Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Friday, November 10, 2017

Mengheningkan Cipta

Tulisan singkat saya, di hari istimewa kita. Hari Pahlawan
Untuk mengenang para jasa pahlawan kita serta mengevaluasi diri kita, supaya makin membaik kedepan. Aamiin

Mengheningkan Cipta
Oleh : Disisi Saidi Fatah (Alfa Arkana Euonoia)


Sejenak, terdiam
Hening, sunyi, sepi
Menyapaku pagi ini
Terdiam dan membisu

Tak ada kata
Hanya jiwa dan raga
Berdiri kokoh dihadapan mata
Mengheningkan cipta

Perlahan,
Tetes air mata
Mulai bercucur, tak teratur
Menangisi para pejuang bangsa

Kembali terputar
Nostalgia lama, kegigihan para pejuang bangsa
Berebut, memperjuangkan hak
Menegakkan keadilan
Menuju bangsa yang sejahtera

Wahai pemuda,
Apa yang telah kita beri
Untuk pejuang bumi pertiwi
Apa yang kita perbuat?
Apa yang telah disumbangkan
Demi bumi nusantara!

Generasi kita sungguh terlalu
Tak pernah menghargai pejuang bangsa
Tak pernah mensyukuri nikmat dari pahlawan kita

Hoax, fitnah, dan isu kebencian
Bertebaran
Menjadi pemecah belah bangsa
Beda pendapat, beda kepercayaan
Membuat tak rukun dan memutus silaturahmi antar saudara

Dimana sikap kita?
Yang tak menghargai jasa pahlawan pendahulu
Berjuang. Bercucuran darah
Memperjuangkan dan menyatukan bangsa
Di bumi ibu pertiwi

Hari ini, kami menghukum diri
Menebus kesalahan dan khilaf
Dengan menabur bunga dan mengirim doa
Kepada para lelulur dan pejuang bangsa
Atas jasa yang telah diperjuangkan
Untuk kami, anak, cucu, penerus bangsa

Way Kanan, Lampung, 10 November 2017




Keterangan foto :
~ Foto merupakan dokumentasi saya, pada perayaan Hari Pahlawan tahun lalu, yakni pada 10 November 2016 di Pondok Pesantren Al-Falakhussha'adah Pakuan Ratu, Way Kanan, Lampung.
Jadi waktu itu, saya bersama bapak angkat saya sekaligus guru jurnalistik saya, Bpk.Gatot Arifianto, CH, CNNLP. 
Merayakan hari pahlawan dengan sederhana, usai melaksanakan upacara peringatan hari sumpah pemuda, bapak diminta untuk memberikan sedikit motivasi untuk para santriwan dan santriwati di pesantren tersebut.
Sebagaimana dengan kata saya tadi "merayakan hari pahlawan dengan sederhana", jadi kami memberikan motivasi sekaligus mengajak santri untuk memanfaatkan sampah plastik, yang mana nanti kita jadikan bahan olah yang bisa kita pakai kembali. Salah satunya: yakni membuat bantal dari sampah plastik. Dan yang kedua seperti yang ada di gambar kedua ya.
Yakni permainan bowling, yapz bisa dilihat seperti digambar kedua ya. 
Buat yang belum tahu bowling silahkan cek di mbak google hehe.

Ohya, jika kawan-kawan menanyakan posisi saya ketika gambar diambil. Tolong jangan heran ya. Sebab saya sebagai fotografer nya hehe
Eitzz walaupun sebagai fotografer, namun saya sangat bangga lho bisa dampingi bapak sekaligus mendapat ilmu yang sangat berharga.

Pokok nya luar biasa keren hari itu...


Terima kasih untuk semua ya, hehe maaf jadi curhat ke nostalgia 😀😀😀
Share:

Thursday, November 9, 2017

Belajar Dari Pengalaman

"Semakin besar badai yang kita hadapi
Semakin cerah pula pelanginya nanti"
Oleh : Alfa Arkana Euonoia (Disisi Saidi Fatah)



Kehidupan dunia
Tak selamanya manis
Ada kalanya pahit pula

Ada kalanya kita berada diatas
Terkadang pula berada dibawah

Jatuh bangun
Terus bangkit lagi
Itu adalah proses menuju kebaikan
Memperkokoh diri dengan keimanan dan kesabaran

Setiap kejadian
Ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil
dan jadikan acuan kedepan
Agar masa depan lebih gemilang

Sejatinya pendidikan
Adalah pendidikan kehidupan dilapangan
Bagaimana kita mempraktikkan langsung
Ilmu yang telah kita dapatkan
Dari berbagai media

Namun
Tak luput pula dari pengajaran
Yang telah menempa kita
Bertahun-tahun
Di bangku sekolah

Ada pepatah mengatakan
"Semakin besar badai yang kita hadapi
Semakin cerah pula pelanginya nanti"

Way Kanan, Lampung 9 November 2017
Share:

Tuhan, Ajari Aku Mencintai

Tuhan,
Ajari aku mencintaimu dengan tulus
Lalu ajari aku untuk berbagi cinta dan kasih sayang setelah itu kepada mereka semua
Agar tak ada lagi yang terluka
Oleh : Alfa Arkana Euonoia (Disisi Saidi Fatah)



Tuhan,
Mengapa aku harus mananggung semua ini

Mengapa engkau hadirkan diri ini
Dengan jutaan kebaikan yang membuat orang terpana
Mengapa engkau buat mereka jatuh cinta padaku
Sedangkan aku tak tahu apa-apa tentang cinta dan kasih sayang yang mereka inginkan

Tuhan,
Aku lelah dengan hati ini
Aku juga tak ingin terus menerus menyakiti mereka
Sebab aku sangat cinta

Tuhan,
Jujur, aku sangat takut
Kepada mereka yang aku sayang
Aku takut, mereka hilang kembali
Sebagaimana yang sudah-sudah

Tuhan,
Ajari aku mencintaimu dengan tulus
Lalu ajari aku untuk berbagi cinta dan kasih sayang setelah itu kepada mereka semua
Agar tak ada lagi yang terluka


~ Maafkan aku, dengan tak tahu diriku ~
Share:

Monday, November 6, 2017

Peristiwa Satu November

Hak, keadilan, dan kebebasan
Tak sejalan dengan pancasila dan undang-undang


Oleh : Disisi Saidi Fatah (Alfa Arkanan Euonoia)

Masih saja teringat dalam benak
Peristiwa yang begitu perih dan pahit terasa
Dimana diri ini menjadi penghianat diri sendiri

Bagaimana tidak?
Tak pernahku berkhianat seperti ini
Namunku tak bisa pabila terus terpaksa
Melakukan hal yang bertentangan dengan hati, hak, dan kebebasanku

Satu November itu
Akan selalu terkenang dalam hidup
Menjadi pelajaran berharga
Menjadi kisah penuh duka

Dimana
Hak, Keadilan, dan Kebebasan
Tak sejalan dengan pancasila dan undang-undang

Way Kanan, Lampung 6 Nov 2017
Share:

Sunday, November 5, 2017

Bukan Ranjang Mimpi

Oleh : Alfa Arkana Euonoia (Disisi Saidi Fatah)

"Kehidupan di dunia tidaklah seindah puisi,
Dengan rangkaian kata yang dirangkai seindah goresan pena

Dunia bukanlah ranjang mimpi
Dengan ribuan ilusi
Dunia adalah kenyataan
Yang harus diterima dengan rendah hati dan lapang dada

Kehidupan di dunia
Bukanlah keindahan dalam berpuisi
Bukan pula rangkaian kata demi kata
Yang tercipta dengan seindah goresan pena

Way Kanan, 5 November 2017
Share:

Saturday, November 4, 2017

Karier atau Keluarga? Mana Yang Lebih Utama?

Assalamualaikum, Wr Wb
Selamat siang, dan salam sejahtera bagi kita semua

Jumpa lagi dengan aku Disisi Saidi Fatah.
Baiklah, pada kesempatan kali ini aku ingin memaparkan sedikit tulisan mengenai karier dan keluarga, serta berbagi pengalaman pribadiku.
Seberapa pentingkah keluarga dimata kita? Jika disuruh memilih antara karier dan keluarga kamu pilih mana?



Pernah ada pertanyaan yang saya ajukan pada diri saya sendiri.

Antara keluarga dan karier, yang mana harus ku dahulukan?
Aku adalah anak keenam dari tujuh persaudara dikeluarga, dan anak laki-laki yang paling tua didalam keluarga. Kalau kata orang sih pengganti kedudukan orang tua (bapak).
Sebagai anak laki-laki paling tua, Aku berjuang semampu dan sekeras diri untuk memberikan yang terbaik dalam keluarga.
Beberapa tahun lalu aku bekerja mencari rezeki yang tujuan utama nya ialah sebagai upaya memenuhi keperluan sehari-hari, dan sisanya untuk disimpan dan nantinya akan dipergunakan untuk keluarga.

Aku bekerjasama dengan beberapa wirausaha dan wiraswasta, sebelumnya sudah memberi tahu keluarga bahwa aku akan bekerja dengan salah seorang wirausaha, dan akhirnyapun ibunda mengizknkan. Namun bapak masih belum memberi izin sebab suatu alasan.
Namun, sebab keras kepala, akhirnya aku tetap ikut bekerja disitu, bapak dan ibunda-pun menyetujui.

Waktupun berjalan, karierku sudah mulai kelihatan mengembang, namun itu hanya sebentar saja, bahkan usaha kerja keras aku tidak memperlihatkan hasil.
Aku semakin hari semakin bosan dengan karier tersebut, mungkin karena aku terlalu sangat ambisi untuk mendapatkan hasil yang luar biasa, akan tetapi aku lupa dengan keluarga yang telah kupunya.
Aku lebih banyak meluangkan waktu untuk karier dibandingkan keluarga sampai pada suatu hari dimana bapak kembali dipangkuan sang ilahi.

Akhirnya aku tersadar, betapa pentingnya keluarga bagi diriku, aku telah salah dalam memilih antara keluarga dan karier, yang mana harus kudahulukan.
Aku sangat menyesali perbuatan itu, namun semua telah telat dan tidak akan pernah kembali lagi.
Setelah ditinggal alm.bapak beberapa bulan, akhirnya aku mulai hijrah kembali mencari jalan terbaik dan pastinya yang Allah dan ibunda ridhoi.
Tak lama dari itu, Alhamdulillah aku mendapatkan kesempatan untuk bekerja disalah satu yayasan ternama di kota, dimana tempatku tinggal.

Aku meminta izin dan restu dari ibunda, dan Alhamdulillah ibunda-pun mengizinkan.
Ya Alhamdulillah, berkat dari doa restu ibunda, karierku meningkat. Ya memangsih gajinya masih sedikit. Namun, aku tetap mensyukurinya.

Awal-awal bekerja di yayasan, semua berjalan dengan lancar tanpa hambatan, bahkan kegiatanku diluar masih tetap berjalan sebagaimana mestinya, dan aku juga masih bisa mencari kerja sampingan untuk menambah rezeki buat keluarga.
Akupun masih sering jenguk keluarga dua bulan sekali bahkan terkadang sebulan sekali.

***
Seiring berjalannya waktu, semuapun berubah. Aku tak lagi sebebas dahulu.
Sang pemilik yayasan menegorku, ia marah dan mengancamku untuk dikeluarkan dari yayasan tersebut jika aku tidak mematuhi nasihatnya. Padahal selama ini aku selalu patuh, manut, dan tertib dengan peraturan.
Entah apa yang membuat dia berubah?
Kemarin, aku ada kegiatan diluar yang memang tidak bisa aku tinggalkan. Aku izin dengan pemilik yayasan dengan baik dan sopan, namun apa yang didapatkan? Bukannya diberi izin, aku malah di marah, dijelek-jelekkan, bahkan lembaga yang akan ku datangi itu dijelek-jelekkan.
Namun hal itu tak membuatku down, aku kabur keluar tanpa pamitan sebab jika aku pamitan maka aku tak akan pernah mendapatkan izin. Sedangkan aku lebih sayang keluargaku dari karier di yayasan tersebut, aku sih enggak takut jika aku dikeluarkan. Sebab Allah pasti memberikan yang terbaik untukku.

Ini sangat aneh sekali, dan tidak adil bagi diriku. Aku sudah berusaha profesional bekerja dengan tupoksi dan waktu sesuai dengan jadwal. Aku juga jarang sekali izin jika tidak ada kepentingan dan hal yang mendesak.
Bahkan aku ngantor setiap hari, walau tidak ada jadwal ngajar.
Tepi mengapa ini enggak adil denganku, mengapa guru-guru yang lain tak sama seperti diriku.

***
Aku bingung harus kepada siapa diriku mengadu, mencurah isi hatiku. Aku ingin menceritakan semua pada ibunda namun aku takut ibunda kepikiran dengan semua yang aku alami.
Namun jika tidak kuceritakan maka aku tak akan mendapatkan solusinya.

Setelah berfikir lama, akhirnya kuceritakan semua pada ibunda, mbak aku yang jauh lebih memiliki pengalaman dariku, pamanku, dan bapak angkatku.
Mereka bilang agar aku tetap bersemangat, sabar, dan terus berjuang dalam karier itu.

Aku sebenarnya lelah, sebab tidak bebas di yayasan tersebut. Namun aku lebih sayang pada keluarga.
Jadi aku memilih untuk masih bertahan di yayasan itu.
Aku takut kehilangan orang yang aku sayang, sebagaimana alm bapakku.

Aku enggak peduli, seberapa banyak kata-kata kasar, jelek, dan lainnya yang orang timpakan kepadaku, selagi itu bukan dari ibundaku.

Intinya, aku lebih memilih keluargaku dari pada karier. Seandainya ibunda dan mbak, atau paman menyarankanku untuk pergi dari yayasan  tersebut maka aku akan pergi.
Sebab aku takut akan ibundaku, aku takut jika ibunda tak meridhoiku.

 Keluarga adalah hal yang paling utama, keluarga adalah harta yang tak ternilai harganya.
Share:

Friday, November 3, 2017

Menuntut HAM dan Keadilan

Sebuah Opini dari Disisi Saidi Fatah, mengenai HAM, Keadilan, dan Kemanusia.

“Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”


   Setiap mahluk hidup, terutama manusia tentu memiliki hak, yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Hak yang dimiliki oleh manusia itu biasa disebut hak asasi manusia (HAM) , yang mana diatur dalam undang-undang.

Ada beberapa poin menjadi acuan kita untuk perlu kita garis bawahi, bahwasanya HAM itu sangat diperlukan dan harus diterapkan di kehidupan sehari-hari tanpa terkecuali.

Yang pertama ialah, UU No.39 tahun 1999, dalam pasal 1 angka 1 yang membahas tentang HAM dan UU No.26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, bahwa HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk tuhan yang maha kuasa dan merupakan anugerah-nya yang wajib dihormati, dijunjungtinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.

Dari penjelasan di atas, tentu sudah menjadi keharusan bahwa setiap orang harus memperlakukan sesamanya sesuai hak asasi manusia yang dimiliki. Namun dalam kehidupan sehari-hari, kita terus saja temui berbagai perbuatan yang melanggar hak asasi orang lain, baik itu yang kita lihat secara langsung, maupun yang kita baca/saksikan melalui media cetak dan elektronik.

Lalu bagaimana jika poin-poin diatas tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sama dengan apa yang sedang saya alami dalam beberapa waktu ini.
Saya adalalah seorang aktivis muda yang juga seorang guru honorer disalah satu sekolah swasta milik yayasan ternama.

Awal saya bekerjasama dengan yayasan tersebut, mula nya baik-baik saja, saya masih bisa mengikuti kegiatan saya sebagaimana biasanya. Sebagai seorang aktivis pasti saya harus banyak melihat, mendengar, merasakan, dan berbaur dengan masyarakat luas.
Saya berusaha bekerja se-professional di sekolah tersebut, setiap hari ngantor dan standby disekolah. Bahkan jarang sekali saya absen apabila tidak ada keperluan yang sangat mendesak.

Namun, hal itu tidak lagi sama dengan peristiwa yang terjadi pada saya beberapa pekan ini. Ketika saya izin untuk mengikuti aktivitas diluar yayasan saya malah diomeli dan dijelek-jelekkan, padahal saya izin dengan baik dan sopan apalagi saya izin ketika tidak ada jam ngantor.
Bukan hanya sekali atau dua kali saja, sudah berkali-kali hal itu terjadi kepada saya. Sang pemilik yayasan tidak mengizinkan saya untuk mengikuti aktivitas diluar yayasan.
Mengapa ini semua tidak adil terhadap saya, apa bedanya saya dengan guru lain?

Saya ngantor tiap hari, sedangkan yang lain tidak pernah bahkan jarang sekali.
Saya bekerja sesuai dengan tupoksi dan jam ajar yang telah disediakan.
Tapi mengapa kok masih dipermasalahkan.
Mengapa yang lain tidak, sedangkan yang lain kerja nya nyabang dan ada juga yang kuliah dan lain-lain.

Ini benar-benar tidak adil. Dimanakah undang-undang, HAM, dan keadilan?
Padahalkan sudah jelas dalam undang-undang, bahwasanya tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. Sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang NKRI tahun 1945 Pasal 27 ayat (2) yang berbunyi;

“Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”

Ayat ini memuat pengakuan dan jaminan bagi semua orang untuk mendapatkan pekerjaan dan mencapai tingkat kehidupan yang layak bagi kemanusiaan.

Negara kita adalah negara hukum. Semua diatur oleh undang-undang.
Apalagi negara kita Indonesia berlandaskan Pancasila. Lalu dimanakah nilai-nilai pancasila diterapkan?
Mengapa menjadi penghianat perjuangan para leluhur bangsa?

Berhentilah bertindak yang sewenang-wenang terhadap penghidupan orang lain.
Selagi itu tidak menghancurkan dan mengganggu kehidupan kita.
Apapun profesi kita, selagi kita manusia maka kita tak pernah luput dari salah, khilaf dan dosa.
Jangan pernah menganggap diri kita paling benar dan berkuasa sebab diluar sana masih banyak yang lebih dari kita.

Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik dan saling menerima tanpa harus ada perpecahan, dan menjadi manusia yang lebih manusia.

Wallahualam
Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Segelas Kopi dan Jejak Langkah Murobbi

Ilustrasi didesain oleh AI-GMN Tak ada satu hari pun melintas tanpa gerimis bening di pipi Menetes pelan membasahi sajadah rindu yang sunyi ...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive