Untuk mengenang kebersamaan kita dalam suatu ikatan yang bernaung dalam Pelajar Nahdlatul Ulama. Senoga kita senantiasa dalam ridha-Nya Allah SWT. Aamiin
Saturday, November 2, 2019
Konbes dan Rakernas Persatukan Ukhuwah
Oleh : DSF/Senja Jingga Purnama (@pecandusastra96)
Konferensi Besar (Konbes) dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Minhadlul Ulum, Pesawaran, Lampung. Pada Jum'at hingga Ahad, 18-20 Oktober 2019 lalu menjadi ajang untuk mempererat ukhuwah bagi kader-kader IPNU. Terkhususnya kader IPNU dan IPPNU Cabang Kabupaten Way Kanan.
Kabupaten Way Kanan memiliki motto Ramik Ragom (Beragam) yang menandakan bahwasanya di Way Kanan sangat beragam suku, agama, adat, dan budaya. Memiliki luas wilayah selauas 3.921.63 km² atau sebesar 11.11 persen dari luas Provinsi Lampung, dengan ibu kota Blambangan Umpu yang menjadi salah satu kampung tertua di Kabupaten Way Kanan.
Berdasarkan letak geografisnya, Kabupaten Way Kanan memiliki batasan-batasan diantaranya; pada sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan (Kab.Ogan Komering Ulu Timur/OKU Timur), sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Lampung Utara, sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Lampung Barat, dan sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Tulang Bawang Barat.
Berdasarkan keputusan Pimpinan Pusat IPNU, Provinsi Lampung ditetapkan sebagai tuan rumah konbes dan rakernas IPNU tahun 2019. Mendapat kabar tersebut tentu para kader IPNU se-Lampung menyambut baik dan riang harakah tersebut. Di Way Kanan kader-kader terbaik IPNU turut hadir dan mensukseskan hajat besar pelajar NU. Pada 17 Oktober 2019 sebanyak sepuluh kader IPNU dan satu kader IPPNU berangkat menuju Pesawaran.
Sebelumnya kader-kader tersebut akan berangkat dua hari sebelum hari H. Namun terkendala oleh dana dan juga tanggungjawab yang harus diselesaikan. Untuk diketahui IPNU Way Kanan adalah organisasi yang mandiri. IPNU bukan organisasi pemerintah yang memiliki jatah. Terbiasa dari para senior, kader IPNU Way Kanan tidak ingin setiap melakukan kegiatan selalu berpangku tangan pada pemerintah apalagi membuat proposal. Dengan dukungan juga support dari para senior, maka berangkatlah sehari sebelum hari H. Tepat pada Kamis, 17 Oktober 2019, pra keberangkatan para kader kumpul di rumah ketua IPNU Way Kanan, Rekan Nufi M Yusuf yang berada di Kampung Bumi Merapi, Kecamatan Baradatu. Guna membahas persiapan pra keberangkatan. Dalam rapat singkat yang dipimpin oleh ketum IPNU sendiri menghasilkan beberapa keputusan diantaranya; kader yang menyatakan akan berangkat menghadiri konbes dan rakernas sebanyak 9 kader IPNU yang terdiri dari Ketua Nufi M Yusuf dan Wakil Ketua Rekan Nandang Kurniawan, Komandan dan tiga pasukan Corps Brigade Pembangunan (CBP), serta rekan Trisno, Arief, dan Disisi, selaku ketua, sekretaris, dan satu anggota Pimpinan Anak Cabang Kecamatan Baradatu. Keberangkatan menggunakan sepeda motor milik kader dengan bahan bakar ditanggung oleh cabang. Kita pun sepakat bahkan apabila nanti asupan dana kas yang dimiliki kurang, setiap kader siap untuk patungan atau iuran. Sebagai kader yang militan, apa saja akan dikorbankan demi kebaikan organisasi.
Pukul 15.45 wib rapat selesai, semua kader siap-siap untuk berangkat. Ada sebagian kader yang pulang kerumah guna mempersiapkan peralatan. Sembari menunggu beberapa kader yang masih pulang kerumah, Ketua IPNU, Rekan Nufi mendapat telepon dari salah satu senior, yakni Ustadz Susilo (Ketua IPNU Way Kanan periode kedua). Dalam percakapan singkat melalui telepon tersebut disimpulkan bahwasanya Ustadz Susilo mengajak untuk berbarengan menuju lokasi konbes dan rakernas. Beliau ada kegiatan perkuliahan pasca sarjana di Kota Metro. Kebetulan beliau membawa mobil dan seorang diri, oleh sebab itu beliau mengajak untuk berangkat bersama-sama.
Alhasil, pada pukul 17.15 wib rekan Nufi mengumumkan kembali melalui pesan singkat, pemberangkatan diundur setelah ba'da Isya dengan menggunakan mobil bersama demisioner IPNU Way Kanan. Namun ada beberapa kader yang sudah terdahulu berangkat menuju lokasi tanpa konfirmasi terdahulu kepada ketua, dengan menggunakan sepeda motor. Yakni; kader CBP. Mengetahui hal itu rekan Nufi mengajak kembali dua kader untuk bisa ikut rombongan. Pada saat itu rekan Muhlisin dan Rekanita Faridatul Khusna (Sekretaris Cabang IPPNU Way Kanan) menyatakan siap untuk ikut. Usai ba'da Maghrib seluruh kader berkumpul dikediaman mertua Ustadz Susilo sembari menunggu waktu Isya.
Kurang lebih tiga jam perjalanan melintasi jalan lintas Sumatera dan dibantu dengan tol. Sekitar pukul 00.15 Wib rombongan sampai di lokasi konbes dan rakernas. Suasana malam itu terlihat sepi sebab sudah larut malam, sebagian para kader yang hadir sudah tertidur namun sebagian masih berbenah. Rombongan dari Way Kanan disambut baik oleh panitia, kami diarahkan pada sebuah kamar kosong di belakang rusunawa untuk dijadikan sebagai tempat istirahat dan menaruh barang bawaan.
Pada Jum'at, 18 Oktober 2019 siang. Usai pembukaan konbes dan rakernas yang dihadiri Sekretaris Jendral Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Sekjend PBNU) bapak H Helmi Faizal, Kader IPNU dari berbagai wilayah se-Indonesia, PWNU Lampung, dan PCNU Pesawaran. Rombongan dari Way Kanan berbincang ringan mengenai kader IPNU IPPNU Way Kanan yang berada di tanah rantau/kota yang tergabung dalam ikatan pelajar NU. Akhirnya tercetuslah ide brilian untuk mengadakan pertemuan sembari menjalin komunikasi dan silaturahmi kekuarga besar di sela-sela konbes dan rakernas.
Di hari kedua, tepat pada pukul 15.00 melalui pesan singkat, Rekan Nufi dibantu dengan rekan Trisno mengumpulkan beberapa kader baik IPNU maupun IPPNU yang tergabung dalam Ikatan Pelajar NU yang berada di tanah rantau dan turut hadir di konbes dan rakernas, dengan titik kumpul di panggung utama.
Pertemuan singkat sore itu begitu indah dan luar biasa. Menjadikan kita saling mengenal satu dengan yang lainnya. Yang unik dan paling mengesankan yang tak bisa terlupakan, adalah ketika beberapa kader yang kuliah di UIN Raden Intan Lampung. Sama-sama berasal dari satu kampus dan ikut gabung dalam paduan suara yang turut memeriahkan konbes dan rakernas. Yang notaben ketemu setiap hari untuk latihan. Mereka saling kenal, namun tidak tahu jika sama-sama berasal dari Way Kanan. Pada saat ketemu dalam forum yang digagas oleh ketum Nufi, meraka saling kaget dan auto ngakak. Bagaimana tidak, satu kampus, satu ikatan, namun tidak saling tahu jikalau sama-sama berasal dari satu daerah.
Begitu luar biasa dan barokah pertemuan singkat melalui konbes dan rakernas ini. Tak banyak yang kita obrolkan dalam forum. Sebagaimana seperti biasa, hal utama adalah perkenalan untuk mengenal satu dan yang lain dan tentunya agar lebih akrab lagi. Tidak rugi bisa ikut menjalin ukhuwah bersama rekan dan rekanita, bisa saling mengenal dan tentunya tukar kontak untuk menjaga komunikasi diluar forum, tukar pikiran dan wawasan.
Kita berharap melalui pertemuan singkat itu mampu menumbuhkan rasa kepedulian sesama kita, menjalin ukhuwah yang baik, dan tentunya komunikasi serta silaturahmi saling terjaga. Kita tak tahu kapan dan dimana Allah pertemukan kita kembali, kita harap jika sewaktu-waktu bertemu kita saling bertegur sapa dan tidak saling cuek. Dan hal yang paling kita harapkan terutama bagi kader-kader IPNU maupun IPPNU yang berada di tanah rantau, ketika nanti kembali ke tampat asal (Way Kanan) dapat membantu, bersinergi dan berkontribusi mengembangkan sayap IPNU IPPNU di Bumi Ramik Ragom.
Saat ini masih banyak yang belum tahu akan IPNU IPPNU, wabil khususnya di Way Kanan. Bahkan ada yang bilang bahwa IPNU IPPNU di Way Kanan belum ada. Padahal begitu banyak kegiatan dan aktivitas yang telah dilaksanakan dan tersyi'ar di Bumi Ramik Ragom. Hanya saja kurang terkaper dalam media. Hal ini menjadi PR bagi kita semua, terutama kader-kader IPNU IPPNU untuk lebih mensyi'ar-kan IPNU IPPNU baik secara nyata maupun di dunia maya (sosial media).
Thursday, September 12, 2019
Kiat-Kiat Menjadi Penulis Muda
Berbicara menulis, tentu saja kita semua sudah tidak lagi asing akan hal ini, sebab dari kita menduduki sekolah dasar bahkan jauh sebelum itu kita sudah diajarkan untuk menulis. Bukankah seperti itu? Tidak dipungkiri bahwasanya setiap insan didunia adalah penulis sejati, sejatinya ia akan menulis kisah hidupnya sebagai catatan di akhirat kelak. Pada kesempatan kali ini saya tidak akan membahas tentang kepenulisan untuk catatan kita di akhirat, sebab hal itu bukanlah kewajiban saya. Disini saya akan berbagi sedikit pengalaman yang saya alami dalam dunia kepenulisan.
Saya mengenal dunia tulis menulis sejak tahun 2015 lalu, ketika saya mengikuti sebuah program edukasi yang dimana saat itu tujuan kita adalah untuk bisa masuk perguruan tinggi negeri. Uniknya program ini, kita tidak hanya belajar tentang akademik saja, banyak sekali pelajaran-pelajaran yang diberikan salah satunya adalah soft skill. Salah satu dari soft skill ini adalah kegiatan jurnalistik. Dalam dunia jurnalistik saya diajarkan dengan metode ATM, apa itu ATM? ATM ini merupakan akronim dari Amati, Tiru, dan Modifikasi. Ketiga hal ini yang selalu saya gunakan.
Yang pertama adalah amati; sebaik-baiknya penulis ialah orang yang rajin mengamati, mengamati bukan hanya sekedar melihat, akan tetapi membaca dan memahami suatu keadaan. Lalu yang kedua adalah tiru, dalam hal ini kita diminta untuk meniru. Meniru bukan berarti kita harus mencontek ataupun plagiat, jangan sekali-kali kita biasakan memplagiat ataupun kalau dalam bahasa kerennya sekarang itu adalah kopi paste. Akan tetapi meniru yang saya maksud adalah melihat dari sudut pandang, gaya bahasa, gaya kepenulisan. Dan yang ketiga adalah modifikasi, dalam hal ini kita mengunakan imajinasi kita, saya yakin semua kita memiliki sudut pandang, iide maupun imajinasi tersendiri. Gunanya agar tulisan kita enak untuk dibaca dan ada nilai seninya tersendiri.
Saya memulai kegiatan tulis menulis dari membaca, hal ini merupakan kewajiban bagi seorang penulis sebab dengan membaca kita akan mendapatkan ilmu, ide, dan juga inspirasi. Selain itu juga dengan membaca akan menambah wawasan juga pengetahuan kita.
Awal saya terjun dalam dunia kepenulisan, saya diberi tugas untuk menulis berita. Bagi orang yang sudah lihai dalam menulis berita tentu saja hal ini sangatlah mudah dan hal yang biasa, akan tetapi untuk orang yang awam seperti saya, apalagi saat itu budaya baca saya sangatlah kurang, bagi saya hal ini adalah tantangan terbesar. Dalam satu pekan saya diminta untuk menulis minimal lima berita dari kegiatan-kegiatan yang saya ikuti, baik diskusi, seminar, pelatihan, maupun pertemuan-pertemuan lainnya. Memulai awal yang baru memang sulit, namun dengan belajar yang sungguh-sungguh dan komitmen inshaAllah semua akan indah pada waktunya. Percayalah usaha dan proses kita tidak akan menghianati hasil.
Dari sini saya banyak membaca berita, melihat berbagai macam gaya dan sudut pandang para jurnalis dalam menyampaikan informasi. Setelah hampir delapan bulan saya komitmen menulis berita, saya mencoba hijrah dan menulis artikel perdana saya yang waktu itu alhamdulillah bisa tembus dalam media online NU Lampung, artikel dengan judul “Media Sosial Revolusi Teknologi Informasi” dimuat pada 23 November 2016 lalu (http://www.nulampung.or.id/blog/media-sosial-revolusi-teknologi-informasi.html). Tidak hanya itu, masih banyak lagi artikel-artikel lain yang memuat tentang lingkungan hidup, kebudayaan, dan juga religius yang tembus di NU Lampung.
Selain menulis artikel saya juga rajin menulis puisi, awal saya hijrah menulis puisi ketika saya mengikuti lomba online yang diadakan oleh beberapa penerbit online. Alhamdulillah sampai sudah ada beberapa buku hasil dari karya bersama dengan para penulis muda, diantaranya; antologi puisi, cepen, dan essay.
Menulis itu hobi saya, sarana dan media untuk berkarya, bahkan tidak hanya itu menulis bagi saya adalah ruang untuk saya mencurahkan segala keluh kesah, kata hati yang tak mampu saya utarakan, dan menulis adalah sebuah pengabdian untuk saya bagi anak dan cucu kelak.
Untuk menjadi penulis itu tidaklah sulit, yang sulit adalah memulai dan komitmen untuk terus mencoba dan berproses. Tidak ada orang yang sukses dengan mudah, semua berproses mengikuti alur, jatuh bangun dan bangkit kembali. Kalau kata Tan Malaka “Terbentur, Terbentur, Terbentuk”, hal ini yang menjadi landasan saya untuk terus berkarya meskipun karya saya masih kurang layak untuk dibaca, ya setidaknya saya sudah berusaha untuk tidak menjiblak ataupun plagiat karya orang lain. Tidak ada karya yang jelek, yang jelek itu adalah plagiat karya orang lain. Bukankah begitu?
Jadi intinya, menjadi penulis itu harus banyak membaca, tidak hanya membaca buku saja, baca berita, informasi-informasi, apalagi kita sekarang hidup pada zaman teknologi, medsos pun bisa kita jadikan media untuk membaca. Dengan membaca pengetahuan, wawasan kita kan bertambah dan tentunya akan menambah ide dan inspirasi bagi kita juga. Selain membaca kita juga harus banyak mendengar, diskusi, dan shering dengan teman, sahabat, kerabat, maupun keluarga baik yang berhubungan dengan pribadi maupun hal-hal yang sedang tren dalam kehidupan kita.
Perbanyak berlatih menulis meski hanya catatan harian dan mintalah kritik juga saran dari teman, sahabat, maupun keluarga. Dan sering-seringlah terluka, maka akan banyak muncul kata-kata.
Tuesday, June 11, 2019
Kebun Bunga Celosia Wisata Instagramble di Bantul Metro
![]() |
| Disisi Saidi Fatah | @Netrahyahimsa |
Halo sahabat pencinta traveler, yang hobi jalan-jalan. Selamat datang di blog Disisi Traveler ya. Salam hangat dari admin untuk kalian semua yang sudah bersedia mampir dan meluangkan waktu sejenak disini.
Nah, sahabat traveler yang hobinya jalan mulu dan yang suka eksis di sosial media. Aku mau rekomendasikan untuk kalian semua yang lagi butuh tempat bermain atau wisata. Dijamin bagus, keren, dan bakalan puas dah.
Jadi kemarin, sekitar empat hari lalu aku buka Instagram dan pas banget di time line aku muncul sebuah postingan dari akun Traveler Lampung, dia itu memposting sebuah foto yang pemandangan bagus sekali. Ya awalnya aku enggak percaya kalau itu beneran ada di Lampung. Sebab aku kepo dan pengen banget kesena, akhirnya aku minta petunjuk lokasi tempat wisata yang ia post.
Alhasil usai berkomentar dan mendapatkan alamat tempat wisata, keesokan harinya aku langsung cus menuju lokasi ditemani oleh adikku dengan menggunakan kendaraan roda dua, yakni sepeda motor jenis Honda Beat. Sebelumnya kita tidak ada yang tahu lokasinya dan kita juga sama sekali belum pernah kesana. Dengan modal nekad kita luncuran dan dibantu oleh si Cucunya Mbah Google, kalau yang ini kalian pasti tahulah siapa lagi kalau bukan Google Maps.
Aku berangkat dari Gunung Sugih, Lampung Tengah melintasi jalan Punggur. Sekitar 45 menit kita pun sampai di lokasi.
Nama tempatnya "Kebun Bunga Celosia", tempat wisata yang bernuansa Instagramble. Mengapa Instagramble? Sebab wisata ini menyuguhkan spot-spot menarik bagi pengunjungnya. Nah siapa lagi kalau bukan para penikmat traveling yang hobi eksis di sosial media.
Meski dengan ukuran yang kecil, yakni 20 x 30 meter, sahabat traveler jangan salah menilai ya. Kecil-kecil begini cabe rawit hehehe.
Baca: Dari Niat yang Terealisasi Berkah Wasilah Tawassul Kepada Baginda Nabi SAW dan Para Wali Allah
Selain memiliki spot foto yang bagus, lokasi kebun bunga celosia ini juga terhimpit oleh hamparan sawah yang luas. Jadi sebelum menuju kebun bunga sahabat traveler akan disuguhkan dengan indahnya hamparan hijau sawah terasering yang berbentuk meliuk-liuk.
Wisata ini mulai dibuka pada 30 Mei 2019 lalu lho, eits meski baru di buka, wisata ini sampai saat ini sudah mendatangkan lebih kurang 2.000 pengunjung lho dari berbagai daerah. Luar biasa bukan.
Sedikit informasi buat sahabat traveler, sebagaimana yang dituliskan oleh akun Instagram Lampung_Pedia saat mewawancarai pemilik kebun (Pak Kerut dan Istrinya Bu Suti) awalnya mereka membuat kebun ini hanya sebagai kebun biasa dan sama sekali tidak ada niat buat tempat wisata. Namun karena bunga ini sangat diminati oleh masyarakat sekitar dan sangat bagus untuk dijadikan tempat berfoto alhasil banyak masyarakat yang berdatangan dari berbagai daerah. Untuk pembuatan kebun ini pak Kerut mengungkapkan bahwasannya mereka menghabiskan dana sebanyak 20 juta lho traveler, luar biasakan.
Oke buat sahabat semua yang mau wisata kesini ayo buruan mumpung masih baru dan bunganya masih pada segar. Biaya masuk murah banget kok, hanya 10.000 rupiah bagi orang dewasa dan remaja dan 5.000 untuk anak-anak. Tapi tenang sahabat semua dijamis puas dan otak juga pikiran bakalan kembali fresh lagi setelah dari sini, sebab banyak sekali tempat spot foto. Disini juga tersedia payung hias dan juga topi untuk foto, nyewanya hanya 5.000 saja. Untuk parkir sih gak jauh ya sekitar 10 Meter dari kebun dan masih kelihatan kok kendaraan kita, jadi aman. Uang parkir ya seperti biasalah 2.000 rupiah.
Untuk lokasinya bisa ditanya sama cucunya mbah Google ya, Google Maps. Cari saja (Jl.FKIPP Bantul, Kota Metro, Lampung) jalan menuju SMA Negeri 6 Kota Metro. Kebunnya kelihatan kok dari jalan lintas.
Semoga puas dan terhibur sahabat Traveler
Terima kasih...
Tabik Pun
Antara Mahram dan Muhrim
![]() |
| Antara Mahram & Muhrim | GMNU.Ist |
Oleh : Tiyar Firdaus
(Mahasiswa fak. Syariah & Rubath Al-Imam As-Syafi'i, Hadhramaut)
Dalam bahasa arab perbedaan harakat dapat mempengaruhi suatu makna kalimat seperti Al-birru (kebaikan), Al-barru(daratan) dan Al-burru(gandum).
Seiring berjalanya waktu saya sering menemukan orang berkata "Muhrim" namun pada hakekatnya ia bermaksud "mahram", ataupun sebaliknya. Maka dari itu sedikit saya mengupas siapakah Muhrim itu dan siapakah mahram dalam pandangan islam.???
1. Muhrim
Istilah Muhrim terpraktek dalam melaksanakan ibadah haji/ umrah, kegiatanya disebut Ihram. Dan orang yang sedang melaksanakan Ihram di sebut MUHRIM (orang yang ihram)
2. Mahram
Terpraktek dalam hal Nikah, Mahram ialah wanita yang tidak boleh dinikahi (dalam permasalah nikah) atau wanita yang tidak dapat membatalkan wudhu ketika bersentuhan dengan lawan jenisnya (dalam permasalah Thaharah/bersesuci), serta diperbolehkan menyentuhnya baik dengan alasan mushofahah (Bersalaman) dsb.
Lalu Siapakah orang yang tergolong Mahram dalam kacamata Syariat.?
Mahram terbagi menjadi 3 Aspek :
1. Mahram Sebab nasab
( ØªØØ±Ù… نساء القرابة الا من دخلت ØªØØª ولد العمومة او الخوولة)
Seluruh Perempuan kerabat/saudara itu mahram terkecuali perempuan yang masuk dibawah mulai dari anaknya bibi/sepupu(dari ayah) dan anak bibi/sepupu (dari ibu) sampe kebawah.
Dalam garis besar ada 7 golongan :
- Ibu, nenek sampe keatas
- Anak perempuan, cucu sampe kebawah
- Saudara perempuan
- Anaknya saudara laki-laki sampe kebawah.
- Anaknya saudara perempuan sampai kebawah.
- Bibi (dari ayah)
- Mulai dari anaknya bibi yaitu sepupu sampe kebawah tidaklah mahram jadi diperbolehkan untuk dinikahi
- Bibi (dari ibu)
Mulai dari anaknya bibi yaitu Sepupu sampe kebawah tidaklah mahram jadi diperbolehkan untuk dinikahi
2. Mahram sebab susuan (saudara susuan)
ÙŠØØ±Ù… من الرضاع ما ÙŠØØ±Ù… من النسب
(Perempuan mahram sebab susuan itu adalah perempuan yang mahram sebab nasab)
Mahram sebab susuan itu sama dengan apa yang terdapat dalam mahram sebab nasab Sebagaimana yang telah di jelaskan diatas.
3. Mahram Sebab nikah
- Mertua
- Anak tiri jika sudah menggauli istrinya
- Ibu tiri
- Menantu
- Saudara perempuanya istri
Semuanya ini (mahram sebab nasab, nikah, susuan) dihukumi mahram yang bersifat selamanya. Terkecualisaudara perempuanya istri, maka jika istri meninggal atau di talak maka saudara perempuan istri menjadi halal untuk di nikahi.
Adapun pengecualian dari sekian perempuan Mahram (mahram sebab nasab, nikah, susuan) yang berarti sama sekali tidak di hukumi mahram, diperbolehkan untuk dinikahi ada 7 macam :
- Anak angkat
- Anak perempuanya bapak tiri/ibunya bapak tiri
- Anak perempuanya ibu tiri/ibunya ibu tiri
- Anak perempuanya menantu perempuan /ibunya menantu perempuan
- Anak perempuanya menantu laki-laki/ibunya menantu laki-laki
- Istrinya anak tiri
- Istrinya ayah tiri
WaAllahua'lam.
Semoga bermanfaat..
@Disari dari kitab Hasyiah Al-Bujairami (Fiqh Imam As-syafi'i)
#GenerasiMudaNU
Sumber : Grups WhatsApp Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Lampung
Monday, June 10, 2019
Kemenangan Haqiqi
Oleh ; Alfa Arkana Eounoia (Dsf)
Hari raya berlalu sudah
Ramadhan pun usai kita lalui, ia telah pergi dengan segenap keluarga besarnya
Kemenangan tak hanya sebatas hari raya
Juga bukan sandang pangan belaka, yang serba mewah dan megah
Kemenangan haqiqi adalah bagaimana kita mempertahankan apa yang sudah kita bangun
Mari rebut kembali kemenangan yang fitry
Jangan biarkan ia berlalu dan pergi tanpa perubahan pada diri
Ramadhan boleh usai
Namun puasa tak boleh hilang begitu saja
Masih ada syawwal juga sunnah lainnya
Tadarus al Qur'an harus tetap berkumandang
Kita rebut kemenangan
Bagi yang sudah tuntas tadarusan
Mari mulai kembali dari laman awal
Bagi yang belum mari tuntaskan
Bagi yang belum sama sekali
Ayo beranikan diri, unjuk gigi pada sang ilahi
Sholat malam tetap berjalan
Bergitu pula dengan shodaqoh dan amal kebaikan
![]() |
| Sumber ; Liputan6.com | Ist |
Ramadhan pun usai kita lalui, ia telah pergi dengan segenap keluarga besarnya
Kemenangan tak hanya sebatas hari raya
Juga bukan sandang pangan belaka, yang serba mewah dan megah
Kemenangan haqiqi adalah bagaimana kita mempertahankan apa yang sudah kita bangun
Mari rebut kembali kemenangan yang fitry
Jangan biarkan ia berlalu dan pergi tanpa perubahan pada diri
Ramadhan boleh usai
Namun puasa tak boleh hilang begitu saja
Masih ada syawwal juga sunnah lainnya
Tadarus al Qur'an harus tetap berkumandang
Kita rebut kemenangan
Bagi yang sudah tuntas tadarusan
Mari mulai kembali dari laman awal
Bagi yang belum mari tuntaskan
Bagi yang belum sama sekali
Ayo beranikan diri, unjuk gigi pada sang ilahi
Sholat malam tetap berjalan
Bergitu pula dengan shodaqoh dan amal kebaikan
Bandar Jaya, 10 Juni 2019
Saturday, June 8, 2019
Dipenghujung Mei | Puisi Rindu
Oleh : Alfa Arkana Eounoia (DSF)
Dipenghujung Mei, dikala senja sore itu
Bergegas menepis genangan air yang mengguyur setiap langkah
Dingin cuaca senja itu tak aku hiraukan, demi berjumpa kau seorang
Aku tak ingin menyiakan kesempatan
Menebus rindu menembus waktu bersamamu
Tak sabar menikmati panorama indah pada bibirmu
Senyum yang membuat aku ingin selalu menetap
Tak pedulikan apa yang terjadi pada diriku
Berjumpa denganmu. Hal itu yang s'lalu ada di benak ku
Rinduku harus segera berakhir di penghujung Mei ini
Aku ingin kembali tersenyum, bahagia menyambut Juni nanti
Aku ingin kisah yang terukir pada Juni tak lagi ada duka maupun luka
Jika nanti ada. Aku harap tak sedikit namamu tercatat
Aku rindu senyum merekah pada bibirmu
Yang kau lontarkan dengan tulus padaku, sebagaimana tempo lalu
Blambangan Umpu, 31 Mei 2019




















