Di ufuk Bogor yang menyimpan jejak kaki kita,
Dulu, debu jalanan adalah saksi bisu pengabdian,
Antara desa-desa yang hening dan suara dakwah yang membelah sunyi.
Aku adalah debu yang menempel di jubahmu,
Menyertaimu dalam lelah yang berkah,
Dalam dakwah yang kita rajut di antara sela waktu.
Dulu, debu jalanan adalah saksi bisu pengabdian,
Antara desa-desa yang hening dan suara dakwah yang membelah sunyi.
Aku adalah debu yang menempel di jubahmu,
Menyertaimu dalam lelah yang berkah,
Dalam dakwah yang kita rajut di antara sela waktu.
Lalu Allah menguji dengan jarak — dua koma tujuh tahun yang panjang,
Di mana doa-doa adalah jembatan yang tak terlihat,
Mengikat jiwa yang sempat terpisah oleh tanah rantau dan titah.
Dan ketika semesta kembali menyatukan langkah,
Di penghujung tahun, kita bertemu kembali di bawah naungan kasih-Nya,
Seolah waktu yang hilang hendak dibayar lunas dengan sisa usia.
Di mana doa-doa adalah jembatan yang tak terlihat,
Mengikat jiwa yang sempat terpisah oleh tanah rantau dan titah.
Dan ketika semesta kembali menyatukan langkah,
Di penghujung tahun, kita bertemu kembali di bawah naungan kasih-Nya,
Seolah waktu yang hilang hendak dibayar lunas dengan sisa usia.
Namun, adakah yang lebih mahir menyembunyikan rahasia selain takdir?
Sebelum Ramadhan menyapa, saat tawaqufan menjadi jeda,
Hatiku berbisik, takut akan kata "terakhir" yang membayangi.
Aku memohon pada Pemilik Waktu, agar jarak tak lagi menjauhkan,
Agar perpisahan tak lagi menjadi tamu yang tak diundang.
Sebelum Ramadhan menyapa, saat tawaqufan menjadi jeda,
Hatiku berbisik, takut akan kata "terakhir" yang membayangi.
Aku memohon pada Pemilik Waktu, agar jarak tak lagi menjauhkan,
Agar perpisahan tak lagi menjadi tamu yang tak diundang.
Tapi kini, Mei datang dengan guntur yang mematikan tanya.
Bukan jarak yang memisahkan kita kali ini,
Bukan pula waktu yang menepi,
Melainkan panggilan pulang yang tak bisa ku tunda bagi sang Murobbi.
Bukan jarak yang memisahkan kita kali ini,
Bukan pula waktu yang menepi,
Melainkan panggilan pulang yang tak bisa ku tunda bagi sang Murobbi.
Kematian adalah guru paling jujur,
Ia datang saat aku lupa bahwa napas hanyalah titipan sementara.
Kini, aku berdiri di jalan yang sama,
Namun tanpa bayanganmu yang meneduhkan,
Tanpa suaramu yang menjadi kompas di tengah kelamnya dunia.
Ia datang saat aku lupa bahwa napas hanyalah titipan sementara.
Kini, aku berdiri di jalan yang sama,
Namun tanpa bayanganmu yang meneduhkan,
Tanpa suaramu yang menjadi kompas di tengah kelamnya dunia.
Wahai Murobbi,
Meski kini aku berjalan di bumi yang terasa hampa,
Akan tetap kujaga amanah dakwah yang kau titipkan di dada.
Tak akan ada lagi "terakhir" dalam cintaku pada ilmu yang kau wariskan,
Sebab meski jasadmu telah menyatu dengan tanah,
Engkau hidup abadi dalam setiap sujud dan langkah yang kuteruskan.
Meski kini aku berjalan di bumi yang terasa hampa,
Akan tetap kujaga amanah dakwah yang kau titipkan di dada.
Tak akan ada lagi "terakhir" dalam cintaku pada ilmu yang kau wariskan,
Sebab meski jasadmu telah menyatu dengan tanah,
Engkau hidup abadi dalam setiap sujud dan langkah yang kuteruskan.
Selamat beristirahat, Guru.
Sampai nanti, di muara yang tak lagi mengenal perpisahan.
Sampai nanti, di muara yang tak lagi mengenal perpisahan.
---
Gunung Putri, 14062026
Comments
Post a Comment