Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Saturday, May 5, 2018

Sajak-Sajak Disisi : Terbelunggu Dalam Maaf



"Terbelunggu Dalam Maaf"


Wahai sahabatku,
Yang selalu menyemangati dan meinspirasi
Motivator di balik layar
Yang tak henti mensupport diri

Apa kabarmu hari ini
Sudah lama kita tak jumpa dan tatap muka
Komunikasi juga sudah tak berjalan
Sebagaimana janji-janji diantara kita

Sahabat,
Sampai sekarang aku belum bisa move on
Dari wajah-wajah indahmu dalam naunganku
Setiap lamunan, setiap langkah, dan mimpiku
Selalu teringat dirimu

Entahlah, sahabat
Waktu begitu cepat berlalu, membawa semua pergi
Badai telah menghancurkan semua dan membawa luka
Aku tak tahu, harus bagaimana lagi
Ribuan maaf terucap sudah
Beribu cara telah dilakukan, namun semua nihil
Tetap saja tak merubah goresan luka yang telah terukir di hati

Sahabat, andai saja waktu terulang kembali
Aku ingin kembali bersama
Dan memperbaiki semua
Dalam mengarungi samudera kehidupan


Lampung, 02 Februari 2018



"Katanya"


Katanya generasi moderen
Tapi masih saja dibohongi oleh teknologi
Katanya generasi cerdas dan pintar
Kok masih saja mengkomsumsi berita bohong
Katanya suka bhineka
Tapi ikut menyebarkan berita provokasi dan sara

Anda ini bagaimana?
Anda bilang tak ingin ada perpecahan
Lalu mengapa masih melakukan pembrontakan
Anda bilang generasi cerdas, belajar di universitas
Lalu kenapa masih saja termakan popularitas yang tak jelas


Nusantara, 25022018

-------------------------------------------------------------------------
*Disisi Saidi Fatah, pemilik nama Alfa Arkana Eounoia. Pria kelahiran Lampung, 27 September 1996. Aktif sebagai pengajar di SMP Manba'ul 'Ulum PP Asshiddiqiyah 11 Way Kanan, Lampung
Share:

Tuesday, May 1, 2018

Puisi di Bulan Sya'ban : Purnama Telah Tiba

"PURNAMA TELAH TIBA"



Oleh : DSF

Purnama dibulan Sya'ban telah datang
Membawa cahaya terang benderang
Menerangi seluruh jagat alam semesta
Pertanda tamu keagungan tak lama lagi akan tiba

Ramadhan
Bulan suci penuh ampunan
Penuh rahmat, sebab banyak datangkan manfaat
Marilah kita bersihkan hati sucikan diri
Meraih prestasi pada ramadhan ini

Janganlah siasiakan ramadhan
Dengan bermanja dan lupa diri
Marilah bermuhasabah diri
Meraih hari yang fitri


Way Kanan, 1 Mei 2018


Share:

Friday, April 27, 2018

Dear : Allah Yang Maha



Assalamu’alaikum

Salam ta’dzim untukmu ya Rabb, zat yang yang maha, yang selalu kami junjung tinggi.
Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Rabbi, Ya Rabbana. Dalam kehidupan duniawi yang hanya bersifat sementara ini, selalu ada hitam dan putih, ada asam, manis, dan terkadang pula pahit. Semoga dengan bermacam-macam rasa itu engkau beri kami kekuatan, kesehatan, keimanan, keislaman, dan ketaqwaan bagi kami untuk melalui itu semua.
Ya Rabb, sampai hari ini aku masih bingung, masih belum juga mendapatkan petunjuk dan cahaya penerangan darimu. Apakah harus sesabar ini menunggunya? Sebesar apakah kesabaran yang aku punya ya Rabb, sampai air mata terjatuh tanpa terasa bahkan terkadang tak terlihat wujudnya. Haruskah diri ini selalu berbohong terhadap rasa yang dimiliki?
Aku hanyalah manusia biasa, hambamu yang lemah, yang tak berdaya tanpa bantuan dan pertolongan darimu ya Rabb. Tapi mengapa diri ini selalu di permasalahkan, selalu salah dihadapannya?

Hal ini tidak seperti dahulu, awal kita bersama ya Rabb. Ketika itu beliau sangat senang dengan diri ini, aku merasa sangat terbebaskan dan tak ada larangan bagiku untuk terus berkarya dan bersama masyarakat luas tanpa ada batasan-batasan diantara kita. Tapi mengapa setelah berjalan lama dan aku merasa nyaman berada disini, tiba-tiba ia berubah dan sangat anarkis. Apalagi ketikaku banyak kenalan dan banyak aktif dengan kegiatan sosial.
Bagiku tak masalah ya Rabb, jika aku dimarah dengan alasan tertentu, namun tidak bagiku jika marah dan memakiku tanpa alasan yang kuat, apalagi terhadap sebuah masalah yang memang bukan aku yang buat dan juga bukan tanggung jawabku.
Ini sudah tidak adil bagiku, mengapa aku yang selalu dipermasalahkan dan selalu salah dimata nya. Semua tugas dan tanggung jawab selalu aku laksanakan dan kerjakan dengan tepat waktu. Mengapa harus aku ya Rabb yang di marah dan dilarang, mengapa tidak bagi yang lain. Sedangkan yang lain bebas, melakukan aktivitas, pekerjaan, dan kesibukan mereka?

Sampai kapan ya Allah aku harus terdiam dalam sandiwara penuh kebohingan ini! Sampai kapan aku selalu dipermasalahkan dan selalu di pojokkan dengan segenap kesalahan-kesalahan yang selalu mereka sebar luaskan.
Inikah yang dinamakan dengan keimanan? Yang semakin besar dan kuatnya iman  seseorang, maka semakin besar pula cobaan, godaan, dan rintangan baginya!

Ya Rabb. Pada hari ini, hari Jum’at yang berkah ini tak banyak yang aku pinta ya Rabb.
Aku hanya minta untuk mensudahi semua sandiwara dan kebohongan ini, aku tak bisa terus menerus berada dalam sandiwara sebab aku bukanlah aktor ataupun sutradara yang ahli pada bidangnya. Aku juga ingin bahagia dengan mereka para orang-orang yang aku sayang serta keluargaku. Aku ingin bebas bekerja, berkarya, dan beraktivitas sebagaimana yang lain.
Ya Rabbi Ya Rabbana hanya padamu dan hanya engkau Ya Rabb yang dapat mengabulkan semua. Kabulkanlah ya Allah.


Share:

“UNTUKMU WANITA SHALIHAH”

*Sebuah sajak untukmu yang selalu ada

Ilustrasi | sholihah.net



Kepadamu wanita shalihah
Yang ‘tlah jatuh hati pada diri ini
Terima kasih atas semua yang telah kau beri
Cinta, kasih sayang, dan perhatian
Yang tak pernah absen untukku

Untukmu wanita shalihah
Maaf, jika diri ini tak membalas semua
Bukan aku tak suka, ataupun tak peka
Apalagi bersandiwara untuk purapura lupa

Wahai wanita shalihah
Bukan aku tak cinta
Hanya saja aku yang belum ingin mengenalnya
Sebab aku takut akan adzab dari-Nya

Lagi pula diri ini hanya ingin fokus
Terhadap masa depan dan citacita
yang telah lama dirangkai
Semua menanti untuk segera digapai
Dan aku rasa masih terlalu muda
Diri ini untuk mengenal cinta
Harus banyak belajar pada yang sudah biasa
Agar tak ada luka diantara kita
Sabarlah semua ada waktunya


Nusantara, 20 April 2018

Share:

Thursday, April 26, 2018

Mutiara Penerus



Tiga tahun sudah perjuanganmu
Memantaskan diri dibangku pendidikan
Mengasah imajinasi dan kreativitas
Melawan kebodohan dengan terus belajar

Berjuang melawan gelapnya kebodohan
Tak kenal lelah, tak kenal pasrah
Panas, hujan, siang, dan malam
Terus bersemangat pantang menyerah

Wahai mutiara penerus bangsa
Kini waktumu telah tiba
Setelah sekian lama terbentur masa
Teruslah bersemangat menggapai semua, impian dan citacita

Singsingkan lengan bajumu
Dengan tekad kuat dan penuh semangat optimis
Yakinlah engkau bisa menghadapi semua
Teruslah bersemangat wahai mutiaraku
Aku yakin kalian kuat
Aku yakin kalian hebat
Optimis Bisa!!!


SMPN 4 Gunung Labuhan, Way Kanan, Lampung, 25 April 2018
Share:

Thursday, April 19, 2018

Merawat Kebhinekaan Menjaga Keutuhan NKRI



Oleh : Disisi Saidi Fatah
Univ. Terbuka UPBJJ Bandar Lampung

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan suatu wilayah negara kepulauan besar yang terdiri dari ribuan pulau dan diapit oleh dua benua dan dua samudera serta didiami oleh ratusan juta penduduk. Disamping itu Indonesia memiliki keanekaragaman adat istiadat  dan budaya yang saling terjalin antara satu dan yang lainnya yang tercermin dalam satu ikatan kesatuan yang terkenal dengan sebutan “Bhineka Tunggal Ika”. Disisi lain, Indonesia juga memiliki landasan, yakni pancasila yang merupakan dasar negara dan dijadikan sebagai pandangan hidup serta filsafat bangsa.

Apabila kita melihat dari sudut kebudayaannya, masyarakat Indonesia adalah plural (jamak) sekaligus heterogen (beraneka ragam). Kondisi kemajemukan budaya masyarakat Indonesia inilah yang seharusnya kita banggakan, namun dibalik kebanggaan tersebut juga mengandung musibah yakni kerawanan akan konflik.

Pada akhir ini banyak sekali kita jumpai dan dengarkan baik melalui media massa, elektronik, ataupun yang secara langsung kita temui dilapangan, kita mendapati begitu banyak konflik yang terjadi di sekitar kita dan hampir 90% terjadi karena perbedaan, baik suku, agama, ras, dan golongan bahkan perbedaan pandangan ataupun pendapat juga bisa memicu konflik. Begitu juga di media sosial atau medsos, belakangan ini banyak sekali yang salah dalam menggunakan medsos. Banyak sekali para pengguna medsos yang tidak paham etika, namun tak banyak pula yang bisa memanfaatkannya dengan baik dan positif.

Sering kali ketika saya membuka medsos, hampir 80% setiap hari isi medsos dipenuhi dengan sindiran, provokasi, dan saling mencibir antara satu dengan yang lainnya. Padahal, negara kita ini memiliki pluralisme (kemajemukan) budaya yang menunjukkan betapa kayanya negara kita, beragam suku bangsa, bahasa daerah, makanan, dan hasil kesenian indah lainnya.

Mengapa kita tidak bangga dengan semua yang kita miliki? Seharusnya perbedaan tidak menjadi hambatan untuk berinteraksi antar sesama. Alasannya, karena pada hakikatnya ada sebuah kesamaan yang paling mendasar, yaitu sama-sama merupakan manusia yang memiliki hati nurani. Inilah konsep ideal yang ditawarkan untuk menyikapi keberagaman budaya di Indonesia.

Didalam Al-Qur’an juga Allah sudah tegaskan, seperti pada surah Ar-Ruum ayat 22 yang berbunyi

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.

Serta dalam Qur’an surah Al-Hujuraat ayat 13,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“ Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa dintara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.

Kita sebagai rakyat Indonesia harusnya saling menghormati dan menghargai antara satu dengan yang lainnya, tanpa sedikitpun merendahkan suku, budaya, adat, dan juga agama yang dimiliki orang lain.
Bukankah berbeda itu Indah? Keberagaman kita itu ibaratkan pelangi, pelangi itu terdiri dari berbagai warna, karena beraneka ragam inilah yang menyebabkan pelangi itu indah untuk kita pandang! Begitu juga dengan keberagaman di Indonesia harus bisa kita terima agar sejalan lurus dengan Bhineka Tunggal Ika yang memiliki arti berbeda-beda namun tetap satu jua.

Pluralisme budaya juga sangat dipentingkan untuk menumbuhkan sikap kecintaan akan budaya masing-masing, menciptakan rasa tenggang rasa antar pemilik kebudayaan yang satu dengan yang lainnya, dan adanya pluralisme akan menghilangkan kebosanan. Seharusnya kita menyadari plurarisme budaya bukanlah sebuah alasan untuk memecah belah persatuan.

Share:

Menebar Damai di Dunia Maya


Gambar oleh Kompasiana.com | Ist



Seperti yang sudah kita ketahui bahwa arus informasi saat ini sangat cepat dan mudah sekali, apalagi kita berada pada era digital dan internet dimana semua dapat kita raih hanya dengan sentuhan dan dalam genggaman tangan. Dalam hitungan jam bahkan hitungan menit saja kita bisa mendapatkan apa yang kita butuhkan, begitu banyak informasi yang bisa akses melalui smartphone dan gadget kita.
Namun seiring berkembangnya teknologi tentu saja makin banyak problema yang kita hadapi, salah satunya ialah informasi tidak benar atau berita bohong yang dalam bahasa keren nya ialah hoax.

Virus-virus hoax ini dapat menyerang siapa saja yang kurang paham akan teknologi atau yang sering disebut gaptek, individu yang kurang minat baca, dan masyarakat awam. Berita hoax tidak hanya terjadi dan dikomsumsi oleh masyarakat atau individu pengguna internet saja, namun pada zaman ketika dunia masih sangat sederhana dalam mengolah informasi, berita-berita palsu telah dijadikan sebagai propaganda oleh satu kelompok untuk melemahkan kelompok lainnya.
Kita bisa melihat sejarah kembali ketika masa perang dingin (cold war) dua blok, Amerika dan Uni Soviet paling gencar dalam memproduksi berita palsu untuk meyakinkan kepada suatu pihak namun memukul pihak lawan. Saat perang dunia ke II juga, kekalahan Nazi dari pasukan sekutu tidak terlepas dari adanya berita hoax yang disebarkan oleh agen sekutu, bahkan meletusnya perang dunia saja dipicu oleh informasi yang tidak terpercaya dan tidak akurat, tidak semata disebabkan oleh perebutan kekuasaan saja.

Di era internet, berita hoax dan isu-isu kebencian dengan sangat mudah di produksi dan sangat cepat menyebar dan diserap oleh masyarakat, hal ini disebabkan karena minimnya minat baca pada masyarakat kita. Dalam sejarah perkembangan media massa, kita pernah mengenal yellow journalism yakni media-media yang melakukan propaganda terhadap masyarakat terkait berita bohong, hal ini bukan disebabkan oleh kebenaran konten berita melainkan seberapa besar judul dalam pemberitaan yang dapat menarik minat pembaca, tidak heran dengan judul yang panjang seolah mewakili konten berita, apalagi minat baca bangsa kita masih berkurang sehingga judul berita tersebut ditafsirkan sebagai sesuatu yang benar.

Menurut data www.internetworldstats.com pada Maret 2008, pengguna internet diseluruh dunia mencapai angka 1.355.110.631 orang. Indonesia merupakan negara kelima setelah South Korea dengan pengguna internet terbanyak.
Salah satu tujuan dari penyebaran virus hoax dan isu kebencian ini yakni ingin memecah belah bangsa dan target utamanya adalah para pemuda, sebab pengguna internet lebih banyak didominasi oleh para pemuda terutama para pelajar dan mahasiswa. Di era digital ini kita harus lebih bijak dan cerdas dalam memilih dan memilah informasi baik di internet atau melalui media sosial (medsos).


Begitu banyak sekali kita jumpai informasi hoax dan isu kebencian yang disebar luaskan oleh kelompok radikal dan kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab untuk memecah belah bangsa .
Dalam penanganan kasus ini, tentu kita harus angkat senjata, berperang dan berjihad di dunia maya. Berjihad, bukan semata-mata berperang dijalan Allah, namun dalam memerangi berita bohong, ujaran kebencian dan konten-konten negatif yang tersebar luas di dunia maya ialah jihad juga. Kita harus lebih cerdas dan kreatif dalam menerima berbagai macam informasi yang tersebar.

Hal ini harus kita lawan dengan cara yang sama yakni dengan menyebarkan konten-konten positif yang bisa mengedukasi para pengguna internet dan medsos agar lebih baik lagi. Serta menyebarkan virus-virus baik di medsos, seperti mempublikasikan hal-hal yang dapat mempersatukan dan mempererat bangsa. Kita juga harus menjadi masyarakat yang jeli dan lihai dalam menerima informasi, dibaca, dikaji, dan dicermati terlebih dahulu jangan hanya membaca judulnya saja terus langsung disebarkan. Kita juga harus banyak membaca, sebab dengan membaca kita akan tahu mana hal yang baik dan yang buruk serta menambah wawasan dan ilmu pengetahuan kita.



------------------------------------------------------------------------
Penulis adalah alumni Hypnotherapy Karya Tunas Bangsa, Baturaja, Sumatera Selatan.
Penulis dapat dihubungi via Instagram @DisisikuDisisimu
Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive