Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Saturday, January 25, 2025

Selamat Ulang Tahun Sahabat Kecil


Selamat ulang tahun kecilku. Dokpri©2025. Ist

Share:

Thursday, January 23, 2025

Sebuah Persembahan Untuk Vinza

Gambar hanya pemanis, lagi nggak mood nyari gambar lain. | Diambil lewat smartphone pribadi di suatu malam di bulan Januari.



Vinza

Share:

Wednesday, January 22, 2025

Layang-Layang dan Terima Kasih Waktu

 

Sumber foto: pxhere


Layang-Layang



Minggu pagi aku ikut Ayah pergi ke pasar

Di sana aku dibelikan sebuah layang-layang

Sore harinya kami pergi ke tanah lapangan

Menerbangkan layang-layang


Ayah bilang,

Untuk terbang, layang-layang butuh tali yang panjang

Butuh angin menemaninya melayang di udara

Butuh orang untuk memegangnya agar bisa diterbangkan

Dan harus dikendalikan agar terbangnya teratur


Baca juga: Titip Rindu


Seperti kita,

Untuk mencapai sesuatu, butuh waktu dan proses yang panjang

Butuh doa, dorongan, dan ridho dari orang tua

Harus berpegang teguh kepada Tuhan Yang Maha Esa

Dan harus bisa mengendalikan diri agar tidak jatuh ke jalan yang salah


Lampung 2024


Terima Kasih Waktu


Terima kasih waktu

Telah hadir dalam hidupku

dan menjadi bagian cerita dalam keluargaku


Baca juga: Anak Itu Arfan Namanya!


Aku senang,

Besar dan tumbuh bersama ayah dan bunda

Di kelilingi cinta juga kasih sayang

dan tak pernah merasa kurang


Saban hari

Pelukan kehangatan selalu diberikan

Selalu terjaga oleh keamanan kasih dan sayang


Aku sangat bersyukur

Ayah bunda selalu ada

Setiap aku membutuhkan dekapan dan pelukan

Ayah bunda selalu ada


Lampung, 2024


***Puisi anak, dibuat khusus untuk dedikasi kepada seseorang. Semoga bermanfaat. Terima kasih telah mampir. Silakan dibagikan, halal.


Baca juga: Di Penghujung Mei

Share:

Tuesday, August 13, 2024

Titip Rindu

 

Foto Senja. Ist


Kenang


Jika mengingat perjumpaan kita

rasanya lucu, apalagi setelah tahu jalur kita yang berbeda

Aku yang merasa salah ucap pada temu pertama, - sedikit menjaga, khawatir jika semakin berlebihan

Tapi, seiring berjalannya waktu

ditambah jeda waktu kerja yang tak lagi ada, membuat kita semakin dekat dan akrab

Dan, di sana aku menemukan frekuensi yang sama antara kita


Rasa itu tumbuh seiring kita sering berjalan bersama

Hingga jeda menyapa dan memisahkan kita dengan jarak dan waktu yang entah kapan kembali menyatukan


Lampung, 31072024



Baca: Anak itu Arfan Namanya!



Titip Rindu


Angin

Ku titipkan rindu ini padanya

Bisikkan kepadanya bahwa aku masih menyimpan kenangan

Sampaikan, jika harapan dan doa masih senantiasa aku lantunkan dalam tiap saat tangan menengadah pada-Nya


Lampung, 31072024



Baca: Di Penghujung Mei 

Share:

Monday, July 29, 2024

Anak itu Arfan Namanya!

 



Menjelang maghrib ia sudah berada di masjid

Berpakaian lengkap dengan peci hitam di kepalanya

Senyumnya merekah, manis dipandang 

Arfan, itulah namanya saat kutanya


Sekolah di taman kanak-kanak

Usianya lima tahun

Wajahnya periang, kalau ngomong lancar dan jelas


Baca: Kisah Burung Pipit yang Bertasbih Setiap Hari, Lalu Terdiam


Waktu kutanya ia, mengapa rajin pergi ke masjid

Arfan bilang, supaya Allah sayang

Agar apa yang kita minta sama Allah, lekas diberikan

"Begitu kata Bunda," ujar Arfan


Allah yang sudah memberikan kedua tangan, mata, telinga, dan anggota badan semua

Allah juga yang sudah kasih Ayah dan Bunda rezeki

Jadi, kita harus rajin ibadah

Demikian tutur anak kecil itu


Bogor, 2023


Baca: Di Penghujung Mei
 

Share:

Saturday, July 13, 2024

Kisah Burung Pipit yang Bertasbih Setiap Hari, Namun Kecewa dan Terdiam

 

Foto Pixabay. Ist

Dikisahkan bahwa ada seekor burung pipit yang bertasbih mensucikan Allah setiap hari. Namun, beberapa hari berlalu suara tasbihnya tidak lagi terdengar. Maka para Malaikat pun bertanya; “Ya Rabb, mengapa suara tasbih burung pipit itu tidak terdengar lagi?”

Share:

Thursday, July 4, 2024

Di Penghujung Mei

Foto Wallpaper Better


Di penghujung Mei merupakan rangkaian puisi-puisi Pecandu Sastra atau Disisi Saidi Fatah. Masih sama pada puisi sebelumnya, membahas perihal duka, luka, dan air mata 


Bait-Bait Puisi


Menjadikanmu aktor utama dalam setiap bait puisi

Adalah kebiasaan yang sedang ku alami

Berlama-lama bermain dengan kata, rima, dan nada, mengajakku menari dengan bayang semu

Melukiskan indah senyum pada bibir mungil mu


Senyum yang kerap menjadi kobar semangat bagiku

Binar bening tatap matamu

Menjadikanku untuk selalu menetap dan berpaling dari yang lain

Teduh wajahmu adalah bagian bahagia yang ku punya 


Luka dalam setiap baitku

Adalah luka yang tak mampu ku bagi denganmu 

Luka sebab rindu untuk bersua, yang terpisahkan oleh waktunya kita

Luka untuk saling bertatap, yang terpisahkan oleh  jarak


Setiap bait tertulis

Aku berusaha untuk tidak menghakimi mu

Sebab aku tahu, setiap kata terucap adalah doa

Yang akan menjadi nyata pada masanya 


Bumi Ramik Ragom, 2019


Di Penghujung Mei 


Di penghujung Mei, di kala senja sore itu

Bergegas menepis genangan air, yang mengguyur setiap langkah

Dingin cuaca senja itu tak aku hiraukan,

Demi berjumpa kau seorang


Aku tak ingin menyiakan kesempatan

Menebus rindu, menembus waktu bersamamu

Tak sabar menikmati panorama indah pada bibirmu

Tak pedulikan apa yang terjadi pada diriku


Berjumpa denganmu. Hal itu yang slalu di benakku

Rinduku harus segera berakhir di penghujung Mei ini

Aku ingin kembali tersenyum, bahagia menyambut Juni nanti

Aku ingin kisah yang terukir pada Juni tak lagi ada duka maupun luka


Jikalau pun nanti ada,

aku harap tak sedikit pun namamu tercatat

Aku rindu senyum merekah pada bibirmu

Yang kau lontarkan dengan tulus padaku, sebagaimana tempo lalu


Blambangan Umpu, 2019


Dua Pasang Bingkai Kaca


dua pasang bingkai berkaca, terhiasi dua pasang poto terpajang pada diding sisi pintu kamar

satu hitam bergaris putih. satu putih berpola kuning emas 

keduanya sama berharga. sama-sama dicintai


masih banyak harapan dan impian yang belum terlaksana

keduanya memiliki karakter berbeda. keduanya ialah permata


sampai di sini, keduanya menjelma dalam mimpi

memahat kenangan yang sulit terlupakan


  Lampung, 2020


Sampai Batas Ini


Sampai batas ini aku memahami

Jika impian untuk menggapai bahagia bersamamu hanyalah ilusi, cerita fiktif penuh imaji

Akhir kata ini, aku pamit permisi

Semoga tuhan memberi yang lebih baik lagi







Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive