Friday, June 2, 2017
Beribu Kenikmatan di Bulan Suci Ramadhan
Oleh : Disisi Saidi Fatah
BULAN Suci Ramadhan adalah bulan dimana beribu kenikmatan akan Allah berikan. Bukankah kita sudah ketahui bersama bahwa Allah SWT selalu memberikan kita beribu kenikmatan yang tidak bisa kita sebutkan, tidak bisa kita jelaskan, tidak bisa kita jabarkan, tidak bisa kita hitung, bahkan kita juga tidak mampu membalas kenikmatan Allah sampai hari ini.
Saturday, April 15, 2017
SAJAK : Kenangan Dalam Sebuah Memori Bersamamu Ayah
Oleh : Disisi Saidi
Fatah
Waktu begitu cepat berlalu
Tanpa terasa dan tak ku ketahui
Hitam Putih terus ku jalani
Sedih, senang, tawa dan gembira hidup ini
Ayah,
Tanpa terasa 24 hari sudah engkau pergi
Meninggalkan kami anakmu untuk selamanya
Ayah,
Tahukah engkau betapa rindunya hati ini
Menatap indahnya wajahmu,
Melihat manisnya senyummu,
Mendengar merdunya suaramu,
Namun semua berlalu sudah
Tinggallah kenangan dalam sebuah memori
Yang abadi dalam album kuno di almari kamarku
Bersama wajah-wajah imut nan bahagia yang terpampang manis
di dalam sebuah foto
Ayah,
Yatim sudah diri ini pada hari ini
Tinggallah ibu seorang diri, tempat mengadu
Berbagi cerita pahit manisnya hidup ini
Ayah,
Tahu tidak, betapa rindunya kami
Ingin berjumpa denganmu,
Kami sayang ayah, namun Allah lebih sayang kepada ayah
Ayah,
Yang tenang di sana ya,
Bahagia lah ayah bersama para bidadari-bidadari syurga
Salam ya, untuk keluarga ayah yang di syurga
Doakan anakmu ini yah, menjadi anak yang sholeh,
Berbakti kepada orang tua, menjadi pribadi yang baik dan
lebih dewasa dalam menyikapi segala hal
Miss you Ayah
Indonesiaku Bhineka Tunggal Ika
REPUBLIK Indonesia (RI) atau yang biasa disebut Indonesia adalah
negara di Asia Tenggara yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara
benua Asia dan Australia serta antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.
Miris nya Pendidikan di Indonesia!
Ini merupakan Opini yang saya tulis pada 12 Agustus 2016 lalu yang saya post pertama di akun facebook pribadi.
Jika kita melihat media, baik itu elektronik ataupun cetak, sekarang banyak media yang memuat isu tentang konflik antara Guru, Siswa dan Orang Tua.
Mungkin sudah tak asing lagi terdengar oleh telinga kita, seperti sebuah kasus di sebuah Sekolah Menengah Pertama Kota Makasar, seorang guru yang marah dan berkata kotor kepada siswa-nya. lalu siswa tersebut melaporkan apa yang terjadi kepada dirinya, dan orang tua siswa itu datang kesekolah anaknya. sesampai di sekolah si orang tua dengan keterangan yang kurang jelas langsung memarahi dan memukul si Guru.
Dalam tulisan ini saya tidak ingin banyak komentar terhadap isu tersebut, namun saya sangat menyangkan apa yang terjadi terhadap pendidikan di Indonesia!
Saya rasa pendidikan di Indonesia sudah mulai luntur! Luntur dalam bahasa saya mentalnya sudah mulai berkurang dan hal inilah yang harus kita sadari dan perbaiki bersama. karena begitu banyak kasus yang saya dengar, dan yang penomenal merupakan kasus antara siswa dan guru.
Ketika orang tua menyekolahkan anaknya baik di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga Menengah Atas, itu berarti orang tua telah menitipkan anaknya kepada sang Guru untuk dididik dan diajarkan, yang mana orang tua telah menyepakati peraturan yang telah di tetapkan disekolah.
Baik ataupun buruk siswa itu akan menjadi tanggung jawab guru. Nah, ketika si anak ini (Siswa) buruk perilakunya, tidak punya etika, serta tidak memahami dan tidak tahu tentang pelajaran yang telah diajarkan oleh guru maka orang tua pasti akan marah, dan yang menjadi sasaran utama pasti gurunya.
Saya sangat kecewa dan menyayangkan perilaku siswa zaman sekarang, diperlakukan secara lembut dan halus malah perilakunya makin menyimpang, guru-guru dilawan. dan ketika guru bersikeras dan berlaku kasar, siswa laporan ke orang tua, ke Komnas Ham, ke perlindungan anak. Baru dicubit guru sedikit langsung visum, ujung-ujung kantor polisi. Apakah tidak bisa diselesaikan secara baik?
Saya pernah mengalami hal yang sama, dipukul oleh guru menggunakan antena radio. waktu itu pada tahun 2009 silam ketika saya duduk dibangku kelas satu SMP. telapak tangan saya dipukul hingga merah dan memar, hanya karena saya tidak hapal Undang-Undang Dasar 1945. bayangkan antena radio!! namun saya tidak pernah laporan kepada orang tua bahkan ke komnas HAM pun tidak.
Waktu itu saya hanya menangis dan menyadari apa yang salah pada diri saya dan apa yang harus saya perbaiki? Saya pun tersadar, ternyata apa yang dilakukan oleh Guru saya merupakan sesuatu yang baik dan benar. coba bayangkan apa bila saya tidak mengerti undang-undang? saya pasti tidak akan pernah tahu apa itu kemerdekaan, penjajahan, perdamaian, perjuangan, pergerakan, kemanusiaan, keadilan, dan saya tidak akan pernah tahu apa itu pancasila yang menjadi landasan dasar negara kita.
Guru ditugaskan untuk mendidik dan mencerdaskan bangsa, sebagai upaya berbagi ilmu dan mengabdikan diri serta menghormati jasa para pahlawan kita. Kalau tidak ada guru bagaimana bangsa kita! bagaimana para pemuda penerus bangsa? Apakah mereka yang membakar kitab suci? apakah mereka yang membakar tempat ibadah? apakah mereka yang hobi tawuran? apakah mereka yang menjadi pemberontak?
Apakah mereka yang menghianati Pancasila, lalu dijadikan sang duta? Apakah mereka, mereka, dan mereka yang selalu berbuat kekacauan?
Ini yang harus kita sadari dan evaluasi, kita pemuda penerus bangsa. Mental tempe jangan dipelihara.
Tuesday, April 4, 2017
Media Sosial Refolusi Teknologi Informasi
Oleh : Disisi Saidi Fatah
Media sosial seperti yang kita ketahui merupakan sebuah media online, dan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi.
OPINI : Lingkungan Hidup Warisan Anak Cucu Kita
![]() |
| Foto LHK Kota Bandung. Ist |
Lingkungan hidup merupakan titipan dari sang maha pencipta Tuhan yang maha esa, yang harus kita jaga dan rawat bersama guna kita wariskan untuk anak dan cucu kita. Lingkungan hidup adalah kekayaan yang besar dibandingkan harta benda yang kita miliki, tanpanya kita tidak bisa hidup, karena kita sangat tergantung kepadanya.
Hutan yang lebat nan hijau disertai pohon-pohon yang rimbun menghasilkan udara yang segar dan sehat, makanan pokok kita hasilkan dari alam dan hutan yang kita kelola. Sudahkah kita mensyukuri itu semua?
Kita sebagai generasi penerus dari nenek moyang kita, harus mensyukuri serta menjaga dan merawat apa yang telah diwariskan mereka. Kita harus pandai dalam memanfaatkan dan mengolah itu semua. Namun akhir ini banyak kita temui, hutan-hutan yang dulunya hijau dan lebat ditanami dengan pohon yang rindang sekarang menjadi tandus, gersang oleh perbuatan manusia-manusia yang tak bertanggung jawab, dengan menebang pohon seenaknya dan membakar hutan untuk dijadikan lahan perindustrian bahkan pertambangan tanpa memikirkan nasib anak cucunya.
Air sungai yang dulu bersih sekarang menjadi keruh dan rusak dikarenakan limbah dari pabrik bahkan sengaja dirusak oleh para penambang. Lingkungan yang bersih dan indah dipandang mata kini telah menjadi tumpukan sampah, yang dengan sengaja kita buang. Kita hanya diam, bungkam tak berbuat apa-apa melihat itu semua!
Kata guru saya, lingkungan hidup adalah pinjaman dari generasi akan datang. Karena itu wajib dikembalikan dalam kondisi baik atau tidak rusak. Hal-hal seperti diatas harus kita sadari dan kita hentikan, jika dibiarkan secara terus-menerus lalu bagaimana nasib bangsa, anak cucu kita? Dimanakah sikap peduli kita terhadap lingkungan. Apakah perlu pendidikan literasi lingkungan hidup?
Menurut saya itu sangat diperlukan, karena sikap dan mental tersebut harus dirubah. Sikap dan mental untuk peduli terhadap lingkungan harus ditanamkan dalam diri kita sedini mungkin. Program-program penghijauan harus kita terapkan di sekolah-sekolah guna untuk menyemangati dan memotivasi agar para pelajar bisa menjadi agen perubahan dalam lingkungan hidup. Karena merekalah sebagai generasi penerus, jika sikap dan mental kepedulian terhadap lingkungan sudah tidak ada lagi pada diri kita, entah harus bagaimana jadinya kehidupan kita ini. Memang sih, merubah orang tidak tidak mudah, apalagi jika hal tersebut sudah menjadi kebiasaan pada diri kita, tidak semudah membalikkan telapak tangan, semua butuh proses.
Melakukan penanaman atau reboisasi, memanfaatkan dan mengolah sampah, serta tidak membuang sampah sembarangan dan tidak mencemari sungai adalah salah satu cara untuk menjaga kelestarian lingkungan. Dimulai dari hal yang kecil saja, di rumah kita pasti menjumpai yang namanya sampah, baik itu sampah organik maupun anorganik.
Di rumah saya dan Bapak saya Gatot Arifianto memanfaatkan sampah-sampah tersebut, untuk sampah organik seperti sisa makanan dan sayuran serta dedaunan kering kami olah menjadi pupuk cair, selanjutnya untuk sampah organik seperti kertas dan sebagainya kami jadikan rongsokan untuk dijual. Adapun sampah anorganik seperti besi, kaleng, dan botol serta barang yang terbuat dari plastik itu juga kami jadikan rongsokan, untuk sampah seperti kemasan plastik dan semacamnya kami olah kembali menjadi barang-barang kreatif. Sampah plastik tersebut dicuci lalu dijemur hingga kering kemudian digunting kecil-kecil lalu dijadikan bantal, ada juga yang diolah menjadi ecobricks.
Selain di rumah Bapak juga mengajak dan menggandeng pondok pesantren untuk memanfaatkan dan mengolah sampah-sampah plastik, seperti di pondok pesantren Asshiddiqiyah 11 Desa Labuhan Jaya, Kecamatan Gunung Labuhan, Lampung asuhan KH.Imam Murtadlo Sayuti membuat bantal dari olahan sampah plastik, bantal itu juga pernah diikut sertakan pada lomba peringatan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia Tingkat Kabupaten Way Kanan Tahun pada 5 Juni 2016 lalu dan mendapatkan juara I.
Adapun di pondok pesantren Al-Falakhuss’adah Desa Tanjung Serupa, Kecamatan Pakuan Ratu, Way Kanan di sana Bapak mengajak santri mengolah sampah menjadi Bantal dan ecobricks. Saya yang kebetulan ikut mendampingi Bapak sangat terkagum dengan sosok nya yang sangat peduli dengan lingkungan, ia sangat peduli betul dan telaten dengan sampah. Bahkan ia rela meluangkan waktunya untuk mengajarkan santri-santri guna memanfaatkan sampah.
Bukan hanya itu, popok instan atau disposable diaper, yakni jenis popok sekali pakai yang umumnya terbuat dari bahan penyerap seperti tissue, fluff pulp. Popok instan termasuk salah satu sampah organik yang memiliki sifat unik, yaitu bisa menyerap dan menyimpan air. Kalau kata Bapak, popok instan bekas tidak perlu dibuang, manfaatkan saja sebagai media tanam. Pemeliharaan lingkungan hidup akan memberikan dampak yang positif bagi individu serta kualitas lingkungan hidup mendatang.
Lalu bagaimana cara memanfaatkannya? Caranya sangatlah mudah sekali. Tips memanfaatkan popok bekas sekali pakai : gunting popok bekas dan keluarkan gel. Gel terkena pipis bisa digunakan untuk pupuk tanaman yang lama-lama akan hilang dengan sendirinya jika terkena air. Adapun untuk pembungkus gel bisa dipotong kecil-kecil selanjutnya kita gunakan sebagai media menanam tanaman hias ,dengan memasukkan ke botol bekas yang sudah diberi tanaman hias. Untuk popok sekali pakai yang terkena feces, bisa digunakan setelah feces dibersihkan di closet. Pemanfaatannya juga sama dengan tips yang diatas.
Bapak yang juga penggiat Gusdurian Lampung mengatakan, limbah seperti popok bekas jika dibuang akan menumpuk dan terus menumpuk, dibakar juga tidak bisa. Karena itu harus ada solusi atas limbah tersebut. Kenapa harus repot mengurus popok instan sekali pakai? Popok sekali pakai berpotensi menjadi sarang nyamuk hingga merusak lingkungan jika dibuang begitu saja. Bagi yang tinggal di desa, tempat pembuangan biasanya di belakang rumah. Jika sehari dua popok bekas, maka dalam satu bulan ada 60 popok bekas tidak termanfaatkan yang berpotensi menjadi sarang penyakit selain lingkungan jadi penuh sampah.
Ada berapa rumah dalam satu desa memiliki balita? Berapa jumlahnya jika satu kabupaten? Potensi sampah dan kerusakan lingkungan dari membuang popok bekas akan tinggi sebagaimana angka kelahiran. Tapi jika tidak ingin repot seperti ini, sebenarnya ada produkbayi yang bisa digunakan secara berulang-ulang seperti popok zaman dahulu, namun tetap juga harus ‘repot’ mencuci. Hanya saja ada keunggulannya, yakni tidak mengotori lingkungan.
Kembali kepedulian kita terhadap sampah, saya pernah ikut gabung dalam aksi pada Februari 2016 lalu, yakni aksi Indonesia Bebas Sampah 2020. Aksi itu digelar se-Kabupaten Way Kanan diinisiasi oleh Ketua PC GP Ansor Way Kanan dengan menggandeng komunitas-komunitas se-Kabupaten Way Kanan serta pelajar dan santri. Aksi gerakan bersih-bersih pungut sampah tersebut dihadiri kurang lebih sekitar 200an peserta, dan dihadiri oleh Bupati Way Kanan Raden Adipati Surya. Ini luar biasa sikap dan kepedulian terhadap lingkungan masih tertanam pada diri kita. Pada hari itu sepanjang jalan dipenuhi oleh peserta Aksi Bebas Sampah 2020.
Lain hal dengan para pemuda yang tergabung dalam komunitas Pemuda Peduli Lingkungan dan Alam (PEMULA) Way Kanan, yang terus menggalakkan program penghijauan di sekolah-sekolah dan di lingkungan setempat. Selain menanam pohon penghijauan Pemula juga mengajak dan memotivasi para pelajar untuk turut serta dalam pelestarian lingkungan, dengan cara tidak membuang sampah sembarangan, memanfaatkan dan mengolah sampah, serta melakukan penghijauan.
Komunitas-komunitas dan pemuda yang seperti ini sangat dibutuhkan dalam upaya pelestarian lingkungan. Lingkungan adalah milik kita bersama dan harus kita jaga karena itu adalah tanggung jawab bersama. Semoga kita sadar dan makin peduli terhadap lingkungan kita. Mari kita tanamkan rasa peduli terhadap lingkungan, dengan tidak membuang sampah sembarangan, menebang pohon dan merusak alam, serta mencemari sungai. Ayo bersama-sama menjaga dan merawat warisan anak cucu kita.
Tulisan ini ditulis oleh Disisi Saidi Fatah, dan dimuat di beberapa media online seperti, NU Online, NU Lampung, dan MataAir.
*Penulis adalah alumni SMAN 1 Blambangan Umpu 2015, Ketua Alumni Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) Way Kanan 2015, bergiat di Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Ansor Way Kanan satkaryon Blambangan Umpu, Pemuda Peduli Lingkungan dan Alam (Pemula) Way Kanan, dan Laskar Santri Nusantara (LSN) Lampung.











.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)