Tuesday, March 27, 2018
Monday, March 26, 2018
Sajak : Adakah Cinta Selain Kamu
Sajak-Sajak Disisi Saidi Fatah
Adakah Cinta Selain Kamu
Jaga Baya III, 23/03/2018
Semua Tentang Kamu
Bandar Lampung,
23/03/2018
Tersayat Sepi
Nusantara, 21/03/1018
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*Disisi Saidi Fatah memiliki nama pena Alfa Arkana Eounoia. Pria kelahiran Lampung, 27 September 1996 itu sangat hobi membaca, menulis, dan mendengarkan musik. Guru TIK di SMP Manba'ul 'Ulum Asshiddiqiyah 11 Way Kanan, Lampung. Penyuka sastra dan hypnotherapi.
Pengagum Gus Mus dan Ananda Takeshi George
Adakah Cinta Selain Kamu
Masih adakah cinta dihati selain untukmu
Masih tersisakah sayang selain kepadamu
Masihkah rasa perhatian selain
memperhatikanmu
Aku tak dapat pergi
Dari bayang semu dirimu
Aku tak dapat lari dari tentangmu
Aku ingin bebas berkelana
Mengarungi cakrawala dunia
Kembalikan sisa-sisa itu untukku
Jangan kau bawa kabur semua dariku
Jika engkau bukan untukku
Sebab masih ada yang menunggu selain kamu
Semua Tentang Kamu
Mataku yang selalu bahagia
memandang indah wajahmu,
bening matamu, dan senyum manismu
Bibir ini tak henti mengucap namamu
Telinga ini yang selalu ingin mendengar suara indahmu
Hati ini yang selalu merindu
Tersayat Sepi
Mengapa dulu bertemu
Jika hanya mendapatkan pilu
Mengapa dulu berjumpa
Jika hanya membawa luka
Jauh merindukanmu
Dekat tak dapat bersatu
Melepas tak juga bebas
Kugenggam tak juga kurasakan
Hadirmu hanya ilusi
Tersayat sepi terhanyut dalam mimpi
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*Disisi Saidi Fatah memiliki nama pena Alfa Arkana Eounoia. Pria kelahiran Lampung, 27 September 1996 itu sangat hobi membaca, menulis, dan mendengarkan musik. Guru TIK di SMP Manba'ul 'Ulum Asshiddiqiyah 11 Way Kanan, Lampung. Penyuka sastra dan hypnotherapi.
Pengagum Gus Mus dan Ananda Takeshi George
Wednesday, March 21, 2018
Sajak Haul 1 Tahun
Oleh : Disisi Saidi Fatah
Setahun sudah tak bersama
Tak terdengar suara dan kata-kata
Yang cerewet, rewel dengan semua sikap dan prilakuku
Tar terlihat wajah kusam legam
Yang begitu semangat untuk menafkahi anak dan istri
Tak terasakan lagi kasih sayang yang lembut itu
Tanpa terasa setahun sudah tak bersama
Menjalin hidup tanpa hadir sang ayah
Tak ada lagi tempat berbagi dan bersandar pundak
Ketika lelah dan masalah yg tak kunjung usai
Rindu
Sangat rindu
Menatap wajahnya
Mendengar suaranya
Merasakan pelukan kasih sayang dari sang ayah
Kini hanyalah sepi yang menemani
Dan terkadang sunyi menyayat hati
Membawa ilusi kedalam mimpi
Nusantara, 18 Maret 2018
Setahun sudah tak bersama
Tak terdengar suara dan kata-kata
Yang cerewet, rewel dengan semua sikap dan prilakuku
Tar terlihat wajah kusam legam
Yang begitu semangat untuk menafkahi anak dan istri
Tak terasakan lagi kasih sayang yang lembut itu
Tanpa terasa setahun sudah tak bersama
Menjalin hidup tanpa hadir sang ayah
Tak ada lagi tempat berbagi dan bersandar pundak
Ketika lelah dan masalah yg tak kunjung usai
Rindu
Sangat rindu
Menatap wajahnya
Mendengar suaranya
Merasakan pelukan kasih sayang dari sang ayah
Kini hanyalah sepi yang menemani
Dan terkadang sunyi menyayat hati
Membawa ilusi kedalam mimpi
Nusantara, 18 Maret 2018
Sunday, March 4, 2018
Ketika Sang Imam Keluarga Pergi
![]() |
| Ilustrasi | Ist |
Sebuah cerpen, terinspirasi dari kisah nyata;
Oleh : Alfa Arkana Eounoia (DSF) @NoiaAlfa
Kamis pagi usai melaksanakan
sholat subuh berjamaah, Alfa bergegas membenahi barang-barangnya yang sempat
berantakan. Semalam baru saja Alfa sampai dari kota, sebuah kota di Pulau Jawa,
sebab ada kegiatan disana. Baru semalam Alfa pergi meninggalkan kota yang
memiliki sebutan Kota Pelajar, namun dibenaknya masih teringat begitu indah dan
asri kota itu. Masyarakat nya yang ramah serta pemandangan yang indah dan
dipenuhi oleh kaum pendatang dari berbagai kota.
Mentari nampak
begitu bersemangat memancarkan sinarnya yang begitu indah sehingga membuat mata
Alfa sedikit sakit ketika memandanginya.
Usai menyantap sarapan pagi, Alfa segera bergegas menuju stasiun kereta
untuk melanjutkan perjalanannya menuju tempat dimana ia tinggal. Tibanya di
stasiun, sembari menunggu kereta yanag akan ditumpanginya datang, Alfa membuka
ponsel untuk mengecek beberapa pesan whatsapp dan email yang masuk,
namun pagi itu ponsel nya terasa sangat sepi sekali. Setelah menunggu beberapa
menit diberanda stasiun akhirnya kereta yang akan ditumpangi datang juga,
segera ia bergegas naik dan mencari tempat duduk sesuai nomor tiket yang ia
pegang.
Beberapa menit
setelah kereta melaju dari stasiun, tiba-tiba ponselku berdering berkali-kali namun sama sekali tak ku hiraukan. Ku lihat ponsel itu ternyata yang menghubungiku adalah bapak.
“Ada apa ya, pagi-pagi Bapak
menelponku!"
Kuletakkan kembali ponselku kedalam
saku, tak lama kemudian
ponselku
kembali bergetar, kulihatn sebuah pesan
singkat menghampiri
ponselku, ternyata itu pesan dari bapak.
“Nak Alfa sudah pulang dari kotakah? Bisa mampir ketempat kerja Bapak?”
Alfa terdiam sembari berpikir,
ada apa dengan bapak? Mengapa beliau pagi ini menghubunginya berkali-kali. Ia
merasa sangat bersalah, sebab ketika hendak pulang tidak memberitahu kepada
bapak.
***
Perjalanan
hari itu cukup jauh dan melelahkan, sehingga membuat Alfa lupa memberitahu
kepada keluarga bahwasanya ia sudah sampai tujuan. Hari demi hari dilalui
dengan berbagai kesibukan. Lima hari telah berlalu namun hatiku tidak bisa tenang,
selalu dikhawatirkan dengan keadaan bapak sebab ia tak lagi menelepon atau
smsku lagi.
“Tumben bapak enggak pernah menghubungiku lagi, biasanya bapak yang paling cerewet dengan anak nya,”
“Apa aku tanya
saja kabar
beliau?”.
Hati Alfa
sangat gelisah dan risau sehingga membuat ia tak bisa beristiharat.
Berkali-kali ia keluar masuk pintu rumah sembari memainkan ponsel, berharap ada
sesuatu yang bisa menenangkan hati. Menjelang maghrib ponsel Alfa kembali
berdering, ternyata ibu yang menelpon memberi
kabar dari sang bapak. Belum
sempatku berbicara, tiba-tiba
terdengar suara yang tergesa-gea
dari bilik
ponsel.
“Assalamua’laikum,
Fa, maaf ibu tidak bisa lama. Langsung saja, beberapa hari
lalu usai bapak pulang kerja, bapak sakit perut dan mual-mual, jadi ibu bawa ke
puskesmas terdekat, namun pihak puskesmas menyarankan agar segera dirujuk ke
rumah sakit. Siang itu bapak langsung dirujuk kerumah sakit, pihak rumah sakit
juga tidak dapat menangani, sehingga bapak dioper kerumah sakit diluar kota.”
Sejak saat itu
hatiku tak bisa tenang, selalu diselimuti rasa bersalah. Seandainya kemarin aku
menyempatkan waktu untuk menjenguk bapak ditempat kerja, pasti semua tak akan seperti ini.
Apalagi kemarin bapak
sangat sibuk sekali menghubungiku. Aku jadi khawatir akan terjadi apa-apa
dengan bapak, apalagi akhir ini aku dan beliau kurang akrab.
Hari semakin malam, namun pikiranku tak bisa tenang sebab
aku belum juga menerima kabar mengenai kondisi bapak selanjutnya, ingin rasanya
aku segera menyusul kerumah sakit. Namun itu sangat tidak mungkin, jarak antara
tempat tinggalku dan rumah sakit sangat terlalu jauh apalagi sudah larut malam
begini mana ada kendaraan yang melintas, sedangkan cuaca malam ini sangat gelap
sekali dan suara gemuruh sedari tadi tak henti-hentinya menandakan akan turun
hujan yang sangat lebat. Hatiku semakin resah terpikirkan kondisi bapak,
apalagi beberapa pekan ini aku sedang dilanda banyak musibah.
***
Teringatku akan suatu masalah dengan pak Rehan, orang yang
selama ini aku panggil papa. Sampai hari ini papa masih cuek tidak menegorku,
senyum dibibir beliau seakan-akan hilang bagaikan ditelan masa, tidak seperti
biasanya beliau bersikap seperti itu kepadaku. Biasanya beliau selalu tersenyum manis dan seakan terbebas ketika
didekatku.
Setiap malam beliau memintaku untuk membuatkan secangkir
kopi hangat untuk menemani kerjanya bahkan terkadang beliau bercerita mengenai
masa muda beliau, beliau juga sering memintaku untuk menemani beliau ketika
beliau hendak bepergian. Namun tidak untuk beberapa pekan ini, sepertinya
beliau sangat marah atas segelintir kesalahan yang aku perbuat. Aku masih
merasa malu dan enggan untuk menegor beliau, ingin rasanya aku menangis
dipelukan beliau dan mengutarakan apa yang sedang hatiku
rasakan serta meminta maaf
kepada beliau atas perbuatanku kemarin.
Aku juga bosan dengan kondisiku sejak saat itu yang
selalu mengurung diri didalam kamar, namun aku masih malu dan enggan untuk
meminta maaf kepada beliau. Akan tetapi apabilaku tidak segera meminta maaf
maka akan bertambah besar masalahnya dan akan membuat pikiranku sangat
terbebani.
Kring!!! ponselku berdering, ibu kembali menelponku. Kali ini ibu
benar-benar membuatku kaget, saat ibu
menelponku ibu terlihat sangat khawatir, nafasnya seakan tidak teratur.
“Halo nak, barusan dokter memberitahu ibu mengenai penyakit yang diderita oleh bapak, dokter bilang bapak harus segara ronsen besok siang. Sebab keadaan bapak makin melemah,” tutur ibu memberitahuku. “Baik bu, Alfa besok pagi segera menuju rumah sakit,” jawabku sembari menutup telepon.
Kejadian itu membuatku sangat terpukul, aku benar-benar terpuruk dan terjatuh lemas ketika mendengar informasi dari ibu, aku sangat mengkhawatirkan bapak. Aku bingung tidak bisa berfikir, bagaimana caraku memecahkan masalah ini, kepada siapa aku harus mencari solusi dan mencurahkan perasaan hati yang sejak dalu aku sembunyikan.
“Halo nak, barusan dokter memberitahu ibu mengenai penyakit yang diderita oleh bapak, dokter bilang bapak harus segara ronsen besok siang. Sebab keadaan bapak makin melemah,” tutur ibu memberitahuku. “Baik bu, Alfa besok pagi segera menuju rumah sakit,” jawabku sembari menutup telepon.
Kejadian itu membuatku sangat terpukul, aku benar-benar terpuruk dan terjatuh lemas ketika mendengar informasi dari ibu, aku sangat mengkhawatirkan bapak. Aku bingung tidak bisa berfikir, bagaimana caraku memecahkan masalah ini, kepada siapa aku harus mencari solusi dan mencurahkan perasaan hati yang sejak dalu aku sembunyikan.
Aku bergegas keluar rumah, mencari udara segar sembari
menenangkan hati. Untung saja ketika aku jalan-jalan diluar aku bertemu
sahabatku Alwi yang kebetulan juga sedang mencari udara diluar. Wajahku
terlihat sangat murung sekali sehingga membuat Alwi bertanya.
“Fa, kamu sakit ya? Kelihatannya wajahmu sangat pucat
sekali,”
“Enggak kok, aku sehat saja, hanya saja ada beberapa
masalah yang sedang menghampiriku akhir ini”
Alwi saat itu membujukku untuk menceritakan masalah yang
sedang melandaku, dan memberiku solusi atas masalah tersebut. Alwi
menyarankanku untuk segera meminta maaf kepada papa sebab sudah lama tak saling
sapa, apalagi didalam Al-Quran tidak diperbolehkan untuk saling membuang muka
dan bersikap cuek sesama saudara melebihi dari tiga hari.
Usai curhat dengan Alwi, aku bergegas menuju rumah dan menemui papa untuk meminta
maaf, untungnya beliau masih belum tidur.
“Assalamualaikum,”
ujarku mengetok pintu ruang kerja papa, kulihat beliau sedang santai didepan
layar monitor.
“Waa’laikumsalam, masuk kak. Ada apa?” ujar papa
menyambutku dengan penuh senyuman.
Melihat senyum dibibir beliau, aku menjadi bersemangat
untuk mengutarakan maksud dan tujuanku.
“Pa, sebelumnya Alfa minta maaf ya, atas perbuatan
yang Alfa lakukan. Alfa tidak
bermaksud untuk berlebihan terhadap papa, itu semua karena Alfa sayang dengan
papa."
"Tidak apa-apa, papa maklum. Sudah papa maafkan,”
“Beneran pa?” ucapku gembira.
“Papa masih
mau-kan bersahabat dan menjadi papa kakak seperti dulu,"
“Tentu.
Asalkan Alfa janji tidak
menulanginya kembali,” ujar papa sembari merangkul pundakku. Hatiku sangat senang
sekali, sebab sejak saat itu papa tidak
lagi cuek denganku.
***
Setiba dirumah sakit, langsung ku rangkul sosok gagah
yang kini melemah terbaring diatas ranjang tidur. Kulihat disekeliling bapak
begitu banyak selang yang terpasang pada badannya.
Rabu pagi usai sarapan pagi, aku dan ibu dipanggil dokter,
aku dibuat penasaran oleh sang
dokter akan penyakit yang diderita bapak.
“Selamat pagi nak Alfa, setelah pak Salman kita diagnosa dan dilakukan
cek laboratorium, kami menyimpulkan bahwasanya pak Salman
mengalami kebocoran pada bagian usus dan lambung.
Untuk kedepan harus
segera dilakukan operasi, namun besar kemungkinan untuk keselamatan pak Salman,
kami tidak bisa menjamin 100%."
Aku enggak yakin
kalau bapak tidak bisa disembuhkan, dokter pasti salah cek apalagi rumah sakit
itu memiliki fasilitas yang sangat memadai.
Ibu
terlihat sangat khawatir, apalagi ketika ibu menelpon seluruh anggota keluarga
untuk segera berkumpul dirumah sakit. Pikiranku sangat kaucau sekali, ah tidak
mungkin kalau bapak akan secepat ini meninggalkan kami, bapak pasti sembuh.
Dokter itu pasti salah dalam memeriksa bapak."
Menjelang maghrib, tiba-tiba bapak terkejang kesakitan,
nafasnya tersengal, perutnya semula buncit tiba-tiba membesar layaknya seorang
wanita yang sedang mengandung berusia tiga bulan. Aku sangat
ketakutan, terjerit dari ruang kamar
memanggil dokter. Dokterpun tiba dengan membawa sebuah tabung gas untuk segera
dipasang pada hidung bapak untuk mendapatkan oksigen bantuan. Maghrib itu
berlalu dengan penuh kepanikan.
Malam
itu, aku, ibu, dik Rehan, mbak Salma,
dan mbak Putri sedang istiharat disebuah lorong sebelah ruangan dimana
bapak dirawat, aku sangat terkantuk sekali sebab sudah tiga malam aku begadang
menjaga bapak. Kebetulan pada malam itu mbak Intan baru sampai dari
Jakarta, jadi bisa menggantikan posisiku
untuk beristiharat sejenak. Suasana
malam itu sedikit tenang hingga membuatku tertidur pulas, membuatku susah untuk
dibangunkan.
Sekitar
pukul 23.00 aku tiba-tiba terbangun ketika mendengar suara halus dan lembut
namun terbata-bata untuk mengeja namaku.
"Fa, Al, Alfa," ujar suara itu
memanggilku. Segeraku bergegas menuju
tempat dimana itu berasal, suara itu
ternyata berasal dari ruang kamar dan ternyata itu bapak.
"Iya
pak, Alfa disini, disamping bapak,"
ujarku menghibur bapak.
Aku
sangat mengerti sekali bagaimana perasaan yang sedang bapak rasakan.
Wajah pucat itu menatap
keatas langit kamar, sembari melantunkan
kalimah tasbih, tahmid, dan tahlil.
Kutatap wajah pucat itu dengan tenang,
tiba-tiba air mataku jatuh. Aku
merasa sosok yang gagah itu seakan pergi untuk selama-lamanya dari hidupku.
Bergegasku
menuju kamar mandi, kuambil wudhu lalu
kembali duduk disamping tempat tidur bapak sembari membacakan surah yasin dan
menuntun bapak untuk mengucapkan kalimah istighfar dan dua kalimah syahadat. Suara bapak semakin lama semakin mengecil tak
terdengarkan, hanya saja bibir nya masih tetap bergerak melafadzkan kalimah
syahadat, tubuhnya dingin dan kaku.
"Dokteeeerrrr,"
"Pak, bapak,
bangun pak,"
Tidak mungkin, secepat ini bapak pergi meninggalkan kami semua.
"Innalillahi
wainna ilaihi rojiun, bapak sudah tiada," ujar dokter kepadaku.
Bapak
pergi meninggalkan kami tepat pukul 23.30, isak tangis keluarga mengiringi
kepergian bapak.
Aku
masih tidak percaya akan kepergian bapak, serasa baru kemarin bapak menelponku.
***
Pagi
itu sangat ramai sekali, warga setempat memenuhi rumah. Karangan bunga dan
bendera kuning ikut menghiasi halaman rumah. Sanak family telah berkumpul. Isak tangis tiada henti mengenang kepergian
bapak.
"Bapak
benar-benar pergi ya," gumamku.
Mbak
Intan dan mbak Putri, masih belum rela melepas kepergian bapak, mata mereka
bengkak dan tubuhnya lemas. Bahkan ketika bapak dibawa ketempat peristiharatan
terakhir, mbak Putri jatuh pingsan sebab tidak kuat melihat kejadian
tersebut. Mbak Putri begitu terpukul
atas kepergian bapak sebab sejak mbak Putri mendapatkan gelar sarjana
pendidikan juruan agama islam ia belum bisa membahagiakan bapak. Apalagi mbak
Intan dan mbak Putri belum pada nikah.
Sekarang
tak ada tempatku bersandar, berbagi cerita dan mengeluh selain kepada ibu.
“Yatim
sudah diri ini ya rabb,”
Sekarang
aku, dan mbak-mbakku harus saling mensupport dan saling bahu-membahu
menggantikan posisi bapak untuk menapkahi ibu dan adik yang sedang duduk di
bngku SMK. Sekarang harus mandiri dan lebih rajin lagi.
Selamat
jalan bapak, semoga tenang di surga.
“Kami
merindukan bapak,”
Saturday, March 3, 2018
Aku Anak Santri: Sebagai Wujud Cinta Kepada Sang Santri
![]() |
| Buku Antologi Puisi "Aku Anak Santri" Kars Publisher |
Siapa yang tak kenal santri, yang menjadi kunci utama dalam meraih kemerdekaan. Tanpa seorang santri entah akan bagaimana nasib negara kita jadinya nanti. Santri juga sangat berperan dalam hal kemerdekaan NKRI, perjuangan dan pengorbanan nya pula ikut dirasakan dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, jauh sebelum merdeka. Berdiri pada garda kedepan menyongsong bendera kemerdekaan dengan senjata bambu runcing demi mempertahankan tanah air ibu pertiwi yang telah banyak memberikan sumbangsih untuk kita semua.
Berkat perjuangan para santri itu pula, pada tanggal 22 Oktober tepat pada tahun 2015 Presiden Indonesia, Bapak Jokowi menetapkan bahwa setiap tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional sebagai pengingat perjuangan para santri yang ikut andil dalam mempertahankan NKRI dari para penjajahan, atau yang sering kita dengar dengan sebutan "Resolusi Jihad" sebagai wujud penghormatan atas perjuangannya dalam melawan penjajahan pada masa lalu.
Santri bertahun lamanya dibina dan digembleng dalam naungan pondok pesantren agar diajari sebuah pengetahuan yang nantinya akan dibawa dan diimplementasikan dikalangan masyarakat, bahkan akan dibawa sampai akhir hayatnya sebagai bekal menuju akhirat.
Buku Antologi Puisi yang diterbitkan oleh "Kars Publisher" dengan judul "Aku Anak Santri" ini merupakan sebuah karya para penyair muda dan pemula sebagai wujud rasa cinta dan kasih sayang nya kepada sang santri yang telah ikut menjaga keutuhan NKRI.
Buku ini merupakan hasil event lomba cipta puisi tingkat nasional dengan tema "Hari Santri" yang diselenggarakan oleh "Kars Publisher" dan diikuti oleh ratusan penyair baik muda ataupun pemula se-NUsantara Oktober-November 2017 yang diselenggarakan di Kota Tuban. dan dari sekian ratus karya dari para penyair itu terpilihlah seratus karya terbaik yang turut dibukukan.
Spesifikasi Buku :
Judul : Antologi Puisi "Aku Anak Santri"
Penulis : Dewi Agustin, M.Rizal Fahmi, dkk
Tata Letak : Dhahrul Mustaqim
Cover : Dhahrul Mustaqim
Tebal Buku : 131 Halaman, 14x20 cm
ISBN : 978-602-50269-9-7
Cetakan 1 : Desember 2017
Penerbit
Kars Publisher
Desa Pucangan
Kecamatan Palang
Kabupaten Tuban-62391
Telp: 081553060157
Blog : karspublish.blogspot.com
Email : karspublisher77@gmail.com
Fans Page : C.V. Kars Publisher
Informasi dan Pemesanan Buku :
Email : karspublisher77@gmail.com
Facebook : Kars Publisher
Whatsapp : 081553060157
Blog : karspublish.blogspot.com
Friday, March 2, 2018
Terbelunggu Media: Syair Indah Bagi Pengguna Media Sosial
Sebuah catatan kecil, sebagai kado terindah untuk tim sekaligus panitia lomba cipta puisi tingkat nasional dengan tema "Media Sosial" bersama Kars Publisher. Yang diselenggarakan di Kota Tuban.
Buku Antologi Puisi "Terbelunggu Media" ini merupakan hasil event lomba, yang memuat seratus sajak-sajak dalam syair yang indah dari seratus penulis se-NUsantara.
Sebagaimana yang telah kita ketahui, media sosial merupakan alat pembantu dimasa depan, sebagai perkembangan diera teknologi digital di jaman yang semakin canggih dan maju ini.
Media sosial telah banyak membantu orang-orang, Baik dalam komunikasi dan juga dalam menjalani hubungan antar sesama baik didalam keluarga, sahabat, teman, kenalan, dan kerabat kerja.
Dengan adanya media semua menjadi mudah, kita bisa saling terhubung dengan keluarga dan lain-lain, bisa juga bisa menjelajahi dunia dengan mudah, serta membantu kita untuk menemukan sesuatu yang masih awam.
Namun, tidak semua media bisa membantu kita dalam berkehidupan. Kadangkala ada saat dimana manusia terbelunggu akan media sosial. Sebab media sosial juga bisa membunuh kita hanya karena kita salah ucap saat berkata-kata. Maka kita diharuskan untuk terus berhati-hati dalam bermedia sosial. Jangan semua kita publikasikan, akan ada saatnya itu kita jadikan privasi.
Oleh sebab itu, buku ini diterbitkan untuk menceritakan segala keluh kesah akibat adanya media sosial dan juga sekaligus menjadi cerminan bagi kita semua.
Sebagaimana kita ketahui, dalam tahap belajar tentunya masih banyak yang kurang, baik dalam penulisan, penataan, serta dalam menerapkan kata-kata.
Oleh sebab itu kritik dan saran sangat kami butuhkan untuk lebih baik ke masa depan yang lebih gemilang.
Keterangan buku;
Judul Buku : Antologi Puisi "Terbelunggu Media"
Penulis : Rohmad Yasin, Suliyah, dkk
Penyunting : Dhahrul Mustaqim
Tata Letak : Dhahrul Mustaqim
Desain Saampul : Dhahrul Mustaqim
Penerbit : Kars Publisher
Tebal Halaman 136 Halaman, 14x20 cm
ISBN : 978-602-50269-4-2
Cetakan 1, Oktober 2017
Informasi dan pemesanan buku;
Email : karspublisher77@gmail.com
Facebook : Kars Publisher
Whatsapp : 0815-5306-0157
Blogger : Karspublish.blogspot.com
Friday, February 16, 2018
Maafkan Aku, Mengecewakanmu!
Untuk : Inspirasi dan Motivasiku; Bapak!
Maafkan aku
mengecewakanmu hari ini pak, maaf kemarin aku telah berbohong mengenai
keikutsertaanku dalam kompetisi itu. Aku bilang bahwa aku telah mengikuti
kompetisi itu, sebenarnya aku ingin jujur terhadap bapak tapi aku rasa belum
saat yang tepat membicarakan hal itu kemarin, jadi aku putar balikkan fakta
yang sejujurnya, semua itu karena aku
tak ingin mengecewakanmu, sebab aku teranjur sayang pada bapak dan keluarga. Apalagi bapak sudah seperti orang tua, aku
takut jika harus kelihangan bapak.
Bukan maksud hati
mengecewakan, apalagi tak menghargai seluruh pengorbanan bapak kepadaku selama
ini. Aku sangat berterima kasih kepada bapak dan juga tuhan yang maha esa,
sejak kita dekat bapak sudah banyak membantuku. Jujur pak awal jumpa kita
memang tak saling kenal, hingga sampai hari ini kita diberikan keakraban dan
saling mengenal satu sama lain. Mungkin ini adalah takdir dan jalan tuhan
mempertemukan kita atau mungkin itu hanya sebuah perasaanku saja, entahlah aku
juga tak tahu, tapi ini benar adanya.
Tapi aku benar-benar
minta maaf, telah mengecewakan bapak. Mungkin bapak kecewa terhadap sikap dan
caraku kemarin. Tapi, aku juga bingung dengan posisi dan kondisi saat ini. Bapak
tahu sendiri posisiku dimana. Kemarin aku memang sudah mempersiapkan semua
untuk kompetisi itu sampai-sampai aku belajar banyak mengenai kompetisi itu,
bagaikan pelajar yang akan mengahadapi ujian akhir sekolah. Namun sayang ada sesuatu
yang menjadi penghalang dan hambatan hingga harus kuikhlaskan semua yang akan
aku dapatkan hilang begitu saja.
Pak, sebenarnya aku
lelah dengan posisiku saat ini, aku ingin bebas dan mengahiri semua, tapi aku
tak ingin kehilangan bapak dan keluarga sebab aku sayang semuanya, apalagi
bapak dan keluarga adalah inspirasi dan motivasiku.Aku hanya punya seorang bapak yang begitu peduli terhadap diriku, dan begitu berpengaruh dalam hidupku; tak lain sosok itu adalah bapak seorang.
Terima kasih, atas semua
kasih sayang dan baik nya bapak.
Semoga Allah, Tuhan Yang Maha Esa membalas semua kebaikan bapak.
Sehat terus dan terus
menginspirasi serta motivasi diri.Tetap menjadi sahabat dan orang tua yang baik.
Way Kanan, 16 Februari 2018

















