Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Saturday, April 11, 2020

Optimis Pada Mimpi | Puisi-Puisi Disisi

Dokumen di Candi Prambanan Yogyakarta@2017



Optimis Pada Mimpi


Allah menciptakan mahluk-nya dengan sempurna
Tak ada mahluk ciptaan-nya yang salah tercipta
Begitu pula dengan cobaan yang ia berikan
Semua tak melebihi batas kemampuan seorang hamba

Jangan kaget, ketika kita diberikan cobaan oleh-nya
Inilah kehidupan penuh cobaan dan rintangan
Janganlah berlarut dalam kesedihan dan keterpurukan
Kehidupan diluar sana menantikan kebangkitan kita
Teruslah berbuat kebaikan dan bergerak
Sebab Allah tak suka hamba yang banyak mengeluh dan mengeluh saja

Tetap optimis pada mimpi-mimpi dan kerja keras kita
Jangan pernah pesimis selagi baik dihadapan-nya
Ingat, setiap cobaan yang diberikan olehnya
Ada hikmah dan pelajaran untuk semua
Yakinlah sinar surya akan kau dapatkan pada waktunya


                Nusantara, 18 Februari 2018



Hidup Bukan Pada Sugesti Negatif


Jika hidup adalah proses menuju kebaikan
Sudah wajar apabila banyak godaan dan rintangan
Sebab proses tak selamanya indah kawan

Proses itu panjang
Proses itulah yang akan menentukan kita kedepan
Seberapa besar kesabaran kita
Dan seberapa tulus kita berada dijalan itu sendiri

Orang sekitar kita, tak semuanya baik
Tidak juga semuanya mendukung
Terhadap apa yang kita jalani
Oleh sebab itu, kesabaran dan keimanan sangat diperlukan

Teruslah melangkah, mengikuti alur proses kebaikan
Tak usah hiraukan sugesti-sugesti negatif dari mereka
Yang tak pernah suka dan tak rela melihat giat kita
Biarkan sugesti negatif mereka makan dengan sendirinya


            Nusantara, 13 Februari 2018



Teruslah Melangkah


Wahai sang pencerah
Teruslah melangkah
Jangan pernah menyerah
Dan pabila kau lelah, istiharatlah

Janganlah putus asa,
Terhadap yang telah tuhanmu berikan
Syukuri dengan hati tulus setiap detak napas
Teruslah melangkah
Gapailah asa yang telah lama kau impikan

Sebab, hanya kaki yang akan berjalan lebih banyak dari biasanya
Tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasa nya
Mata yang akan menatap lebih lama
Leher yang akan lebih sering melihat ke atas
Lapisan tekat yang ribuan kali lebih kuat dari baja
Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasa nya
Serta mulut yang tak henti berdoa
Berharap, kejaiban dari nya
Sang kholik kita semua



                Way Kanan, 07 Februari 2018


Share:

Bait-Bait Puisi

Gambar hanya sebagi pemanis belaka. Senja Jingga Purnama. Dok Pribadi. 2018. Ist

Oleh : Disisi Saidi Fatah | Senja Jingga Purnama
Instagram : @pecandusastra96


Menjadikanmu aktor utama dalam setiap bait puisi
Adalah kebiasaan yang sedangku alami
Berlama-lama bermain dengan kata, rima dan nada yang mengajakku menari-nari dengan bayang semu
Melukiskan indah senyum pada bibir mungilmu
Senyuman yang kerap kali menjadi kobar semangat bagiku
Binar bening tatap matamu, menjadikanku untuk selalu menetap dan berpaling pada yang lain
Teduh wajahmu adalah sebagian bahagia yang kupunya

Luka dalam setiap baitku
Adalah luka yang tak mampu ku bagi denganmu
Luka sebab rindu untuk bersua, yang terpisahkan oleh waktunya kita
Luka untuk saling bertatap muka, yang terpisahkan jarak antar kita

Setiap bait bait tertulis
Aku berusaha untuk tidak menghakimimu
Sebab aku tahu, setiap kata terucap adalah doa
Yang akan menjadi nyata pada masanya



                        Bumi Ramik Ragom, 05 Nov 2019
Share:

Usai Pada Kata Pisah

“Usai Pada Kata Pisah”



By : Senja Jingga Purnama (@pecandusastra96)
Share:

Thursday, April 9, 2020

Klaim Kuota Gratis Cuma-Cuma, Benarkah?

Contoh tampilan hoax kuota gratis 


Menyikapi anjuran pemerintah, sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 atau yang lebih dikenal dengan sebutan virus corona, untuk mengisolasi diri dirumah alias dirumah aja.  Pemerintah saat ini tengah menggalakan agar masyarakat indonesia tidak melalukan aktivitas diluar ruangan jika tidak dalam keadaan mendesak. Kecuali bagi mereka yang memang benar harus berkegiatan diluar rumah untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Namun bagi mereka yang dapat bekerja di dalam ruangan, untuk sementara waktu agar tetap dirumah melakukan aktivitas seperti biasanya.

Tidak hanya itu, kegiatan belajar mengajar-pun dihentikan sementara waktu. Ada beberapa sekolah maupun instansi juga perguruan tinggi yang masih melalukan proses KBM itu, yakni melalui sistem daring alias online dengan jaringan internet. Hal ini menjadi dua berita; baik dan buruk. Kabar baiknya, para pedagang pulsa/kuota internet alias yang punya konter bakalan di banjir pelanggan, percaya atau tidak hal itu pasti akan terjadi. Dan kabar buruknya, baik orang tua, siswa/pelajar, maupun mahasiswa mau enggak mau harus merogoh kocek alias mengeluarkan uang pastinya untuk beli kuota agar kegiatan belajar mengajar sistem daring berjalan dengan baik dan lancar. 
Hal demikian banyak di manfaatkan oleh oknum. Banyak sekali situs-situs yang menyatakan akan memberikan kuota internet secara gratis, dari skala kecil bahkan hingga yang wah (skala sangat besar), bisa mencapai ratusan Gigabyte (GB). Dengan cara login ke situs yang diberikan, lalu mengikuti instruksi yang muncul pada layar telepon. Setelah itu, pengunjung akan di arahkan ke sebuah plat prom untuk share atau membagikan konten ke teman-temannya. Yang paling banyak ialah melalui pesan singkat; WhatsApp. Gampang kan? 

Siapa sih yang mau menolak kuota gratis, apalagi sebanyak itu? Apalagi di tengah wabah virus Corona seperti ini. Bagi orang yang sudah paham, dan memiliki pengetahuan serta pengalaman yang baik, mereka akan teliti terlebih dahulu. Yang menjadi masalahnya ialah anak-anak muda serta mereka yang masih awam dan baru-baru mengenal teknologi.
Tahukah kamu, jika hal-hal semacam itu termasuk dalam berita bohong alias hoax? Mengapa demikian? Sebab dari cara mengklaim kuota saja diwajibkan untuk merepost alias ikut serta menyebarluaskan konten tersebut. Setelah kita membagikan konten, kuota internet tidak kita dapatkan bukan! 

Berbahaya enggak sih?

Bagi saya pribadi, cukup berbahaya. Sebab dengan kita ikut akses ke website tersebut,  maka secara otomatis data kita masuk kedalam database mereka. Bisa saja data-data itu mereka guna secara tidak bertanggung jawab. Dan yang lebih berbahaya lagi, jika website tersebut memiliki virus. Hal ini sangat berbahaya bagi telepon milik kita, virus ini bisa merusak segala elemen telepon, juga bisa mengakses segala bentuk informasi yang masuk dalam telepon kita.

Sangat berbahaya kan? 
Nah maka dari itu, mulai sekarang stop membagikan konten-konten hoax alias berita bohong. Selain tidak ada manfaat, juga sangat berbahaya. Jaman sekarang tidak ada yang gartisan secara cuma-cuma, apalagi kuota internet yang mencapai ratusan gigabyte. Mimpi kali. 
Kalau mau kuota ya beli, minta orang tua, kerja cari duit atau numpang Wi-Fi tetangga atau teman yang baik. Jangan lagi ya ikut menyebarkan hoax.
Share:

Tuesday, April 7, 2020

Hikmah | Bersedekah Dengan Cara Bersedekah


Yuk simak videonya. Insya Allah ada hikmah yang dapat kita petik.


Pembeli ke-1 membeli 8 roti, tetapi mengambil hanya 4 saja, sementara 4 lainnya diamanahkan kepada penjual untuk disedekahkan kepada yang memerlukan.


Penjual menjaga amanah tersebut, memisahkan antara hak pribadi dengan hak orang lain. 


Si miskin datang memohon dengan sopan barangkali ada bagian rizkinya disini.


Penjual memberi 4 roti tadi. Tetapi, si miskin mengembalikan 2 roti agar tidak mengambil hak fakir-miskin yang lain kerana dia hanya mengambil sekadar keperluannya saja. Dia mungkin miskin harta, tetapi kaya budi-pekerti, orang tuanya dahulu mendidiknya dengan benar. 


Perhatikan betapa santunnya pelayanan si pria penjual dengan wanita miskin itu.


Demikian pula, Pembeli ke-2 membeli 4 roti tetapi hanya mengambil 2 roti saja. 2 roti lainnya diniatkan sedekah untuk fakir atau miskin atau yang memerlukan. Dia tidak sekaya pembeli pertama yang mampu membeli banyak, tapi sedekahnya sama separuh.


Kebaikan hati itu sifat rohaniah, bukan pada banyaknya harta-benda yg disedekahkan.

Nabi S.A.W bersabda:
"Tidak sempurna iman seseorang yang berada dalam kekenyangan sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar".

Pelajaran Indah:
Si kaya tidak pelit, si miskin tidak tamak, si penjual tidak khianat.

Ya Allah, bimbnglah kami agar bisa berbagi kepada yg membutuhkan...
Share:

Zakat, Covid-19, dan Teriakan Kaum Papa

LazisNU Jateng. Ist



Oleh : Miftahus Surur, M.Si
Wakil Ketua PW LazizNU Provinsi Lampung

Sumber : WhatsApp Grub



Kurang lebih empat bulan Covid-19 melanda negeri ini. Dampaknya pun kian terasa; perekonomian mulai surut, pelayanan publik tampak carut-marut, dan berbagai kegiatan sosial pun terlihat kalang-kabut. 

Masyarakat kota yang mulai kehilangan asupan penghasilan pun mulai terlihat pulang ke desa. Sementara masyarakat desa pun mulai limbung karena tidak mudah menjual hasil panen mereka. Kini, bukan hanya Indonesia, dunia pun ramai-ramai berkeluh kesah.

Dari sekian banyak pihak yang berteriak, terdapat satu golongan yang sangat merasakan dampak dari deraan Covid-19 ini, yaitu mereka yang berada pada garis kemiskinan atau dibawah itu. Jika biasanya mereka harus bekerja untuk mencari penghidupan, kini untuk sekedar bekerja pun sulit dikarenakan lapangan kerjanya semakin menyusut. 

Di kota-kota besar, para buruh atau pekerja serabutan lain yang berpenghasilan pas-pasan mulai merasakan kecemasan akibat potensi hilangnya _income_. Lalu di pedesaan, tidak sedikit para petani gurem yang bingung menyiasati penjualan hasil panen ketika para pembelinyapun tidak dapat diprediksi. 

Belum lagi ditambah dengan adanya kenyataan bahwa para tengkulak yang enggan mengambil barang dagangan karena khawatir dan takut terserang Covid-19 jika harus keluar rumah.

Di tengah-tengah situasi serba galau seperti ini mulai muncul seruan-seruan di berbagai media agar kita dapat saling bantu membantu meringankan beban saudara se tanah air. Dimana-mana berhembus optimisme, semangat, dan harmoni. Bencana atau wabah yang melanda ini tak perlu pula digugat, juga tak perlu ada kemarahan. Tokh kita semua sadar bahwa keadaan seperti ini tak dapat ditolak. 

Yang paling penting untuk saat ini adalah membangun kebersamaan – sampai titik darah penghabisan – untuk saling peluk dan memberikan apa yang kita miliki untuk meringankan beban sesama.

Dalam konteks ini, Islam memiliki perangkat yang sangat ampuh, yaitu zakat. Salah satu pilar Islam ini tampaknya harus diposisikan pada ranah itu, yaitu ranah pembantuan dan kebersamaan. 

Petuah bahwa “didalam harta kita terdapat hak orang lain” tak tepat lagi di pajang di buku-buku khutbah, melainkan harus dimunculkan dalam laku keseharian. Zakat dan juga infaq serta shadaqah sudah pada gilirannya mengambil peran membebaskan yang lemah dan mengangkat yang sedang lunglai. 

Ragam kajian dan hasil penelitian tentang zakat di Indonesia selalu memaparkan sisi yang menggembirakan bahwa potensi zakat kita mampu menembus angka 200 trilyun per tahun. Ah, tampaknya terlalu indah gambaran itu. Tak usahlah terlalu jauh. Cukup kita galang keyakinan bahwa harta yang kita miliki tidak akan membawa berkah jika ditumpuk, dimakan dan dinikmati sendiri. 

Seperti orang yang sedang bersantap, kebersamaan di meja makan akan selalu lebih indah dan memuaskan tinimbang menyuapkan nasi ke mulut sendiri tanpa ada yang menemani.

Itulah hakikat zakat. Rukun Islam yang satu ini tampak dengan sengaja diluncurkan oleh Allah swt untuk menjadi katup penyelamat bagi masyarakat sekaligus mengikis sikap “pleonoxia”, yaitu suatu penyakit kejiwaan yang membuat seseorang selalu ingin lebih dan lebih lagi. 

Kita harus menjatuhkan diri pada posisi sebagai ‘kaum papa, kaum tak berpunya’, sehingga dengan itu kita tidak lagi memantik rasa sayang yang berlebihan terhadap benda-benda duniawi yang kita miliki.

Ayo tunaikan zakatmu kawan! Jangan biarkan harta yang kita tumpuk akan menggerogoti dan melenyapkan rahmat Allah swt. Bukankah kita semua mengerti bahwa yang terpenting dari adanya harta bukan pada banyaknya, melainkan pada keberkahannya? 

Dan ingatkah kita bahwa ibadah pribadi (individual) seberapapun hebatnya tidak akan membuat Allah swt tercengang? Justru sebaliknya, Allah swt akan melimpahkan kasih-sayang-Nya sejauh kita juga menghamparkan kasih sayang kita untuk sesama. 

Sesaat lagi memasuki bulan Ramadhan, kawan. Jangan biarkan saudara kita, kawan kita, atau tetangga kita larut dalam kesedihan, ratap, dan hanya mampu menatap jajanan serta lauk-pauk yang dipajang di pinggir pasar, sementara kita begitu asyik menumpuk ragam menu makanan di atas meja sebagai santapan sahur dan berbuka. Jadikan zakatmu sebagai kebahagiaan dan senyum saudaramu!!


Share:

Jika Sudah Tiba Saatnya | Hikmah Mutiara

TransIndonesia. Ist



Oleh : Insan Tuhan
From : WhatsApp Groub
Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive