Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Friday, April 27, 2018

Dear : Allah Yang Maha



Assalamu’alaikum

Salam ta’dzim untukmu ya Rabb, zat yang yang maha, yang selalu kami junjung tinggi.
Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Rabbi, Ya Rabbana. Dalam kehidupan duniawi yang hanya bersifat sementara ini, selalu ada hitam dan putih, ada asam, manis, dan terkadang pula pahit. Semoga dengan bermacam-macam rasa itu engkau beri kami kekuatan, kesehatan, keimanan, keislaman, dan ketaqwaan bagi kami untuk melalui itu semua.
Ya Rabb, sampai hari ini aku masih bingung, masih belum juga mendapatkan petunjuk dan cahaya penerangan darimu. Apakah harus sesabar ini menunggunya? Sebesar apakah kesabaran yang aku punya ya Rabb, sampai air mata terjatuh tanpa terasa bahkan terkadang tak terlihat wujudnya. Haruskah diri ini selalu berbohong terhadap rasa yang dimiliki?
Aku hanyalah manusia biasa, hambamu yang lemah, yang tak berdaya tanpa bantuan dan pertolongan darimu ya Rabb. Tapi mengapa diri ini selalu di permasalahkan, selalu salah dihadapannya?

Hal ini tidak seperti dahulu, awal kita bersama ya Rabb. Ketika itu beliau sangat senang dengan diri ini, aku merasa sangat terbebaskan dan tak ada larangan bagiku untuk terus berkarya dan bersama masyarakat luas tanpa ada batasan-batasan diantara kita. Tapi mengapa setelah berjalan lama dan aku merasa nyaman berada disini, tiba-tiba ia berubah dan sangat anarkis. Apalagi ketikaku banyak kenalan dan banyak aktif dengan kegiatan sosial.
Bagiku tak masalah ya Rabb, jika aku dimarah dengan alasan tertentu, namun tidak bagiku jika marah dan memakiku tanpa alasan yang kuat, apalagi terhadap sebuah masalah yang memang bukan aku yang buat dan juga bukan tanggung jawabku.
Ini sudah tidak adil bagiku, mengapa aku yang selalu dipermasalahkan dan selalu salah dimata nya. Semua tugas dan tanggung jawab selalu aku laksanakan dan kerjakan dengan tepat waktu. Mengapa harus aku ya Rabb yang di marah dan dilarang, mengapa tidak bagi yang lain. Sedangkan yang lain bebas, melakukan aktivitas, pekerjaan, dan kesibukan mereka?

Sampai kapan ya Allah aku harus terdiam dalam sandiwara penuh kebohingan ini! Sampai kapan aku selalu dipermasalahkan dan selalu di pojokkan dengan segenap kesalahan-kesalahan yang selalu mereka sebar luaskan.
Inikah yang dinamakan dengan keimanan? Yang semakin besar dan kuatnya iman  seseorang, maka semakin besar pula cobaan, godaan, dan rintangan baginya!

Ya Rabb. Pada hari ini, hari Jum’at yang berkah ini tak banyak yang aku pinta ya Rabb.
Aku hanya minta untuk mensudahi semua sandiwara dan kebohongan ini, aku tak bisa terus menerus berada dalam sandiwara sebab aku bukanlah aktor ataupun sutradara yang ahli pada bidangnya. Aku juga ingin bahagia dengan mereka para orang-orang yang aku sayang serta keluargaku. Aku ingin bebas bekerja, berkarya, dan beraktivitas sebagaimana yang lain.
Ya Rabbi Ya Rabbana hanya padamu dan hanya engkau Ya Rabb yang dapat mengabulkan semua. Kabulkanlah ya Allah.


Share:

“UNTUKMU WANITA SHALIHAH”

*Sebuah sajak untukmu yang selalu ada

Ilustrasi | sholihah.net



Kepadamu wanita shalihah
Yang ‘tlah jatuh hati pada diri ini
Terima kasih atas semua yang telah kau beri
Cinta, kasih sayang, dan perhatian
Yang tak pernah absen untukku

Untukmu wanita shalihah
Maaf, jika diri ini tak membalas semua
Bukan aku tak suka, ataupun tak peka
Apalagi bersandiwara untuk purapura lupa

Wahai wanita shalihah
Bukan aku tak cinta
Hanya saja aku yang belum ingin mengenalnya
Sebab aku takut akan adzab dari-Nya

Lagi pula diri ini hanya ingin fokus
Terhadap masa depan dan citacita
yang telah lama dirangkai
Semua menanti untuk segera digapai
Dan aku rasa masih terlalu muda
Diri ini untuk mengenal cinta
Harus banyak belajar pada yang sudah biasa
Agar tak ada luka diantara kita
Sabarlah semua ada waktunya


Nusantara, 20 April 2018

Share:

Thursday, April 26, 2018

Mutiara Penerus



Tiga tahun sudah perjuanganmu
Memantaskan diri dibangku pendidikan
Mengasah imajinasi dan kreativitas
Melawan kebodohan dengan terus belajar

Berjuang melawan gelapnya kebodohan
Tak kenal lelah, tak kenal pasrah
Panas, hujan, siang, dan malam
Terus bersemangat pantang menyerah

Wahai mutiara penerus bangsa
Kini waktumu telah tiba
Setelah sekian lama terbentur masa
Teruslah bersemangat menggapai semua, impian dan citacita

Singsingkan lengan bajumu
Dengan tekad kuat dan penuh semangat optimis
Yakinlah engkau bisa menghadapi semua
Teruslah bersemangat wahai mutiaraku
Aku yakin kalian kuat
Aku yakin kalian hebat
Optimis Bisa!!!


SMPN 4 Gunung Labuhan, Way Kanan, Lampung, 25 April 2018
Share:

Thursday, April 19, 2018

Merawat Kebhinekaan Menjaga Keutuhan NKRI



Oleh : Disisi Saidi Fatah
Univ. Terbuka UPBJJ Bandar Lampung

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan suatu wilayah negara kepulauan besar yang terdiri dari ribuan pulau dan diapit oleh dua benua dan dua samudera serta didiami oleh ratusan juta penduduk. Disamping itu Indonesia memiliki keanekaragaman adat istiadat  dan budaya yang saling terjalin antara satu dan yang lainnya yang tercermin dalam satu ikatan kesatuan yang terkenal dengan sebutan “Bhineka Tunggal Ika”. Disisi lain, Indonesia juga memiliki landasan, yakni pancasila yang merupakan dasar negara dan dijadikan sebagai pandangan hidup serta filsafat bangsa.

Apabila kita melihat dari sudut kebudayaannya, masyarakat Indonesia adalah plural (jamak) sekaligus heterogen (beraneka ragam). Kondisi kemajemukan budaya masyarakat Indonesia inilah yang seharusnya kita banggakan, namun dibalik kebanggaan tersebut juga mengandung musibah yakni kerawanan akan konflik.

Pada akhir ini banyak sekali kita jumpai dan dengarkan baik melalui media massa, elektronik, ataupun yang secara langsung kita temui dilapangan, kita mendapati begitu banyak konflik yang terjadi di sekitar kita dan hampir 90% terjadi karena perbedaan, baik suku, agama, ras, dan golongan bahkan perbedaan pandangan ataupun pendapat juga bisa memicu konflik. Begitu juga di media sosial atau medsos, belakangan ini banyak sekali yang salah dalam menggunakan medsos. Banyak sekali para pengguna medsos yang tidak paham etika, namun tak banyak pula yang bisa memanfaatkannya dengan baik dan positif.

Sering kali ketika saya membuka medsos, hampir 80% setiap hari isi medsos dipenuhi dengan sindiran, provokasi, dan saling mencibir antara satu dengan yang lainnya. Padahal, negara kita ini memiliki pluralisme (kemajemukan) budaya yang menunjukkan betapa kayanya negara kita, beragam suku bangsa, bahasa daerah, makanan, dan hasil kesenian indah lainnya.

Mengapa kita tidak bangga dengan semua yang kita miliki? Seharusnya perbedaan tidak menjadi hambatan untuk berinteraksi antar sesama. Alasannya, karena pada hakikatnya ada sebuah kesamaan yang paling mendasar, yaitu sama-sama merupakan manusia yang memiliki hati nurani. Inilah konsep ideal yang ditawarkan untuk menyikapi keberagaman budaya di Indonesia.

Didalam Al-Qur’an juga Allah sudah tegaskan, seperti pada surah Ar-Ruum ayat 22 yang berbunyi

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.

Serta dalam Qur’an surah Al-Hujuraat ayat 13,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“ Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa dintara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.

Kita sebagai rakyat Indonesia harusnya saling menghormati dan menghargai antara satu dengan yang lainnya, tanpa sedikitpun merendahkan suku, budaya, adat, dan juga agama yang dimiliki orang lain.
Bukankah berbeda itu Indah? Keberagaman kita itu ibaratkan pelangi, pelangi itu terdiri dari berbagai warna, karena beraneka ragam inilah yang menyebabkan pelangi itu indah untuk kita pandang! Begitu juga dengan keberagaman di Indonesia harus bisa kita terima agar sejalan lurus dengan Bhineka Tunggal Ika yang memiliki arti berbeda-beda namun tetap satu jua.

Pluralisme budaya juga sangat dipentingkan untuk menumbuhkan sikap kecintaan akan budaya masing-masing, menciptakan rasa tenggang rasa antar pemilik kebudayaan yang satu dengan yang lainnya, dan adanya pluralisme akan menghilangkan kebosanan. Seharusnya kita menyadari plurarisme budaya bukanlah sebuah alasan untuk memecah belah persatuan.

Share:

Menebar Damai di Dunia Maya


Gambar oleh Kompasiana.com | Ist



Seperti yang sudah kita ketahui bahwa arus informasi saat ini sangat cepat dan mudah sekali, apalagi kita berada pada era digital dan internet dimana semua dapat kita raih hanya dengan sentuhan dan dalam genggaman tangan. Dalam hitungan jam bahkan hitungan menit saja kita bisa mendapatkan apa yang kita butuhkan, begitu banyak informasi yang bisa akses melalui smartphone dan gadget kita.
Namun seiring berkembangnya teknologi tentu saja makin banyak problema yang kita hadapi, salah satunya ialah informasi tidak benar atau berita bohong yang dalam bahasa keren nya ialah hoax.

Virus-virus hoax ini dapat menyerang siapa saja yang kurang paham akan teknologi atau yang sering disebut gaptek, individu yang kurang minat baca, dan masyarakat awam. Berita hoax tidak hanya terjadi dan dikomsumsi oleh masyarakat atau individu pengguna internet saja, namun pada zaman ketika dunia masih sangat sederhana dalam mengolah informasi, berita-berita palsu telah dijadikan sebagai propaganda oleh satu kelompok untuk melemahkan kelompok lainnya.
Kita bisa melihat sejarah kembali ketika masa perang dingin (cold war) dua blok, Amerika dan Uni Soviet paling gencar dalam memproduksi berita palsu untuk meyakinkan kepada suatu pihak namun memukul pihak lawan. Saat perang dunia ke II juga, kekalahan Nazi dari pasukan sekutu tidak terlepas dari adanya berita hoax yang disebarkan oleh agen sekutu, bahkan meletusnya perang dunia saja dipicu oleh informasi yang tidak terpercaya dan tidak akurat, tidak semata disebabkan oleh perebutan kekuasaan saja.

Di era internet, berita hoax dan isu-isu kebencian dengan sangat mudah di produksi dan sangat cepat menyebar dan diserap oleh masyarakat, hal ini disebabkan karena minimnya minat baca pada masyarakat kita. Dalam sejarah perkembangan media massa, kita pernah mengenal yellow journalism yakni media-media yang melakukan propaganda terhadap masyarakat terkait berita bohong, hal ini bukan disebabkan oleh kebenaran konten berita melainkan seberapa besar judul dalam pemberitaan yang dapat menarik minat pembaca, tidak heran dengan judul yang panjang seolah mewakili konten berita, apalagi minat baca bangsa kita masih berkurang sehingga judul berita tersebut ditafsirkan sebagai sesuatu yang benar.

Menurut data www.internetworldstats.com pada Maret 2008, pengguna internet diseluruh dunia mencapai angka 1.355.110.631 orang. Indonesia merupakan negara kelima setelah South Korea dengan pengguna internet terbanyak.
Salah satu tujuan dari penyebaran virus hoax dan isu kebencian ini yakni ingin memecah belah bangsa dan target utamanya adalah para pemuda, sebab pengguna internet lebih banyak didominasi oleh para pemuda terutama para pelajar dan mahasiswa. Di era digital ini kita harus lebih bijak dan cerdas dalam memilih dan memilah informasi baik di internet atau melalui media sosial (medsos).


Begitu banyak sekali kita jumpai informasi hoax dan isu kebencian yang disebar luaskan oleh kelompok radikal dan kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab untuk memecah belah bangsa .
Dalam penanganan kasus ini, tentu kita harus angkat senjata, berperang dan berjihad di dunia maya. Berjihad, bukan semata-mata berperang dijalan Allah, namun dalam memerangi berita bohong, ujaran kebencian dan konten-konten negatif yang tersebar luas di dunia maya ialah jihad juga. Kita harus lebih cerdas dan kreatif dalam menerima berbagai macam informasi yang tersebar.

Hal ini harus kita lawan dengan cara yang sama yakni dengan menyebarkan konten-konten positif yang bisa mengedukasi para pengguna internet dan medsos agar lebih baik lagi. Serta menyebarkan virus-virus baik di medsos, seperti mempublikasikan hal-hal yang dapat mempersatukan dan mempererat bangsa. Kita juga harus menjadi masyarakat yang jeli dan lihai dalam menerima informasi, dibaca, dikaji, dan dicermati terlebih dahulu jangan hanya membaca judulnya saja terus langsung disebarkan. Kita juga harus banyak membaca, sebab dengan membaca kita akan tahu mana hal yang baik dan yang buruk serta menambah wawasan dan ilmu pengetahuan kita.



------------------------------------------------------------------------
Penulis adalah alumni Hypnotherapy Karya Tunas Bangsa, Baturaja, Sumatera Selatan.
Penulis dapat dihubungi via Instagram @DisisikuDisisimu
Share:

Sunday, April 15, 2018

Dear Penyemangatku (1)



Dear  : Penyemangatku

    Aku melihat semakin hari dirimu semakin berubah, begitu juga dengan sikap dan caramu tak lagi sehangat dulu. 
Entah apa yang telah membuatmu berubah, mengapa begitu cepat dan begitu mudahnya.

Begitu cepat kamu berubah, padahal baru saja kemarin kita saling berbagi cerita, tertawa bersama, bercanda, dan kita selalu kompak. Namun seiring berjalannya waktu kamu pergi, disaat aku sedang membutuhkanmu pula. Disaat semua menjauhiku engkaupun ikut menjauh.

Wahai penyemangatku, tahukan hanya kamu penyemangatku. Kamu adalah puisi-puisiku, kamu adalah inspirasi, dan segenap rindu.

Mungkin kamu tahu, begitu banyak kawan yang dekat dan akrab denganku. Namun jujur hanya kamu yang mampu membuat tenang, hanya kamu yang mampu memberi semangat, disaat lelah dan disaat setiap masalah berdatangan dan tak kunjung pulang.

Cukup sudah sandiwara ini. Aku lelah, aku cape. Bahwa setiap sandiwara ini hanya membuat luka semakin lama. Aku hanya berpura-pura bahagia bersama mereka, itu semua agar kamu bisa kembali berubah seperti dulu.  Dimana kasih sayang, perhatian, dan sikapmu dahulu. 
Sampai hati kau pergi meninggalkanku seorang diri.

Tahukah kamu?
Setiap obat luka, penawar pilu dalam diri, dan setiap rinduku itu hanyalah kamu. Iya hanya kamu.
Sebab hanya kamu yang mampu membangkitkan semangat baru itu. Semangat yang dahulu tenggelam dalam kalbu.

Pulanglah sayang
Kembali dalam pelukan
Jangan biarkan diri terbuang
Terasing dalam dunia orang
Yang tak bertuan

Rindu kamu sayang
Rindu kamu penyemangatku
Rindu kamu ALFA-KU



Untukmu Alfaku,
ASHD, 15 April 2018

Share:

Saturday, April 14, 2018

Melawan Lupa : Dalam Rangka Milad NU ke 95

NU Online | Ist



Sejarah Pertama:
Pada tahun 1924-1925 keluarga Saud menaklukkan Hijaz. Mereka melarang selain mazhab Hambali berlaku di Makkah dan Madinah. Ini terjadi intoleransi  yg akut.
Komite Hijaz (cikal bakal NU) meminta raja Saud agar mazhab Hanafi, Maliki dan Syafi'i dibolehkan di Haromain.

Dalam rangka "pemurnian Islam" wahabi membongkar situs-situs Islam, seperti makam para Sahabat, para wali. Bahkan kubah makam Rasululloh SAW pun hendak mereka bongkar, namun tidak jadi karena perjuangan NU.

Sejarah Kedua
Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari mobilitas masa yg menjadi milisi dan pejuang kemerdekaan, oleh kiyai kiyai Pesantren NU.
Sudah jadi rahasia umum: siapa penggerak resolusi jihad yang menimbulkan perang akbar melawan sekutu di Surabaya 10 November?
Jawabannya yakni, Bung Tomo yang merupakan santri NU.

Sejarah Ketiga
Pada tahun 1960 Bung Karno mengakomodasi PKI dalam politik NASAKOM (Nasionalisme, Agama, Komunis). Nasionalis diwakili PNI, Komunis diwakili PKI dan agama diwakili NU.
Semua organisasi agama saat itu tidak mau gabung Nasakom. Alasannya: Politik sesat dan membahayakan.
NU tahu itu. Tapi kalau dibiarkan komunis menempel bung Karno, siapa yg akan menghalangi dan meminimalisir?

Maka walaupun waktu itu kyai NU yakni: KH Syaekhu difitnah sebagai penjilat pantat Soekarno. Terus menempel Soekarno. Alasannya sangat ushuli:

 ارتكاب أخف الضررين

"Memilih kemadaratan yg minim dari dua madarat."

Ternyata cukup berhasil.

Sejarah Keempat
Di era ORBA, NU awalnya bernafas lega bisa join dengan rezim Soeharto, setelah bersama ABRI menghabisi PKI. Tapi ternyata pahit. Soeharto banyak menghabisi NU. Mencurigai NU yang jadi lumbung partai PPP, dan anti GOLKAR partai pemerintah. Banyak muballig NU yg ditangkap karena kritis pada pemerintah.
Baru pada tahu 90-an Soeharto mendekati NU karena ditinggalkan Amerika, paska bubarnya Uni Soviet.
Dan di awal tahun 80-an saat deparpolisasi, NU lah yg pertama menerima asas tunggal PANCASILA.

Sejarah Kelima
Ketika reformasi bergulir, Indonesia oleh barat nyaris dikatakan bubar. Kepemimpinan BJ Habibi membuat desintegrasi; lepasnya Timor Leste.

Gus Dur jadi presiden dengan jurus-jurus "dewa mabuk" sulit dipahami rakyat. Tapi ia menyelamatkan Indonesia tetap menjadi Indonesia. Sekarang terasa ketika Gus Dur tiada: Syi'ah sulit dikendalikan, radikalisme merangkak membengkak, kristenisasi semakin marak.

Gus Dur ketika itu menghentikan syi'ah dengan kata-kata halus dan intrik: "Syi'ah itu NU plus imamah, NU itu syi'ah minus imamah". (hingga orang syi'ah tertipu dengan tidak mau dakwah syi'ah).
Kristenisasi dibendung dengan intrik Gus Dur:
"Semua agama benar (para misionaris kendur dalam misi kristenisasinya)." Itulah Gus Dur yang mempunyai cara sendiri untuk melindungi bangsa Indonesia agar tetap aman. Pandangan orang awam kesannya salah. Tapi, dikemudian hari,  cara dakwah Gus Dur banyak terbukti kebenarannya.

Era Jokowi
Radikalisme mengancam NKRI semakin terasa dan memfakta. Pemerintah berlindung kepada NU. Dan NU kembali dirasakan kehadirannya.

Hari ini berbondong bondong dari berbagai negara datang: ingin belajar ber-Islam ala NU. Karena Islam di Timur Tengah rentan dengan konflik. Gampang *dibikin jadi pemberontak terhadap pemerintahnya yang sah* contoh: Suriah, Irak, Libya, Yaman, Saudi, Mesir dan lain-lain. Ketika pulang: mereka mendirikan NU. Sudah lebih 46 cabang NU di luar negeri. Bahkan Singapura pun datang bertanya menelisik ttg Islam ala NU.

Khazanah Keilmuan NU
Di manakah pusat NU?
Di semua Pesantren NU.
Di sana diajarkan kitab-kitab keislaman berstandar Sunni Internasional:
Jurumiyah, Kailani, Alfiyah, Jauhar Maknun, Mugni Labib, Sulam Munauroq. Waroqot, Jam'ul Jawami. Ihya Ulumidin, Hikam, Jalalain dan lain-lain.  Semua kitab Internasional Timur Tengah di atas sudah diajarkan di Pondok Pesantren NU seluruh Indonesia. *Dan kitab-kitab tersebut jadi pegangan pula di Universitas al Azhar Mesir.*

Oleh karena itu, maka ketika mu'tamar NU, datanglah ulama Timur Tengah seperti: Syeikh Wahbah Zuhaili imam, dan ulama' Timur Tengah Lainnya.

Apa Anda meragukan keilmuan orang NU dalam keilmuan Islam? Cari ormas selain NU di Indonesia yang mengajarkan dan cakap baca kitab Jam'ul Jawami' imam Subki?

Kiyai-kiyai Nu pada cakap ilmu nahwu, shorof, balaghoh, ushul fiqih, mantiq, fiqih dan tafsir : Ilmu Syari'at. Lalu mereka mengamalkan dengan ilmu hakikat, thoriqoh, ilmu tasawwuf. Mereka adalah orang NU. Dan saya sadar jika harus mempertahankan dan membela NU.

NU adalah perahu besar. Kata santri Jombang: "KH Hasyim Asy'ari sebelum mendirikan NU, solat istikhoroh 3 tahun !"

JIKA INDONESIA INGIN TETAP AMAN, MAKA SOLUSINYA ADALAH SAVE NU !

SELAMAT HARLAH NAHDHOTUL ULAMA KE 95


Sumber : Groups Whatsapp NU Daerah
Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Segelas Kopi dan Jejak Langkah Murobbi

Ilustrasi didesain oleh AI-GMN Tak ada satu hari pun melintas tanpa gerimis bening di pipi Menetes pelan membasahi sajadah rindu yang sunyi ...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive