Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Search Bar

Wednesday, June 5, 2019

Amalan-Amalan Sunnah di Hari Raya

Oleh : Disisi Saidi Fatah


Alhamdulillahirobbil ‘alamiin, puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat, hidayat, inayah, dan beribu kenikmatan yang telah beliau hadirkan untuk kita semua, wabil khusus umat muslim di dunia.
Tak terasa kita sudah berada di penghujung ramadhan. Sebulan penuh kita menikmati ramadhan serta isinya, semoga apa yang kita laksanakan dan kerjakan menjadi amal ibadah dan bisa diterima oleh Allah Swt. Amal yang menjadi penolong kita kelak diakhirat serta menjadi jembatan bagi kita menuju syurga-Nya.
Semoga ini bukanlah ramadhan terakhir bagi kita, semoga Allah memberikan kita kesempatan juga kesehatan untuk dapat berjumpa ramadhan tahun depan Aamiin.

Satu (1) Syawwal 1440 hijriyah jatuh pada hari Rabu, 5 Mei 2019. Merupakan hari kemenangan bagi umat muslim dan telah menjadi tradisi bagi kita semua untuk menyambut dengan riang gembira. 
Adapun amalan-amalan sunnah yang dapat kita laksanakan dalam menyambut hari raya idul fitri, sebagaimana yang pernah dilakukan baginda rosulullah shollallahu ‘alaihi salam, diantaranya ialah;
Pertama, mandi di pagi hari sebelum berangkat sholat ied. Kita disunnahkan untuk membersihkan diri, sebagaimana mandi janabah. Kedua, menggunakan pakaian terbaik yang kita miliki; Rosulullah SAW, beliau sangat menyukai pakaian berwarna putih bagi kaum adam atau laki-laki serta pakaian berwarna gelap untuk kaum hawa atau perempuan. Oleh sebab itu kita dianjurkan untuk mengenakan pakaian sebagaimana kesukaan rasul kita.

Ketiga, bagi laki-laki sangat dianjurkan untuk mengenakan wewangian atau parfums, namun dalam hal ini perempuan tidak dianjurkan. Keempat, sebelum berangkat sholat ied, disunnahkan untuk makan terdahulu. Hal ini merupakan sunnah nabi, adapun hikmahnya; sebagai pertanda bahwa idul fitri ailah kembali berbuka.
Kelima, kita disunnahkan untuk berjalan kaki ketika berangkat menuju masjid atau lokasi tempat kita melaksanakan sholat, begitu juga pulangnya. Keenam, disunnahkan untuk memperbanyak bacaan tasbih, takbir, tahmid, serta tahlil ketika hendak berangkat sholat. Tasbih, takbir, tahmid juga tahlil terus dibaca sampai pada waktu pelaksanaan sholat. Ketika sampai ditempat sholat ied, tidak ada lagi sholat sunnah lainnya, langsung menggelar sajadah lalu duduk dibarisan.
Mengikuti rangkaian sholat idul fitri sebagaimana mestinya dan mengikuti imam; pada rakaat pertama setelah takbiratul ikhram kita membaca doa iftitah, lalu dilanjutkan dengan membaca takbir sebanyak tujuh kali. Adapun rakaat kedua, usai bangkit dari sujud maka ditambah dengan lima kali takbir. 

Usai melaksanakan sholat ied berjama’ah, kita dianjurkan untuk tidak langsung meninggalkan masjid atau tempat sholat. Hendaknya kita mendengarkan khotib sampai dengan selesai ia berkhotbah. Selepas itu disunnahkan untuk saling mendoakan sesama muslim; sebagaimana yang dilakukan oleh salafusholih, mereka mengucapkan “Taqobbalallahu minna wamiinkum taqobbal yaa kariiim” Semoga Allah menerima amal kita semua, semoga Allah yang maha kariim  mengabulkannya.

Demikianlah amalan-amalan sunnah di hari raya yang bisa kita lakukan sebagaimana baginda rosulullah SAW terdahulu. Semoga Allah SWT senantiasa menghendaki kita semua di hari yang penuh kemenangan ini. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.


*Penulis merupakan pendidik di SMP Integral Manbaul Ulum, Pondok Pesantren Payur Asshiddiqiyah 11 Labuhan Jaya, Gunung Labuhan, Way Kanan. Juga Anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Way Kanan.

Tulisan ini dimuat dimedia online NU Lampung
Share:

Monday, May 20, 2019

Meski Sekedar Menatap

#MrRj


Untuk sekedar menatapmu aku takut, apalagi jika bertegur sapa
Aku tak ingin hal sama terulang kembali, kau pergi tanpa permisi menyisakan luka direlung hati
Taat kala kutanya mengapa, selalu saja dalil tak jelas yang kuterima

Kau bungkam tanpa bicara, membuat diriku bertanya-tanya
Sebab apa kau tiba berubah tak lagi cinta
Senyum saja kau sudah enggan untuk menyuguhkan
Belum sepekan kau menetap, lalu kau pergi tanpa permisi
Setiap saat aku meminta agar kau mengklarifikasi
Selalu saja hal itu membuatmu naik tensi

Setiap perhatian aku berikan, kau enggan menerima
Namun dibelakang kau bilang masih ingin bersama
Aku tak paham akan sandiwara yang kau mainkan
Benarkah kau cinta atau hanya pura-pura

Asshiddiqiyah Way Kanan, 19 Mei 2019
Share:

Sunday, February 17, 2019

Sudah Dua Tahun Saja, Rindu Tak Kunjung Berlalu



By ; Alfa Arkana Eounoia (DSF)

Sudah dua tahun saja,
Begitu cepat waktu melaju, menyisakan semua kenangan yang tak kunjung berlalu
Cucuran air mata, tak letih membasahi kedua pipi
Menyisakan pilu yang teramat dalam bagiku

Netraku berkaca kaca
Bibirku terbata bata
Tak mampu berucap, meski hal yang teramat indah bagimu
Melainkan doa untukmu yang selalu kurindu

Kau adalah sosok yang begitu dirindukan
Kala hadirmu memberi kesejukan,
Raut wajahmu yang indah untuk dipandang
Serta nasihat yang kasat akan makna mendalam

Sudah dua tahun saja,
Engkau pergi tak kembali meninggalkan jutaan rindu di bumi pertiwi
Rindu tatapan wajahmu
Rindu akan sanda guraumu

Andai saja tuhan berikan waktu untuk berjumpa
Tak akan pernah diri ini menyiakan hal itu
Ayah, begitu rindu hati ini untuk menatapmu
Rindu hati untuk bertemu, melepas semua kerinduan dihati

Bumi Ramik Ragom, 5 Februari 2019
Share:

Thursday, February 14, 2019

Februari Merekah

Wallpaper Plare. Ist



Rj;

Sudah Februari saja,
Tanpa terasa waktu cepat melaju tanpa menginstruksi
Penantian panjang dengan segenap ruka lara yang mendekam di dada
Tak ada sia-sia kejenuhan menanti senyuman agar merekah indah pada bibirmu
Tanpa ragu kau suguhkan itu
Tanpa malu kau menatapku dalam diam mu



Benar, apa yang mereka katakan padaku tempo lalu
Usaha yang didasari dengan niat dan doa tulus ikhlas
Akan membuahkan kebahagiaan yang tak bisa terucap dengan kata-kata



Meski kau masih enggan untuk bicara
Setidaknya panorama di bibirmu tak lagi mendekam lara
Aku harap pada Februari, merekah indah kebahagiaan untuk kita



Bumi Ramik Ragom, 7 Februari 2019

Alfa Arkana Eounoia (AA Noia)
Share:

Wednesday, January 30, 2019

Selalu Bersyukur (3)

 By : Alfa Arkana Eounoia (DSF)


Lanjutan novel "Perjalanan, Mimpi, & Inspirasi" Bab III

“Puji syukur terhadap Allah, Tuhan Yang Esa yang telah memberikan rahmatnya serta memberikan keajaiban terhadapku. Kini aku sadar betapa besar kuasa-Nya, begitu dengan mudahnya Allah mempertemukan dan memisahkan kita dengan seseorang, bahkan hanya dalam sekejab saja”

Masih saja teringat dalam setiap langkah, senyum menenangkan hati, mata dan wajah berseri itu. Sejak pertemuan dengan Alfa pada hari itu, aku rasa banyak menemukan perubahan dalam hidupku, sikap dan pola hidup tak lagi sama. Tak pernah lagi mengurung diri dikamar, waktu banyak aku habiskan untuk membaca, menulis, dan berkeliling disekitar rumah, terkecuali ketika aku sedang bosan atau merajuk. Jika aku sedang merajuk pada seseorang aku sering kali mengurung diri dikamar bahkan ketika aku lapar, tak sedikitpun ada keinginan untuk makan dan minum, terkecuali ketika diri hendak ke kamar mandi.

Sejak mengenal Alfa semua berubah seratus delapan puluh derajat, entah kejaiban apa yang Allah berikan untukku. Namun aku sangat bersyukur atas kehadiran Alfa yang mampu merubah segalanya dengan begitu cepat. 
Menjelang subuh tiba, diri ini telah bersiap-siap menyambut pagi. Menuju kamar mandi cuci muka, gosok gigi, lalu ambil wudha dan sholat thajjud dilanjutkan dengan sholat subuh lalu olahraga pagi. 

Tak seperti biasanya aku banyak mengulur waktu, bahkan terkadang aku bermalas-malasan untuk membuka pintu kamar ketika pagi menjelang, apalagi ketika diri sedang merajuk bisa berhari-hari tak keluar kamar apalagi keluar rumah. Namun semua kini benar-benar telah berubah tidak lagi seperti itu, aku yang dulu bukanlah yang sekarang. Semangat empat lima selalu tumbuh dalam diri. Pagiku kini tak sia-sia lagi, banyak tugas dan PR yang menumpuk sudah lama tak tersentuh olehku dan kini semua perlahan mulai terselesaikan satu persatu.

ᴥᴥ ᴥᴥ ᴥᴥ

Semakin hari bayangan Alfa selalu menemaiku, menyemangati diri untuk terus berbuat dan melangkah, tak sedikitpun hati goyah ataupun menyerah. Aku hanya pasrah terhadap skenario-Nya Allah. Namun tak henti berharap dan selalu berdoa agar semua bisa sesuai dengan apa yang diharapkan. 

Perlahan aku belajar ikhlas untuk melepaskan ratusan bahkan ribuan kenangan dan bayangan semu serta mimpi-mimpi yang dahulu kurangkai indah bersama sang motivator yang menjadi kebanggaan dan penyemangat serta inspirasi-inspirasiku dulu. Sebagaimana keindahan kata pada syair dalam bait demi Sbait puisi. Kini semua hilang bagaikan kapal yang karam ditengah lautan, hanya sisa kepingan memori yang apabila teringat olehku selalu membuat luka. Tak jarang hal itu menghadirkan bahagia.

Puji syukur terhadap Allah, Tuhan Yang Esa yang telah memberikan rahmatnya serta memberikan keajaiban terhadapku. Kini aku sadar betapa besar kuasa-Nya, begitu dengan mudahnya Allah mempertemukan dan memisahkan kita dengan seseorang, bahkan hanya dalam sekejab saja. Kita tak tahu kapan dan dimana akan berjumpa dengan orang baik, begitu pula dengan sebaliknya, sebab kita hanyalah manusia yang tak tahu apa-apa terhadap skenario-Nya. Aku rasa aku  adalah orang yang sangat beruntung, dipertemukan dengan orang-orang yang baik dan sayang terhadap diri, namun masih banyak PR yang masih harus dibenahi,  diperbaiki dan dikoreksi kembali; salah satunya ialah bagaimana kita mempertahankan hubungan dengan orang itu sendiri agar tetap terjalin hubungan dan komunikasi yang baik serta tetap bersama sampai akhir hayat menutup mata. Sebab aku tak ingin kejadian lama terulang lagi dan lagi, cukup untuk akhir ini saja.

Sebagaimana pepatah mengatakan “Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung” maka dari itu aku selalu ingin bersahabat dan berhubungan dengan baik terhadap siapapun itu, tak pedulikan apapun latar belakangnya dan darimana asalnya. Aku harap persahabatanku dengan Alfa akan terus membaik meski suatu saat nanti akan terpisahkan oleh waktu. Besar harapku menjalin persahabatan dan persaudaraan yang lama dan meninggalkan kenangan indah, sebab tak inginku seperti yang lalu yang hanya menyisakan luka dan air mata.  




Sebagai mana pepatah mengatakan;
“Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung”
Oleh sebab itu, aku ingin selalu bersahabat dan berhubungan baik terhadap siapapun itu, 
tak peduli asal-usulnya, latar belakang nya, serta darimana asalnya.


Share:

Sunday, January 27, 2019

Alfa! (2)

Lanjutan Novel "Perjalanan, Mimpi, dan Inspirasi" Bab II

; Alfa Arkana Eounoia


Wajah bening dan tenang dengan tatapan mata yang tajam serta senyum yang mampu menentramkan hati. Sebab penasaran oleh anak itu. Hari ini kuhabiskan dengan mengelilingi pesantren, tak banyak yang berubah dari beberapa bulan yang lalu, saat aku ikut hadir dalam forum leadership. Hanya santrinya yang menambah, meski tak sebanyak di kota-kota yang tersebar di pulau Jawa, maklum pesantren ini baru berjalan dua tahun, jadi santri yang mendaftar tak seberapa.
Pertumbuhan tanaman sedekah oksigen juga ikut tumbuh berkembang. Awal kami menaman pohon itu tingginya sekitar 30-40 cm. Tanaman pohon buah nangkadak (Persilangan antara buah nagka dengan campedak) serta mangga yang beberapa bulan lalu aku tanam bersama alumni leadership angkatan 2016 itu, kini bertambah tinggi berkisaran 50-70 cm. Begitu cepatkah waktu berlalu.

Usai berkeliling sekitar pesantren aku istiharat sejenak, bersandar melepas lelah pada anak tangga Masjid Baitul Makmur sembari memotret kegiatan santri. Kebetulan pada hari itu aktivitas sehari-hari diliburkan sebab hari Ahad. Beberapa santri asyik bermain sepak bola di lapangan, cukup bagus pemandangan itu untuk aku dokumentasikan.

Seketika aku sedang memotret, tiba-tiba ada seorang menegurku dari arah belakang. Aku terkejut bukan kepalang, seketika mata melihat ke arah belakang. Anak itu? Gumamku dalam hati. Ya. Seorang anak laki-laki yang tadi siang menyapaku diruang tamu.

“Hey. Sendirian saja?” sapaku sedikit malu.

“Iya kak. Kakak sedang apa disini?”

“Habis keliling mencari sesuatu. Sebab lelah jadi aku istiharat sejenak disini, sembari memotret permainan sepak bola,”

“Mencari sesuatu. Apa itu?”

“Sesuatu yang telah membuat diri ini penasaran, uppzz”

“Apa gerangan? Apakah yang membuat kakak ini begitu penasaran?

“Ah sudah lupakan saja, tidak perlu diungkit”

Bismillah. Semoga saja ia tak lagi merajuk padaku, sebab kejadian tadi. Aku benar-benar tak mendengarkan jika ada yang mengucapkan salam, maklum fokusku tadi hanya pada ponsel.

“Ohya namamu siapa dik,”

“Aku Alfarizi. Kakak sendiri siapa namanya?”

“Aku Noia.”

“Alfa enggak ikut main sepak bola?”

“Entar saja, jika lelah nya telah hilang,”

Begitu senang hati ini bertemu dengan anak itu, yang telah membuat penasaran pada diri. Akhirnya bertemu juga, tanpa harus berkeliling lagi. 
Aku manfaatkan waktu untuk saling mengenal dan bertanya dengan Alfa, meski obrolan kami hanya membahas asal-muasal, latar belakang, dan hobi sampai tujuan utamaku ke pesantren, namun hal itu dapat mempersatukan kami. Begitu akrab antara kami. Meski baru mengenal Alfa, aku rasa dia orang baik an penurut. Dan aku rasa aku menyukai nya.

Sejak itu aku sangat dekat dengan Alfa, meski baru beberapa jam berkenalan aku dan Alfa seperti sahabat yang sudah lama tak jumpa. Alfa merupakan santri baru yang berasal dari Kampung Bengkulu, baru empat bulan menetap di pesantren sebab melanjutkan pendidikan di SMP. Alfa sendiri adalah putra pertama Pak Yezi yang merupakan sahabat dan juga seniorku. 

ᴥᴥᴥᴥᴥᴥ

Usai melaksanakan sholat Azar jama’ah di Masjid Baitul Makmur, aku ditemani Alfa kembali jalan-jalan mengelilingi gedung-gedung pesantren sekaligus mengambil gambar untuk dokumentasi pribadiku. Aku sangat hobi untuk mendokumentasikan segala sesuatu yang aku pandang indah, apapun itu selalu aku dokumentasikan. Tak pernah sedikitpun moment terlewatkan begitu saja olehku. 
Namun setiap kebahagian selalu ada cobaan dan rintangan yang menghadang, ya begitulah pribahasaku dalam menyebutnya. Ada suatu penyakit yang terkadang membuatku kesal, aku sering sekali kehilangan file-file dokumentasiku, terkadang memorinya rusak bahkan terkadang hilang. Tak jarang moment-moment berharga itu bisa aku miliki seutuhnya, yah tapi aku merasa cukup bangga dan terhibur dengan hobiku.

“Fa, kamu suka di foto gak?”

“Suka, tapi tidak terlalu kak. Memangnya kenapa?”

“Aku boleh, ambil gambar kamu?”

“Boleh,”

“Fa, lihat deh sebelah sana,” ujarku sembari menunjukkan kearah mega senja yang jingga.

“SubhanAllah, begitu luar biasa ciptaan Allah.”

“Iya Fa, sebab itu kita harus mensyukuri atas nikmat yang Allah berikan kepda kita,”

“Oke Fa, kamu berdiri disitu ya, biar aku ambil gambarnya.”

“Oke. Siap.”

Tak jarang aku mendapatkan moment seindah langit sore pada senja yang jingga ini, apalagi ditemani seorang telah menghadirkan rasa bahagia dalam diriku. Aku seperti menemukan sayap yang patah ketika aku kelihangan sosok yang amat aku banggakan dahulu.  Terkadang hati menangis ketika mengingat kembali moment bersama sang inspirasiku, tapi sayang semua hanyalah kenangan yang akan selalu terkenang dalam memoriku sampai akhir hayatku.


∆∆∆ B E R S A M B U N G ∆∆∆
Share:

Saturday, January 26, 2019

Ketika Semua Bermula (1)

; Alfa Arkana Eounoia



Tubuh kurus dengan tinggi hampir 170 cm, yang berharap tingginya itu bertambah menjadi 175 cm, memiliki hidung yang mancung serta kulit sawo matang terang. Pria berdarah Lampung itu tengah berdiri, bersemangat menyambut pagi. Hari itu jarum jam berdetak tepat pada pukul Tujuh pagi, ketika semua berawal. Aku begitu bersemangat menyambut hari dengan ribuan aktivitas, meski matahari tak tampak cerah namun tak sedikitpun bisa mengurangi semangat empat puluh limaku.
Sore nanti usai pulang kerja, aku memiliki janji dengan Nara sahabat baruku.  Kami akan bepergian untuk mengunjungi salah satu yayasan dimana aku dan Nara pernah bersama-sama berjuang menimba ilmu selama satu bulan penuh.

Kawan-kawan biasa memanggilku Noia. Semalam aku dan Noia chatting via whatsapp, begitu banyak yang kami obrolkan hingga larut malam. Tanpa sengaja obrolan kami menyinggung masalah program lanjutan leadership  yang mana kami merupakan salah satu alumninya. Aku adalah alumni leadership Yayasan Satu Nama angkatan pertama tahun 2015, sedangkan Nara merupakan alumni tahun setelah aku, yakni tahun 2016. Pada tahun 2016 aku diberi mandat oleh Pimpinan yayasan satu nama untuk menjadi penggerak dalam program sama.

Satu bulan sudah kami lalui bersama, kebersamaan, kekompakan, kekeluargaan yang begitu indah dan cepat terjalin diantara kami. Begitu banyak kenangan penuh suka duka terkenang, sampai hati tak ingin melepas semua. Berat hati untuk meninggalkan, namun siap atau tidak semua akan tetap berjumpa pada sebuah perpisahan sampai batas waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Aku percaya bahwa setiap pertemuan akan  berakhir pada sebuah perpisahan dan aku percaya setiap perpisahan bukanlah untuk berpisah selamanya, aku percaya Allah akan mempertemukan kita meski dilain waktu, tempat, dan usia serta dengan suasana yang berbeda. Begitupun dengan sebaliknya.
Hari-hari berlalu, semua dilalui dengan kesibukan dan aktivitas sebagaimana biasanya dan tanpa terasa Empat Bulan berlalu sudah. Liburan akhir pekan terlewatkan begitu juga dengan Ramadhan dan Hari Raya. Malam ini kami bernostalgia kembali kedalam masa-masa indah yang kelabu dengan mengenang berbagai macam kisah meski telah menjadi album kenangan namun tetap terkenang selamanya.

Suasana malam pada bulan Juni cukup dingin, ditambah lagi dengan suara gemuruh hujan dan petir menyambar membuat diri tak ingin keluar rumah. Apalagi akhir ini tugas kuliah banyak menumpuk. Sembari mengerjakan tugas kuliah ditemani dengan secangkir kopi, kubuka kembali  file-file lama di laptop. Tak sengaja aku melihat ratusan foto sisa-sisa kebersamaan pada program leadership, begitu indah kebersamaan, kekompakan, keberagaman, dan kekeluargaan yang terjalin. Meski hanya satu bulan bersama namun begitu banyak pengalaman, ilmu, dan wawasan yang didapatkan. Rupanya aku merindukan mereka para pejuang hebat juga keluarga baru di pesantren. Maklum orang jomblo, tak ada yang dirindukan melainkan kenangan bersama kawan.

Entah, mendapatkan ide dari mana. Tiba-tiba saja aku chat kawan alumni satu persatu, sembari menanyakan kabar mereka sebab sudah lama kita tak saling sapa meski hanya sekedar memberi kabar. Hingga pada akhirnya terbentuklah suatu forum dalam grup whatsapp dan tercetuslah ide brilian untuk mengunjungi pesantren. Namun sayang tak semua kita bisa ikut, sebab beberapa diantara kami berada di luar kota, seperti Bangka Belitung, Jambi, Baturaja, Palembamg, dan Aceh. Tak banyak pula yang berada di kota-kota di Lampung, hanya aku, Nara, dan Reja saja yang masih menetap di kampung. Maklum kami semua berasal dari keluarga yang sederhana jadi tidak bisa hidup dengan berpoya-poya dan bergelimang harta, semua harus diatur dengan sebaik-baiknya apalagi masalah pendidikan untuk masa depan. Ditambah lagi dengan tahun ajaran baru, jadi tidak mungkin akan meninggalkan aktivitas ngampus.

Sebab sibuk dan jauh, maka hanya aku dan Nara saja yang hadir untuk bersilaturahmi di pesantren. Meski hanya berdua, tak mengurangi rasa kebersamaan dan kekompakan kita sebagai keluarga yang dipertemukan dalam satu forum.

ᴥᴥᴥᴥᴥᴥ

Empat puluh menit perjalanan menuju pesantren, dengan mengendarai sepeda motor kami-pun tiba. Begitu senangnya hati melihat suasana rumah yang sudah lama tak terlihat serta sambutan para santri yang penuh bahagia dengan wajah berserinya, satu persatu menyambut dengan saling berjabat tangan. 
Sembari menunggu Abah dan Ibu Nyai di ruang tamu. Aku disibukkan dengan ponselku. Begitu banyak pesan masuk sebab selama perjalanan tak sedikitpun menyentuh ponsel jadi aku balas satu persatu pesan itu. Fokusku kini hanya pada ponsel, ya tak lain hanya ponsel. Sampai suatu ketika ada seorang anak mengucap salam dari balik pintu tak aku hiraukan. 

“Assalamu’alaikum,” sapa suara itu dari balik pintu.

Karena hanya terfokus kepada ponsel. Jadi salam itu tak terdengar oleh telingaku. Sampai akhirnya anak itu mengetok pintu dengan sedikit keras.

“Assalamu’alaikum,”

Seketika fokusku buyar, aku terkaget, langsungku berdiri melangkah  menuju pintu dimana suara itu berasal.

“Wa’alaikum salam,” ujarku, Aku tersipu malu melihat sosok yang sudah sejak tadi berdiri di balik pintu.

Seorang anak laki-laki, dengan wajah berseri, matanya bening bak purnama kedua belas. Diam, tenang sekatika. Dengan penuh tatap. Ia menatap wajahku dengan serius dan begitu tajam.
Aku malu ketika menatap wajahnya sebab ia sudah berkali-kali mengucap salam namun tak aku hiraukan. Anak itu mengulurkan tangan, akupun menerima juluran tangan itu dengan begitu sigap dan cepat. Ia mencium tanganku lalu pergi. 
Aku ternganga melihat langkah demi langkah kaki itu meninggalkanku. Fokusku kini berpindah pada anak itu. Sekujur tubuh terasa kaku seketika tak sedikitpun mata ini berpaling darinya, padahal ia telah pergi meninggalkanku begitu jauh. Entah jin apa yang telah merasuki ragaku atau mungkin aku telah terhipnotis olehnya.

Dia benar-benar telah membuatku terlena, ia bagaikan malaikat yang baru saja Allah hadirkan untuk menemuiku beberapa saat. Wajahnya tenang setenang air ditelaga pada siang hari yang mampu menghilangkan penat dan panas seketika. Senyum nya mampu menentramkan hati, sebagaimana ketika berada dibawah pepohonan yang rimbun pada siang hari. Kutatap lamat-lamat bayang demi bayangan yang kian menghilang dari pandangan dan segeraku bergegas untuk menyusulnya.

“Hei tunggu,”

“Siapa namamu dik?”

“Bisakah kita berkenalan sebentar?”

Tak sedikitpun ia mendengarkan suaraku. Bayangan itu semakin menghilang tak meninggalkan jejak. Aku benar-benar dibuat penasaran olehnya, siapakah gerangan? Mengapa aku begitu penasaran dengan anak itu, sehingga hati ingin segera untuk bertemu.


∆∆∆ B E R S A M B U N G . . . . . ∆∆∆

Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive