pengabdian,
Antara desa-desa yang hening dan suara dakwah yang membelah sunyi.
Aku adalah debu yang menempel di jubahmu,
Menyertaimu dalam lelah yang berkah,
Dalam dakwah yang kita rajut di antara sela waktu.


Lalu Allah menguji dengan jarak — dua koma tujuh tahun yang panjang,
Di mana doa-doa adalah jembatan yang tak terlihat,
Mengikat jiwa yang sempat terpisah oleh tanah rantau dan titah.
Dan ketika semesta kembali menyatukan langkah,
Di penghujung tahun, kita bertemu kembali di bawah naungan kasih-Nya,
Seolah waktu yang hilang hendak dibayar lunas dengan sisa usia.


Namun, adakah yang lebih mahir menyembunyikan rahasia selain takdir?
Sebelum Ramadhan menyapa, saat tawaqufan menjadi jeda,
Hatiku berbisik, takut akan kata "terakhir" yang membayangi.
Aku memohon pada Pemilik Waktu, agar jarak tak lagi menjauhkan,
Agar perpisahan tak lagi menjadi tamu yang tak diundang.


Tapi kini, Mei datang dengan guntur yang mematikan tanya.
Bukan jarak yang memisahkan kita kali ini,
Bukan pula waktu yang menepi,
Melainkan panggilan pulang yang tak bisa ku tunda bagi sang Murobbi.


Kematian adalah guru paling jujur,
Ia datang saat aku lupa bahwa napas hanyalah titipan sementara.
Kini, aku berdiri di jalan yang sama,
Namun tanpa bayanganmu yang meneduhkan,
Tanpa suaramu yang menjadi kompas di tengah kelamnya dunia.


Wahai Murobbi,
Meski kini aku berjalan di bumi yang terasa hampa,
Akan tetap kujaga amanah dakwah yang kau titipkan di dada.
Tak akan ada lagi "terakhir" dalam cintaku pada ilmu yang kau wariskan,
Sebab meski jasadmu telah menyatu dengan tanah,
Engkau hidup abadi dalam setiap sujud dan langkah yang kuteruskan.


Selamat beristirahat, Guru.
Sampai nanti, di muara yang tak lagi mengenal perpisahan.


---


Gunung Putri, 14062026

Comments

Popular posts from this blog

Tiga Puluh Jam Bersama Habibana

Kenangan Habibana dan Abah serta rombongan. Foto Pecandu Sastra. Dokpri   Jum'at itu menjadi pembuka perjalanan yang mengesankan. Nabastala biru menghampar semesta sore, perlahan mulai memudar. Segera usai berdzikir aku telah bersiap menemani Abah dan jamaah memenuhi undangan majelis peringatan Isra' Mi'raj di salah satu desa di bagian Bogor Timur. Abah, demikian aku memanggil laki-laki yang tengah berusia 50 tahun itu. Seorang pendakwah yang begitu istiqomah, gigih, penyabar, dan sangat mencintai ilmu. Beberapa bulan belakang, aku kerap menemani beliau berdakwah di desa tersebut, sepekan sekali. Tak peduli gerimis, hujan, dingin, ataupun panasnya cuaca, lelah setelah beraktivitas sekalipun, beliau terus istiqomah tanpa absen. Kecuali uzur yang mendesak. Hal tersebut yang menjadi salah satu yang aku kagumi dari sosok Abah. Sore itu, rombongan dijadwalkan berangkat sebelum maghrib. Dikarenakan perjalanan yang cukup memakan waktu, apalagi hari kerja, jam-jam segitu adalah pu...

Review Film Home Sweet Loan: Asa Anak Muda Menuju Rumah Impian

Refleksi hangat dari film Home Sweet Loan yang menggambarkan perjuangan generasi muda mencari arti rumah dan stabilitas hidup. (Dokpri) Kita sering mengira bahwa perjalanan menuju “rumah” adalah soal membeli properti, mencicil KPR, atau urusan angka dan bank. Tapi film Home Sweet Loan memberi tafsir yang lebih dalam dan emosional: rumah bukan hanya tentang tempat tinggal, tapi tentang tempat berteduh secara batin.

Filosofi Sepeda Untuk Hidup yang Lebih Bermakna

Filosofi sepeda untuk hidup yang lebih bermakna. (Foto oleh: Pixabay/wal_172619) Oleh: Cendekia Alazzam          Seiring berkembangnya zaman, sepeda tidak hanya sekadar menjadi alat transportasi bagi banyak orang, kini ia pun hadir menjadi media olahraga bagi sebagian orang yang gemar berolahraga.  Selain jogging dan berlari, bersepeda menjadi  olahraga favorit yang praktis dan mudah belakangan ini. Dengan turut berkembangnya desain sepeda yang semakin keren dan fungsional, terlebih lagi saat ini pemerintah di beberapa kota sudah menyediakan beberapa titik jalur khusus sepeda sehingga menciptakan rasa yamg semakin aman dan nyaman ketika bersepeda. Berbicara tentang sepeda, ada banyak filosofi tentangnya yang sangat relevan bagi kehidupan. Beberapa poinnya akan kita bahas melalui tulisan singkat ini, semoga sahabat pembaca dapat mengambil hikmahnya dan diterapkan dalam kehidupan. Dari sepeda kita seakan diajarkan untuk bergerak dan terus bergerak. Keti...

Jumbo: Animasi Lokal yang Memberi Banyak Pelajaran

  Poster Film Jumbo di Bioskop Bes Cinema Kota Metro (Foto oleh Cendekian/dokpri.2025) Akhirnya dua hari lalu bisa menyaksikan film animasi lokal buatan anak negeri. Film yang sudah sejak pertama official trailernya tayang di platform digital ini menjadi salah satu yang aku nantikan untuk ditonton, karena memang menarik perhatianku. Aku menyaksikan film ini bukan karena ikut-ikutan fomo ya, tapi memang penasaran banget sama filmnya.

Air, Kenyamanan, dan Realita Tinggal di Perumahan

Tampak depan rumah di kompleks perumahan - terlihat rapi, tapi di baliknya tersimpan cerita tentang krisis air bersih yang melelahkan (Sumber: Pexels) Ketika pertama kali memutuskan untuk tinggal di perumahan, saya membayangkan suasana yang rapi, nyaman, damai, dan menenangkan. Gambarannya terasa ideal. Dua hingga tiga bulan pertama memang terasa seperti itu. Namun seiring waktu, kenyataan mulai menunjukkan sisi lain yang tidak pernah saya duga sebelumnya - terutama soal kebutuhan paling mendasar: air.