Monday, April 6, 2020
Masihkah Cinta di Wayka | Sajak-Sajak di Awal April
Sunday, April 5, 2020
Sinopsis Bintang Untuk Noah
“BINTANG UNTUK
NOAH”
Senja Jingga
Purnama
@pecandusastra96
Sinopsis :
Noah,
merupakan seorang siswa baru di Yayasan Permata, ia adalah putra kedua dari Bu
Aisyah. Satu-satunya pengharapan dari sang Bunda dan keluarga, bagi sang bunda
ia adalah permata. Noah anak yang cukup aktif dan cerdas, akan tetapi sebab
faktor lingkungan dan pergaulan yang membuat ia berubah menjadi sedikit nakal,
suka bolos sekolah. Namun ia tidak pernah melawan sang bunda.
Noah, anak
yatim yang di tinggal pergi sang ayah sejak ia menduduki bangku taman
kanak-kanak. Hingga tiga tahun setelahnya, sang Bunda berjumpa dan memutuskan
untuk menikah dengan Pak Prabu. Pak Prabu sangat sayang dengan Noah, ia
berusaha menyayangi Noah sebagaimana anaknya sendiri.
Usai, menduduki
bangku sekoah dasar. Bunda Aisyah dan Ayah Prabu memutuskan untuk mengirim Noah
ke salah satu yayasan, menimba disekolah yang berlatar belakang agama. Selain
ingin merubah Noah untuk menjadi lebih baik, mereka juga ingin agar Noah memahami
agama dengan baik.
Satu
bulan tinggal di yayasan, Noah merasa semua serba asing. Dunianya begitu cepat
berubah. Ia sering menyepi bahkan terkadang menangis, ia ingin pulang dan
kembali dengan keluarga. Namun sayang semua hal itu tidak akan pernah mampu
terjadi olehnya. Hingga suatu malam ia dipertemukan dengan seorang staff di
madrasah nya dan menjadikannya akrab serta membantunya merubah sikap dan
kepribadian yang lebih baik.
Tokoh :
1. Noah
2. Bunda
Aisyah
3. Ayah
Prabu
4. Purnama
(Staff Madrasah Permata)
5. Rayyan
(Sahabat Purnama)
6. Adin
(Sahabat Purnama)
7. Ega
(Ketua kamar D)
8. Ridwan
(Adek angkat Purnama yg jahat)
9. Wawan,
Aly, Maulana (Teman akrab se-geng Noah)
10. Ust.
Habiburrahman (Pimpinan Yayasan)
11. Pak
Ibrahim (Kepala Madrasah)
12. Aby
Ilham (Paman Noah)
13. Om
Hasan (Om Noah)
14. Mutiara
(Teman Perempuan Purnama)
15. Intan
(Kerabat Purnama)
Latar Tempat :
1. Rumah
Noah
2. Yayasan
Permata
Wednesday, April 1, 2020
Mengenal Sosok KH Abdul Wahab Chasbullah
Saturday, March 28, 2020
Mahluk itu Bernama Corona
![]() |
| Senja Jingga Purnama.Ist.Dokumen Pribadi.2017 |
Teruslah Bergerak | Puisi di Bulan Maret
Tuesday, February 4, 2020
Disudut Ruang Kecil Persegi
Thursday, January 16, 2020
Catatan yang Catat di Awal Tahun
![]() |
| Catatan. Pngtree. ist |
Dua hari sudah usai perhelatan demokrasi. Demokrasi sebagai catatan yang menggoreskan banyak kisah, menyisakan luka-luka yang mendalam. Bagaimana tidak, pada awal tahun 2020 ini begitu banyak hiruk-pikuk yang masih sampai kini belum mampu terlupakan, masih berat bahkan sampai kini sama sekali tak ada kepercayaan bahwa waktu itu yang akan terjadi.
Agustus 2018 lalu, dimana diri ini mulai berteduh di bawah payung hijau bulat. Dari relung hati terbesit niat untuk mengopeni (mengurusi) dapur hijau bundar, tak lain hanya ingin mempererat silaturahmi dalam ikatan di bawah hijau nya NUsantara. Tak banyak harapan untuk mendapatkan materi, maupun sesuap nasi, apalagi jabatan impian. Semua semata karena C I N T A.
Lika-liku, benturan-benturan baik internal maupun eksternal mencoba merubuhkan dinding yang berdiri kokoh pada sisi-sisi dapur itu, bahkan kerikil-kerikil tajam ikut menghantam. Namun sama sekali tidak mampu meruntuhkan kekuatannya.
Sampai batas kata ini, masih tidak percaya akan waktu kini. Mengapa harus berjumpa dengan konferensi, mengapa harus ada demokrasi di dalam rumah bersama. Bukankah kita sudah cukup menjadi keluarga yang bahagia, meskipun keluarga sederhana yang mengharuskan banyak pengorbanan dari waktu, materi, dan pikiran? Mengapa semua rusak.
Akhir kata ini, air mata tak mampu terbendung mengingat kembali tragedi yang memecah malam kelabu yang sunyi. Sahabat, teman, orang-orang kepercayaan. Makan, minum, nongkrong, bahkan (merokok) kita bersama. Sampai kini masih tersisa goresan-goresan luka yang belum mampu terjamah penawar, meski hati memaafkan. Sama halnya sebagaimana paku yang tertancap ke dinding lalu kita cabut kembali paku itu, ia meninggalkan bekas. Bahkan kita tambal sekalipun ia tetap tak lagi sempurna, masih tersisa benjolan-benjolan.
Entahlah tak ada lagi kata yang mampu terucap, hanya satu yang masih teringat 'penghianatan'.
Its Oke I'm fine. 😍💚.















.jpeg)