Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Search Bar

Monday, March 26, 2018

Sajak : Adakah Cinta Selain Kamu

Sajak-Sajak Disisi Saidi Fatah



Adakah Cinta Selain Kamu





Masih adakah cinta dihati selain untukmu

Masih tersisakah sayang selain kepadamu

Masihkah rasa perhatian selain memperhatikanmu



Aku tak dapat pergi

Dari bayang semu dirimu

Aku tak dapat lari dari tentangmu

Aku ingin bebas berkelana

Mengarungi cakrawala dunia



Kembalikan sisa-sisa itu untukku

Jangan kau bawa kabur semua dariku

Jika engkau bukan untukku

Sebab masih ada yang menunggu selain kamu




Jaga Baya III, 23/03/2018



Semua Tentang Kamu





Mataku yang selalu bahagia

memandang indah wajahmu,

bening matamu, dan senyum manismu

Bibir ini tak henti mengucap namamu

Telinga ini yang selalu ingin mendengar suara indahmu

Hati ini yang selalu merindu




Bandar Lampung, 23/03/2018



Tersayat Sepi





Mengapa dulu bertemu

Jika hanya mendapatkan pilu

Mengapa dulu berjumpa

Jika hanya membawa luka



Jauh merindukanmu

Dekat tak dapat bersatu



Melepas tak juga bebas

Kugenggam tak juga kurasakan

Hadirmu hanya ilusi

Tersayat sepi terhanyut dalam mimpi




Nusantara, 21/03/1018


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*Disisi Saidi Fatah memiliki nama pena Alfa Arkana Eounoia. Pria kelahiran Lampung, 27 September 1996 itu sangat hobi membaca, menulis, dan mendengarkan musik. Guru TIK di SMP Manba'ul 'Ulum Asshiddiqiyah 11 Way Kanan, Lampung. Penyuka sastra dan hypnotherapi.
Pengagum Gus Mus dan Ananda Takeshi George
Share:

Wednesday, March 21, 2018

Sajak Haul 1 Tahun

Oleh : Disisi Saidi Fatah



Setahun sudah tak bersama
Tak terdengar suara dan kata-kata
Yang cerewet, rewel dengan semua sikap dan prilakuku
Tar terlihat wajah kusam legam
Yang begitu semangat untuk menafkahi anak dan istri
Tak terasakan lagi kasih sayang yang lembut itu

Tanpa terasa setahun sudah tak bersama
Menjalin hidup tanpa hadir sang ayah
Tak ada lagi tempat berbagi dan bersandar pundak
Ketika lelah dan masalah yg tak kunjung usai

Rindu
Sangat rindu
Menatap wajahnya
Mendengar suaranya
Merasakan pelukan kasih sayang dari sang ayah
Kini hanyalah sepi yang menemani
Dan terkadang sunyi menyayat hati
Membawa ilusi kedalam mimpi


Nusantara, 18 Maret 2018
Share:

Sunday, March 4, 2018

Ketika Sang Imam Keluarga Pergi


Ilustrasi | Ist

Sebuah cerpen, terinspirasi dari kisah nyata;

Oleh : Alfa Arkana Eounoia (DSF) @NoiaAlfa



Kamis pagi usai melaksanakan sholat subuh berjamaah, Alfa bergegas membenahi barang-barangnya yang sempat berantakan. Semalam baru saja Alfa sampai dari kota, sebuah kota di Pulau Jawa, sebab ada kegiatan disana. Baru semalam Alfa pergi meninggalkan kota yang memiliki sebutan Kota Pelajar, namun dibenaknya masih teringat begitu indah dan asri kota itu. Masyarakat nya yang ramah serta pemandangan yang indah dan dipenuhi oleh kaum pendatang dari berbagai kota.

Mentari nampak begitu bersemangat memancarkan sinarnya yang begitu indah sehingga membuat mata Alfa sedikit sakit ketika memandanginya.  Usai menyantap sarapan pagi, Alfa segera bergegas menuju stasiun kereta untuk melanjutkan perjalanannya menuju tempat dimana ia tinggal. Tibanya di stasiun, sembari menunggu kereta yanag akan ditumpanginya datang, Alfa membuka ponsel untuk mengecek beberapa pesan whatsapp dan email yang masuk, namun pagi itu ponsel nya terasa sangat sepi sekali. Setelah menunggu beberapa menit diberanda stasiun akhirnya kereta yang akan ditumpangi datang juga, segera ia bergegas naik dan mencari tempat duduk sesuai nomor tiket yang ia pegang.

Beberapa menit setelah kereta melaju dari stasiun, tiba-tiba ponselku berdering berkali-kali namun sama sekali tak ku hiraukan. Ku lihat ponsel itu ternyata yang menghubungiku adalah bapak.
“Ada apa ya, pagi-pagi Bapak menelponku!"
Kuletakkan kembali ponselku kedalam saku, tak lama kemudian ponselku kembali bergetar, kulihatn  sebuah pesan singkat menghampiri ponselku, ternyata itu pesan dari bapak. “Nak Alfa sudah pulang dari kotakah? Bisa mampir ketempat kerja Bapak?”
Alfa terdiam sembari berpikir, ada apa dengan bapak? Mengapa beliau pagi ini menghubunginya berkali-kali. Ia merasa sangat bersalah, sebab ketika hendak pulang tidak memberitahu kepada bapak.

***

Perjalanan hari itu cukup jauh dan melelahkan, sehingga membuat Alfa lupa memberitahu kepada keluarga bahwasanya ia sudah sampai tujuan. Hari demi hari dilalui dengan berbagai kesibukan. Lima hari telah berlalu namun hatiku tidak bisa tenang, selalu dikhawatirkan dengan keadaan bapak sebab ia tak lagi menelepon atau smsku lagi.

“Tumben bapak enggak pernah menghubungiku lagi, biasanya bapak yang paling cerewet dengan anak nya,”

“Apa aku tanya saja kabar beliau?”.


Hati Alfa sangat gelisah dan risau sehingga membuat ia tak bisa beristiharat. Berkali-kali ia keluar masuk pintu rumah sembari memainkan ponsel, berharap ada sesuatu yang bisa menenangkan hati. Menjelang maghrib ponsel Alfa kembali berdering, ternyata ibu yang menelpon memberi kabar dari sang bapak.  Belum sempatku berbicara, tiba-tiba terdengar suara yang tergesa-gea dari bilik ponsel.

“Assalamua’laikum, Fa, maaf ibu tidak bisa lama. Langsung saja, beberapa hari lalu usai bapak pulang kerja, bapak sakit perut dan mual-mual, jadi ibu bawa ke puskesmas terdekat, namun pihak puskesmas menyarankan agar segera dirujuk ke rumah sakit. Siang itu bapak langsung dirujuk kerumah sakit, pihak rumah sakit juga tidak dapat menangani, sehingga bapak dioper kerumah sakit diluar kota.”

Sejak saat itu hatiku tak bisa tenang, selalu diselimuti rasa bersalah. Seandainya kemarin aku menyempatkan waktu untuk menjenguk bapak ditempat kerja, pasti semua tak akan seperti ini. Apalagi kemarin bapak sangat sibuk sekali menghubungiku. Aku jadi khawatir akan terjadi apa-apa dengan bapak, apalagi akhir ini aku dan beliau kurang akrab.

Hari semakin malam, namun pikiranku tak bisa tenang sebab aku belum juga menerima kabar mengenai kondisi bapak selanjutnya, ingin rasanya aku segera menyusul kerumah sakit. Namun itu sangat tidak mungkin, jarak antara tempat tinggalku dan rumah sakit sangat terlalu jauh apalagi sudah larut malam begini mana ada kendaraan yang melintas, sedangkan cuaca malam ini sangat gelap sekali dan suara gemuruh sedari tadi tak henti-hentinya menandakan akan turun hujan yang sangat lebat. Hatiku semakin resah terpikirkan kondisi bapak, apalagi beberapa pekan ini aku sedang dilanda banyak musibah.

***

Teringatku akan suatu masalah dengan pak Rehan, orang yang selama ini aku panggil papa. Sampai hari ini papa masih cuek tidak menegorku, senyum dibibir beliau seakan-akan hilang bagaikan ditelan masa, tidak seperti biasanya beliau bersikap seperti itu kepadaku. Biasanya beliau selalu tersenyum manis dan seakan terbebas ketika didekatku.
Setiap malam beliau memintaku untuk membuatkan secangkir kopi hangat untuk menemani kerjanya bahkan terkadang beliau bercerita mengenai masa muda beliau, beliau juga sering memintaku untuk menemani beliau ketika beliau hendak bepergian. Namun tidak untuk beberapa pekan ini, sepertinya beliau sangat marah atas segelintir kesalahan yang aku perbuat. Aku masih merasa malu dan enggan untuk menegor beliau, ingin rasanya aku menangis dipelukan beliau dan mengutarakan apa yang sedang hatiku rasakan serta meminta maaf kepada beliau atas perbuatanku kemarin.
Aku juga bosan dengan kondisiku sejak saat itu yang selalu mengurung diri didalam kamar, namun aku masih malu dan enggan untuk meminta maaf kepada beliau. Akan tetapi apabilaku tidak segera meminta maaf maka akan bertambah besar masalahnya dan akan membuat pikiranku sangat terbebani.
Kring!!! ponselku berdering, ibu kembali menelponku. Kali ini ibu benar-benar membuatku kaget,  saat ibu menelponku ibu terlihat sangat khawatir, nafasnya seakan tidak teratur.  
“Halo nak, barusan dokter memberitahu ibu mengenai penyakit yang diderita oleh bapak, dokter bilang bapak harus segara ronsen besok siang. Sebab keadaan bapak makin melemah,” tutur ibu memberitahuku. “Baik bu, Alfa besok pagi segera menuju rumah sakit,” jawabku sembari menutup telepon.  
Kejadian itu membuatku sangat terpukul,  aku
benar-benar terpuruk dan terjatuh lemas ketika mendengar informasi dari ibu, aku sangat mengkhawatirkan bapak. Aku bingung tidak bisa berfikir, bagaimana caraku memecahkan masalah ini, kepada siapa aku  harus mencari solusi dan mencurahkan perasaan hati yang sejak dalu aku sembunyikan.

Aku bergegas keluar rumah, mencari udara segar sembari menenangkan hati. Untung saja ketika aku jalan-jalan diluar aku bertemu sahabatku Alwi yang kebetulan juga sedang mencari udara diluar. Wajahku terlihat sangat murung sekali sehingga membuat Alwi bertanya.

“Fa, kamu sakit ya? Kelihatannya wajahmu sangat pucat sekali,”

“Enggak kok, aku sehat saja, hanya saja ada beberapa masalah yang sedang menghampiriku akhir ini”

Alwi saat itu membujukku untuk menceritakan masalah yang sedang melandaku, dan memberiku solusi atas masalah tersebut. Alwi menyarankanku untuk segera meminta maaf kepada papa sebab sudah lama tak saling sapa, apalagi didalam Al-Quran tidak diperbolehkan untuk saling membuang muka dan bersikap cuek sesama saudara melebihi dari tiga hari.

Usai curhat dengan Alwi, aku bergegas menuju rumah dan menemui papa untuk meminta maaf, untungnya beliau masih belum tidur.

 “Assalamualaikum,” ujarku mengetok pintu ruang kerja papa, kulihat beliau sedang santai didepan layar monitor.

“Waa’laikumsalam, masuk kak. Ada apa?” ujar papa menyambutku dengan penuh senyuman.

Melihat senyum dibibir beliau, aku menjadi bersemangat untuk mengutarakan maksud dan tujuanku.

“Pa, sebelumnya Alfa minta maaf ya, atas perbuatan yang Alfa lakukan. Alfa  tidak bermaksud untuk berlebihan terhadap papa, itu semua karena Alfa sayang dengan papa."

"Tidak apa-apa, papa maklum. Sudah papa maafkan,”

“Beneran pa?” ucapku gembira.

 “Papa masih mau-kan bersahabat dan menjadi papa kakak seperti dulu,"

 Tentu. Asalkan Alfa janji tidak menulanginya kembali,” ujar papa sembari merangkul pundakku.  Hatiku sangat senang sekali,  sebab sejak saat itu papa tidak lagi cuek denganku.

***

Setiba dirumah sakit, langsung ku rangkul sosok gagah yang kini melemah terbaring diatas ranjang tidur. Kulihat disekeliling bapak begitu banyak selang yang terpasang pada badannya.
Rabu pagi usai sarapan pagi, aku dan ibu dipanggil dokter, aku dibuat penasaran oleh sang dokter akan penyakit yang diderita bapak.

“Selamat pagi nak Alfa, setelah pak Salman kita diagnosa dan dilakukan cek laboratorium, kami menyimpulkan bahwasanya pak Salman mengalami kebocoran pada bagian usus dan lambung.  Untuk kedepan harus segera dilakukan operasi, namun besar kemungkinan untuk keselamatan pak Salman, kami tidak bisa menjamin 100%."
 Aku enggak yakin kalau bapak tidak bisa disembuhkan, dokter pasti salah cek apalagi rumah sakit itu memiliki fasilitas yang sangat memadai.
Ibu terlihat sangat khawatir, apalagi ketika ibu menelpon seluruh anggota keluarga untuk segera berkumpul dirumah sakit. Pikiranku sangat kaucau sekali, ah tidak mungkin kalau bapak akan secepat ini meninggalkan kami, bapak pasti sembuh. Dokter itu pasti salah dalam memeriksa bapak."
Menjelang maghrib, tiba-tiba bapak terkejang kesakitan, nafasnya tersengal, perutnya semula buncit tiba-tiba membesar layaknya seorang wanita yang sedang mengandung berusia tiga bulan.  Aku sangat ketakutan,  terjerit dari ruang kamar memanggil dokter. Dokterpun tiba dengan membawa sebuah tabung gas untuk segera dipasang pada hidung bapak untuk mendapatkan oksigen bantuan. Maghrib itu berlalu dengan penuh kepanikan.
Malam itu, aku,  ibu, dik Rehan,  mbak Salma,  dan mbak Putri sedang istiharat disebuah lorong sebelah ruangan dimana bapak dirawat, aku sangat terkantuk sekali sebab sudah tiga malam aku begadang menjaga bapak. Kebetulan pada malam itu mbak Intan baru sampai dari Jakarta,  jadi bisa menggantikan posisiku untuk beristiharat sejenak.  Suasana malam itu sedikit tenang hingga membuatku tertidur pulas, membuatku susah untuk dibangunkan. 

Sekitar pukul 23.00 aku tiba-tiba terbangun ketika mendengar suara halus dan lembut namun terbata-bata untuk mengeja namaku. 

"Fa,  Al, Alfa," ujar suara itu memanggilku.  Segeraku bergegas menuju tempat dimana itu berasal,  suara itu ternyata berasal dari ruang kamar dan ternyata itu bapak.

"Iya pak,  Alfa disini, disamping bapak," ujarku menghibur bapak.

Aku sangat mengerti sekali bagaimana perasaan yang sedang bapak rasakan.
Wajah pucat itu menatap keatas langit kamar,  sembari melantunkan kalimah tasbih,  tahmid,  dan tahlil.  Kutatap wajah pucat itu dengan tenang,  tiba-tiba air mataku jatuh.  Aku merasa sosok yang gagah itu seakan pergi untuk selama-lamanya dari hidupku.
Bergegasku menuju kamar mandi,  kuambil wudhu lalu kembali duduk disamping tempat tidur bapak sembari membacakan surah yasin dan menuntun bapak untuk mengucapkan kalimah istighfar dan dua kalimah syahadat.  Suara bapak semakin lama semakin mengecil tak terdengarkan, hanya saja bibir nya masih tetap bergerak melafadzkan kalimah syahadat, tubuhnya dingin dan kaku.

"Dokteeeerrrr,"

"Pak,  bapak,  bangun pak,"

Tidak mungkin, secepat ini bapak pergi meninggalkan kami semua.

"Innalillahi wainna ilaihi rojiun, bapak sudah tiada," ujar dokter kepadaku.

Bapak pergi meninggalkan kami tepat pukul 23.30, isak tangis keluarga mengiringi kepergian bapak.

Aku masih tidak percaya akan kepergian bapak, serasa baru kemarin bapak menelponku.

***

Pagi itu sangat ramai sekali, warga setempat memenuhi rumah. Karangan bunga dan bendera kuning ikut menghiasi halaman rumah. Sanak family telah berkumpul.  Isak tangis tiada henti mengenang kepergian bapak.

"Bapak benar-benar pergi ya," gumamku.

Mbak Intan dan mbak Putri, masih belum rela melepas kepergian bapak, mata mereka bengkak dan tubuhnya lemas. Bahkan ketika bapak dibawa ketempat peristiharatan terakhir, mbak Putri jatuh pingsan sebab tidak kuat melihat kejadian tersebut.  Mbak Putri begitu terpukul atas kepergian bapak sebab sejak mbak Putri mendapatkan gelar sarjana pendidikan juruan agama islam ia belum bisa membahagiakan bapak. Apalagi mbak Intan dan mbak Putri belum pada nikah.

Sekarang tak ada tempatku bersandar, berbagi cerita dan mengeluh selain kepada ibu.

“Yatim sudah diri ini ya rabb,”

Sekarang aku, dan mbak-mbakku harus saling mensupport dan saling bahu-membahu menggantikan posisi bapak untuk menapkahi ibu dan adik yang sedang duduk di bngku SMK. Sekarang harus mandiri dan lebih rajin lagi.

Selamat jalan bapak, semoga tenang di surga.

“Kami merindukan bapak,”
Share:

Saturday, March 3, 2018

Aku Anak Santri: Sebagai Wujud Cinta Kepada Sang Santri

Buku Antologi Puisi "Aku Anak Santri" Kars Publisher

         Siapa yang tak kenal santri, yang menjadi kunci utama dalam meraih kemerdekaan. Tanpa seorang santri entah akan bagaimana nasib negara kita jadinya nanti. Santri juga sangat berperan dalam hal kemerdekaan NKRI, perjuangan dan pengorbanan nya pula ikut dirasakan dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, jauh sebelum merdeka. Berdiri pada garda kedepan menyongsong bendera kemerdekaan dengan senjata bambu runcing demi mempertahankan tanah air ibu pertiwi yang telah banyak memberikan sumbangsih untuk kita semua.

         Berkat perjuangan para santri itu pula, pada tanggal 22 Oktober tepat pada tahun 2015 Presiden Indonesia, Bapak Jokowi menetapkan bahwa setiap tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional sebagai pengingat perjuangan para santri yang ikut andil dalam mempertahankan NKRI dari para penjajahan, atau yang sering kita dengar dengan sebutan "Resolusi Jihad" sebagai wujud penghormatan atas perjuangannya dalam melawan penjajahan pada masa lalu.

        Santri bertahun lamanya dibina dan digembleng dalam naungan pondok pesantren agar diajari sebuah pengetahuan yang nantinya akan dibawa dan diimplementasikan dikalangan masyarakat, bahkan akan dibawa sampai akhir hayatnya sebagai bekal menuju akhirat.

       Buku Antologi Puisi yang diterbitkan oleh "Kars Publisher" dengan judul "Aku Anak Santri" ini merupakan sebuah karya para penyair muda dan pemula sebagai wujud rasa cinta dan kasih sayang nya kepada sang santri yang telah ikut menjaga keutuhan NKRI.
       Buku ini merupakan hasil event lomba cipta puisi tingkat nasional dengan tema "Hari Santri" yang diselenggarakan oleh "Kars Publisher" dan diikuti oleh ratusan penyair baik muda ataupun pemula se-NUsantara Oktober-November 2017 yang diselenggarakan di Kota Tuban. dan dari sekian ratus karya dari para penyair itu terpilihlah seratus karya terbaik yang turut dibukukan.

Spesifikasi Buku :
Judul            : Antologi Puisi "Aku Anak Santri"
Penulis         : Dewi Agustin, M.Rizal Fahmi, dkk
Tata Letak    : Dhahrul Mustaqim
Cover           : Dhahrul Mustaqim
Tebal Buku  : 131 Halaman, 14x20 cm
ISBN            : 978-602-50269-9-7
Cetakan 1     : Desember 2017

Penerbit
Kars Publisher
Desa Pucangan
Kecamatan Palang
Kabupaten Tuban-62391
Telp: 081553060157
Blog : karspublish.blogspot.com
Email : karspublisher77@gmail.com
Fans Page : C.V. Kars Publisher

Informasi dan Pemesanan Buku :
Email              : karspublisher77@gmail.com
Facebook        : Kars Publisher
Whatsapp       : 081553060157
Blog               : karspublish.blogspot.com
Share:

Friday, March 2, 2018

Terbelunggu Media: Syair Indah Bagi Pengguna Media Sosial

Sebuah catatan kecil, sebagai kado terindah untuk tim sekaligus panitia lomba cipta puisi tingkat nasional dengan tema "Media Sosial" bersama Kars Publisher. Yang diselenggarakan di Kota Tuban.


  
      Buku Antologi Puisi "Terbelunggu Media" ini merupakan hasil event lomba, yang memuat seratus sajak-sajak dalam syair yang indah dari seratus penulis se-NUsantara.
    Sebagaimana yang telah kita ketahui, media sosial merupakan alat pembantu dimasa depan, sebagai perkembangan diera teknologi digital di jaman yang semakin canggih dan maju ini.

    Media sosial telah banyak membantu orang-orang, Baik dalam komunikasi dan juga dalam menjalani hubungan antar sesama baik didalam keluarga, sahabat, teman, kenalan, dan kerabat kerja.
    Dengan adanya media semua menjadi mudah, kita bisa saling terhubung dengan keluarga dan lain-lain, bisa juga bisa menjelajahi dunia dengan mudah, serta membantu kita untuk menemukan sesuatu yang masih awam.

    Namun, tidak semua media bisa membantu kita dalam berkehidupan. Kadangkala ada saat dimana manusia terbelunggu akan media sosial. Sebab media sosial juga bisa membunuh kita hanya karena kita salah ucap saat berkata-kata. Maka kita diharuskan untuk terus berhati-hati dalam bermedia sosial. Jangan semua kita publikasikan, akan ada saatnya itu kita jadikan privasi.

   Oleh sebab itu, buku ini diterbitkan untuk menceritakan segala keluh kesah akibat adanya media sosial dan juga sekaligus menjadi cerminan bagi kita semua.
   Sebagaimana kita ketahui, dalam tahap belajar tentunya masih banyak yang kurang, baik dalam penulisan, penataan, serta dalam menerapkan kata-kata. 
Oleh sebab itu kritik dan saran sangat kami butuhkan untuk lebih baik ke masa depan yang lebih gemilang.


Keterangan buku;
Judul Buku : Antologi Puisi "Terbelunggu Media"
Penulis : Rohmad Yasin, Suliyah, dkk
Penyunting : Dhahrul Mustaqim
Tata Letak : Dhahrul Mustaqim
Desain Saampul : Dhahrul Mustaqim

Penerbit : Kars Publisher
Tebal Halaman 136 Halaman, 14x20 cm
ISBN : 978-602-50269-4-2
Cetakan 1, Oktober 2017

Informasi dan pemesanan buku;
Email : karspublisher77@gmail.com
Facebook : Kars Publisher
Whatsapp : 0815-5306-0157
Blogger : Karspublish.blogspot.com
Share:

Friday, February 16, 2018

Maafkan Aku, Mengecewakanmu!


Untuk : Inspirasi dan Motivasiku; Bapak!



Maafkan aku mengecewakanmu hari ini pak, maaf kemarin aku telah berbohong mengenai keikutsertaanku dalam kompetisi itu. Aku bilang bahwa aku telah mengikuti kompetisi itu, sebenarnya aku ingin jujur terhadap bapak tapi aku rasa belum saat yang tepat membicarakan hal itu kemarin, jadi aku putar balikkan fakta yang  sejujurnya, semua itu karena aku tak ingin mengecewakanmu, sebab aku teranjur sayang pada bapak dan keluarga.  Apalagi bapak sudah seperti orang tua, aku takut jika harus  kelihangan bapak.

Bukan maksud hati mengecewakan, apalagi tak menghargai seluruh pengorbanan bapak kepadaku selama ini. Aku sangat berterima kasih kepada bapak dan juga tuhan yang maha esa, sejak kita dekat bapak sudah banyak membantuku. Jujur pak awal jumpa kita memang tak saling kenal, hingga sampai hari ini kita diberikan keakraban dan saling mengenal satu sama lain. Mungkin ini adalah takdir dan jalan tuhan mempertemukan kita atau mungkin itu hanya sebuah perasaanku saja, entahlah aku juga tak tahu, tapi ini benar adanya.

Tapi aku benar-benar minta maaf, telah mengecewakan bapak. Mungkin bapak kecewa terhadap sikap dan caraku kemarin. Tapi, aku juga bingung dengan posisi dan kondisi saat ini. Bapak tahu sendiri posisiku dimana. Kemarin aku memang sudah mempersiapkan semua untuk kompetisi itu sampai-sampai aku belajar banyak mengenai kompetisi itu, bagaikan pelajar yang akan mengahadapi ujian akhir sekolah. Namun sayang ada sesuatu yang menjadi penghalang dan hambatan hingga harus kuikhlaskan semua yang akan aku dapatkan hilang begitu saja.
Pak, sebenarnya aku lelah dengan posisiku saat ini, aku ingin bebas dan mengahiri semua, tapi aku tak ingin kehilangan bapak dan keluarga sebab aku sayang semuanya, apalagi bapak dan keluarga adalah inspirasi dan motivasiku.
Aku hanya punya seorang bapak yang begitu peduli terhadap diriku, dan begitu berpengaruh dalam hidupku; tak lain sosok itu adalah bapak seorang.

Terima kasih, atas semua kasih sayang dan baik nya bapak.
Semoga Allah, Tuhan Yang Maha Esa membalas semua kebaikan bapak.
Sehat terus dan terus menginspirasi serta motivasi diri.
Tetap menjadi sahabat dan orang tua yang baik.



Way Kanan, 16 Februari 2018
Share:

Wednesday, January 3, 2018

Puisi Awal Tahun

Selamat Datang



Oleh : Disisi Saidi Fatah

Tahun lalu sudah usai
Kini tahun baru telah dimulai
Masa lalu telah terjadi
Masa kini sedang dilalui
Masa depan sudah menanti

Selamat tinggal luka
Selamat datang cinta
Selamat jalan kisah lama
Selamat menempuh lembaran baru

Simpan demdam dan semua luka
Buka persahabatan dan perdamaian
Ikatlah kesabaran dan ketekunan
Lebih giat menuju kesuksesan 
Demi masa depan yang gemilang


Bandar Jaya, 3 Januari 2018
Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive