Tuesday, July 2, 2024
Sampai Kapan Kejahatan di Balik Topeng Agama Dibiarkan?
Friday, June 28, 2024
Mengenal dan Mengendalikan Emosi dalam Diri Remaja | Review Film Inside Out 2
![]() |
| Official Poster Film Inside Out 2 di XXI. Dokpri/Pecandu Sastra |
Sudah menonton film Inside Out 2? Film garapan Kelsey Mann ini merupakan film animasi remaja Amerika Serikat yang diproduksi oleh Pixar Animation Studio untuk Walt Disney Pictures, diproduksi oleh Mark Nielsen, dan ditulis oleh Meg LeFauve. Nah, di Indonesia sendiri film ini mulai tayang pada 14 Juni 2024 di bioskop.
Aku tidak mengikuti sekuel ini, jadi film perdananya yang rilis tahun 2015 lalu, tidak tahu seperti apa jalan ceritanya. Selain rumah yang jauh dari bioskop, baru-baru ini juga demen (suka) nonton film dan suka dengan suasana bioskop.
Di awal film kita akan diperkenalkan dengan tokoh utama seorang anak yang bernama Riley Andersen yang baru saja memasuki usia 13 tahun, serta kelima emosinya; Joy atau emosi periang yang digambarkan dengan karakter berwarna kuning, Sadness (sedih) dengan karakter berwarna biru, Anger (marah) berwarna merah, Fear (takut) berwarna ungu, dan Disgust (Jijik) berwarna hijau.
Selayaknya perputaran waktu, setiap kita akan mengalami pertumbuhan, perubahan, dan pastinya akan bertemu atau mengalami masa-masa sulitnya masing-masing. Sebagaimana tokoh Riley di dalam film ini.
![]() |
| Official Poster |
Riley yang kini mengalami masa pubertas, kehadiran emosi baru dalam hidupnya. Jika sebelumnya ia memiliki lima emosi (riang, sedih, marah, takut, dan jijik), kini ada empat emosi baru dalam hidupnya; Anxiety (cemas) yang digambarkan dengan karakter berwarna oren, Ennui (bosan) berwana indigo atau ungu tua, Emberrasment (malu) berwarna pink, dan Envy (iri) dengan warna Sian.
Baca: Melihat Lebih Dekat Masjid Mewah di RS Harapan Bunda Lampung Tengah
Emosi baru yang ditampilkan menambah warna baru dalam mengendalikan kenaifan emosi remaja puber yang sangat related dengan prilakunya. Sebagaimana dalam film ini menggambarkan dengan sangat jelas bagaimana emosi-emosi tersebut menguasai Riley, terlebih emosi barunya.
Ruang kontrol emosi di benak Riley kini dihuni oleh sembilan emosi yang memiliki karakteristik yang berbeda. Joy memimpin emosi lama untuk menghadapi kelompok emosi baru yang dipimpin oleh Anxiety. Keduanya berusaha mengatur Riley, yang justru menimbulkan perpecahan. Kesembilan emosi itu pun akhirnya berusaha untuk mencari formula terbaik untuk mengatur emosi Riley. Begitulah kehidupan remaja puber, ia harus berjuang mengontrol emosi di dalam dirinya agar berjalan stabil.
Dari film animasi yang mengusung genre slice of life (penggalan kehidupan) dengan durasi sembilan puluh menit ini kita diingatkan bahwa, setiap anak akan mengalami masa pubertas. Film ini sangat related dengan kita yang juga sudah melalui masa puber. Masa di mana rasa anxiety (rasa cemas) dan insecurity (ketidaknyamanan) mengambil alih banyak kesenangan di dalam hidup. Semakin dewasa kita akan semakin sulit merasakan bahagia.
Tidak masalah memiliki ambisi, karena hal itu wajar. Namun, jangan pernah merasa jikalau kita tidak hanyalah seorang diri di dunia ini. Film ini juga menegaskan bahwa peran dan dukungan orang tua serta keadaan lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh sekali, terutama bagi diri kita yang masih belum memiliki pondasi diri yang kokoh.
Baca: Mengapa Nabi Menyebut Ipar Adalah Maut?
Jangan pernah berpikir bahwa masa sulit itu tidak bisa kita lalui, sebab ujian itu Tuhan hadirkan sebab kita dinilai mampu oleh-Nya. Ingat, setiap badai yang datang akan ada masa usainya, dan usai badai berlalu akan ada pelangi indah menanti kita.
Jadi, jangan lupa untuk membahagiakan diri, karena yang tahu cara membahagiakan diri kita, ya diri kita sendiri. Mau sebesar atau sekecil apapun itu, hadapilah dengan riang gembira. Karena seiring berjalannya waktu, kita akan semakin terlatih untuk menjadi dewasa dan berdamai dengan keadaan dunia.
Film ini sangat keren, tidak hanya menjadi sarana hiburan saja, namun memberikan pembelajaran dan makna mendalam. Sebagai penutup tulisan, aku mengutip sebuah kalimat menarik dari karakter Joy (emosi periang) dalam film ini; "Tahukan kamu betapa sulitnya untuk tetap bersikap positif sepanjang waktu? Ketika yang kalian lakukan hanyalah mengeluh, mengeluh, mengeluh!"
Baca: Bukan Sebab Kita Hebat, Tapi Karena Allah Mampukan!
Tuesday, June 25, 2024
Melihat Lebih Dekat, Masjid Mewah di RS Harapan Bunda Lampung
![]() |
| Tampak dalam ruangan masjid RS Harapan Bunda. Dokpri/Pecandu Sastra. |
Salah satu sarana penunjang aktivitas ibadah kaum muslim adalah tersedianya tempat ibadah yang nyaman, aman, bersih, dan terbebas dari najis. Meski setiap hamparan bumi adalah masjid - tempat bersujud kepada Allah (kecuali kuburan dan kamar mandi atau toilet). Sujud dapat dilakukan di mana saja, di setiap jengkal bumi yang kita pijak, selama tempat tersebut suci dan bersih.
Monday, June 24, 2024
Bukan Sebab Kita Hebat, Tapi Karena Allah Mampukan!
![]() |
| Sayyidi Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz Tarim saat mengisi kajian subuh di Masjid Istiqlal Jakarta Agustus 2023. Dokpri/Pecandu Sastra. |
Usai sudah perjalanan satu tahun di 2023. Meski banyak tangis-tawa, suka-duka, bahagia, dan cerita lainnya - kini semuanya mampu dilalui dengan akal sehat. Tiga ratus enam puluh lima hari bukanlah suatu yang pendek, juga bukan suatu yang panjang jika kita jalani dengan hati tulus dan ikhlas. Nyatanya, yang katanya tahun paling buruk, paling sakit, dan paling-paling lainnya, tidak juga demikian. Ada banyak hal yang harus disyukuri dan banyak keajaiban-keajaiban yang Allah datangkan tanpa terduga.
Saturday, June 22, 2024
Untuk Pejuang Finansial dan Penuntut Ilmu
![]() |
| Foto oleh Mujahit Dakwah |
Ada ungkapan menarik dari Imam Syu'bah,
"من طلب الحديث أفلس"
"Barangsiapa menuntut ilmu hadits, maka ia akan jatuh bangkrut."
Sungguh, apa yang beliau sampaikan tidaklah berlebihan. Bagi orang yang belum menyelami bagaimana pengorbanan para ulama dahulu dalam belajar dan menuntut ilmu, ungkapan ini pasti terdengar asing dan mengherankan.
Bagaimana tidak, jikalau Imam Malik sampai rela menjual atap rumahnya untuk keperluan menuntut ilmu. Imam Syu'bah menjual bak mandi ibunya. Imam Abu Hatim menjual pakaiannya satu per satu sehingga yang tersisa hanya pakaian yang melekat di badannya. Dan, Imam Ahmad sampai rela safar tanpa alas kaki karena menggadaikan sandalnya sebagai bekal perjuangan menuntut ilmu.
Ketahuilah, mereka mengorbankan benda-benda itu karena hanya itulah yang mereka miliki.
[Diceritakan dengan sanadnya oleh syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam kitab masyhur beliau, (صفحات من صبر العلماء)]
Imam Yahya bin Ma'in pernah ditanya setelah mendapat kekayaan warisan dari ayahnya, "apa yang akan kau perbuat dengan semua ini?" - Ia menjawab dengan penuh keyakinan, "saya akan infaqkan semua ini untuk belajar hadits."
Bahkan dahulu ada ulama yang sudi mengeluarkan beberapa dinar (keping emas) miliknya hanya demi membeli tinta untuk menulis. Dan, kisah-kisah lain yang luar biasa, banyak diantara mereka yg jatuh bangkrut demi ilmu. Bahkan ada diantara mereka yg rela menjual seluruh pakaiannya, hingga ia hidup tak berbusana di dalam rumahnya sendirian.
Imam Ali bin Harb bercerita,
أتينا زيد بن الحباب، فلم يكن له ثوب يخرج فيه إلينا، فجعل الباب بيننا وبينه حاجزا، وحدثه من ورائه -رحمه الله تعالى"
[صفحات من صبر العلماء | ٢٣٤]
"Kami mendatangi Zaid bin Hubab untuk belajar hadits, beliau tidak memiliki pakaian yang dengannya ia bisa menemui kami, kemudian ia menjadikan pintu rumahnya menjadi tirai penghalang di antara kami dan beliau, dan berlanjut lah periwayatan hadits tersebut di balik pintu itu."
Umar bin Hafs Al-Asyqor juga bercerita,
إنهم فقدوا البخاري أياما من كتابة الحديث بالبصرة، قال: فطلبناه فوجدناه في بيت وهو عريان، وقد نفد ما عنده ولم يبق معه شيء..
[تاريخ بغداد للخطيب | ٢\١٣]
"Dahulu para penuntut ilmu itu pernah beberapa hari mencari-cari Imam Bukhori di Bashrah untuk menimba hadits, setelah dicari ternyata mereka menemukan Imam Bukhori dalam keadaan telanjang di rumahnya, telah habis apa yang ia punya dan tak ada tersisa satupun yang ia miliki."
Begitulah menuntut ilmu. Ia adalah jalan pengorbanan. Jika engkau serius mencintainya, engkau akan korbankan segalanya. Ia tidak hanya memaksa penuntutnya untuk mengorbankan energi, waktu, tenaga, dan pikirannya, ia juga menuntut untuk mengorbankan harta.
Terkadang kita harus rela untuk tidak berbelanja dan makan enak, demi mampu berbekal dalam menuntut ilmu, menempuh perjalanan menuju halaqah-halaqah para ulama, membeli kitab-kitab induk dan mampu memuaskan rasa penasaran pada kitab-kitab baru yang menggiurkan.
Pantas dahulu Imam Malik berkata:
"لا ينال هذا الأمر -يعني العلم- حتى يُذاق طعم الفقر"
"Seseorang tidak akan memperoleh ilmu, sampai ia merasakan pahitnya kefakiran."
Jika diantara teman-teman ada yang sudah berkorban banyak dalam menuntut ilmu, siap untuk tidak makan enak, dan rela untuk tidak kenakan pakaian baru demi pengalokasian uang ke kitab dan bekal-bekal belajar, maka sungguh ia telah mengamalkan sunnahnya para ulama.
Memang harus seperti itu, bukannya kita yakini bahwa ilmu adalah sesuatu yang termahal? Bukannya kita tahu bahwa suatu yang mahal tidak bisa terbayar dengan suatu yang remeh-temeh?
Namun, perlu diingat, hal itu tak seberapa dari apa yang Allah persiapkan bagi pejuang-pejuang ilmu dari keagungan, derajat yang tinggi, dan pahala yang besar.
إن الفقيه هو الفقير وإنما
راء الفقير تجمعت أطرافها
Sumber: Grup Majelis (WA)












.jpeg)

.jpeg)



.jpeg)