![]() |
| Foto.Ist | Hellosehat.com |
Tuesday, April 10, 2018
Siapkah Kita Jika Kematian Menjemput?
Oleh : Disisi Saidi Fatah
Ketika kita memperhatikan realitas kehidupan disekitar kita, tentu kita akan menemukan berbagai macam perkara, diantaranya ialah kenikmatan dan kesenangan duniawi, yang hanya bersifat sementara dan senda gurau belaka. Demikian hal itu akan mengakibatkan seseorang lalai akan Tuhan Yang Maha Agung, mereka hanyut dalam kesenangan dunia yang semu, sementara mereka lupa akan Tuhan-Nya. Mengapa demikian terjadi?
Sebab mereka hanya berlomba-lomba dalam hal keindahan dunia saja, sedangkan untuk akhirat mereka lupakan. Bahkan untuk mencapai apa yang mereka kehendaki, mereka tidak memperdulikan antara yang hak dan yang batil, antara haram dan halal, yang penting senang dan bahagia. Sehingga mereka lupa akan kematian yang sudah pasti akan terjadi, mereka terus melakukan kerusakan tanpa mau berpikir terhadap sesuatu yang sudah pasti akan tiba saatnya, yang terus mengintai setiap langkah dan hendak menjemputnya.
Sudah siapkah kita jika kematian datang menjemput? Jika belum apa yang menjadi penyebab ketidaksiapan kita? Hal ini perlu dipertanyakan kembali pada diri kita kenapa belum siap! Masih banyak hutangkah? Belum merasakan kekayaan duniawi? Atau kita belum memiliki bekal untuk kehidupan akhirat? Lha jika terus seperti ini kapan kita siapnya? Bukankah kematian itu datangnya secara tiba-tiba, tanpa ada konfirmasi terdahulu? Lha buktinya banyak yang meninggal ketika mereka sedang dalam perjalanan, sedang asyik bersama keluarga, sedang bersenang-senang, bahkan yang tadinya sehat secara tiba-tiba jatuh sakit dan langsung mati. Na’uzubillah. Wallahu alam hanya Allah yang tahu kapan kematian itu akan menjemput kita.
Sungguh, wahai saudaraku bahwa sesungguhnya setiap manusia ketika kematian tiba ia tak akan bisa lari kemana-mana, untuk berhindar dan bersembunyi, apalagi bernegosiasi kepada Allah. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah An – Nisa’ ayat 78.
أَيْنَمَاتَكُونُوايُدْرِكْكُمُالْمَوْتُوَلَوْكُنْتُمْفِيبُرُوجٍمُشَيَّدَةٍ
“Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu. Kendatipun kamu didalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (Q.S An-Nisa’ : 78)
Saudara-saudaraku, dunia ini penuh permainan. Harta, tahta, bahkan rupa semua adalah milik Allah semata. Sesungguhnya Allah menjadikan semua itu sebagai alat untuk menguji kita. Sebagaimana kita memperlakukan semua, apakah demi kebaikan atau justru sebaliknya? Jika iman kita kuat maka kita akan selamat dan jika iman kita lemah maka kita akan kalah dan terjerumus kedalam kegelapan dan dunia penuh dosa. Na’uzubillah, semoga kita tergolong dalam orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Dan semoga kita tergolong dalam golongan orang-orang yang siap akan kematian, apabila kematian tiba maka kita telah siap menjemputnya. Aamiin Ya Rabbal Alamin.
Artikel ini juga dimuat di NuLampung.or.id (NU Lampung Online)
Biodata Penulis
Disisi Saidi Fatah merupakan Alumni Akademi Hypnotherapy Karya Tunas Bangsa. Pemilik akun instagram @pecandusastra96 merupakan kelahiran Gedung Harta, Lampung Tengah, 27 September. Aktivitas sehari-hari di pesantren sebagai Guru di SMP Manba’ul ‘Ulum Way Kanan.
Friday, April 6, 2018
April Bersamamu - A L F A
Oleh : Alfa Arkana EoFataha (DSF)
Kutarik napas dalam-dalam dari hidung, lalu perlahan kuhembuskan melalui mulut. Hal itu selalu kuulangi berkali-kali pada saat diri sedang dalam ke khawatiran dan kecemasan. Begitu pula hal serupa itu kuulangi beberapa kali pada saat perjalanan siang ini. Hatiku berdegub kencang begitu juga darah mengalir deras. Kurasa memang belum cukup stamina untuk memulai lembaran baru apalagi belum terlalu move on untuk pergi jauh dari bayang Papa. Seharusnya untuk hari ini masih istiharat di rumah agar lebih baik dan nyaman kembali. Namun aku yakin, perlahan semua akan membaik pabila sudah waktunya.
Dalam perjalanan selama tiga jam itu aku selalu terbayang akan kejadian beberapa hari lalu yang menggetarkan hati, membuat pilu, hingga meneteskan air mata. Namun dibalik semua kisah itu ada suatu hal yang membuat bahagia. Ya lagi-lagi dia selalu hadir dalam setiap langkah dan lamunanku. Jadi teringat ketika senja sore bersamanya, keliling menghabiskan waktu bersama, bercerita, dan tertawa bersama. Apalagi setiap kupandang wajah ceria pada sebuah foto dalam dompetku, foto hitam putih dengan ukuran empat kali enam itu rasanya bahagia selalu menyertaiku setiap kali pandangan terfokuskan pada foto tersebut.
Yang aneh adalah ketika orang-orang yang melihat foto itu, ketika ku membuka dompet mereka selalu bertanya mengenai apa yang mereka lihat. Ya seperti foto ini yang selalu menjadi kontroversi bagi mereka. Kebanyakan dari mereka bertanya, mengapa harus foto itu yang dipasang? Kenapa tidak foto pacar atau istri! Wah Jangan-jangan secara diam-diam kamu sudah berkeluarga dan punya anak ya! Wah parah banget. Masak iya pemuda seusia aku sudah berkeluarga dan punya anak! Jangankan untuk menafkahi keluarga, untuk pribadi saja masih jauh dari pas. Dan yang paling parah lagi, ada kawanku yang bilang, eh kamu norak banget ya benar-benar gak up to date. Sekarang jaman moderen dan jaman canggih enggak perlu lagi nyimpan foto di dompet. Yah terkadang kalau kita mengikuti apa yang mereka katakan pada kita, semua enggak akan cukup dan enggak pernah terpuaskan. Apalagi kita bukan alat pemuas hehe.
Ohya bay the way hari ini aku sangat bahagia sekali lho, meski tubuh masih kurang fit akibat selalu teringat kejadian pagi itu. Senang sekali rasanya, akhirnya doa-doa yang selalu terselipkan dalam setiap hembusan napas pada istigkhoroh beberapa waktu lalu diijabah sama yang kuasa, Allah azza wajalla. SubhanAllah, bersyukur kebaikan Allah selalu ada dan selalu menyertai setiap langkah.
Usai sholat jum’at, tepat pada pukul 13,35 Wib aku tiba di pesantren. Rumah baruku selama setahun kedepan, aku berharap ini adalah jalan terbaik yang Allah berikan untukku, selain bisa dekat dengan Alfa aku berharap ilmu yang aku dapatkan bisa lebih bermanfaat lagi disini.
Bismillah, dengan tekad kuat dan penuh semangat kubuka kaca jendela mobil lalu kuhirup perlahan demi perlahan udara segar pesantren dan kurasakan kenyamanan dan kenikmatan yang Allah berikan, yang selalu mengajakku untuk selalu mensyukuri atas nikmatnya. SubhanAllah benar-benar luar biasa sekali, ternyata aku benar-benar telah berada di pesantren. Kubuka pintu mobil dan melangkahkan kaki keluar, kupandangi sekitar pesantren.
Setiap liku dan sudut tak sedikitpun terlewatkan.
Ada sesuatu yang membuat bingung diriku dan bertanya-tanya! Kucoba mengucek-ucek mata dan mencubit kedua pipiku dan itu terasa sakit. Berarti aku benar-benar dalam keadaan sadar bukan sedang berada didunia mimpi. Kedua bola mataku tak henti berkeliling, dengan sigap dan cepat menangkap informasi, namun tidak juga kutemukan jejak-jejak kehidupan.
“Ada apa ini. Sepi sekali suasana pesantren. Tidak seperti biasanya,” gumamku dalam hati.
Hal itu semakin membuat bingung diriku. Apalagi ketika seseorang dari arah belakang yang tiba-tiba hadir dan menyadarkanku. Sontak diriku terkaget olehnya.
“Mas,” tegur suara itu.
“Astaghfirullahhaladzim,” sontak ku terkaget dan tersadar olehnya. Dan segeraku menoleh kearah belakang dimana suara itu berasal.
“Mas. Apakah ini benar tujuan kita.”
“Iya benar pak. Maaf telah menunggu lama.”
Ya ampun suasana ini benar-benar membuatku lupa. Aku lupa bahwa telah sampai di pesantren dan lupa jika aku diantar oleh trevel. Untung saja si sopir trevel tidak marah dan bersabar menungguku sejak tadi. Usai membayar trevel dan mengeluarkan barang-barang dari mobil, aku perlahan melangkahkan kaki menuruni anak tangga menuju asrama, sebuah gedung tempat dimana biasa aku tempati dan disana aku berjumpa dengan seorang santri. Ternyata santriwan dan santriwati beserta ustadznya sedang mengikuti acara disebuah masjid didekat pesantren, hanya beberapa saja yang tinggal menjaga pesantren. Pantas saja sepi.
Ini akan menjadi sebuah kejutan untuk Alfa dan teman-teman yang sedang menantikan kehadiranku. Kemarin ketika aku chatting dengan Ustadzah Imsa, dia bilang anak-anak menanti kehadiranku segera. Tapi yang membuat senang hatiku bukanlah kejutan tersebut, akan tetapi keindahan bulan April. Ya April akan selalu terkenang sebagai langkah memulai lembaran baru dan awal kebersamaan dalam persahabatan.
---------------------------------------------------------------------------------------
Juli Bertemu April Bersatu
Juli Bertemu
Agustus dan September mulai akrab denganmu
Oktober, November, dan Desember
Berlalu dengan bayang semu
Januari, Februari , Maret
Aku mulai rindu
Lalu April. Allah berikan waktu untuk bersatu
Mei dan Juni. Suka cita kulalui bersama denganmu
Selamanya kita bersama, mengarungi samudera dan cakrawala
Meraih mimpi-mimpi pada dunia
----------------------------------------------------------------------
*Alfa Arkana Eounoia bernama asli Disisi Saidi Fatah merupakan Alumni Akademi Hypnoterapy Karya Tunas Bangsa, Sumatera Selatan. Pemilik akun instagram @DisisikuDisisimu pengagum sholawat Habib Syech AA Assegaf dan penyuka ulama sastra KH Ahmad Mustafa Bisri (Gus Mus) serta Ust.Yusuf Mansyur dan Aktor Ananda George. Suka Puisi, sastra, dan kamu ❤
Kutarik napas dalam-dalam dari hidung, lalu perlahan kuhembuskan melalui mulut. Hal itu selalu kuulangi berkali-kali pada saat diri sedang dalam ke khawatiran dan kecemasan. Begitu pula hal serupa itu kuulangi beberapa kali pada saat perjalanan siang ini. Hatiku berdegub kencang begitu juga darah mengalir deras. Kurasa memang belum cukup stamina untuk memulai lembaran baru apalagi belum terlalu move on untuk pergi jauh dari bayang Papa. Seharusnya untuk hari ini masih istiharat di rumah agar lebih baik dan nyaman kembali. Namun aku yakin, perlahan semua akan membaik pabila sudah waktunya.
Dalam perjalanan selama tiga jam itu aku selalu terbayang akan kejadian beberapa hari lalu yang menggetarkan hati, membuat pilu, hingga meneteskan air mata. Namun dibalik semua kisah itu ada suatu hal yang membuat bahagia. Ya lagi-lagi dia selalu hadir dalam setiap langkah dan lamunanku. Jadi teringat ketika senja sore bersamanya, keliling menghabiskan waktu bersama, bercerita, dan tertawa bersama. Apalagi setiap kupandang wajah ceria pada sebuah foto dalam dompetku, foto hitam putih dengan ukuran empat kali enam itu rasanya bahagia selalu menyertaiku setiap kali pandangan terfokuskan pada foto tersebut.
Yang aneh adalah ketika orang-orang yang melihat foto itu, ketika ku membuka dompet mereka selalu bertanya mengenai apa yang mereka lihat. Ya seperti foto ini yang selalu menjadi kontroversi bagi mereka. Kebanyakan dari mereka bertanya, mengapa harus foto itu yang dipasang? Kenapa tidak foto pacar atau istri! Wah Jangan-jangan secara diam-diam kamu sudah berkeluarga dan punya anak ya! Wah parah banget. Masak iya pemuda seusia aku sudah berkeluarga dan punya anak! Jangankan untuk menafkahi keluarga, untuk pribadi saja masih jauh dari pas. Dan yang paling parah lagi, ada kawanku yang bilang, eh kamu norak banget ya benar-benar gak up to date. Sekarang jaman moderen dan jaman canggih enggak perlu lagi nyimpan foto di dompet. Yah terkadang kalau kita mengikuti apa yang mereka katakan pada kita, semua enggak akan cukup dan enggak pernah terpuaskan. Apalagi kita bukan alat pemuas hehe.
Ohya bay the way hari ini aku sangat bahagia sekali lho, meski tubuh masih kurang fit akibat selalu teringat kejadian pagi itu. Senang sekali rasanya, akhirnya doa-doa yang selalu terselipkan dalam setiap hembusan napas pada istigkhoroh beberapa waktu lalu diijabah sama yang kuasa, Allah azza wajalla. SubhanAllah, bersyukur kebaikan Allah selalu ada dan selalu menyertai setiap langkah.
ᴥᴥᴥᴥᴥ
Usai sholat jum’at, tepat pada pukul 13,35 Wib aku tiba di pesantren. Rumah baruku selama setahun kedepan, aku berharap ini adalah jalan terbaik yang Allah berikan untukku, selain bisa dekat dengan Alfa aku berharap ilmu yang aku dapatkan bisa lebih bermanfaat lagi disini.
Bismillah, dengan tekad kuat dan penuh semangat kubuka kaca jendela mobil lalu kuhirup perlahan demi perlahan udara segar pesantren dan kurasakan kenyamanan dan kenikmatan yang Allah berikan, yang selalu mengajakku untuk selalu mensyukuri atas nikmatnya. SubhanAllah benar-benar luar biasa sekali, ternyata aku benar-benar telah berada di pesantren. Kubuka pintu mobil dan melangkahkan kaki keluar, kupandangi sekitar pesantren.
Setiap liku dan sudut tak sedikitpun terlewatkan.
Ada sesuatu yang membuat bingung diriku dan bertanya-tanya! Kucoba mengucek-ucek mata dan mencubit kedua pipiku dan itu terasa sakit. Berarti aku benar-benar dalam keadaan sadar bukan sedang berada didunia mimpi. Kedua bola mataku tak henti berkeliling, dengan sigap dan cepat menangkap informasi, namun tidak juga kutemukan jejak-jejak kehidupan.
“Ada apa ini. Sepi sekali suasana pesantren. Tidak seperti biasanya,” gumamku dalam hati.
Hal itu semakin membuat bingung diriku. Apalagi ketika seseorang dari arah belakang yang tiba-tiba hadir dan menyadarkanku. Sontak diriku terkaget olehnya.
“Mas,” tegur suara itu.
“Astaghfirullahhaladzim,” sontak ku terkaget dan tersadar olehnya. Dan segeraku menoleh kearah belakang dimana suara itu berasal.
“Mas. Apakah ini benar tujuan kita.”
“Iya benar pak. Maaf telah menunggu lama.”
Ya ampun suasana ini benar-benar membuatku lupa. Aku lupa bahwa telah sampai di pesantren dan lupa jika aku diantar oleh trevel. Untung saja si sopir trevel tidak marah dan bersabar menungguku sejak tadi. Usai membayar trevel dan mengeluarkan barang-barang dari mobil, aku perlahan melangkahkan kaki menuruni anak tangga menuju asrama, sebuah gedung tempat dimana biasa aku tempati dan disana aku berjumpa dengan seorang santri. Ternyata santriwan dan santriwati beserta ustadznya sedang mengikuti acara disebuah masjid didekat pesantren, hanya beberapa saja yang tinggal menjaga pesantren. Pantas saja sepi.
Ini akan menjadi sebuah kejutan untuk Alfa dan teman-teman yang sedang menantikan kehadiranku. Kemarin ketika aku chatting dengan Ustadzah Imsa, dia bilang anak-anak menanti kehadiranku segera. Tapi yang membuat senang hatiku bukanlah kejutan tersebut, akan tetapi keindahan bulan April. Ya April akan selalu terkenang sebagai langkah memulai lembaran baru dan awal kebersamaan dalam persahabatan.
---------------------------------------------------------------------------------------
Juli Bertemu April Bersatu
Juli Bertemu
Agustus dan September mulai akrab denganmu
Oktober, November, dan Desember
Berlalu dengan bayang semu
Januari, Februari , Maret
Aku mulai rindu
Lalu April. Allah berikan waktu untuk bersatu
Mei dan Juni. Suka cita kulalui bersama denganmu
Selamanya kita bersama, mengarungi samudera dan cakrawala
Meraih mimpi-mimpi pada dunia
----------------------------------------------------------------------
*Alfa Arkana Eounoia bernama asli Disisi Saidi Fatah merupakan Alumni Akademi Hypnoterapy Karya Tunas Bangsa, Sumatera Selatan. Pemilik akun instagram @DisisikuDisisimu pengagum sholawat Habib Syech AA Assegaf dan penyuka ulama sastra KH Ahmad Mustafa Bisri (Gus Mus) serta Ust.Yusuf Mansyur dan Aktor Ananda George. Suka Puisi, sastra, dan kamu ❤
Sunday, April 1, 2018
Hijrah - Alfa Arkana Eounoia
"Hijrah"
Oleh : Alfa Arkana Eounoia (DSF)
![]() |
| Ilustasi.Ist | Gambar oleh Google |
"Sebenarnya aku tak ingin berpisah, namun cepat atau lambat tetap kita akan berjumpa dengan perpisahan yang memang terkadang membuat sakit dan terluka."
Aku tahu ini mungkin sakit, sebab tak lama lagi bersama dengan mereka (orang yang aku sayang), aku akan pergi meninggalkan semua untuk memulai perjalanan dan kehidupan baru. Sebenarnya aku tak ingin berpisah, namun cepat atau lambat tetap kita akan berjumpa dengan perpisahan yang memang terkadang membuat sakit dan terluka. Bukan aku tidak mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan. Aku sangat bersyukur dan bahagia bersama orang-orang disekitar yang Allah hadirkan dengan penuh warna dan cerita.
Setelah mendapat kabar baik dari abah beberapa hari lalu. Aku benar-benar berpikir dengan matang dan membulatkan tekad serta mengambil keputusan yang ril.
Sebab aku tak ingin menyesal dan salah dalam mengambil keputusan. Kemarin aku sudah bicarakan hal ini baik-baik kepada ibu dan keluarga di kampung dan mereka menyetujui hal itu selagi itu baik untuk aku dan tidak merugikan semua pihak.
Its oke jadi malam ini aku memberanikan diri untuk memulainya. Sebab masih ragu dan merasa gugup untuk mengajak papa ngobrol bareng, aku mengajak beliau melalui pesan singkat yang intinya adalah meminta sedikit waktu beliau untuk bersamaku malam ini. Sebab ada beberapa hal yang ingin kukatakan kepada beliau.
Aku tergugup malu duduk disamping papa diruang tamu. Sengaja beliau buatkan dua cangkir kopi hangat untuk menemani obrolan kami agar suasana bisa tenang dan santai. Aku masih terdiam, tertunduk diam. Namun aku merasa sedikit tenang berada disamping Papa.
“Kak. Melamun saja, monggo diminum kopi nya,” ujar Papa memulai pembicaraan sembari merangkul pundakku.
Aku merasa sangat nyaman berada dalam rangkulan Papa, meski beliau bukanlah orang tua kandungku namun bagiku beliau sudah lebih dari itu. Kebaikan dan kasih sayang nya aku bisa rasakan semua meski tak sebesar kasih sayang kedua orang tua kandung.
Aku merasa sakit sekaligus sedih untuk memulainya, kurangkul tubuh beliau dan kupeluk erat-erat. Masih tercium keharuman yang mampu mencairkan susana, sebagaimana yang membuatku selalu merindu untuk selalu bersama. Tak terasa air mata berjatuhan tak dapat terbendung olehku.
“Pa. Maafin kakak ya. Kakak selalu membuat Papa marah dan selalu mengecewakan Papa,” tuturku sembari memeluk erat tubuh Papa.
“Ada masalah apa kak. Kok terbata-bata seperti itu?”
“Ceritakan pada Papa. Ada apa?”
Kutatap wajah Papa, dengan lamat-lamat kutatap tajam matanya yang tenang dan berwibawa. Dari pandangan matanya aku rasa beliau bersedia menerima semua keluh kesahku dan tak sabar untuk mendengarkan nya. Matanya berkedip menandakan bahwa beliau ingin segera mendengarkan keluh kesah itu.
“Pa. Maafin kakak ya. Papa enggak marah lagikan dengan kakak?”
“Lha marah kenapa. Kakak kan tidak melakukan kesalahan!”
“Papa masih maukan bersahabat dengan kakak?”
“Iya nak. Memangnya ada apa.”
“Kakak takut jika nanti Papa marah dan pergi. Pa, kakak ingin pulang dulu dan mencari susana baru. Tidak apa-apakan pa?”
“Papa enggak marah. Ya selagi itu baik buat kakak dan bisa bertanggung jawab. Mengapa tidak?”
“Bukankah begitu nak!” ujar Papa sembari merangkul tubuhku kembali dan mengusap keningku.
Papa benar-benar orang yang luar biasa dalam hidupku. Meski aku bukanlah anak kandung, namun bagi papa aku sudah seperti anaknya sendiri. Kasih sayangnya sama terhadap aku dan anak-anaknya, tak pernah beliau membeda-bedakan perlakukan dan sikap. Hanya saja usia yang membedakan diantara aku dan anak-anaknya.
Hari-hari akhir kuhabiskan untuk selalu bersama Papa. Aku tahu Papa pasti sedih dan merasa sangat kelihangan sebab begitu cepat aku akan pergi meninggalkannya. Wajahnya tak seindah dan sebahagia lalu yang selalu berseri ketika bersama. Ya mungkin saja beliau lelah sebab banyak aktivitas. Jadi pagi itu kupijat kaki dan pundak beliau untuk terakhir kalinya.
Hingga pada saat yang tiba. Waktu itu menunjukkan pukul 03.30 Wib. Papa mengetok pintu kamar, memberitahu agar aku bangun dan segera siap-siap sebab kendaraan yang akan aku tumpangi sudah menuju terminal. Segera kubergegas membereskan semua. Kulihat Papa sedang sibuk dibelakang mempersiapkan hidang untukku.
“Kakak makan dulu. Papa sudah siapkan semua untuk Kakak.”
Ya Allah, ternyata benar Papa tak sedikitpun marah kepadaku. Persahabatan yang sudah terjalin hampir setahun lebih ini menyisakan banyak kenangan dan keindahan. Papa sungguh luar biasa.
Subuh itu menjadi kenangan terakhir bersama Papa. Aku tak sanggup dengan keadaan ini tak kuat menahan air mata. Kupeluk papa erat-erat untuk terakhir kali sembari mengecup kedua pipinya.
“Pa. Maaf ya untuk semua kesalah dan khilaf kakak. Papa adalah yang terbaik, jangan pernah lupa dengan kakak. Sehat selalu pa,” kata-kata itu terucap dari bibirku untuk terakhir bersama beliau yang selama ini menjadi guru, sahabat, dan orang tua bagiku.
Semoga dengan ini semua menjadi lebih baik dan gemilang total.
-------------------------------------------------------------------
*Alfa Arkanan Eounoia (DSF) merupakan mahasiswa semester tiga jurusan Ilmu Komunikasi disalah satu perguruan tinggi di Lampung.
Memiliki hobi membaca, menulis, serta jalan-jalan dan mencoba hal baru. Aktif dikegiatan sosial budaya dan kemanusiaan. Memiliki motto "Bermanfaat untuk sesama. Berbagi dan berkarya dalam ranah kehidupan dan kemanusiaan yang setara dan seadil-adilnya."
Friday, March 30, 2018
Kemana Harus Melangkah?
Sajak oleh : Disisi Saidi Fatah
Masih mengambang diantara pilihan
Kemana harus melangkah?
Masihkah cinta di pesantren impian?
Tak ingin melepas, tapi hanya ingin bebas
Dia
Obat penawar luka lama
Yang selalu ada dalam cerita
Penyemangat dan penghapus pilu di dada
Ya Allah. Berikan cahaya penerangan
Untuk kami yang tersesat dalam kegelapan
Way Kanan, 30 Maret 2018
--------------------------------------------------------------------------
*Disisi Saidi Fatah Pria berdarah Lampung yang hobi membaca, menulis, dan mencoba hal baru. Aktif sebagai Mahasiswa Semester 3 disalah satu Perguruan Tinggi di Way Kanan.
Masih mengambang diantara pilihan
Kemana harus melangkah?
Masihkah cinta di pesantren impian?
Tak ingin melepas, tapi hanya ingin bebas
Dia
Obat penawar luka lama
Yang selalu ada dalam cerita
Penyemangat dan penghapus pilu di dada
Ya Allah. Berikan cahaya penerangan
Untuk kami yang tersesat dalam kegelapan
Way Kanan, 30 Maret 2018
--------------------------------------------------------------------------
*Disisi Saidi Fatah Pria berdarah Lampung yang hobi membaca, menulis, dan mencoba hal baru. Aktif sebagai Mahasiswa Semester 3 disalah satu Perguruan Tinggi di Way Kanan.
Tuesday, March 27, 2018
Monday, March 26, 2018
Sajak : Adakah Cinta Selain Kamu
Sajak-Sajak Disisi Saidi Fatah
Adakah Cinta Selain Kamu
Jaga Baya III, 23/03/2018
Semua Tentang Kamu
Bandar Lampung,
23/03/2018
Tersayat Sepi
Nusantara, 21/03/1018
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*Disisi Saidi Fatah memiliki nama pena Alfa Arkana Eounoia. Pria kelahiran Lampung, 27 September 1996 itu sangat hobi membaca, menulis, dan mendengarkan musik. Guru TIK di SMP Manba'ul 'Ulum Asshiddiqiyah 11 Way Kanan, Lampung. Penyuka sastra dan hypnotherapi.
Pengagum Gus Mus dan Ananda Takeshi George
Adakah Cinta Selain Kamu
Masih adakah cinta dihati selain untukmu
Masih tersisakah sayang selain kepadamu
Masihkah rasa perhatian selain
memperhatikanmu
Aku tak dapat pergi
Dari bayang semu dirimu
Aku tak dapat lari dari tentangmu
Aku ingin bebas berkelana
Mengarungi cakrawala dunia
Kembalikan sisa-sisa itu untukku
Jangan kau bawa kabur semua dariku
Jika engkau bukan untukku
Sebab masih ada yang menunggu selain kamu
Semua Tentang Kamu
Mataku yang selalu bahagia
memandang indah wajahmu,
bening matamu, dan senyum manismu
Bibir ini tak henti mengucap namamu
Telinga ini yang selalu ingin mendengar suara indahmu
Hati ini yang selalu merindu
Tersayat Sepi
Mengapa dulu bertemu
Jika hanya mendapatkan pilu
Mengapa dulu berjumpa
Jika hanya membawa luka
Jauh merindukanmu
Dekat tak dapat bersatu
Melepas tak juga bebas
Kugenggam tak juga kurasakan
Hadirmu hanya ilusi
Tersayat sepi terhanyut dalam mimpi
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*Disisi Saidi Fatah memiliki nama pena Alfa Arkana Eounoia. Pria kelahiran Lampung, 27 September 1996 itu sangat hobi membaca, menulis, dan mendengarkan musik. Guru TIK di SMP Manba'ul 'Ulum Asshiddiqiyah 11 Way Kanan, Lampung. Penyuka sastra dan hypnotherapi.
Pengagum Gus Mus dan Ananda Takeshi George
Wednesday, March 21, 2018
Sajak Haul 1 Tahun
Oleh : Disisi Saidi Fatah
Setahun sudah tak bersama
Tak terdengar suara dan kata-kata
Yang cerewet, rewel dengan semua sikap dan prilakuku
Tar terlihat wajah kusam legam
Yang begitu semangat untuk menafkahi anak dan istri
Tak terasakan lagi kasih sayang yang lembut itu
Tanpa terasa setahun sudah tak bersama
Menjalin hidup tanpa hadir sang ayah
Tak ada lagi tempat berbagi dan bersandar pundak
Ketika lelah dan masalah yg tak kunjung usai
Rindu
Sangat rindu
Menatap wajahnya
Mendengar suaranya
Merasakan pelukan kasih sayang dari sang ayah
Kini hanyalah sepi yang menemani
Dan terkadang sunyi menyayat hati
Membawa ilusi kedalam mimpi
Nusantara, 18 Maret 2018
Setahun sudah tak bersama
Tak terdengar suara dan kata-kata
Yang cerewet, rewel dengan semua sikap dan prilakuku
Tar terlihat wajah kusam legam
Yang begitu semangat untuk menafkahi anak dan istri
Tak terasakan lagi kasih sayang yang lembut itu
Tanpa terasa setahun sudah tak bersama
Menjalin hidup tanpa hadir sang ayah
Tak ada lagi tempat berbagi dan bersandar pundak
Ketika lelah dan masalah yg tak kunjung usai
Rindu
Sangat rindu
Menatap wajahnya
Mendengar suaranya
Merasakan pelukan kasih sayang dari sang ayah
Kini hanyalah sepi yang menemani
Dan terkadang sunyi menyayat hati
Membawa ilusi kedalam mimpi
Nusantara, 18 Maret 2018

















