Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Tuesday, April 7, 2020

Hikmah | Bersedekah Dengan Cara Bersedekah


Yuk simak videonya. Insya Allah ada hikmah yang dapat kita petik.


Pembeli ke-1 membeli 8 roti, tetapi mengambil hanya 4 saja, sementara 4 lainnya diamanahkan kepada penjual untuk disedekahkan kepada yang memerlukan.


Penjual menjaga amanah tersebut, memisahkan antara hak pribadi dengan hak orang lain. 


Si miskin datang memohon dengan sopan barangkali ada bagian rizkinya disini.


Penjual memberi 4 roti tadi. Tetapi, si miskin mengembalikan 2 roti agar tidak mengambil hak fakir-miskin yang lain kerana dia hanya mengambil sekadar keperluannya saja. Dia mungkin miskin harta, tetapi kaya budi-pekerti, orang tuanya dahulu mendidiknya dengan benar. 


Perhatikan betapa santunnya pelayanan si pria penjual dengan wanita miskin itu.


Demikian pula, Pembeli ke-2 membeli 4 roti tetapi hanya mengambil 2 roti saja. 2 roti lainnya diniatkan sedekah untuk fakir atau miskin atau yang memerlukan. Dia tidak sekaya pembeli pertama yang mampu membeli banyak, tapi sedekahnya sama separuh.


Kebaikan hati itu sifat rohaniah, bukan pada banyaknya harta-benda yg disedekahkan.

Nabi S.A.W bersabda:
"Tidak sempurna iman seseorang yang berada dalam kekenyangan sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar".

Pelajaran Indah:
Si kaya tidak pelit, si miskin tidak tamak, si penjual tidak khianat.

Ya Allah, bimbnglah kami agar bisa berbagi kepada yg membutuhkan...
Share:

Zakat, Covid-19, dan Teriakan Kaum Papa

LazisNU Jateng. Ist



Oleh : Miftahus Surur, M.Si
Wakil Ketua PW LazizNU Provinsi Lampung

Sumber : WhatsApp Grub



Kurang lebih empat bulan Covid-19 melanda negeri ini. Dampaknya pun kian terasa; perekonomian mulai surut, pelayanan publik tampak carut-marut, dan berbagai kegiatan sosial pun terlihat kalang-kabut. 

Masyarakat kota yang mulai kehilangan asupan penghasilan pun mulai terlihat pulang ke desa. Sementara masyarakat desa pun mulai limbung karena tidak mudah menjual hasil panen mereka. Kini, bukan hanya Indonesia, dunia pun ramai-ramai berkeluh kesah.

Dari sekian banyak pihak yang berteriak, terdapat satu golongan yang sangat merasakan dampak dari deraan Covid-19 ini, yaitu mereka yang berada pada garis kemiskinan atau dibawah itu. Jika biasanya mereka harus bekerja untuk mencari penghidupan, kini untuk sekedar bekerja pun sulit dikarenakan lapangan kerjanya semakin menyusut. 

Di kota-kota besar, para buruh atau pekerja serabutan lain yang berpenghasilan pas-pasan mulai merasakan kecemasan akibat potensi hilangnya _income_. Lalu di pedesaan, tidak sedikit para petani gurem yang bingung menyiasati penjualan hasil panen ketika para pembelinyapun tidak dapat diprediksi. 

Belum lagi ditambah dengan adanya kenyataan bahwa para tengkulak yang enggan mengambil barang dagangan karena khawatir dan takut terserang Covid-19 jika harus keluar rumah.

Di tengah-tengah situasi serba galau seperti ini mulai muncul seruan-seruan di berbagai media agar kita dapat saling bantu membantu meringankan beban saudara se tanah air. Dimana-mana berhembus optimisme, semangat, dan harmoni. Bencana atau wabah yang melanda ini tak perlu pula digugat, juga tak perlu ada kemarahan. Tokh kita semua sadar bahwa keadaan seperti ini tak dapat ditolak. 

Yang paling penting untuk saat ini adalah membangun kebersamaan – sampai titik darah penghabisan – untuk saling peluk dan memberikan apa yang kita miliki untuk meringankan beban sesama.

Dalam konteks ini, Islam memiliki perangkat yang sangat ampuh, yaitu zakat. Salah satu pilar Islam ini tampaknya harus diposisikan pada ranah itu, yaitu ranah pembantuan dan kebersamaan. 

Petuah bahwa “didalam harta kita terdapat hak orang lain” tak tepat lagi di pajang di buku-buku khutbah, melainkan harus dimunculkan dalam laku keseharian. Zakat dan juga infaq serta shadaqah sudah pada gilirannya mengambil peran membebaskan yang lemah dan mengangkat yang sedang lunglai. 

Ragam kajian dan hasil penelitian tentang zakat di Indonesia selalu memaparkan sisi yang menggembirakan bahwa potensi zakat kita mampu menembus angka 200 trilyun per tahun. Ah, tampaknya terlalu indah gambaran itu. Tak usahlah terlalu jauh. Cukup kita galang keyakinan bahwa harta yang kita miliki tidak akan membawa berkah jika ditumpuk, dimakan dan dinikmati sendiri. 

Seperti orang yang sedang bersantap, kebersamaan di meja makan akan selalu lebih indah dan memuaskan tinimbang menyuapkan nasi ke mulut sendiri tanpa ada yang menemani.

Itulah hakikat zakat. Rukun Islam yang satu ini tampak dengan sengaja diluncurkan oleh Allah swt untuk menjadi katup penyelamat bagi masyarakat sekaligus mengikis sikap “pleonoxia”, yaitu suatu penyakit kejiwaan yang membuat seseorang selalu ingin lebih dan lebih lagi. 

Kita harus menjatuhkan diri pada posisi sebagai ‘kaum papa, kaum tak berpunya’, sehingga dengan itu kita tidak lagi memantik rasa sayang yang berlebihan terhadap benda-benda duniawi yang kita miliki.

Ayo tunaikan zakatmu kawan! Jangan biarkan harta yang kita tumpuk akan menggerogoti dan melenyapkan rahmat Allah swt. Bukankah kita semua mengerti bahwa yang terpenting dari adanya harta bukan pada banyaknya, melainkan pada keberkahannya? 

Dan ingatkah kita bahwa ibadah pribadi (individual) seberapapun hebatnya tidak akan membuat Allah swt tercengang? Justru sebaliknya, Allah swt akan melimpahkan kasih-sayang-Nya sejauh kita juga menghamparkan kasih sayang kita untuk sesama. 

Sesaat lagi memasuki bulan Ramadhan, kawan. Jangan biarkan saudara kita, kawan kita, atau tetangga kita larut dalam kesedihan, ratap, dan hanya mampu menatap jajanan serta lauk-pauk yang dipajang di pinggir pasar, sementara kita begitu asyik menumpuk ragam menu makanan di atas meja sebagai santapan sahur dan berbuka. Jadikan zakatmu sebagai kebahagiaan dan senyum saudaramu!!


Share:

Jika Sudah Tiba Saatnya | Hikmah Mutiara

TransIndonesia. Ist



Oleh : Insan Tuhan
From : WhatsApp Groub
Share:

Monday, April 6, 2020

Masihkah Cinta di Wayka | Sajak-Sajak di Awal April

Puisi-Puisi Senja Jingga Purnama/Disisi Saidi Fatah | Terbaru, April 2020
Disisi Saidi Fatah.Dokumen Pribadi.Ist
Dokumen Pribadi.2019.Ist


Sampai Batas Ini

Sampai batas ini aku memahami
Jika impian untuk menggapai bahagia bersamamu hanyalah ilusi
Cerita fiktif penuh dengan imaji
Akhir kata ini, aku pamit permisi
Semoga Tuhan memberi yang lebih baik lagi

Nusantara, 05042020
Share:

Sunday, April 5, 2020

Sinopsis Bintang Untuk Noah

“BINTANG UNTUK NOAH”

Senja Jingga Purnama

@pecandusastra96

 

Sinopsis :

 

          Noah, merupakan seorang siswa baru di Yayasan Permata, ia adalah putra kedua dari Bu Aisyah. Satu-satunya pengharapan dari sang Bunda dan keluarga, bagi sang bunda ia adalah permata. Noah anak yang cukup aktif dan cerdas, akan tetapi sebab faktor lingkungan dan pergaulan yang membuat ia berubah menjadi sedikit nakal, suka bolos sekolah. Namun ia tidak pernah melawan sang bunda.

 

Noah, anak yatim yang di tinggal pergi sang ayah sejak ia menduduki bangku taman kanak-kanak. Hingga tiga tahun setelahnya, sang Bunda berjumpa dan memutuskan untuk menikah dengan Pak Prabu. Pak Prabu sangat sayang dengan Noah, ia berusaha menyayangi Noah sebagaimana anaknya sendiri.

 

Usai, menduduki bangku sekoah dasar. Bunda Aisyah dan Ayah Prabu memutuskan untuk mengirim Noah ke salah satu yayasan, menimba disekolah yang berlatar belakang agama. Selain ingin merubah Noah untuk menjadi lebih baik, mereka juga ingin agar Noah memahami agama dengan baik.

          Satu bulan tinggal di yayasan, Noah merasa semua serba asing. Dunianya begitu cepat berubah. Ia sering menyepi bahkan terkadang menangis, ia ingin pulang dan kembali dengan keluarga. Namun sayang semua hal itu tidak akan pernah mampu terjadi olehnya. Hingga suatu malam ia dipertemukan dengan seorang staff di madrasah nya dan menjadikannya akrab serta membantunya merubah sikap dan kepribadian yang lebih baik.

 

Tokoh :

1.     Noah

2.    Bunda Aisyah

3.    Ayah Prabu

4.    Purnama (Staff Madrasah Permata)

5.    Rayyan (Sahabat Purnama)

6.    Adin (Sahabat Purnama)

7.    Ega (Ketua kamar D)

8.    Ridwan (Adek angkat Purnama yg jahat)

9.    Wawan, Aly, Maulana (Teman akrab se-geng Noah)

10.  Ust. Habiburrahman (Pimpinan Yayasan)

11.   Pak Ibrahim (Kepala Madrasah)

12.  Aby Ilham (Paman Noah)

13.  Om Hasan (Om Noah)

14.  Mutiara (Teman Perempuan Purnama)

15.  Intan (Kerabat Purnama)

 

 

Latar Tempat :

1.     Rumah Noah

2.    Yayasan Permata


Share:

Wednesday, April 1, 2020

Mengenal Sosok KH Abdul Wahab Chasbullah



132 Tahun KH Abdul Wahab Chasbillah ( Mbah wahab )
Lahir 31 Maret 1888m Wafat 29 Desember 1971m

Dalam penulisan sejarah NU, para penulis biasanya memulai dengan sepak terjang salah seorang pendirinya, KH Abdul Wahab Chasbullah belasan tahun sebelumnya. Biasanya dimulai dengan peristiwa Mbah Wahab mendirikan Nahdlatul Wathan, Tashwirul Afkar, dan Nahdlatut Tujjar. Barulah di tahun 1926, secara resmi Nahdlatul Ulama dideklarasikan. Tepatnya di kediaman Kiai Wahab di Kertopaten, Surabaya, Jawa Timur. 

Mbah Wahab lahir pada 31 Maret 1888. Menurut Enskilopedia NU, selepas belajar kepada ayahnya, Mbah Wahab kemudian belajar di Langitan, Mojosari, Tawangsari, Bangkalan, Tebuireng, kemudian di Tanah Suci Mekkah. Di sana ia belajar kepada Syekh Mahfud Tremas, Ahmad Khatib Minangkabawi, Syekh Bakiq al-Jugjawi, Kiai Muhtarom Banyumas, Kiai Asy’ari Bawean, dan Syekh Said Al-Yamani.  Mekipun jauh di negeri orang dan masa belajar, Mbah Wahab memiliki perhatian besar terhadap kondisi tanah airnya Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) yang masih dalam penjajahan Belanda. Sembari menimba ilmu ke berbagai ulama ia menjadi anggota Sarekat Islam.   

Selepas pulang menuntut ilmu di Tanah Suci Mekkah, Kiai Wahab tak langsung menetap di Tembakberas. Ia memilih tinggal di kota yang waktu itu terbilang kosmpolitan, Surabaya. Di situ ia bergaul dengan berbagai kalangan. Dari pengalaman dan buah pikirannya, ia kemudian membentuk Nahdlatul Wathan. Kemudian Tashwirul Afkar, dan kemudian Nahdlatut Tujjar.  Kemudian dari rangkaian itu, atas izin gurunya, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, KH. Abd Wahab Chasbullah menjadi penggerak utama dalam mengundang kiai-kiai hadir di kediamannya dalam menyikapi situasi di Arab Saudi waktu itu yang dikuasai mazhab Wahabi. Hadratussyekh memimpin langsung pertemuan itu. hasilnya, para kiai pesantren Ahlussunah wal Jamaah sepakat membentuk sebuah komite bernama Komite Hijaz untuk meminta jaminan agar kebebasan bermazhab berlangsung di Tanah Suci Mekkah dan Madinah. Para kiai tersebut kemudian memikirkan atas nama apa mereka mengirimkan utusan. Maka dideklarasikanlah sebuah jam’iyah bernama Nahdlatul Ulama, kebangkitan para ulama. Hadratussyekh sebagai pemimpin tertingginya. 


Di dalam buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU, Choirul Anam mengatakan bahwa terbentuknya NU tak semata-mata karena persoalan mazhab di Arab Saudi, tapi juga kondisi tanah air yang berada dalam penjajahan. Bahkan, dalam sebuah obrolan Kiai Wahab mengatakan bahwa tujuan berdirinya NU adalah Indonesia merdeka.  Bukti lainnya adalah syair yang diciptakan Kiai Wahab dalam bahasa Arab yang terjemahannnya sebagai berikut:    

“Pusaka hati wahai tanah airku Cintamu dalam imanku Jangan halangkan nasibmu Bangkitlah, hai bangsaku! Indonesia negriku Engkau Panji Martabatku Siaapa datang mengancammu ‘Kan binasa dibawah dulimu!”   

Menurut Ensiklopedia NU, utusan atau Komite Hijaz yang dibentuk para ulama itu baru berangkat tahun 1928. Mereka adalah Kiai Wahab dan Syekh Ghanaim Al-Mishry.  Choirul Anam mendeskripsikan dalam perjalanan tersebut, Mbah Wahab singgah di Singapura. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan. Waktu luangnya digunakan untuk bertemu dengan ulama-ulam setempat dan menceritakan permohonan kiai-kiai pesantren untuk kebebasan bermazhab Arab Saudi.  Selama 15 hari di negara itu, Kiai Wahab sempat mengadakan pertemuan dengan Syekh Ahmad Hakim, Fadlullah Suhaimi, Ancik Mas’ud, dr Munsyi, dan lain-lain. KH. Abdul Wahab Chasbullah mampu memahamkan para tokoh agama Singapura tentang NU, yakni mendesak Ibnu Sa’ud agar memberikan kebebasan bermazhab. Karena kemampuan menyampaikan dan meyakinkan, maka mereka bersedia mendukung dan bahkan kemudian mendirikan NU Cabang Singapura.   Dalam pergerakannya membesarkan NU, Kiai Wahab harus turun ke cabang-cabang, memberikan pemahaman kepada pengurus-pengurus di cabang-cabang. Terkadang ketika ia di satu daerah harus melayani tantangan debat dari organisasi lain seperti pernah dialaminya saat di Cirebon, Bandung, dan Batavia. Kiai Wahab pernah ke Cirebon untuk berdebat dengan A. Hasan di daerah Ciledug. Pernah juga ke Bandung melayani perdebatan dengan A. Hasan.  Dan tentu saja, Kiai Wahab merupakan pendiri NU yang getol menghadiri muktamar NU di daerah-daerah. Jika Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pernah absen karena sakit di muktamar Bandung, Jakarta, dan Menes, Kiai Wahablah yang menghadirinya. Sampai ia wafat, tidak pernah absen menghadiri kegiatan akbar NU itu.  Setelah beberapa tahun NU berdiri dan memiliki cabang di berbagai wilayah, Kiai Wahab kemudian menginisiasi sebuah federasi berbagai organisasi Islam. Dari sini akan terlihat bahwa NU merupakan inisiator dan punya tekad untuk bersatu. Kiai / Mbah Wahab kemudian mengundang Mas Mansur ( Muhammadiyah ) Wondoamiseno ( PSII ) untuk membentuk Majelis Islam A’la Indonesia ( MIAI ). Inilah salah satu babak baru perjuangan Kiai Wahab melalui NU untuk bekerja sama dengan seluruh elemen umat Islam dalam menentukan arah perjuangan. Pada masa Jepang, NU turut serta dalam pembentukan Masyumi. Masa kemerdekaan, saat Kiai Wahab jadi Rais Aam, NU menjadi inisiator Liga Muslim Indonesia.   Tentu masih banyak peran dan sepak terjang Kiai Wahab dalam sejarah NU dan bangsa ini. Perjuangannya berakhir setelah wafat di tahun 1971 beberapa hari selepas menghadiri muktamar NU di Surabaya. Ia dimakamkan di sekitar pondok pesantrennya di Tambakberas Jombang Jawa Timur.

Sumber : NU Online 31 maret 2020

Penulis: Abdullah Alawi
Editor: Fathoni Ahmad

#GenerasiMudaNU
Share:

Saturday, March 28, 2020

Mahluk itu Bernama Corona

Senja Jingga Purnama.Ist.Dokumen Pribadi.2017

Mahluk itu Bernama Corona

Mahluk itu bernama Corona
Mahluk kecil tak kasat mata. Ciptaan Tuhan sebagai reminder ingatan
Meski kecil. Janganlah kau acuhkan
Kecil-kecil cabai rawit

Negeriku berduka. Negeri terluka
Tak hanya Negeriku Bumi Pertiwi
Seluruh penjuru dunia pun ikut berduka
Karena hadirnya semua porak-poranda
Semua takut. Semua panik.
Ulahnya semakin menjadi-jadi

Korban berjatuhan
Isolasi dan lockdown kian menjadi
Negeri bagai tak berpenghuni

Corona oh Corona
Karenamu aktivitas terhambat
Sebabmu ekonomi melemah, ketersediaan barang menjadi langka, pekerja tak tetap menjadi angan semata

Corona, nyata tak banyak yang takut padamu
Justru mereka memanfaatkan hadirmu
Berita bohong tentangmu banyak tersebar di media
Banyak pula para petopeng menyusup masuk sebagai kemanusiaan mencari iuran kecil-kecilan

Lampung, 28 Maret 2020


Negeriku Mendadak Sepi

Bumi mendadak sepi
Kota-kota mati bagai tak penghuni
Aktivitas lengang. Lockdown dimana-mana

Semua mendadak takut
Perdetik berita menyebar luas. Gempar menjadi halilintar
Bagai petir disiang bolong

Maafkan kami Tuhan
Kami lalai. Bahwa kuasamu begitu besar
Maafkan kami yang lupa
Bahwa semua kaulah sang pencipta


Lampung, 28 Maret 2020

Semua Panik

Diawal tahun unik
Dua angka sama saling berturutan
Datanglah kuasa tuhan
Menggetarkan alam semesta
Semua panik, semua takut
Akan mahkuk tuhan yang paling kecil tak kasat mata


Lampung, 28 Maret 2020


Selamat Datang

Rinai hujan terus mendera
Membasahi bumi bahtera
Selamat datang rintihan cinta yang dinantikan
Bawalah pulang segenap luka nestapa
Sya'ban berakhir Ramadhan hadir Bahagiapun turut mengalir

Bandar Jaya, 28 Maret 2020


>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Senja Jingga Purnama alias Disisi Saidi Fatah adalah penulis muda yang kini menjabat sebagai Bendahara Umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Pimpinan Cabang Kabupaten Way Kanan, Lampung. Pria berdarah Lampung itu merupakan kelahiran Gedung Harta, 23 tahun silam. Memiliki hobi menulis sejak tahun 2015, dan menekuni ketika ia patah hati. Baginya menulis adalah suatu kebebasan dalam menyampaikan aspirasi, unek-unek, dan pikiran yang tak mampu tertuang melalui perkataan. Selamat menikmati...

Penulis bisa dihubungi melalui
Instagram : @pecandusastra96
Email : disisisf.bpun@gmail.com


Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive