Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Monday, May 21, 2018

Masihkan Cinta di Pesantren Impian?


Dokumentasi Pribadi | Instagram @netrahyahimsa


Oleh : Disisi Saidi Fatah


Masih teringat jelas dalam benakku kisah awal setahun lalu, yang menjadi faktor utama diri ini berada di pesantren impian. Sebuah keistimewaan dibulan April yang menjadi penghubung dan perekat terjalinnya persahabatan dan persaudaraan kedua mahluk ciptaan tuhan, hingga sampai detik ini masih diberikan waktu untuk bersama.
Tak henti bersyukur kepada-Nya sang khalik yang maha segala-galanya atas nikmat dan beribu keajaiban yang beliau berikan. Dahulu hanya bisa bermimpi berada di pesantren impian untuk mendampingi dan menemani penyemangat diri.

Setahun lalu ketika diri karam akan arah dan tujuan, sedangkan hati galau dan gundah tak menentu akan arah mana yang dituju. Sehingga membuat tak percaya akan semangat untuk hidup, kesana kemari tak kunjung mendapatkan ketenangan diri.
Sampai suatu ketika Allah menghadirkan Bunga. Bunga adalah sahabat SMA yang sudah lama tak berjumpa, sejak lulus SMA Bunga tinggal di Pulau Jawa. Sangat beruntung sekali ia dapat melanjutkan pendidikan kejenjang perguruan tinggi ternama di Pulau Jawa dengan beasiswa penuh.
Awal berpisah dengan Bunga, hubungan kami masih baik-baik saja. Masih sering kasih kabar dan komunikasi masih berlanjut baik via telepon, medsos, maupun email. Namun seiring berjalannya waktu hubungan kami tenggelam bagaikan kapal yang karam ditengah lautan. Dua tahun tak bertemu, komunikasi putus dan benar-benar menghilang. Sampai pada malam itu, tiba-tiba saja ada orang yang tidak dikenal identitasnya menyapaku melalui massenger. Dan ternyata orang itu adalah Bunga. Betapa senangnya hati bisa berhubungan kembali setelah dua tahun saling menghilang.

Alhasil pada malam itu kami saling melepas rindu, maklum sudah lama tak berjumpa jadi rindu akan sahabat lama menumpuk bagaikan gunung yang berjulang tinggi. Banyak yang kami obrolkan pada malam itu, dari aktivitas hingga kisah dan perjalanan kami selama dua tahun ini.
Tidak sengaja aku menyinggung suatu masalah yang begitu menjanggal hati dan membuat galau sampai enggak doyan makan dan mood menurun. Melakukan aktivitas apa saja semua berasa tak ada daya dan upaya. Sudah hampir dua bulan, galau melanda kehidupanku. Ia selalu bermanja dan tak ingin pergi sedikitpun melangkahkan kakinya dariku. Kebingungan pada saat itu juga membuatku tak bergairah dan bersemangat, jangankan mau makan untuk beranjak dari tempat tidur saja enggan sekali.

                                                            ∆∆∆∆∆∆∆

Dulu ketika masih bersama beliau (orang yang aku panggil Papa), aku begitu bersemangat dan sangat bergairah dalam menjalani hidup, sangkin bersemangat apapun yang beliau perintah tak pernah sedikitpun aku menolak. Beliau menjadi penyemangat hidup, menjadi idola dan inspirasiku. Sering kali aku dan Papa kemana-mana selalu bersama, beliau selalu meminta agar aku menemaninya dan kami selalu terbuka untuk hal apa saja, namun tetap saja ada yang menjadi privasi diantara kami. Hingga pada suatu hari beliau terdiam membisu dan enggan bercerita mengenai masalah yang ia hadapi, bahkan sampai berhari-hari beliau terdiam, cuek, sama sekali tidak menegurku. Tidak biasanya beliau bersikap seperti itu.
Aku takut terjadi sesuatu kepada beliau, oleh sebab itu aku memberanikan diri untuk bertanya, bahkan aku meminta maaf jika ada yang salah terhadapku, namun beliau masih saja enggan bercerita dan selalu cuek terhadapku seolah-olah ada sesuatu kesalahan yang telah aku lakukan.

Beruntung punya sahabat seperti Bunga, selain pintar dan cerdas ia juga sangat religius. Malam itu Bunga menyarankan agar aku melaksanakan sholat istigkhoroh dan meminta petunjuk serta pertolongan kepada Allah, Tuhan yang maha memberi petunjuk dan memberi pertolongan. Mendapat saran dari Bunga, segera kulaksanakan sholat itu untuk memohon petunjuk agar diberikan yang terbaik untuk aku dan Papa.


                                                                 ∆∆∆∆∆∆∆∆

Biasanya, jika aku sedang dilanda galau yang enggak jelas. Pikiran kacau dan mood menurun, aku selalu ingin menyendiri dan menyepi. Namun berbeda kali ini, setelah mengikuti sarah Bunga, ada sesuatu yang menyelinap masuk dalam hatiku. Tiba-tiba saja terlintas dalam benakku untuk mengunjungi sebuah pesantren dimana aku pernah tinggal bersama dengan teman-teman seperjuangan selama satu bulan. Ya mungkin dengan berkunjung kesana aku akan mendapatkan jawaban dan sedikit tenang dari masalah yang aku hadapi.

Tiba di pesantren, aku terkejutkan oleh seorang anak. Ia tertunduk menyapaku dan meraih tangan kananku lalu dicium olehnya. Kutatap wajah beningnya, darisana terpanjang keanggunan dan ketentraman yang membat sejuk hati, matanya yang tenang serta senyum di bibirnya yang membuatku tersipu malu. Tak tahu siapa nama dan asalnya, setahuku dia santri baru disitu. Ada yang menarik pada anak itu, entah apa yang jelas aku seakan-akan menemukan semangat hidup dan bangkit dari keterpurukan yang melanda diri.
Sejak saat itu, aku sering berkunjung dan meluangkan waktu bahkan aku sering bolos kerja jika lagi tidak bersemangat hanya untuk bertemu dia. Sebab dia mampu membangkitkan semangat dalam diriku. Dengan melihat wajahnya, menatap mata, dan merasakan hadirnya senyuman pada bibirnya.

Sebab kehadiran yang selalu tak pernah absen tiap minggu nya, membuat pimpinan pesantren tersebut heran dan senang terhadapku hingga pada suatu hari beliau memanggil agar aku segera menghadap.

“Assalamu’alaikum. Apa gerangan abah, saya dipanggil keruangan abah?”

“Wa’alaikum salam. Begini Noia, abah lihat kamu begitu senang sekali berkunjung ke pesantren sepertinya kamu kerasan disini. Bagaimana jika nak Noia tinggal saja disini, ya bantu abah mengajar anak-anak,” demikian tutur abah kepadaku.

Mendengar kabar itu, aku sangat senang. Sebab ada jalan keluar dari permasalahan yang lalu, apalagi menjadi seorang guru itu adalah hal yang sangat luar biasa, bisa dekat dengan anak-anak dan juga memanfaatkan ilmu yang telah aku dapatkan selama dibangku pendidikan. Aku setuju dengan kabar ini, namun aku tidak bisa langsung mengiyakan. Harus kubicarakan kepada mama dan harus dipikirkan matang-matang.

Usai bertandang ke pesantren, aku segera mengabarkan hal itu kepada mama. Mama menyetujui akan hal itu selagi baik dan selagi masih ada orang yang bisa ia hubungi jika sewaktu-waktu aku tidak bisa di hubungi. Maklum mama orang nya sangat khawatir terhadap anak-anak nya, ya itu pertanda bahwa mama adalah sosok yang penuh kasih sayang.
Aku sangat bangga dan bahagia punya mama, mama penuh pengertian dan kasih sayang terhadap anak-anaknya. Apalagi ketika aku bilang bahwa ada seorang anak yang selalu membuat semangat hari-hariku dan dia tinggal di pesantren tersebut. Maka dari itu mama setuju akan niatku untuk menerima tawaran dari abah.
Sejak saat itu aku berhijrah ke pesanren, meninggalkan papa. Namun sebelumnya masalah diantara kami sudah selesai dan aku juga sudah mengerti mengapa saban hari lalu papa bersikap cuek kepadaku.

                                                                        ∆∆∆∆∆∆∆

Di pertengahan bulan April pada musim kemarau tiba, pada saat itu aku memulai perjalanan, kisah, dan kehidupan baru di pesantren. Aku berharap dengan hijrah ini akan lebih baik kedepan dan semakin bermanfaat lagi ilmu yang telah aku dapatkan di bangku pendidikan selama bertahun-tahun lamanya.
Awal di pesantren semua berjalan dengan baik, begitu pula dengan kegiatan mengajar di sekolah, hubungan antara aku dan anak-anak juga semula berjalan baik hingga sampai di bulan keempat. Sebelumnya aku menerima tawaran abah untuk membantu beliau di pesantren disebabkan karena ada Alfa, anak yang saban hari selalu membuat semangat hari-hariku dan karena sifatnya membantu pesantren aku rasa  itu adalah ladang amal bagiku ya seenggaknya sih begitu, selain itu juga karena pada saat itu memang aktivitas dan kegiatan memang masih libur begitu juga dengan kuliah masih off.

Semakin berjalannya waktu, aku semakin kerasan berada di pesantren namun seperti pepatah mengatakan semakin kuat iman seseorang maka semakin besar cobaan menerpanya dan semakin tinggi pohon semakin besar pula angin yang menjemputnya. Ya seperti itulah kehidupan di pesantren.

Sebagai pengajar yang juga ditunjuk sebagai pembina di asrama, sudah pasti harus siap menerima segala amanah dan tanggung jawab yang diberikan. Sebagai manusia insyan yang masih jauh dari kata sempurna, yang disibukkan dengan kerjaan disekolah sudah pasti tidak bisa untuk selalu bersama anak-anak nya. Apalagi anak-anak yang dibimbing sangat banyak, sudah pasti tidak bisa diperhatikan satu persatu setiap menitnya.
 Awalnya aku merasa biasa dengan masalah yang selalu diutarakan kepadaku, setiap masalah yang anak-anak lakukan selalu saja aku yang kena batunya. Ya namanya juga pengajar dan pembina, its oke tidak apa-apa mungkin memang harus aku yang mengalah. Aku selalu mencoba untuk bersabar dan terus bersabar, namun sebagai manusia kesabaran tetap saja ada batasnya. Pernah aku ingin pergi meninggalkan semua, meninggalkan tanggung jawab dan kerjaku sebagai pengajar dan meninggalkan kebahagiaan yang sedang bersamaku. Namun setiap kali aku ingin pergi, aku selalu teringat akan Alfa, sebab dialah yang selalu membuatku semangat. Apalagi Alfa pernah bilang kepadaku sejak saat ia bersamaku ia semakin rajin belajar dan bersemangat, aku jadi semakin enggak tega pergi

Semakin aku mencoba untuk terus bersabar, namun ada saja alasan dan masalah yang menghamiri. Pernah juga aku dimarah dan dimaki sama abah dihadapan anak-anak, padahal aku tidak melakukan kesalahan, aku hanya melakukan yang memang itu benar. Setiap anak-anak melakukan kesalahan aku juga yang dimarah. Abah bilang aku gak perhatianlah dan enggak pernah ada waktu untuk anak-anak. Padahal anak-anak kan banyak jadi enggak mungkin sebanyak itu anak-anak aku perhatikan satu persatu setiap menitnya.

Sebenarnya aku sudah enggak kuat lagi bertahan disini, aku juga lelah selalu dimarah dengan alasan kesalahan yang bukan aku pelakunya. Aku ingin meninggalkan semua dan pergi jauh agar lebih bebas. Namun aku kasihan dengan Alfa, dia masih membutuhkanku disini. Alfa bilang dengan adanya aku ia semakin bersemangat dan semakin rajin dan itu juga terbukti pada semester lalu ia berhasil masuk top enam dikelasnya, padahal semester-semester yang lalu dia tidak pernah masuk top enam. Jangankan top enam untuk masuk top sepuluh saja nilainya masi kurang.
Mama dan bapak nya Alfa juga kurang setuju apabila aku harus meninggalkan pesantren. Kedua orang tuanya Alfa sudah seperti orang tuaku sendiri, mereka menganggap aku sudah seperti kakak nya Alfa. Jadi kalau ada apa-apa dengan diriku, merekalah yang menjadi sasaran utamaku untuk meminta pendapat dan pertolongan. Oleh sebab itu aku masih bertahan di pesantren sampai pada saat ini. Sebab aku tak ingin Alfa sedih dan prestasinya menurun kembali. Aku ingin selalu menemani Alfa sampai ia menyelesaikan studinya pada tahun depan.

Akankah aku akan bertahan sampai batas waktunya?

Masihkah cinta ini bersemayam di pesantren impian?

Wallahu alam
Hanya Allah yang tahu. Sebab beliau yang maha mengetahui segala-galanya.


------------------------------------------------------------------------------------------------
Biodata Penulis : *


Disisi Saidi Fatah (Alfa Arkana Eounoia) nama pena. Pria berdarah Lampung kelahiran Gedung Harta, Lampung Tengah, 27 September. Hobi membaca, menulis,  sastra dan puisi.
Alumni SMAN 1 Blambangan Umpu, Lampung itu kini tengah disinukkan dengan kegiatan mengajar di SMP Manba’ul ‘Ulum Asshiddiqiyahn11 Way Kanan. Mengenal dunia jurnalistik sejak ikut BPUN MataAir Way Kanan, yang dibimbing langsung oleh Gatot Arifianto, CH, CNNLP.

Alumni Hpnotherapy Akademi Hypnotherapy Karya Tunas Bangsa; beberapa karyanya di publikasikan pada media cetak maupun online, diantaranya; NU Lampung Online, Media MataAir, Antologi Puisi Terbelunggu Media – Kars Publisher (2017), Antologi Puisi Aku Anak Santri – Kars Publisher (2017), Antologi Puisi Resah WA Publisher (2017), Antologi Puisi Aksara Buku Usang – Kars Publisher (2018), Antologi Puisi Seuntai Kasih Yang Terukir Sayang – Penerbit Satria (2018) .

Pengagum ulama sastra KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Ust.Yusuf Mansyur, serta penyuka sholawat Habib Syech AA dan Ananda Takeshi George (Sang Prabu) ini dapat dihubungi melalui akun sosmed nya;
Faceboook : Facebook.com/Netrahyahimsa
Twitter, Instagram, Line : @Netrahyahimsa
E-mail : disisisf.bpun@gmail.com
CP : 0823-7750-5585
Blogs : netrahyahimsa.blogspot.com

                             



Share:

Monday, May 14, 2018

Surprise Untukmu Penyemangatku

    Numpang post sahabat blogger semua, sebagai memori dan kenangan agar tidak termakan oleh masa serta selalu bisa dikenang jika sewaktu-waktu aku tiada.



Bengkulu Rejo, Way Kanan, Lampung
Senin, 14 Mei 2018

Alhamdulillah, Allah masih senantiasa memberikan beribu kenikmatan-Nya untuk kita semua, terkhusus untukku. Kenikmatan yang tak pernah aku syukuri dan terkadang lalai olehku.
Alhamdulillah, Sabtu, 12 Mei kemarin masih bisa mendampingi dan memberikan surprise untukmu adik, sahabat, teman satu asrama, dan juga sebagai penyemangat hidupku dikala masalah dan kegalauan menghampiri. 

Empat belas tahun adalah umur yang sudah remaja. Dalam usiamu yang sudah menginjak dewasa aku harap bukan hanya usiamu saja yang dewasa, namun sikap, perilaku, tutur kata, dan pribadimu juga.
Dalam hal ini, kau tahu mana yang baik dan mana yang buruk, maupun tahu mana yang harus diambil dan dibuang, mana yang hak dan mana yang bathil. Oleh sebab itu aku selalu berharap, dalam jalinan persahabatan dan persaudaraan kita ini, aku harap engkau s'lalu mengambil sisi baik dan positif pada diriku. Mencontoh dan menerapkan dalam kehidupan sehari-harinya.

Tak ada yang begitu istimewa dalam kehidupan ini, selain mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepadaku. Salah satunya ialah dipertemukannya aku denganmu. Aku yang dahulu selalu resah, galau, dan terkadang tak memiliki semangat. Namun sejak berjumpa denganmu semua berubah, aku tak tahu apakah itu benar atau hanya perasaanku saja. Namun aku merasa semua adalah nyata, buah hanyalah cerita.
Sejak kita bersama tak pernah aku merasa sendiri dan menyepi, selalu ada cerita dan kisah kita, selalu ada canda, tawa, dan ceria. Engkau pun selalu menjadi penyemangat ketika lelah dan masalah tak kunjung usai, ketika air mata tak dapat ditahan (meski air mata selalu ku hapus agar tak kau lihat).


Aku berharap dengan bertambahnya usiamu, ikatan persahabatan dan persaudaraan kita dapat terjalin sampai di hari tua, sampai anak cucu kita. Aamiin
Sehat, sukses, pintar, cerdas, menjadi anak yang Sholeh dan menjadi kebanggaan orang tua, yang akan mengangkat derajat kedua orang tuanya, serta menjadi pribadi yang dewasa, baik pemikiran, perkataan, dan perilaku, serta tutur bahasa. 

Selamat milad
Selamat berproses


"Hidup terus berlanjut. Setiap fenomena dalam hidup tak perlu disesali, tidak pula untuk dilupakan. Namun jadikan kenangan untuk pelajaran kedepannya, agar hidup lebih gemilang"

Read more..... [✓KADO 14 TAHUN ALFARIZI "NARASI UNTUKMU"]
Share:

Saturday, May 12, 2018

Narasi Untukmu

"NARASI UNTUKMU" 




Gerak lincah kakimu melangkah
Menghantam duri melampaui batas diri
Terbentur.  Terbentur.  Terbentuk.

Sebagaimana kedelai diproses sebelum menjadi tempe
Ditempa  di injakinjak,  dan s'lalu terbentur
Sampai tiba ketika ia memiliki harga
Seperti itulah harapan dan doaku untukmu

Masa kelam,  masa suram
Takkan menjadi masalah yang harus diperdebatkan
Teruslah melangkah berproses memperkaya keimanan,  rohani,  dan diri
Tegar.  Kuat.  Sabar.
Semua adalah proses perbaikan menuju masa depan yang gemilang

                  Way Kanan,  Lampung,  11 Mei 2018


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sebuah kado di hari ulang tahun Muhammad Salman Alfarizi yang ke-14
Semoga di tahunmu yang semakin beranjak remaja,  menjadi pribadi yang dewasa,  semakin sayang dan cinta kepada orang tua dan keluarga,  selalu menginspirasi dan menjadi penyemangatku,  menjadi anak yang cerdas,  pintar,  dan sholeh.  Aamiin

*************************************************************
@DisisikuDisisimu
Share:

Friday, May 11, 2018

Cinta Dalam Diam

Palontaraq. Ist



"CINTA DALAM DIAM" 



Tuhan
Aku telah jatuh cinta
Pada seorang yang pernah ada dalam hidupku
Namun apakah cinta ini salah?
Aku-pun tak tahu itu!


Mungkin saja aku berbohong
Namun hati dan perasaan siapa tahu
Aku benar-benar telah jatuh hati padanya
Untuk kesekian kali rasa itu hadir dalam diri


Maafkan aku salah dalam mencintai
Namun salahkah? Jika hati berbagi padanya!
Ia telah merebut cinta dan kasih sayang
Ia telah mengambil semua dariku
Ia benar-benar membuatku jatuh cinta

Namun biarlah cintaku hanya dalam diam
Sebagaimana daun yang jatuh tak pernah membenci angin
Sebab ia akan bebas melepas hasrat rindu-nya
Kapan dan dimana saja


                            Way Kanan,  Lampung,  20 Januari 2018
Share:

Wednesday, May 9, 2018

Miskomunikasi

Oleh : Alfa Arkana Eounoia


Ilustrasi.  Ist | Dokumentasi Pribadi
      


       Tiba-tiba saja  kamis pagi Bu Tahmid memanggilku.  Belum  sempat aku menginjakkan kaki diatas teras kantor,  bu Tahmid segera menghampiriku.  Ia bilang bahwa ada sesuatu yang harus ia katakan kepadaku segera.  Pagi itu aku ada jam mengajar disekolah,  sebagaimana biasanya sebelum masuk kelas aku menyempatkan untuk duduk dikantor beberapa menit guna membaca dan mengulang kembali materi yang akan aku ajarkan pada anak-anak dikelas.  Agar lebih matang dan menguasai materi.  Namun tidak untuk hari ini,  sebab sebelum memasuki kantor  tiba-tiba saja bu Tahmid mencegatku. 

"Mas Noia.  Bisakah kita berbicara sebentar. Ini penting mas! " ujar Bu Tahmid menyapaku didepan kantor. 

"Baik bu.  Ada masalah apa ya bu,  pagi-pagi begini?"   jawabku sembari memasuki ruang kantor. 

"Jadi begini mas,  maaf sebelumnya mungkin ini terlalu mendadak.  Sebentar lagi kita akan mengadakan acara besar,   yakni pengajian bulanan yang juga dibarengi dengan wisuda anak-anak yang akan lulus.  Mas bisakan mengajarkan anak-anak nari untuk menyambut para tamu nanti?

"Insha Allah saya siap bu.  Jika benar-benar dibutuhkan tarian ini dalam acara kita nanti".

"Sudah pasti dibutuhkan mas.  Sebab tamu kita adalah orang-orang besar dan terhormat".


"Siap bu.  Saya  siap mengajarkan tarian itu kepada anak-anak.  Nanti kita akan seleksi  terdahulu anak-anak nya".

Sebab rapat dadakan pagi itu,  kegiatan di sekolah diliburkan.  Seluruh siswa-siswi baik yang SMP dan SMK Yayasan ASHD diikut rapatkan.  Guna membahas pembentukan kepanitiaan dan juga pembahasan kegiatan.

Tahun ini adalah tahun awal Yayasan ASHD mengadakan acara besar,  yakni mewisudakan anak-anak yang lulus,  sebab baru tahun ini Yayasan ASHD siswa dan siswi nya lulus.  Sebenarnya untuk kegiatan besar lain sudah sering dilakukan setiap bulannya yakni pengajian rutinan setiap awal bulan.  Namun  tidak sebesar hajat kali ini,  yang diperkirakan Bapak Bupati dan juga pimpinan pusat akan turut hadir.

Aku ditunjuk sebagai koordinator bidang dokumentasi sekaligus merangkap sebagai penanggung jawab pada seni tari.  Untuk tari memang aku cukup paham dibandingkan yang lain di yayasan tersebut,  namun aku belum menguasai sepenuhnya.

Usai menggelar rapat perdana.  Aku langsung menyeleksi siswi-siswi yang mendaftarkan diri sebagai penari.  Ada enam nama yang tertera pada lembaran kertas yang diberikan kepadaku,  diantaranya ada tiga siswi SMP dan tiga siswi SMK.  Sebenarnya aku sudah mengantongi nama siswi-siswi yang  nantinya akan menjadi penari dalam acara itu,  namun sayang nama-nama tersebut sudah memiliki tugas masing-masing yang memang tidak bisa ditinggalkan.  Jadi harus tetap melakukan seleksi guna mencari yang benar-benar siap dan memiliki bakat nari meski hanya sedikit.  Diantara deretan nama-nama pendaftar ada satu nama yang memang sudah ditunjuk untuk menjadi talent paduan suara.  Jadi secara otomatis tinggal  lima nama lagi, yakni; Nisa,  Ana,  Reza,  Nia,  dan Patma.  Kebetulan tarian yang akan dibawakan jumlah penarinya ganjil yakni,  tiga,  lima,  tujuh,  dan atau sembilan.  Maka kita pilih yang lima sehingga tidak melakukan selekai kembali.

Sebab waktu yang diberikan untuk melatih nari hanya tujuh hari sampai hari H.  Maka pada hari itu juga kami langsung melakukan latihan perdana.  Tidak ada yang sulit bagiku untuk mengajarkan kepada mereka.  Sebab mereka bukan dipaksa namun benar-benar atas kemauan dari hati masing-masing.  Jadi sangat mudah untuk mengajarkan gerakan demi gerakan kepada mereka meski masih kaku badan nya sebab masih pemula.

Meski barmodal meniru gerakan yang ditampilkan pada layar komputer ukuran mini. Namun hal itu tidak menyudutkan semangat untuk terus berlatih dan terus berlatih.  Pagi,  siang,  sore,  bahkan malam hari tak henti berlatih agar di hari H bisa menampilkan  yang terbaik.

Hingga sampai pada hari kelima.  Ketika anak-anak didikku dipanggil oleh bu Tahmid menuju kantor.  Sebab ada sesuatu yang harus dibicarakan.  Kebetulan pada hari itu aku agak telat menuju kantor jadi aku tidak ikut dalam pembicaraan itu.

Aku mendapat kabar dari anak-anak bahwa tari nya di cancel alias tidak jadi ditampilkan.  Sontak aku kaget dan bertanya-tanya.  Mengapa harus di cancel dan mengapa secara mendadak seperti ini.  Mengapa tidak dari awal dan tidak ada komunikasi?  Padahal kita telah melakukan latihan  setiap hari bahkan setiap pagi,  siang,  sore,  maupun malam selalu saja latihan.  Tanpa mengenal lelah dan kantuk.

Akupun segera mencari tahu penyabab dibatalkan.  Saat itu Bu Tahmid sedang tidak di lingkungan sekolah sebab masih mendamping anak-anak olahraga meraton.  Jadi aku menghubungi bu Imsa untuk memlertanyakan hal itu.  Sebab bu Imsa juga merupakan salah satu ketua pelaksana kegiatan,  yang juga menginginkan aku untuk mengajarkan nari.

Ternyata masalahnya ada pada persepsi dan pandangan pimpinan yayasan terhadap tari yang akan dibawakan.  Maklum yayasan kami mengusung nuansa yang sangat religius jadi pimpinan yayasan mengira bahwa tari yang akan ditampilkan adalah tari yanv sembarang tari.  Padahal tarian yang dibawakan adalah tarian khas Lampung yang bertujuan untuk menyambut tamu agung dalam acara khusus. Serta pakaian yang dikenakan juga adalah lakaian yang menutup  aurat dan bisa menggunakan hijab.  Apalagi gerakan tarinya tidak aneh serta tidak mengumbar aurat,  hanya gerakan-gerakan yang biasa saja menurutku.  Tapi mengapa ini dipermasalahkan.  Dan yang aneh lagi kita disuruh menari menggunakan lakaian muslim dan tidak diperkenankan untuk berhias.

Sebab kejadian  itu terjadilah perdebatan diantara kami.  Yang sampai saat ini kmbelum menemukan titik terang.  Dan akulun mengambil keputusan untuk membatalkan pentas serta mengundurkan diri menjadi pelatih.  Sebab lelah dan cape dan juga anak-anak didik sudah tidak ingin berlatih lagi.  Sebab merasa lelah dan seolah tidak dihargai.



BERSAMBUNG... 


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Penulis adalah mahasiswa Universitas Terbuka,  juruan Ilmu Komunikasi. Penulis dapat dihubungi di Twitter @netrahyahimsa dan Instagram @DisisikuDisisimu


Share:

Monday, May 7, 2018

BILANG SAMA DILAN

PUISI : "BILANG SAMA DILAN"

Karya : Disisi Saidi Fatah


Sebuah karya yang terinspirasi dari novel legendaris yakni; Dilan. "Jangan rindu. Rindu itu berat, kamu tidak akan kuat. Biar aku saja yang rindu".

Dilan kau memang menawan
Wajahmu sungguh rupawan
Kau begitu banyak di idolakan
Dengan sekejab suluruh jagat dunia maya mengenalimu

Oh Dilan
Rindu memang berat
Bahkan sangat berat
Hingga aku tak kuat menahannya
Sebab rindu benar-benar tak dapat ditahan

Tapi perlu engkau ketahui Dilan
Seberat-beratnya rindu
Adalah rinduku pada sang ibu
Sebab ia adalah malaikat bagiku
Yang takkan pernah ada duanya
Dialah rindu yang paling utama didunia
Sebab dengan melihat wajah beliau, semua lelah akan sirna

Oh Dilan
Yang paling berat lagi
Adalah menahan rindu kepada sang nabi
Baginda Kanjeng Nabi Muhammad
Rosulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam

Betapa rindunya hati untuk bertemu
Menatap wajahnya, melihat senyumnya, serta bercengkrama dengannya
Sungguh indah sekali Dilan
Itulah rindu yang paling mendalam
Yang takkan pernah bisa kujumpai
Sampai ajalku nanti


                                Way Kanan, 18 Februari 2018

Share:

Sunday, May 6, 2018

Puisi "Aku Rindu Kawan"


PUISI-PUISI "DISISI SAIDI FATAH"



Ada sesuatu yang membuatku rindu malam ini
Sebab tak secangkir kopi pun menemani
Tak biasa menyendiri, melintasi malam sepi seorang diri

Tiga hari sudah kawan,
Kita tak tegur sapa
Tidak juga menikmati kopi hangat berdua
Canda, tawa, dan ceritapun tak lagi ada

Kawan,
Tibatiba saja aku merindukan
Hati begitu bergetar tak karuan
Ketika mendengarkan lantunan syair puja-puji darimu
Lantunan nadanada rindu
Yang kian memburu untuk segera bertemu denganmu

Kawan,
Maaf atas prilaku ku
Tempo hari lalu

Asshiddiqiyah Islamic Collage, 28 April 2018

Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive