![]() |
| Ilustrasi oleh AI/Gemini |
Oleh: Disisi Saidi Fatah
“Jangan putus doakan ana ya,” pintamu pada malam Kamis awal Mei itu.
Sebuah kalimat pendek yang kini bergema serupa perintah sakral di sisa hidupku.
Aku seperti sebatang pohon yang mendadak patah tepat di bagian akarnya;
daun-daunku masih hijau, namun jiwaku tahu, sumber hidupku telah tiada.
Namun dari akar yang mati itu, ketulusan doa merembes keluar,
mengalir tanpa putus, menembus lapisan tanah yang memeluk jasadmu.
Sebuah kalimat pendek yang kini bergema serupa perintah sakral di sisa hidupku.
Aku seperti sebatang pohon yang mendadak patah tepat di bagian akarnya;
daun-daunku masih hijau, namun jiwaku tahu, sumber hidupku telah tiada.
Namun dari akar yang mati itu, ketulusan doa merembes keluar,
mengalir tanpa putus, menembus lapisan tanah yang memeluk jasadmu.
Lalu memori melompat pada malam Senin, saat terakhir kita bertukar cerita.
Kau meminta semangkuk sekoteng hangat, dan aku berlari membelikan dua porsi.
Betapa riang wajahmu malam itu, melahap jahe pedas manis dengan tawa yang lepas.
Hatiku berbunga-bunga, menyangka kesembuhan telah menjemputmu pulang,
aku merayakan kesehatanmu di dalam dada yang penuh harap.
Siapa yang tahu, kebahagiaan malam itu adalah salam perpisahan yang kausamarkan.
Kau meminta semangkuk sekoteng hangat, dan aku berlari membelikan dua porsi.
Betapa riang wajahmu malam itu, melahap jahe pedas manis dengan tawa yang lepas.
Hatiku berbunga-bunga, menyangka kesembuhan telah menjemputmu pulang,
aku merayakan kesehatanmu di dalam dada yang penuh harap.
Siapa yang tahu, kebahagiaan malam itu adalah salam perpisahan yang kausamarkan.
Kini kehangatan sekoteng malam itu telah mendingin di dalam ingatan.
Satu porsimu kini digantikan oleh sehamparan nisan dan bunga tujuh rupa.
Aku berdiri di sini, menggenggam janji malam Kamis yang kau sandarkan padaku.
Doaku tidak akan pernah selesai, Abah.
Ia akan terus mengalir,
menjadi mata air yang membasahi peristirahatanmu yang abadi.
Satu porsimu kini digantikan oleh sehamparan nisan dan bunga tujuh rupa.
Aku berdiri di sini, menggenggam janji malam Kamis yang kau sandarkan padaku.
Doaku tidak akan pernah selesai, Abah.
Ia akan terus mengalir,
menjadi mata air yang membasahi peristirahatanmu yang abadi.
Gunung Putri, 10 Juni 2026
Baca juga:

Comments
Post a Comment