Tuesday, June 11, 2019
Antara Mahram dan Muhrim
![]() |
| Antara Mahram & Muhrim | GMNU.Ist |
Oleh : Tiyar Firdaus
(Mahasiswa fak. Syariah & Rubath Al-Imam As-Syafi'i, Hadhramaut)
Dalam bahasa arab perbedaan harakat dapat mempengaruhi suatu makna kalimat seperti Al-birru (kebaikan), Al-barru(daratan) dan Al-burru(gandum).
Seiring berjalanya waktu saya sering menemukan orang berkata "Muhrim" namun pada hakekatnya ia bermaksud "mahram", ataupun sebaliknya. Maka dari itu sedikit saya mengupas siapakah Muhrim itu dan siapakah mahram dalam pandangan islam.???
1. Muhrim
Istilah Muhrim terpraktek dalam melaksanakan ibadah haji/ umrah, kegiatanya disebut Ihram. Dan orang yang sedang melaksanakan Ihram di sebut MUHRIM (orang yang ihram)
2. Mahram
Terpraktek dalam hal Nikah, Mahram ialah wanita yang tidak boleh dinikahi (dalam permasalah nikah) atau wanita yang tidak dapat membatalkan wudhu ketika bersentuhan dengan lawan jenisnya (dalam permasalah Thaharah/bersesuci), serta diperbolehkan menyentuhnya baik dengan alasan mushofahah (Bersalaman) dsb.
Lalu Siapakah orang yang tergolong Mahram dalam kacamata Syariat.?
Mahram terbagi menjadi 3 Aspek :
1. Mahram Sebab nasab
( ØªØØ±Ù… نساء القرابة الا من دخلت ØªØØª ولد العمومة او الخوولة)
Seluruh Perempuan kerabat/saudara itu mahram terkecuali perempuan yang masuk dibawah mulai dari anaknya bibi/sepupu(dari ayah) dan anak bibi/sepupu (dari ibu) sampe kebawah.
Dalam garis besar ada 7 golongan :
- Ibu, nenek sampe keatas
- Anak perempuan, cucu sampe kebawah
- Saudara perempuan
- Anaknya saudara laki-laki sampe kebawah.
- Anaknya saudara perempuan sampai kebawah.
- Bibi (dari ayah)
- Mulai dari anaknya bibi yaitu sepupu sampe kebawah tidaklah mahram jadi diperbolehkan untuk dinikahi
- Bibi (dari ibu)
Mulai dari anaknya bibi yaitu Sepupu sampe kebawah tidaklah mahram jadi diperbolehkan untuk dinikahi
2. Mahram sebab susuan (saudara susuan)
ÙŠØØ±Ù… من الرضاع ما ÙŠØØ±Ù… من النسب
(Perempuan mahram sebab susuan itu adalah perempuan yang mahram sebab nasab)
Mahram sebab susuan itu sama dengan apa yang terdapat dalam mahram sebab nasab Sebagaimana yang telah di jelaskan diatas.
3. Mahram Sebab nikah
- Mertua
- Anak tiri jika sudah menggauli istrinya
- Ibu tiri
- Menantu
- Saudara perempuanya istri
Semuanya ini (mahram sebab nasab, nikah, susuan) dihukumi mahram yang bersifat selamanya. Terkecualisaudara perempuanya istri, maka jika istri meninggal atau di talak maka saudara perempuan istri menjadi halal untuk di nikahi.
Adapun pengecualian dari sekian perempuan Mahram (mahram sebab nasab, nikah, susuan) yang berarti sama sekali tidak di hukumi mahram, diperbolehkan untuk dinikahi ada 7 macam :
- Anak angkat
- Anak perempuanya bapak tiri/ibunya bapak tiri
- Anak perempuanya ibu tiri/ibunya ibu tiri
- Anak perempuanya menantu perempuan /ibunya menantu perempuan
- Anak perempuanya menantu laki-laki/ibunya menantu laki-laki
- Istrinya anak tiri
- Istrinya ayah tiri
WaAllahua'lam.
Semoga bermanfaat..
@Disari dari kitab Hasyiah Al-Bujairami (Fiqh Imam As-syafi'i)
#GenerasiMudaNU
Sumber : Grups WhatsApp Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Lampung
Monday, June 10, 2019
Kemenangan Haqiqi
Oleh ; Alfa Arkana Eounoia (Dsf)
Hari raya berlalu sudah
Ramadhan pun usai kita lalui, ia telah pergi dengan segenap keluarga besarnya
Kemenangan tak hanya sebatas hari raya
Juga bukan sandang pangan belaka, yang serba mewah dan megah
Kemenangan haqiqi adalah bagaimana kita mempertahankan apa yang sudah kita bangun
Mari rebut kembali kemenangan yang fitry
Jangan biarkan ia berlalu dan pergi tanpa perubahan pada diri
Ramadhan boleh usai
Namun puasa tak boleh hilang begitu saja
Masih ada syawwal juga sunnah lainnya
Tadarus al Qur'an harus tetap berkumandang
Kita rebut kemenangan
Bagi yang sudah tuntas tadarusan
Mari mulai kembali dari laman awal
Bagi yang belum mari tuntaskan
Bagi yang belum sama sekali
Ayo beranikan diri, unjuk gigi pada sang ilahi
Sholat malam tetap berjalan
Bergitu pula dengan shodaqoh dan amal kebaikan
![]() |
| Sumber ; Liputan6.com | Ist |
Ramadhan pun usai kita lalui, ia telah pergi dengan segenap keluarga besarnya
Kemenangan tak hanya sebatas hari raya
Juga bukan sandang pangan belaka, yang serba mewah dan megah
Kemenangan haqiqi adalah bagaimana kita mempertahankan apa yang sudah kita bangun
Mari rebut kembali kemenangan yang fitry
Jangan biarkan ia berlalu dan pergi tanpa perubahan pada diri
Ramadhan boleh usai
Namun puasa tak boleh hilang begitu saja
Masih ada syawwal juga sunnah lainnya
Tadarus al Qur'an harus tetap berkumandang
Kita rebut kemenangan
Bagi yang sudah tuntas tadarusan
Mari mulai kembali dari laman awal
Bagi yang belum mari tuntaskan
Bagi yang belum sama sekali
Ayo beranikan diri, unjuk gigi pada sang ilahi
Sholat malam tetap berjalan
Bergitu pula dengan shodaqoh dan amal kebaikan
Bandar Jaya, 10 Juni 2019
Saturday, June 8, 2019
Dipenghujung Mei | Puisi Rindu
Oleh : Alfa Arkana Eounoia (DSF)
Dipenghujung Mei, dikala senja sore itu
Bergegas menepis genangan air yang mengguyur setiap langkah
Dingin cuaca senja itu tak aku hiraukan, demi berjumpa kau seorang
Aku tak ingin menyiakan kesempatan
Menebus rindu menembus waktu bersamamu
Tak sabar menikmati panorama indah pada bibirmu
Senyum yang membuat aku ingin selalu menetap
Tak pedulikan apa yang terjadi pada diriku
Berjumpa denganmu. Hal itu yang s'lalu ada di benak ku
Rinduku harus segera berakhir di penghujung Mei ini
Aku ingin kembali tersenyum, bahagia menyambut Juni nanti
Aku ingin kisah yang terukir pada Juni tak lagi ada duka maupun luka
Jika nanti ada. Aku harap tak sedikit namamu tercatat
Aku rindu senyum merekah pada bibirmu
Yang kau lontarkan dengan tulus padaku, sebagaimana tempo lalu
Blambangan Umpu, 31 Mei 2019
Wednesday, June 5, 2019
Amalan-Amalan Sunnah di Hari Raya
Oleh : Disisi Saidi Fatah
*Penulis merupakan pendidik di SMP Integral Manbaul Ulum, Pondok Pesantren Payur Asshiddiqiyah 11 Labuhan Jaya, Gunung Labuhan, Way Kanan. Juga Anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Way Kanan.
Tulisan ini dimuat dimedia online NU Lampung
Alhamdulillahirobbil ‘alamiin, puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat, hidayat, inayah, dan beribu kenikmatan yang telah beliau hadirkan untuk kita semua, wabil khusus umat muslim di dunia.
Tak terasa kita sudah berada di penghujung ramadhan. Sebulan penuh kita menikmati ramadhan serta isinya, semoga apa yang kita laksanakan dan kerjakan menjadi amal ibadah dan bisa diterima oleh Allah Swt. Amal yang menjadi penolong kita kelak diakhirat serta menjadi jembatan bagi kita menuju syurga-Nya.
Semoga ini bukanlah ramadhan terakhir bagi kita, semoga Allah memberikan kita kesempatan juga kesehatan untuk dapat berjumpa ramadhan tahun depan Aamiin.
Satu (1) Syawwal 1440 hijriyah jatuh pada hari Rabu, 5 Mei 2019. Merupakan hari kemenangan bagi umat muslim dan telah menjadi tradisi bagi kita semua untuk menyambut dengan riang gembira.
Adapun amalan-amalan sunnah yang dapat kita laksanakan dalam menyambut hari raya idul fitri, sebagaimana yang pernah dilakukan baginda rosulullah shollallahu ‘alaihi salam, diantaranya ialah;
Pertama, mandi di pagi hari sebelum berangkat sholat ied. Kita disunnahkan untuk membersihkan diri, sebagaimana mandi janabah. Kedua, menggunakan pakaian terbaik yang kita miliki; Rosulullah SAW, beliau sangat menyukai pakaian berwarna putih bagi kaum adam atau laki-laki serta pakaian berwarna gelap untuk kaum hawa atau perempuan. Oleh sebab itu kita dianjurkan untuk mengenakan pakaian sebagaimana kesukaan rasul kita.
Ketiga, bagi laki-laki sangat dianjurkan untuk mengenakan wewangian atau parfums, namun dalam hal ini perempuan tidak dianjurkan. Keempat, sebelum berangkat sholat ied, disunnahkan untuk makan terdahulu. Hal ini merupakan sunnah nabi, adapun hikmahnya; sebagai pertanda bahwa idul fitri ailah kembali berbuka.
Kelima, kita disunnahkan untuk berjalan kaki ketika berangkat menuju masjid atau lokasi tempat kita melaksanakan sholat, begitu juga pulangnya. Keenam, disunnahkan untuk memperbanyak bacaan tasbih, takbir, tahmid, serta tahlil ketika hendak berangkat sholat. Tasbih, takbir, tahmid juga tahlil terus dibaca sampai pada waktu pelaksanaan sholat. Ketika sampai ditempat sholat ied, tidak ada lagi sholat sunnah lainnya, langsung menggelar sajadah lalu duduk dibarisan.
Mengikuti rangkaian sholat idul fitri sebagaimana mestinya dan mengikuti imam; pada rakaat pertama setelah takbiratul ikhram kita membaca doa iftitah, lalu dilanjutkan dengan membaca takbir sebanyak tujuh kali. Adapun rakaat kedua, usai bangkit dari sujud maka ditambah dengan lima kali takbir.
Usai melaksanakan sholat ied berjama’ah, kita dianjurkan untuk tidak langsung meninggalkan masjid atau tempat sholat. Hendaknya kita mendengarkan khotib sampai dengan selesai ia berkhotbah. Selepas itu disunnahkan untuk saling mendoakan sesama muslim; sebagaimana yang dilakukan oleh salafusholih, mereka mengucapkan “Taqobbalallahu minna wamiinkum taqobbal yaa kariiim” Semoga Allah menerima amal kita semua, semoga Allah yang maha kariim mengabulkannya.
Demikianlah amalan-amalan sunnah di hari raya yang bisa kita lakukan sebagaimana baginda rosulullah SAW terdahulu. Semoga Allah SWT senantiasa menghendaki kita semua di hari yang penuh kemenangan ini. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.
*Penulis merupakan pendidik di SMP Integral Manbaul Ulum, Pondok Pesantren Payur Asshiddiqiyah 11 Labuhan Jaya, Gunung Labuhan, Way Kanan. Juga Anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Way Kanan.
Tulisan ini dimuat dimedia online NU Lampung
Monday, May 20, 2019
Meski Sekedar Menatap
#MrRj
Untuk sekedar menatapmu aku takut, apalagi jika bertegur sapa
Aku tak ingin hal sama terulang kembali, kau pergi tanpa permisi menyisakan luka direlung hati
Taat kala kutanya mengapa, selalu saja dalil tak jelas yang kuterima
Kau bungkam tanpa bicara, membuat diriku bertanya-tanya
Sebab apa kau tiba berubah tak lagi cinta
Senyum saja kau sudah enggan untuk menyuguhkan
Belum sepekan kau menetap, lalu kau pergi tanpa permisi
Setiap saat aku meminta agar kau mengklarifikasi
Selalu saja hal itu membuatmu naik tensi
Setiap perhatian aku berikan, kau enggan menerima
Namun dibelakang kau bilang masih ingin bersama
Aku tak paham akan sandiwara yang kau mainkan
Benarkah kau cinta atau hanya pura-pura
Asshiddiqiyah Way Kanan, 19 Mei 2019
Untuk sekedar menatapmu aku takut, apalagi jika bertegur sapa
Aku tak ingin hal sama terulang kembali, kau pergi tanpa permisi menyisakan luka direlung hati
Taat kala kutanya mengapa, selalu saja dalil tak jelas yang kuterima
Kau bungkam tanpa bicara, membuat diriku bertanya-tanya
Sebab apa kau tiba berubah tak lagi cinta
Senyum saja kau sudah enggan untuk menyuguhkan
Belum sepekan kau menetap, lalu kau pergi tanpa permisi
Setiap saat aku meminta agar kau mengklarifikasi
Selalu saja hal itu membuatmu naik tensi
Setiap perhatian aku berikan, kau enggan menerima
Namun dibelakang kau bilang masih ingin bersama
Aku tak paham akan sandiwara yang kau mainkan
Benarkah kau cinta atau hanya pura-pura
Asshiddiqiyah Way Kanan, 19 Mei 2019
Sunday, February 17, 2019
Sudah Dua Tahun Saja, Rindu Tak Kunjung Berlalu
By ; Alfa Arkana Eounoia (DSF)
Sudah dua tahun saja,
Begitu cepat waktu melaju, menyisakan semua kenangan yang tak kunjung berlalu
Cucuran air mata, tak letih membasahi kedua pipi
Menyisakan pilu yang teramat dalam bagiku
Netraku berkaca kaca
Bibirku terbata bata
Tak mampu berucap, meski hal yang teramat indah bagimu
Melainkan doa untukmu yang selalu kurindu
Kau adalah sosok yang begitu dirindukan
Kala hadirmu memberi kesejukan,
Raut wajahmu yang indah untuk dipandang
Serta nasihat yang kasat akan makna mendalam
Sudah dua tahun saja,
Engkau pergi tak kembali meninggalkan jutaan rindu di bumi pertiwi
Rindu tatapan wajahmu
Rindu akan sanda guraumu
Andai saja tuhan berikan waktu untuk berjumpa
Tak akan pernah diri ini menyiakan hal itu
Ayah, begitu rindu hati ini untuk menatapmu
Rindu hati untuk bertemu, melepas semua kerinduan dihati
Bumi Ramik Ragom, 5 Februari 2019

















