Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Search Bar

Tuesday, June 16, 2026

Di Bawah Langit yang Menyaksikan Perpisahan Terakhir

Di ufuk Bogor yang menyimpan jejak kaki kita,
Dulu, debu jalanan adalah saksi bisu pengabdian,
Antara desa-desa yang hening dan suara dakwah yang membelah sunyi.
Aku adalah debu yang menempel di jubahmu,
Menyertaimu dalam lelah yang berkah,
Dalam dakwah yang kita rajut di antara sela waktu.
Share:

Friday, June 12, 2026

Ranum di Kebun Firdaus

 

Ilustrasi dibuat oleh AI(Gmn). Ist


Oleh: Disisi Saidi Fatah 

Share:

Thursday, June 11, 2026

Sepotong Rindu di Jalur Cariu: Perjalanan Perdana Tanpa Sang Murobbi

Hamparan persawahan yang al faqir abadikan saat melintasi jalanan di Cariu bersama Murobbi pada pagi terakhir saat mengawal beliau berdakwah. (15 Feb 2026/Dokpri/Disisi).


Malam Ahad lalu, aspal jalanan menuju Cariu sebenarnya terasa sama seperti biasanya. Masih dengan kelokan yang sama, dingin yang sama, dan jalur yang sudah teramat akrab di ingatan. Namun, malam itu ada sesuatu yang mengganjal di dada. Ada ruang kosong di hati yang membuat perjalanan kali ini terasa benar-benar berbeda.

Share:

Wednesday, June 10, 2026

Semangkuk Sekoteng dan Akar yang Patah

 

Ilustrasi oleh AI/Gemini


Oleh: Disisi Saidi Fatah 

Share:

Thursday, June 4, 2026

Membuka Lembar Siyarus Salikin Tanpa Tatapan Sang Murobbi

Catatan Majelis bareng Abah Allahyarham Adda'i Illallah Ustadz Mahfudzin bin H Alif Yunus, Desember 2022 lalu. (Didesain oleh AI)



*Memoar Ta'lim Malam Kamis: Menjemput Berkah Kitab Siyarus Salikin Tanpa Kehadiran Abah


     Semalam adalah malam Kamis awal bulan. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya pergantian hari biasa. Namun bagiku dan almarhum Abah, malam itu adalah waktu yang sakral - saatnya kami membelah jalanan untuk menjemput tetesan embun ruhani. Saya melangkah keluar dari kamar kost, menatap lurus ke arah rumah Abah yang jaraknya hanya pelemparan batu, sekitar sepuluh meter di depan mata.

Share:

Thursday, May 28, 2026

Di Balik Gema Takbir Bogor: Idul Adhaku yang Paling Runtuh, Paling Sepi

Suasana shalat idul adha di Cicadas, Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Rabu, 27 Mei 2026. (Dokpri/Disisi)



Bagi seorang anak rantau, hari raya selalu punya dua sisi. Di satu sisi ada rindu yang membuncah pada kampung halaman, di sisi lain ada ketangguhan yang dipaksa tegak di tanah orang. Sejak SMA, aku sudah terbiasa jauh dari orang tua. Angin malam perantauan bukan hal baru bagiku. Namun, tahun ini berbeda. Ini adalah tempat pertamaku beneran merantau jauh, menyeberangi pulau, mengadu nasib di tanah Jawa.

Share:

Saturday, May 16, 2026

Berdamai dengan Rindu: Menemukan Diri di Film "Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?"

Poster Film "Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?" di XXI Plasa Cibubur. Dokpri/Disisi


Malam itu, saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang agak "nekat": menonton film di jam penayangan terakhir, tepatnya pukul 21.00 WIB. Pilihan saya jatuh pada film yang sedang hangat dibicarakan, judulnya cukup menyentil batin: “Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?”.

Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive