Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Search Bar

Wednesday, June 13, 2018

Kartini Dimata Pemuda



Oleh : Disisi Saidi Fatah


Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat Raden Ayu Kartini (R.A Kartini) merupakan sosok wanita pribumi dari keturunan bangsawan, anak ke lima dari sebelas bersaudara yang lahir di Jepara, pada 21 April 1879. Seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia, yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan pribumi. Wanita yang sangat antusias dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Namun sayang, sebab keharusan orang tua, Kartini hanya boleh menimba ilmu hanya sampai sekolah dasar saja, sebab ia harus di pingit. Kartini merupakan wanita yang sangat gemar membaca dan menulis, oleh sebab itu dan tekad bulat untuk mencapai cita-citanya.

 
Share:

Aku Cemburu!




Aku cemburu
Ketika kedua mataku melihat kau akrab pada yang lain
Aku cemburu, kau lebih asik dengan mereka
dan aku lebih cemburu
Ketika pesanku tak pernah terbalaskan,
Sedang yang lain selalu saja kau menyempatkan

Apa bedanya mereka dengan diriku?
Mengapa tak pernah ada waktu bagiku
Mengapa kau tak berterus terang saja
Salahku dimana?

Blambangan Umpu, 13 Juni 2018

Share:

Saturday, June 9, 2018

Catatan Alfa (2) | 08 Juni 2018


Sebagaimana paku yang telah ditancapkan pada sebuah dinding atau kayu, seindah apapun cara kita mencabut paku tersebut dan sebesar apapun usaha kita untuk menghilangkan bekas tancapan tersebut maka tak akan pernah bisa menghilangkan bekasnya. Sama halnya dengan hati yang rapuh ini, seikhlas apapun diri memafkan akan tetap ada bekas luka.
Berkali-kali diri memafkan dan mengikhlaskan apa yang pernah ia lakukan dan apa yang pernah orang perbuat padanya. Namun tetap saja gagal dan hasilnya masih terasa sisasisa luka yang kau berikan dan setiap bayang emosi dalam kejadian tempo hari selalu menghantui tak pernah henti.
Apa yang harus aku lakukan? Mohon untuk saran darimu wahai pemberi luka!

#CatatanAlfa di ujung tahun kebersamaan
Menuju Kota Bandar Lampung, 08 Juni 2018
Share:

Catatan Alfa (1) | 08 Juni 2018


Dalam forum sudah wajar apabila ada perbedaan, bukankah perbedaan itu yang memberikan kesan indah kebersamaan? Namun dibalik perbedaan tersebut ada sesuatu yang harus dijadikan privasi forum tersebut. Yakni; konflik forum yang harus diselesaikan dan dibicarakan dalam forum itu sendiri, tanpa harus ada persebaran publik. Agar berjalan sesuai visi dan misi.

#CatatanAlfa diakhir tahun kebersamaan
Bengkulu Rejo, 08 Juni 2018
Share:

Monday, June 4, 2018

Buku : Perjalanan, Mimpi, & Inspirasi

 

Anisa Nuraini - Santriwati Ponpes Asshiddiqiyah 11 Way Kanan Lampung | Model Istimewa | Dokumentasi Pribadi.Ist

  Noia  adalah seorang pemuda yang sangat ambisius dan penuh mimpi serta cita-cita. Pada suatu hari ia kebingungan dan menggalaukan masalah yang sedang ia hadapi sebab tidak seperti biasanya; orang yang sangat ia sayang dan yang selalu menjadi penyemangat utamanya secara tiba-tiba bersikap cuek dan diam padanya. Hal itu membuat Noia bertanya-tanya, sampai suatu hari ia berjumpa dengan Bunga (Sahabat SMA Noia) yang sudah lama tak bersua.  Akhirnya Noia bercerita mengenai masalah yang ia hadapi dan meminta solusi kepada Bunga. Bunga menyarankan agar masalah tersebut dibicarakan baik-baik dan meminta agar Noia melakukan sholat istigkhoroh serta meminta petunjuk kepada Allah.

Suatu hari Noia, berkunjung ke pesantren, dimana ia pernah belajar dan berjuang bersama teman seperjuangan selama satu bulan penuh. Sampai di pesantren Noia terkejutkan oleh seorang anak yang begitu membuatnya bangkit dari keterpurukan dan membuatnya kembali semangat. Sejak saat itu Noia seribg berkunjung ke pesantren yang ia namakan pesantren impian. Bahkan ia sering membolos kerja jika tidak bersemangat.

Perjalanan Noia menuju lembaran baru membuat Noia terluka dan sedikit kecewa, sebab berat hati harus meninggalkan orang yang sangat ia sayang dan menjadi penyemangat utamanya. Namun perlahan menuai pencerahan di pesantren impian. Bagaimakah kisah perjalanan Noia? Akankah pencerahan di pesantren impian terus berlanjut atau malah sebaliknya. Selengkapnya di buku "PERJALANAN, MIMPI, & INSPIRASI".



IDENTITAS BUKU :
Judul : Perjalanan, Mimpi, & Inspirasi
Penulis : Alfa Arkana Eounoia (@DisisikuDisisimu)
Penerbit : Kars Publisher
Tebal : 101 Halaman 13x19
ISBN : 978-602-51843-0-7

Pemesanan :
Whatsapp : 082371154400
Facebook : Disisi Saidi Fatah
Instagram : @Netrahyahimsa
Twitter : @Netrahyahimsa

Share:

Wednesday, May 23, 2018

Peran Ibu Dalam Pendidikan Keluarga


Oleh : Disisi Saidi Fatah

    Pendidikan adalah sebuah proses pembentukan kwalitas dan karakter seseorang agar memiliki pandangan atau pengetahuan yang luas kedepan, agar mampu menggapai suatu cita-cita yang diharapkan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat diberbagai lingkungan. Menurut UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003, pendidikan pada dasarnya ialah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan sudah berawal sejak kita masih dalam kandungan, sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan orang dengan cara memainkan musik, membaca al-Qur'an, dan hal-hal positif lainnya, berbicara kepada sang calon bayi dengan harapan ia bisa mengajari si calon bayi sebelum bayi lahir.

Bagi sebagian orang, kehidupan sehari-hari lebih berarti dibandingkan pendidikan formal. Sebagaimana ungkapan Mark Twain, "Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya". Hal itu sejalan dengan pengalam yang kita dapatkan dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah kita jauh memiliki pengetahuan dan pandangan yang luas ketika kita merasakan langsung asam garam nya kehidupan? Hal inilah yang mampu membuat kita lebih cerdas, dan terdidik.

Berbicara pendidikan, tak lepas dari peran kedua orang tua. Pendidikan dan orang tua adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Sebab, di mana ada keluarga disitu ada pendidikan. Dan dimana ada orang tua disitu pula ada anak yang merupakan suatu kemestian dalam keluarga. Ketika ada orang tua yang ingin mendidik anaknya, maka pada waktu yang sama ada anak yang menghajatkan pendidikan dari orang tua. Dari sinilah muncullah istilah “pendidikan keluarga”, yang berarti, pendidikan yang berlangsung dalam keluarga yang dilaksanakan oleh orang tua sebagai tugas dan tanggung jawabnya dalam mendidik anak dalam keluarga.


Peran Ibu Dalam Pendidikan Keluarga

Seorang ibu adalah guru paling utama yang berperan dalam pembentukan karakter dan kwalitas seorang anak, sebab dari sejak lahir anak sudah banyak diajarkan olehnya. Mulai dari ia merangkak sampai ia bisa berjalan sebagaimana mestinya, belajar mengeja kata demi kata,  berbicara, menulis, membaca, sampai ia mengenali lingkungan sekitar.
Layaknya seorang guru, ibu memiliki peran penting dalam mendidik anak-anaknya mengenai pendidikan iman, moral, fisik dan jasmani, intelektual, psikologis, dan juga sosial. Melalui didikan seorang ibu, kepribadian seorang anak bisa terbentuk dengan baik karena ibu terus membimbingnya tanpa lelah sejak anak masih kecil. Ibu harus bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya karena anak akan mencontoh sikap dan perilaku orangtuanya.

Pemberdayaan peranan ibu dalam proses pendidikan anak akan mengantarkan anak bangsa yang berbudi luhur. Jayanya suatu bangsa tidak semata karena penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lebih dari itu adalah karena karakter dan ciri khas bangsa yang berbudi pekerti mulia. Peranan ibu juga sangat penting dalam mendorong anak belajar di rumah. Mendampingi anak dalam menghadapi persoalan belajar dengan memberikan motivasi bagi mereka. Persoalan belajar yang dialami anak. Keluhan anak dalam menghadapi pekerjaan rumah (PR) dapat diatasi oleh ibu melalui motivasi yang diberikan kepada anak. Anak menjadi bergairah untuk belajar, tidak mudah pustus asa dalam menghadapi masalah belajar.

Begitu pula dalam rumah tangga, ibu paling mengerti karakter anak sehingga dapat memotivasi bagaimana anak dapat belajar dengan baik. Peran ibu tersebut akan memacu dan memicu agar anak berprestasi belajar di sekolah, tidak hanya prestasi bidang akdemik melainkan juga prestasi dalam kegiatan pengembangan diri. Seorang ibu juga telah memiliki kesabaran luar biasa dalam menghadapi anak. Itu telah terbukti sejak anak masih dalam kandungan. Ketika anak lahir kesabaran seorang ibu masih dituntut ketika anak masih bayi sampai menduduki bangku sekolah. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa,ibu  yang paling dekat dengan anak, paling mengerti dan paham persoalan anak secara mendalam. Posisi seorang ibu memang sangat berpengaruh terhadap proses pendidikan anak di lingkungan keluarga.

Share:

Monday, May 21, 2018

Masihkan Cinta di Pesantren Impian?


Dokumentasi Pribadi | Instagram @netrahyahimsa


Oleh : Disisi Saidi Fatah


Masih teringat jelas dalam benakku kisah awal setahun lalu, yang menjadi faktor utama diri ini berada di pesantren impian. Sebuah keistimewaan dibulan April yang menjadi penghubung dan perekat terjalinnya persahabatan dan persaudaraan kedua mahluk ciptaan tuhan, hingga sampai detik ini masih diberikan waktu untuk bersama.
Tak henti bersyukur kepada-Nya sang khalik yang maha segala-galanya atas nikmat dan beribu keajaiban yang beliau berikan. Dahulu hanya bisa bermimpi berada di pesantren impian untuk mendampingi dan menemani penyemangat diri.

Setahun lalu ketika diri karam akan arah dan tujuan, sedangkan hati galau dan gundah tak menentu akan arah mana yang dituju. Sehingga membuat tak percaya akan semangat untuk hidup, kesana kemari tak kunjung mendapatkan ketenangan diri.
Sampai suatu ketika Allah menghadirkan Bunga. Bunga adalah sahabat SMA yang sudah lama tak berjumpa, sejak lulus SMA Bunga tinggal di Pulau Jawa. Sangat beruntung sekali ia dapat melanjutkan pendidikan kejenjang perguruan tinggi ternama di Pulau Jawa dengan beasiswa penuh.
Awal berpisah dengan Bunga, hubungan kami masih baik-baik saja. Masih sering kasih kabar dan komunikasi masih berlanjut baik via telepon, medsos, maupun email. Namun seiring berjalannya waktu hubungan kami tenggelam bagaikan kapal yang karam ditengah lautan. Dua tahun tak bertemu, komunikasi putus dan benar-benar menghilang. Sampai pada malam itu, tiba-tiba saja ada orang yang tidak dikenal identitasnya menyapaku melalui massenger. Dan ternyata orang itu adalah Bunga. Betapa senangnya hati bisa berhubungan kembali setelah dua tahun saling menghilang.

Alhasil pada malam itu kami saling melepas rindu, maklum sudah lama tak berjumpa jadi rindu akan sahabat lama menumpuk bagaikan gunung yang berjulang tinggi. Banyak yang kami obrolkan pada malam itu, dari aktivitas hingga kisah dan perjalanan kami selama dua tahun ini.
Tidak sengaja aku menyinggung suatu masalah yang begitu menjanggal hati dan membuat galau sampai enggak doyan makan dan mood menurun. Melakukan aktivitas apa saja semua berasa tak ada daya dan upaya. Sudah hampir dua bulan, galau melanda kehidupanku. Ia selalu bermanja dan tak ingin pergi sedikitpun melangkahkan kakinya dariku. Kebingungan pada saat itu juga membuatku tak bergairah dan bersemangat, jangankan mau makan untuk beranjak dari tempat tidur saja enggan sekali.

                                                            ∆∆∆∆∆∆∆

Dulu ketika masih bersama beliau (orang yang aku panggil Papa), aku begitu bersemangat dan sangat bergairah dalam menjalani hidup, sangkin bersemangat apapun yang beliau perintah tak pernah sedikitpun aku menolak. Beliau menjadi penyemangat hidup, menjadi idola dan inspirasiku. Sering kali aku dan Papa kemana-mana selalu bersama, beliau selalu meminta agar aku menemaninya dan kami selalu terbuka untuk hal apa saja, namun tetap saja ada yang menjadi privasi diantara kami. Hingga pada suatu hari beliau terdiam membisu dan enggan bercerita mengenai masalah yang ia hadapi, bahkan sampai berhari-hari beliau terdiam, cuek, sama sekali tidak menegurku. Tidak biasanya beliau bersikap seperti itu.
Aku takut terjadi sesuatu kepada beliau, oleh sebab itu aku memberanikan diri untuk bertanya, bahkan aku meminta maaf jika ada yang salah terhadapku, namun beliau masih saja enggan bercerita dan selalu cuek terhadapku seolah-olah ada sesuatu kesalahan yang telah aku lakukan.

Beruntung punya sahabat seperti Bunga, selain pintar dan cerdas ia juga sangat religius. Malam itu Bunga menyarankan agar aku melaksanakan sholat istigkhoroh dan meminta petunjuk serta pertolongan kepada Allah, Tuhan yang maha memberi petunjuk dan memberi pertolongan. Mendapat saran dari Bunga, segera kulaksanakan sholat itu untuk memohon petunjuk agar diberikan yang terbaik untuk aku dan Papa.


                                                                 ∆∆∆∆∆∆∆∆

Biasanya, jika aku sedang dilanda galau yang enggak jelas. Pikiran kacau dan mood menurun, aku selalu ingin menyendiri dan menyepi. Namun berbeda kali ini, setelah mengikuti sarah Bunga, ada sesuatu yang menyelinap masuk dalam hatiku. Tiba-tiba saja terlintas dalam benakku untuk mengunjungi sebuah pesantren dimana aku pernah tinggal bersama dengan teman-teman seperjuangan selama satu bulan. Ya mungkin dengan berkunjung kesana aku akan mendapatkan jawaban dan sedikit tenang dari masalah yang aku hadapi.

Tiba di pesantren, aku terkejutkan oleh seorang anak. Ia tertunduk menyapaku dan meraih tangan kananku lalu dicium olehnya. Kutatap wajah beningnya, darisana terpanjang keanggunan dan ketentraman yang membat sejuk hati, matanya yang tenang serta senyum di bibirnya yang membuatku tersipu malu. Tak tahu siapa nama dan asalnya, setahuku dia santri baru disitu. Ada yang menarik pada anak itu, entah apa yang jelas aku seakan-akan menemukan semangat hidup dan bangkit dari keterpurukan yang melanda diri.
Sejak saat itu, aku sering berkunjung dan meluangkan waktu bahkan aku sering bolos kerja jika lagi tidak bersemangat hanya untuk bertemu dia. Sebab dia mampu membangkitkan semangat dalam diriku. Dengan melihat wajahnya, menatap mata, dan merasakan hadirnya senyuman pada bibirnya.

Sebab kehadiran yang selalu tak pernah absen tiap minggu nya, membuat pimpinan pesantren tersebut heran dan senang terhadapku hingga pada suatu hari beliau memanggil agar aku segera menghadap.

“Assalamu’alaikum. Apa gerangan abah, saya dipanggil keruangan abah?”

“Wa’alaikum salam. Begini Noia, abah lihat kamu begitu senang sekali berkunjung ke pesantren sepertinya kamu kerasan disini. Bagaimana jika nak Noia tinggal saja disini, ya bantu abah mengajar anak-anak,” demikian tutur abah kepadaku.

Mendengar kabar itu, aku sangat senang. Sebab ada jalan keluar dari permasalahan yang lalu, apalagi menjadi seorang guru itu adalah hal yang sangat luar biasa, bisa dekat dengan anak-anak dan juga memanfaatkan ilmu yang telah aku dapatkan selama dibangku pendidikan. Aku setuju dengan kabar ini, namun aku tidak bisa langsung mengiyakan. Harus kubicarakan kepada mama dan harus dipikirkan matang-matang.

Usai bertandang ke pesantren, aku segera mengabarkan hal itu kepada mama. Mama menyetujui akan hal itu selagi baik dan selagi masih ada orang yang bisa ia hubungi jika sewaktu-waktu aku tidak bisa di hubungi. Maklum mama orang nya sangat khawatir terhadap anak-anak nya, ya itu pertanda bahwa mama adalah sosok yang penuh kasih sayang.
Aku sangat bangga dan bahagia punya mama, mama penuh pengertian dan kasih sayang terhadap anak-anaknya. Apalagi ketika aku bilang bahwa ada seorang anak yang selalu membuat semangat hari-hariku dan dia tinggal di pesantren tersebut. Maka dari itu mama setuju akan niatku untuk menerima tawaran dari abah.
Sejak saat itu aku berhijrah ke pesanren, meninggalkan papa. Namun sebelumnya masalah diantara kami sudah selesai dan aku juga sudah mengerti mengapa saban hari lalu papa bersikap cuek kepadaku.

                                                                        ∆∆∆∆∆∆∆

Di pertengahan bulan April pada musim kemarau tiba, pada saat itu aku memulai perjalanan, kisah, dan kehidupan baru di pesantren. Aku berharap dengan hijrah ini akan lebih baik kedepan dan semakin bermanfaat lagi ilmu yang telah aku dapatkan di bangku pendidikan selama bertahun-tahun lamanya.
Awal di pesantren semua berjalan dengan baik, begitu pula dengan kegiatan mengajar di sekolah, hubungan antara aku dan anak-anak juga semula berjalan baik hingga sampai di bulan keempat. Sebelumnya aku menerima tawaran abah untuk membantu beliau di pesantren disebabkan karena ada Alfa, anak yang saban hari selalu membuat semangat hari-hariku dan karena sifatnya membantu pesantren aku rasa  itu adalah ladang amal bagiku ya seenggaknya sih begitu, selain itu juga karena pada saat itu memang aktivitas dan kegiatan memang masih libur begitu juga dengan kuliah masih off.

Semakin berjalannya waktu, aku semakin kerasan berada di pesantren namun seperti pepatah mengatakan semakin kuat iman seseorang maka semakin besar cobaan menerpanya dan semakin tinggi pohon semakin besar pula angin yang menjemputnya. Ya seperti itulah kehidupan di pesantren.

Sebagai pengajar yang juga ditunjuk sebagai pembina di asrama, sudah pasti harus siap menerima segala amanah dan tanggung jawab yang diberikan. Sebagai manusia insyan yang masih jauh dari kata sempurna, yang disibukkan dengan kerjaan disekolah sudah pasti tidak bisa untuk selalu bersama anak-anak nya. Apalagi anak-anak yang dibimbing sangat banyak, sudah pasti tidak bisa diperhatikan satu persatu setiap menitnya.
 Awalnya aku merasa biasa dengan masalah yang selalu diutarakan kepadaku, setiap masalah yang anak-anak lakukan selalu saja aku yang kena batunya. Ya namanya juga pengajar dan pembina, its oke tidak apa-apa mungkin memang harus aku yang mengalah. Aku selalu mencoba untuk bersabar dan terus bersabar, namun sebagai manusia kesabaran tetap saja ada batasnya. Pernah aku ingin pergi meninggalkan semua, meninggalkan tanggung jawab dan kerjaku sebagai pengajar dan meninggalkan kebahagiaan yang sedang bersamaku. Namun setiap kali aku ingin pergi, aku selalu teringat akan Alfa, sebab dialah yang selalu membuatku semangat. Apalagi Alfa pernah bilang kepadaku sejak saat ia bersamaku ia semakin rajin belajar dan bersemangat, aku jadi semakin enggak tega pergi

Semakin aku mencoba untuk terus bersabar, namun ada saja alasan dan masalah yang menghamiri. Pernah juga aku dimarah dan dimaki sama abah dihadapan anak-anak, padahal aku tidak melakukan kesalahan, aku hanya melakukan yang memang itu benar. Setiap anak-anak melakukan kesalahan aku juga yang dimarah. Abah bilang aku gak perhatianlah dan enggak pernah ada waktu untuk anak-anak. Padahal anak-anak kan banyak jadi enggak mungkin sebanyak itu anak-anak aku perhatikan satu persatu setiap menitnya.

Sebenarnya aku sudah enggak kuat lagi bertahan disini, aku juga lelah selalu dimarah dengan alasan kesalahan yang bukan aku pelakunya. Aku ingin meninggalkan semua dan pergi jauh agar lebih bebas. Namun aku kasihan dengan Alfa, dia masih membutuhkanku disini. Alfa bilang dengan adanya aku ia semakin bersemangat dan semakin rajin dan itu juga terbukti pada semester lalu ia berhasil masuk top enam dikelasnya, padahal semester-semester yang lalu dia tidak pernah masuk top enam. Jangankan top enam untuk masuk top sepuluh saja nilainya masi kurang.
Mama dan bapak nya Alfa juga kurang setuju apabila aku harus meninggalkan pesantren. Kedua orang tuanya Alfa sudah seperti orang tuaku sendiri, mereka menganggap aku sudah seperti kakak nya Alfa. Jadi kalau ada apa-apa dengan diriku, merekalah yang menjadi sasaran utamaku untuk meminta pendapat dan pertolongan. Oleh sebab itu aku masih bertahan di pesantren sampai pada saat ini. Sebab aku tak ingin Alfa sedih dan prestasinya menurun kembali. Aku ingin selalu menemani Alfa sampai ia menyelesaikan studinya pada tahun depan.

Akankah aku akan bertahan sampai batas waktunya?

Masihkah cinta ini bersemayam di pesantren impian?

Wallahu alam
Hanya Allah yang tahu. Sebab beliau yang maha mengetahui segala-galanya.


------------------------------------------------------------------------------------------------
Biodata Penulis : *


Disisi Saidi Fatah (Alfa Arkana Eounoia) nama pena. Pria berdarah Lampung kelahiran Gedung Harta, Lampung Tengah, 27 September. Hobi membaca, menulis,  sastra dan puisi.
Alumni SMAN 1 Blambangan Umpu, Lampung itu kini tengah disinukkan dengan kegiatan mengajar di SMP Manba’ul ‘Ulum Asshiddiqiyahn11 Way Kanan. Mengenal dunia jurnalistik sejak ikut BPUN MataAir Way Kanan, yang dibimbing langsung oleh Gatot Arifianto, CH, CNNLP.

Alumni Hpnotherapy Akademi Hypnotherapy Karya Tunas Bangsa; beberapa karyanya di publikasikan pada media cetak maupun online, diantaranya; NU Lampung Online, Media MataAir, Antologi Puisi Terbelunggu Media – Kars Publisher (2017), Antologi Puisi Aku Anak Santri – Kars Publisher (2017), Antologi Puisi Resah WA Publisher (2017), Antologi Puisi Aksara Buku Usang – Kars Publisher (2018), Antologi Puisi Seuntai Kasih Yang Terukir Sayang – Penerbit Satria (2018) .

Pengagum ulama sastra KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Ust.Yusuf Mansyur, serta penyuka sholawat Habib Syech AA dan Ananda Takeshi George (Sang Prabu) ini dapat dihubungi melalui akun sosmed nya;
Faceboook : Facebook.com/Netrahyahimsa
Twitter, Instagram, Line : @Netrahyahimsa
E-mail : disisisf.bpun@gmail.com
CP : 0823-7750-5585
Blogs : netrahyahimsa.blogspot.com

                             



Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive