Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Tuesday, November 13, 2018

Sebuah Puisi Untukmu | Begitu Cepat

Gambar hanyalah pemanis : Disisi Saidi Fatah saat mengikuti Diklatsar Banser PC GP Ansor Way Kanan ke IX Th 2015 di Bumi Baru, Blambangan Umpu. Dokumen Pribadi. ist
Share:

Wednesday, November 7, 2018

Kunanti Rindumu Sebagaimana Rinduku




Meski ribuan duri kau tancapkan pada hati
Tak sedikitpun mampu melukai
Ribuan bahkan milyaran cara, kau lakukan semua
Tak akan pernah bisa menggores sedikit tinta pada atma


Ku tahu, semua tindakan yang kau lakukan adalah keterpaksaan
Ada hal yang memang kau sembunyikan dan tak perlu kau jelaskan
Sebab itu, tak sedikit hati kubiarkan tergores tinta hitam
Yang memang tak perlu tergoreskan


Kau bukanlah penanam benci
Juga bukan pemberi harapan yang tak pasti
Kau begitu polos, hingga mampu terhasut
Berbagai hasutan negatif yang menjadi provokatif


Aku masih menyimpan harap
Agar kau segera terlelap dan kembali sebagaimana kau yang lalu


#UntukmuYangSelaluKunantiRindumu
Share:

Monday, October 8, 2018

Mingguan di Majelis



"Malam ini begitu indah dan istemewa. Majelis pekan ini memang berbeda, mungkin sebab kehadiran santri baru yang membuat berbeda."

     Ahad ini adalah Ahad yang paling bersejarah dalam hidupku, dapat berbagi senyum, kasih dan sayang, serta kebahagiaan dengan mereka semua. Terutama dia. Radja, seorang murid baruku. Satu bulan sudah kita dipertemukan dalam forum pendidikan di Madrasah Yayasan Deen Salam. Namun baru sekarang, lebih tepatnya pada malam ini di Mejelis Dzikir dan Ta'lim Deen Salaam, kita akrab dan bersua bersama.
   Baru kusadari bahwasanya muridku yang satu ini berasal dari kota yang sama denganku. Kota dimana aku berproses selama empat tahun lamanya, pada masa putih abu-abu. Sejak Mei 2012 lalu semua bermula, lika-liku kehidupan yang masih membingungkan dan penuh tanda tanya dalam anganku. Sedari aku tak mengerti akan hiruk pikuknya kehidupan yang sebenarnya, yang aku tahu hanyalah kebahagiaan yang didapatkan dan tak pernah mementingkan seberapa banyak pengorbanan dan usaha untuk mendapatkan kebahagiaan itu sendiri. Sampai pada pertengahan April 2017, dimana aku harus kehilangan semua yang pernah aku dapatkan, yang membawaku pada secerca cahaya kehidupan di madrasah ini.


    "Hey bengong saja," tegurku pada seorang anak yang duduk paling depan pada majelis.

   "Eh Abang. Sehat bang," jawabnya sembari mengulurkan tangan dan mencium tanganku.

   "Aku perhatikan kau bengong saja sedari tadi dik,"

   "Tidak apa-apa bang, aku hanya sedang menunggu kedatangan seseorang," jawabnya dengan polos.

   "Kalau boleh abang tahu, adik sedang menanti kedatangan siapakah?"

   "Sudahlah lupakan," ujar anak itu mengalihkan pembicaraan.

   Anak-anak memang tak pernah memanggilku bapak atau pak guru. Sebab aku yang tidak ingin dipanggil dengan panggilan itu. Aku merasa risi saja jika ada yang memanggilku dengan sebutan itu. Sebab umurku masih muda. Aku lebih suka jika di panggil kakak, mas, ataupun abang.

  "Dengan siapa abang kemari?"

  "Keluarga dik," jawabku. "Ohya namamu siapa, abang lupa," tuturku balik bertanya.

   Maklum akhir ini aku banyak aktivitas yang mengharuskan diriku sibuk. Jadi belum bisa bertatap muka sepenuhnya dengan murid baru di madrasah. Butuh waktu yang ekstra untuk mengenali satu persatu wajah mereka agar aku ingat. Belakangan ini, aku banyak disibukkan dengan berbagai kegiatan. Apalagi kemarin aku diberi mandat sebagai penyelenggara pemilu di tingkat kecamatan di kotaku. Hiruk pikuk demokrasi membuat waktuku banyak tersita, ditambah persiapan masuk perguruan tinggi. Jadi harus pintar-pintar membagi waktu.

   "Aku Radja, dari Bandar Lampung," jawab anak itu yang semakin membuatku penasaran.

   "Nama lengkapmu siapa dik?" tanyaku semakin serius.

   "Radja aja. Tak ada yang lain!"

   "Ha?" timpalku dengan nada sedikit tinggi yang mungundang tatapan seluruh mata tertuju kepadaku. "Namamu panjang sekali. Aneh lagi," bisikku kepadanya.

   "Radja Aja Tak Ada Yang Lain. Jadi abang panggil apa ini?"

   "Aduh bang. Maksudnya nama lengkapku ya Radja. Hanya itu,"

   "Astaghfirullah, maafkan aku dik yang gagal fokus denganmu."

   Mati aku menahan malu. Bisa-bisanya pertanyaan macam itu terucap oleh bibirku. Kemanakah pikiran-pikiran ini tuhan.
   Aku terdiam beberapa saat, tak ada kata terucap lagi dari bibirku. Aku tersipu malu dengan Radja. Pertanyaan konyol itu membuatku tergelitik lucu. Jika aku pikirkan dan ulangi kata-kata itu, aku jadi malu sendiri dengan diri. Aku terdiam sembari memainkan kamera DSLR. Kuambil gambar empat sampai lima kali jepretan, sesekali aku lihat hasil jepretan sembari memandang Radja.
   Aku pikir Radja akan tertawa terbahak-bahak oleh pertanyaan oleh pertanyaanku tadi, ternyata ia hanya diam sembari memperhatikan ku yang sedang mengambil gambar. Mungkin sebab aku gurunya, jadi ia tidak ingin menertawakanku atau mungkin ia memang bukan tipe orang yang senang menertawakan kesalahan orang lain.

   Sembari menikmati hidangan dan tampilan yang disajikan anak-anak Madrasah Deen Salaam, aku kembali berbincang dengan Radja. Sesekali mendokumentasikannya dalam bentuk foto maupun video. Sebelumnya aku memang diminta Abah Yusuf, Kiai pimpinan Yayasan Deen Salaam untuk selalu mendokumentasikan setiap acara dan kegiatan di yayasan.

   "Radja berasal dari Kota Bandar Lampung ya?"

   "Iya bang. Benar"

   "Dari pasar tradisional masuk lagi sekitar tiga kilo bang," ujar Radja sambil memainkan jari-jari tangannya.

   "Oh di daerah situ ya," sambungku sambil mengangguk, pura-pura paham namun sebenarnya tidak. "Abang dulu tinggal di Bandar Lampung juga selama empat tahun."

  "Abang sendiri tinggal dimana?"

   "Abang aslinya orang Lampung Tengah, disini tinggal dengan Bapak Angkat. Tak jauh dari sini, sekitar sepuluh menit sampai jika naik kendaraan,"

   Suasaba semakin larut malam. Angin malam yang semakin mengundang kantukku, apalagi banyak aktivitas hari ini semakin membuatku lelah. Namun aku berusaha untuk menguatkan diri sampai di penghujung majelis ini. Bagiku majelis ini adalah ajang silaturahmi antara aku dan para wali santri serta ajang untuk mengasuh kemampuan bagi santriwan-santriwati.
   Tak terasa tiba sudah di detik-detik penghujung acara. Aku menoleh ke arah samping kananku, Radja sedang tertidur lelap diatas pundakku. Sengaja tadi aku biarkan ia tertidur sebab aku tak tega melihat ia terlalu lelah menahan kantuk.

   "Radja. Dik. Ayo bangun, acara sudah selasai," tuturku perlahan sembari membangunkan Radja.

   "Aku tertidur ya bang," jawabnya kaget.

   "Iya. Tadi sengaja abang tidak bangunkan kamu. Sebab abang tak tega melihat adik terlalu lelah menahan kantuk,"

   "Sudah. Sekarang Radja pulang ke asrama ya. Istiharat dulu, besokkan ada kegiatan dari pagi,"

   "Abang tidak menginap disini?"

   "Abang tidur dirumah dik. Bapak dan Ibu mengajak pulang,"

   "Mengapa tidak tidur bareng disini saja bang?" pintanya padaku.

   "Lain kali ya, kalau abang tidak sibuk," jawabku sembari melepas senyum kepada Radja. "Ohya, Radja kita selfie bareng dulu ya. Buat kenang-kenangan," pintaku sebelum ia berlalu.

   Usai foto bareng, Radja pamitan kepadaku untuk kembali ke asrama. Begitu juga sebaliknya denganku, aku pamitan untuk pulang kerumah pada Radja dan kawan-kawannya.
   Sebenarnya aku ingin menghabiskan malam ini di pesantren, namun besok pagi aku harus standby disini sedari pagi. Jadi aku putuskan untuk pulang kerumah saja, agar bisa membagi waktu dirumah.

   Malam ini begitu indah sekali. Berkesan dan istimewa. Majelis pekan ini juga sangat berbeda dari majelis sebelumnya. Mungkin sebab kehadiran santriwan-santriwati baru yang membuat suasana berbeda.

   Sampai jumpa kembali esok pagi, Radja dan Deen Salaam.
Share:

Friday, August 31, 2018

Untukmu RJ (Murid Kesayanganku)



   Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh


   Salam sayang untukmu anakku, yang selalu membuat semangat diri dan mewarnai setiap hari.
Nak, terhitung sudah memasuki Minggu kedelapan kita bersama, dipertemukan dalam forum pendidikan pada yayasan ini. Aku bersyukur dapat bertemu denganmu, dan aku sangat berterima kasih kepada Allah SWT yang telah menghadirkan sosokmu dalam duniaku. Sosok yang membuat aku semakin bersemangat untuk terus berbagi dan mengabdi pada dunia literasi.

   Nak, namun pada akhir ini, aku merasa banyak perubahan darimu sejak kita bertemu pada Sabtu malam itu. Ketika kita berbincang santai sembari menikmati hiburan Hadroh pada malam majelis dzikir dan ta'lim. Kau banyak bertanya tentangku, demikian pula denganku yang semakin penasaran akan dirimu. Sejak malam itu, aku jatuh hati dan menaruh sayang padamu. Manis senyummu tak pernah luput dari ingatan ini, begitu pula dengan sikap dan tutur sapamu, selalu terngiang dalam pikiran. Aku yang dahulu tidak begitu bersemangat dan betah dengan yayasan, sebab ada suatu konflik yang membuat luka pada hati. Kini semangat itu tumbuh dan mekar bersama dengan hadirmu. Aku yang hanya memiliki jadwal tiga hari dalam sepekan, kini ingin setiap hari berkunjung ke yayasan sebab ingin melihat dirimu seorang.

   Diam-diam aku menaruh sayang dan perhatian padamu, sengajaku berkomentar tentang penampilanmu yang kurang rapi dan sifat malasmu ketika berada dalam kelas. Sebab aku ingin kau seperti yang lain, rapi dan menarik, serta rajin dalam setiap pelajaran. Semua kulakukan demi kebaikan dan masa depanmu.

   Namun, sikap dan caraku kau anggap suatu keanehan dan hal yang berlebihan. Kau bilang aku mengatur hidupmu dan hal itu tak kau sukai. Apalagi ketika aku memaksa dirimu untuk mengerjakan tugas tempo hari lalu. Aku memaksa sebab kau adalah muridku, dan aku adalah gurumu. Orang yang telah dipilih untuk mendidikmu selama tiga tahun kedepan. Apalagi ketika orang tuamu menitipkan kau pada yayasan ini, maka ini adalah tanggungjawab kami untuk mendidik dan mengajarkan kebaikan padamu.

   Nak, sebagai guru aku memiliki prinsip. Siapapun yang menjadi anak muridku, tak perdulikan warna, status, dan latar belakang. Ketika ia menjadi muridku, maka ia harus aku rangkul, harus aku sayangi, dan aku didik, serta harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Selagi itu dalam kebaikan maka semua wajib untuk mengikutinya.
Salahkah aku jika menaruh perhatian dan sayang padamu nak? Jika aku salah, aku minta maaf.

  Mengenai permintaan untuk menjauh dari kehidupanmu, agar tidak ikut campur dalam urusanmu. Aku bisa mengabulkan semua, jika semua adalah kebaikan untukmu dan membawamu dalam perubahan yang baik, aku siap melepasmu. Namun, jika hal itu justru membuatmu semakin tidak baik dan demikiannya. Mohon maaf aku tidak bisa nak. Jangankan untuk melepaskanmu, sekedar tak peduli saja aku tak mau. Sebab kau adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan.

   Semoga kau mengerti akan semua nak, dan semoga Allah memberikan kasih sayangnya untukmu. Semoga kau bahagia dan kembali bersahabat seperti sedia kala. Aamiin

     Salam sayang, dari gurumu.
    Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh


   Way Kanan, 30 Agustus 2018


Tentang Penulis :


Alfa Arkana Eounoia atau Disisi Saidi Fatah merupakan pria kelahiran Lampung Tengah, pada 27 September. Penikmat lantunan sholawat Habib Syech AA dan pengagum ulama Sastra KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Ust.Yusuf Mansyur, dan aktor Ananda George, kini menyibukkan diri pada dunia pendidikan. Ia sangat mencintai dunia literasi itu, selain berbagi pengetahuan dan ilmu, ia merasa sangat senang ilmunya dapat bermanfaat untuk semua. Pemilik motto "Tak ada pemandangan terindah, selain menatap wajah mama"   sangat suka dengan kegiatan menulis, terutama dalam mengungkapkan rasa. 
Dengan menulis ia dapat mengutarakan apa saja yang ia rasakan tanpa harus berbicara banyak pada orang.


Penulis dapat dihubungi ;
Facebook : Disisi Saidi Fatah
Instagram : @Netrahyahimsa
Twitter : @Netrahyahimsa
E-mail : disisisf.bpun@gmail.com
Blogs : gemilangtotal.blogspot.com



#paradigmaimaji
#komunitassastra
#calonpenulishebatindonesia
Share:

Thursday, August 30, 2018

Patidusa - Untukmu



Teruntuk yang selalu ku kagumi. Namun tak mampu untuk kumiliki. Terima kasih telah mengajarkanku bahwa cinta tak harus memiliki. Bahwa setiap rasa tak perlu untuk diutarakan.

Meski kau tak suka
Atas perhatian kuberikan
Tak mengapa
Kesayangan!

Aku
Begitu sayang
Tak mungkin meninggalkan
Kau seorang tanpa perhatian

Sebab kau adalah bunga
Yang selalu kusiramkan
Dengan kasih
Sayang

Kau
Adalah kisah
Dalam setiap catatan
Yang akan selalu terkenang

Lampung, 23 Agustus 2018
Share:

Puisi Maaf

Pxfuel. Ist



By : Alfa Arkana Eounoia aka Pecandu Sastra 


Atas pilu yang kau lukiskan
Atas kata yang terucapkan
Atas amarah pada malam
Aku hanya mampu terdiam


Tak mengapa jika demikian kau harapkan
Aku memilih untuk meninggalkan
Namun tidak untuk melepaskan
Atas kasih sayang dan perhatian


Maaf. Jika sikap kemarin tak kau suka
Semua kulakukan untuk kebaikan bersama
Kau sebagai pemimpin utama
Aku sebagai pembina

Asshidiqiyah, 24 Agustus 2018
Share:

Patidusa Asli - Tinggal Kenangan

Karya : Alfa Arkana Eounoia


Malam berbintang sejuk berkelabu
Semua akan terkenang
Bersama kenangan
Malam

Sebab
Mengapa pergi
Semua atas permintaanmu
Tak ingin aku bersama

Tak mengapa semua berakhir
Pada penghantar cerita
Suatu senja
Bersama

Namun
Besar harapan
Tak ada dendam
Menaruh amarah menyisakan luka

Way Kanan, 24 Agustus 2018
Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive