Thursday, January 23, 2025
Wednesday, January 22, 2025
Layang-Layang dan Terima Kasih Waktu
![]() |
| Sumber foto: pxhere |
Layang-Layang
Minggu pagi aku ikut Ayah pergi ke pasar
Di sana aku dibelikan sebuah layang-layang
Sore harinya kami pergi ke tanah lapangan
Menerbangkan layang-layang
Ayah bilang,
Untuk terbang, layang-layang butuh tali yang panjang
Butuh angin menemaninya melayang di udara
Butuh orang untuk memegangnya agar bisa diterbangkan
Dan harus dikendalikan agar terbangnya teratur
Baca juga: Titip Rindu
Seperti kita,
Untuk mencapai sesuatu, butuh waktu dan proses yang panjang
Butuh doa, dorongan, dan ridho dari orang tua
Harus berpegang teguh kepada Tuhan Yang Maha Esa
Dan harus bisa mengendalikan diri agar tidak jatuh ke jalan yang salah
Lampung 2024
Terima Kasih Waktu
Terima kasih waktu
Telah hadir dalam hidupku
dan menjadi bagian cerita dalam keluargaku
Baca juga: Anak Itu Arfan Namanya!
Aku senang,
Besar dan tumbuh bersama ayah dan bunda
Di kelilingi cinta juga kasih sayang
dan tak pernah merasa kurang
Saban hari
Pelukan kehangatan selalu diberikan
Selalu terjaga oleh keamanan kasih dan sayang
Aku sangat bersyukur
Ayah bunda selalu ada
Setiap aku membutuhkan dekapan dan pelukan
Ayah bunda selalu ada
Lampung, 2024
***Puisi anak, dibuat khusus untuk dedikasi kepada seseorang. Semoga bermanfaat. Terima kasih telah mampir. Silakan dibagikan, halal.
Baca juga: Di Penghujung Mei
Tuesday, August 13, 2024
Titip Rindu
![]() |
| Foto Senja. Ist |
Kenang
Jika mengingat perjumpaan kita
rasanya lucu, apalagi setelah tahu jalur kita yang berbeda
Aku yang merasa salah ucap pada temu pertama, - sedikit menjaga, khawatir jika semakin berlebihan
Tapi, seiring berjalannya waktu
ditambah jeda waktu kerja yang tak lagi ada, membuat kita semakin dekat dan akrab
Dan, di sana aku menemukan frekuensi yang sama antara kita
Rasa itu tumbuh seiring kita sering berjalan bersama
Hingga jeda menyapa dan memisahkan kita dengan jarak dan waktu yang entah kapan kembali menyatukan
Lampung, 31072024
Baca: Anak itu Arfan Namanya!
Titip Rindu
Angin
Ku titipkan rindu ini padanya
Bisikkan kepadanya bahwa aku masih menyimpan kenangan
Sampaikan, jika harapan dan doa masih senantiasa aku lantunkan dalam tiap saat tangan menengadah pada-Nya
Lampung, 31072024
Baca: Di Penghujung Mei
Monday, July 29, 2024
Anak itu Arfan Namanya!
Menjelang maghrib ia sudah berada di masjid
Berpakaian lengkap dengan peci hitam di kepalanya
Senyumnya merekah, manis dipandang
Arfan, itulah namanya saat kutanya
Sekolah di taman kanak-kanak
Usianya lima tahun
Wajahnya periang, kalau ngomong lancar dan jelas
Baca: Kisah Burung Pipit yang Bertasbih Setiap Hari, Lalu Terdiam
Waktu kutanya ia, mengapa rajin pergi ke masjid
Arfan bilang, supaya Allah sayang
Agar apa yang kita minta sama Allah, lekas diberikan
"Begitu kata Bunda," ujar Arfan
Allah yang sudah memberikan kedua tangan, mata, telinga, dan anggota badan semua
Allah juga yang sudah kasih Ayah dan Bunda rezeki
Jadi, kita harus rajin ibadah
Demikian tutur anak kecil itu
Bogor, 2023
Baca: Di Penghujung Mei
Saturday, July 13, 2024
Kisah Burung Pipit yang Bertasbih Setiap Hari, Namun Kecewa dan Terdiam
Thursday, July 4, 2024
Di Penghujung Mei
![]() |
| Foto Wallpaper Better |
Di penghujung Mei merupakan rangkaian puisi-puisi Pecandu Sastra atau Disisi Saidi Fatah. Masih sama pada puisi sebelumnya, membahas perihal duka, luka, dan air mata
Bait-Bait Puisi
Menjadikanmu aktor utama dalam setiap bait puisi
Adalah kebiasaan yang sedang ku alami
Berlama-lama bermain dengan kata, rima, dan nada, mengajakku menari dengan bayang semu
Melukiskan indah senyum pada bibir mungil mu
Senyum yang kerap menjadi kobar semangat bagiku
Binar bening tatap matamu
Menjadikanku untuk selalu menetap dan berpaling dari yang lain
Teduh wajahmu adalah bagian bahagia yang ku punya
Luka dalam setiap baitku
Adalah luka yang tak mampu ku bagi denganmu
Luka sebab rindu untuk bersua, yang terpisahkan oleh waktunya kita
Luka untuk saling bertatap, yang terpisahkan oleh jarak
Setiap bait tertulis
Aku berusaha untuk tidak menghakimi mu
Sebab aku tahu, setiap kata terucap adalah doa
Yang akan menjadi nyata pada masanya
Bumi Ramik Ragom, 2019
Di Penghujung Mei
Di penghujung Mei, di kala senja sore itu
Bergegas menepis genangan air, yang mengguyur setiap langkah
Dingin cuaca senja itu tak aku hiraukan,
Demi berjumpa kau seorang
Aku tak ingin menyiakan kesempatan
Menebus rindu, menembus waktu bersamamu
Tak sabar menikmati panorama indah pada bibirmu
Tak pedulikan apa yang terjadi pada diriku
Berjumpa denganmu. Hal itu yang slalu di benakku
Rinduku harus segera berakhir di penghujung Mei ini
Aku ingin kembali tersenyum, bahagia menyambut Juni nanti
Aku ingin kisah yang terukir pada Juni tak lagi ada duka maupun luka
Jikalau pun nanti ada,
aku harap tak sedikit pun namamu tercatat
Aku rindu senyum merekah pada bibirmu
Yang kau lontarkan dengan tulus padaku, sebagaimana tempo lalu
Blambangan Umpu, 2019
Dua Pasang Bingkai Kaca
dua pasang bingkai berkaca, terhiasi dua pasang poto terpajang pada diding sisi pintu kamar
satu hitam bergaris putih. satu putih berpola kuning emas
keduanya sama berharga. sama-sama dicintai
masih banyak harapan dan impian yang belum terlaksana
keduanya memiliki karakter berbeda. keduanya ialah permata
sampai di sini, keduanya menjelma dalam mimpi
memahat kenangan yang sulit terlupakan
Lampung, 2020
Sampai Batas Ini
Sampai batas ini aku memahami
Jika impian untuk menggapai bahagia bersamamu hanyalah ilusi, cerita fiktif penuh imaji
Akhir kata ini, aku pamit permisi
Semoga tuhan memberi yang lebih baik lagi
Refleksi Diri Dalam Buku Surat Cinta Untuk Ramadhan
![]() |
| Buku Surat Cinta Untuk Ramadhan. Dokpri. |
Ramadhan adalah bulan suci penuh kemenangan. Di mana terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan; yaitu malam lailatul qodar. Bulan yang kehadirannya selalu dinantikan dan dirindukan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia.
Ada banyak kisah dan cerita yang terukir pada bulan ramadhan. Tidak hanya suka-suka, ada tangis, tawa, bahagia, dan yang lainnya. Dan, tentunya kebahagiaan yang terukir indah. Kemarin contohnya, kita melihat bagaimana euforia ramadhan turut dirasakan tidak hanya umat Islam, bahkan umat beragama lain turut mendapatkan keberkahan. Mereka berlomba-lomba menyerbu takjil menjelang buka puasa, sungguh indah!
Berbicara perihal bulan Ramadhan, awal syawal kemarin aku mendapat hadiah istimewa dari salah satu penerbit indie; Santri Nulis Publishing. Berupa sebuah buku dengan nuansa biru langit, berlatar sebuah masjid klasik berwarna cokelat yang magis akan makna.
Buku antologi yang ditulis oleh Ustad Saiful Falah, founder Santri Nulis bersama beberapa calon penulis muda yang merupakan santri maupun alumni pondok pesantren, serta masyarakat umum lainnya. Bertutur mengenai kegiatan hingga kenangan di bulan ramadhan sebagai bahan refleksi diri.
Berbagai cerita terlukiskan dengan beragam sudut pandang, dari ramadhan bersama keluarga dan orang terdekat yang dicinta, hingga pengalaman di tanah rantau, bahkan sampai ke negeri seberang nun jauh di sana. Setiap paragraf tertuang memiliki nilai dan hikmah yang dapat dipetik dan dijadikan pelajaran bagi setiap pembaca. Membacanya seakan berkaca diri, merefleksi sejauh perjalanan apakah waktu maksimal digunakan untuk kebaikan atau sebaliknya, terlebih pada bulan suci ramadhan.
Jika ramadhan ini menjadi yang terakhir kalinya, lantas persiapan apa yang sudah dilakukan dan dipersiapkan menuju kembali kepada-Nya? Masih adakah waktu untuk sampai pada ramadhan berikutnya! Wallahu alam.
Sebagaimana manusia, tak ada yang sempurna. Begitu pun dengan buah karyanya. Buku dengan ketebalan 194 halaman ini tentunya masih butuh proses yang panjang menuju kebaikan yang lebih. Meski demikian, nilai-nilai dan pesan yang hendak disampaikan oleh para penulis sejauh ini cukup bisa dipahami oleh diriku sebagai pembaca, semoga sama dengan yang lainnya.
Kritik dan saran tentu dinantikan agar ke depan dapat menyuguhkan karya dengan lebih baik dan lebih baik lagi. Tertarik membaca bukunya? Kamu bisa meminangnya melalui jejaring sosial media - akun instagram Santri Nulis (@santrinulis).













.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
