![]() |
| Ilustrasi diperkaya oleh AI/Gemini. |
Hujan bulan Juni kali ini datang lebih awal ke tanah pusaramu, Abah,
Membasahi batu nisan yang menyimpan segala nasihat yang pernah kau arah.
Jika Eyang Sapardi menyebut hujan itu bijak karena merahasiakan rindu,
Maka izinkan aku menjadi hujan yang jujur, yang tak lagi mampu menyembunyikan cintaku padamu.
Membasahi batu nisan yang menyimpan segala nasihat yang pernah kau arah.
Jika Eyang Sapardi menyebut hujan itu bijak karena merahasiakan rindu,
Maka izinkan aku menjadi hujan yang jujur, yang tak lagi mampu menyembunyikan cintaku padamu.
Tak ada yang lebih tegar dari santri yang datang setiap ba'da subuh,
Membawa sisa-sisa ilmu yang kau titipkan, saat duniaku terasa mulai luruh.
Dulu kau ajarkan aku tentang ketabahan di bawah naungan,
Kini, meski fisikmu tak lagi di sana, aku tetap setia merawat pesan: "jangan putus mendoakan."
Membawa sisa-sisa ilmu yang kau titipkan, saat duniaku terasa mulai luruh.
Dulu kau ajarkan aku tentang ketabahan di bawah naungan,
Kini, meski fisikmu tak lagi di sana, aku tetap setia merawat pesan: "jangan putus mendoakan."
Tak ada yang lebih arif dari ziarah yang tak pernah kenal jeda,
Sebab di sanalah aku merawat janji, meski tanpamu langkahku sempat tertatih dan jera.
Jika hujan bulan Juni membiarkan yang tak terucap diserap akar pohon bunga itu,
Maka biarlah doa-doaku menjadi air yang meresap ke kedalaman tempatmu berlabuh, Abah, sebagai bukti baktiku yang satu.
Sebab di sanalah aku merawat janji, meski tanpamu langkahku sempat tertatih dan jera.
Jika hujan bulan Juni membiarkan yang tak terucap diserap akar pohon bunga itu,
Maka biarlah doa-doaku menjadi air yang meresap ke kedalaman tempatmu berlabuh, Abah, sebagai bukti baktiku yang satu.
Di sepertiga malam, aku justru menyemayamkan namamu dalam sujud yang paling rahasia,
Sebab doa untukmu adalah napas yang kujaga agar tak pernah sirna.
Hujan bulan Juni akhirnya paham, bahwa rindu seorang murid tak perlu lagi dirahasiakan,
Cukup dengan doa yang terus mengalir, sampai nanti kita kembali dipertemukan di keabadian.
Sebab doa untukmu adalah napas yang kujaga agar tak pernah sirna.
Hujan bulan Juni akhirnya paham, bahwa rindu seorang murid tak perlu lagi dirahasiakan,
Cukup dengan doa yang terus mengalir, sampai nanti kita kembali dipertemukan di keabadian.
---
GP, 16062026

Comments
Post a Comment