Wednesday, June 10, 2026
Thursday, June 4, 2026
Membuka Lembar Siyarus Salikin Tanpa Tatapan Sang Murobbi

Catatan Majelis bareng Abah Allahyarham Adda'i Illallah Ustadz Mahfudzin bin H Alif Yunus, Desember 2022 lalu. (Didesain oleh AI)
*Memoar Ta'lim Malam Kamis: Menjemput Berkah Kitab Siyarus Salikin Tanpa Kehadiran Abah
Semalam adalah malam Kamis awal bulan. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya pergantian hari biasa. Namun bagiku dan almarhum Abah, malam itu adalah waktu yang sakral - saatnya kami membelah jalanan untuk menjemput tetesan embun ruhani. Saya melangkah keluar dari kamar kost, menatap lurus ke arah rumah Abah yang jaraknya hanya pelemparan batu, sekitar sepuluh meter di depan mata.
Thursday, May 28, 2026
Di Balik Gema Takbir Bogor: Idul Adhaku yang Paling Runtuh, Paling Sepi
![]() |
| Suasana shalat idul adha di Cicadas, Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Rabu, 27 Mei 2026. (Dokpri/Disisi) |
Bagi seorang anak rantau, hari raya selalu punya dua sisi. Di satu sisi ada rindu yang membuncah pada kampung halaman, di sisi lain ada ketangguhan yang dipaksa tegak di tanah orang. Sejak SMA, aku sudah terbiasa jauh dari orang tua. Angin malam perantauan bukan hal baru bagiku. Namun, tahun ini berbeda. Ini adalah tempat pertamaku beneran merantau jauh, menyeberangi pulau, mengadu nasib di tanah Jawa.
Saturday, May 16, 2026
Berdamai dengan Rindu: Menemukan Diri di Film "Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?"
![]() |
| Poster Film "Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?" di XXI Plasa Cibubur. Dokpri/Disisi |
Malam itu, saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang agak "nekat": menonton film di jam penayangan terakhir, tepatnya pukul 21.00 WIB. Pilihan saya jatuh pada film yang sedang hangat dibicarakan, judulnya cukup menyentil batin: “Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?”.
Wednesday, April 22, 2026
Sisi Gelap Ambisi dan Jebakan Validasi dalam Film "Tunggu Aku Sukses Nanti"
![]() |
| Poster film "Tunggu Aku Sukses Nanti" di Bioskop XXI Mall Ciputra Cibubur, memancarkan atmosfer komedi keluarga. (Dokpri/Disisi) |
Pernahkah kita bertanya-tanya, untuk siapa sebenarnya kita mengejar kesuksesan? Pertanyaan filosofis ini mendadak muncul setelah saya menyaksikan film terbaru karya sutradara Naya Anindita yang berjudul Tunggu Aku Sukses Nanti. Menontonnya di tengah kesunyian bioskop XXI Mall Ciputra, Cibubur, pada Sabtu malam lalu, memberikan ruang bagi saya untuk mencerna setiap emosi yang disuguhkan.
Thursday, April 9, 2026
Di Bawah Naungan Cahaya Murabbi [Kado Milad Abah 2026]
![]() |
| Lentera kecil pengusir kelam, laksana nasihat guru yang menetap di dalam diam. Jawaban doa dalam binar cahaya. (Sumber: Unsplash) |
Engkau hadir sebagai jawaban dari sujud-sujud panjangku,
Seperti rintik hujan yang jatuh di tanah yang dahaga,
Nasihatmu mengalir lembut, menetap dalam sanubari tanpa sengketa.
Monday, April 6, 2026
Tentang Hati yang Terbelah dan Rindu yang Belum Tuntas
![]() |
| Dermaga saksi bisu langkah kaki yang kembali mengembara, membawa rindu yang belum tuntas di balik birunya laut. (Sumber: Dokumentasi Pribadi/Disisi) |
Duduklah sejenak, kawan. Ambil napas dalam-dalam sebelum jemarimu kembali menari di atas papan ketik atau menggenggam kemudi di tengah riuh rendah klakson kota. Apakah hari ini punggungmu sudah mulai terasa penat oleh tumpukan berkas? Ataukah kakimu sudah kembali akrab dengan aspal panas dan sesaknya gerbong kereta yang seolah tak pernah tidur?
















