Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Thursday, July 31, 2025

Yang Harus Diperhatikan oleh Donatur Jumat Berkah

Ilustrasi. (Foto: Baznas)


Setiap hari Jumat, saya sering menjumpai aneka makanan dan minuman yang dibagikan di masjid dekat rumah. Ada yang datang membawa nasi bungkus, bubur kacang hijau, air mineral, bahkan jajanan tradisional yang mengundang nostalgia masa kecil. Semuanya dikemas dalam semangat sedekah: Jumat Berkah.

Share:

Tuesday, July 29, 2025

Solusi Ekonomi Krisis ala Ustadz Segaf Baharun

 

Potret Ustadz Segaf Baharun saat ceramah menyentuh hati tentang iman dan krisis ekonomi. (Sumber foto: Dalwa Gallery.)

Dalam masa ketika harga kebutuhan naik, utang menumpuk, dan pikiran mudah diliputi cemas soal hari esok, hadirnya nasihat dari Ustadz Segaf Baharun terasa seperti segelas air di tengah dahaga. Lewat tausiyahnya yang hangat dan menyejukkan, beliau menyampaikan sebuah solusi krusial namun sering kita abaikan: perkuat iman.

Share:

Sekolah Bukan Medan Perang, Tapi Kenapa Selalu Ada Korban?

Tangan kecil terangkat bertuliskan “Stop Bullying” — isyarat sunyi dari anak-anak yang lelah jadi sasaran tanpa pelindung. (Foto: RSAS Kalsel)


Ada yang terasa mengganjal di dada saat membaca berita pagi ini dari Toboali, Bangka Selatan. Seorang anak SD, inisial Z, usia 10 tahun, meninggal dunia. Bukan karena kecelakaan, bukan pula karena penyakit bawaan. Tapi karena dugaan perundungan — bullying yang dilakukan oleh teman-teman sebayanya di sekolah.

Share:

Di Balik Kurma, Zam-Zam, dan 28 Kilometer Cinta dari Tanah Suci

 


       Suatu ketika, aku ikut menemani kakakku menjenguk teman sejawatnya — sesama guru — yang baru saja kembali dari Tanah Suci setelah menunaikan ibadah haji. Kami memanggilnya Mami Yus, dan suaminya Bapak Arif. Sejak mendengar kabar bahwa kami akan berkunjung, rasanya aku sudah tak sabar.


Ada rasa senang yang sulit dijelaskan, karena diam-diam aku punya mimpi besar: suatu hari nanti, aku juga ingin berada di sana. Di tanah para nabi. Di tempat yang sejak kecil aku sebut-sebut dalam doa.

Share:

Menyelami Makna Hujan Bulan Juni Dalam Novel Eyang Sapardi

Foto buku Hujan Bulan Juni dengan desain sampul estetik seolah basah kehujanan, menyiratkan makna cinta diam-diam. (Sumber foto: dokpri/Fatma.)


Setelah lebih dari dua pekan akhirnya saya bisa menuntaskan buku yang saya beli karena iri saat melihat teman terlebih dulu meminangnya. Buku yang membuat saya jatuh cinta taat kali pertama mendengar serta membaca syair-syair indah Hujan Bulan Juni dalam sajak yang ditulis Eyang Sapardi Djoko Damono. 


Hujan Bulan Juni karya Eyang Sapardi ini bukan sekadar novel cinta. Ia adalah surat cinta yang dibungkus hujan, diselipkan dalam saku jaket kebudayaan, dan ditulis dengan bahasa yang bikin kamu merasa sedikit lebih pintar setiap kali membacanya.


Buku yang mengangkat cerita romansa dua dosen muda; Sarwono dan Pingkan - pasangan yang menjalin hubungan tanpa status resmi dan tanpa perlu mengungkapkan isi hatinya melalui insta story ataupun bio WhatsApp.


Sarwono adalah dosen antropologi - seorang Jawa tulen, guyub, halus tapi suka nyeletuk absurd. Sedangkan, Pingkan, asisten dosen Sastra Jepang, keturunan Jawa-Manado, dewasa, rasional, dan sayang juga sama Sarwono, walau tak pernah mengungkapkannya secara langsung.


Mereka membangun hubungan cinta tanpa status alias HTS. Namun, bukan berarti kisah cinta yang mereka jalin diam-diam ini penuh dramatis dan air mata, hal ini salah besar.


Justru di sinilah keistimewaannya. Sapardi menulis dua tokoh ini bukan untuk membuat pembaca jadi baper atau jungkir balik emosional. Ia menulis mereka apa adanya: dua orang dewasa yang paham bahwa cinta tak selalu harus diumbar, tak harus ribut-ribut, dan sayangnya... kadang tak bisa dipertahankan dengan mudah pula.


Bukan Sekadar Romansa, tapi Juga Ruang Belajar Toleransi


Di balik kelakar dan candaan mereka yang receh tapi ngena, kita diajak menyelami realitas sosial dan budaya yang begitu khas Indonesia. Perbedaan agama menjadi tembok besar antara Sarwono dan Pingkan, terutama karena keluarga Pingkan masih memegang teguh batas-batas keyakinan.


Tapi bukan cuma agama. Novel ini juga menyinggung keberagaman budaya, dari Jawa yang penuh petuah sampai Minahasa yang punya kisah nenek moyang berapi-api. Jadi kalau kamu kira ini sekadar kisah cinta tipikal mahasiswa akhir semester yang galau, siap-siap belajar juga soal kebudayaan.


Makna "Hujan Bulan Juni" yang Lebih Dalam


Kalau biasanya hujan identik dengan sendu, "hujan di bulan Juni" malah jadi simbol kesetiaan yang tak biasa. Ia turun di musim yang seharusnya kering. Ia hadir di saat tak diharapkan.


Begitu pula cinta Sarwono: hadir, setia, meski tahu tak akan bisa tumbuh seperti cinta-cinta lain yang bebas.


Dalam puisi Sapardi (yang lebih dulu terkenal sebelum novelnya terbit), hujan di bulan Juni adalah bentuk pengorbanan paling lirih. Dan dalam novel ini, makna itu menjelma dalam tindakan kecil Sarwono - menulis surel untuk Pingkan, mengingatkan untuk makan, diam-diam mengkhawatirkan kesehatannya sendiri sambil terus berharap perempuan itu bahagia... walau bukan di sisinya.


Salah satu kejutan menyenangkan dari novel ini adalah humornya! Sungguh, siapa sangka Eyang Sapardi, penyair legendaris, bisa bikin pembaca ngakak? Dialog antara Sarwono dan Pingkan kadang absurd, kadang satir, tapi selalu cerdas dan menghibur. Enggak lebay, enggak nangis-nangis di bawah hujan sambil teriak "kenapa kamu ninggalin aku?" - tapi justru lucu karena relatable.


Meski hanya 135 halaman (yang mungkin lebih cocok disebut novela), "Hujan Bulan Juni" bukan kisah yang berliku dengan banyak plot twist. Tapi, justru karena kesederhanaan itulah, kita di bawa jadi lebih fokus pada percakapan, suasana, dan makna tersembunyi dalam tiap bab.


Saya yakin, teman-teman yang gemar membaca, terutama karya-karya Eyang Sapardi, buku ini akan dilahap dalam sekali duduk. Meski begitu, bagi saya cukup mengajak saya berpikir dan menjeda beberapa kali, karena harus mencari tahu makna beberapa kata yang disisipkan Eyang dalam karyanya. 


"Hujan Bulan Juni" bukan kisah cinta ala sinetron. Ia adalah kisah tentang mencintai dalam diam, tentang ikhlas, dan tentang bagaimana perbedaan bisa menyatukan - atau memisahkan - dengan cara yang elegan.


Ia adalah pengingat bahwa tak semua cinta harus memiliki untuk jadi berarti. Terkadang, cukup menjadi hujan di bulan yang kering. Turun diam-diam, menyuburkan diam-diam.


Buat kamu yang suka romansa puitis tapi tetap pengin ketawa-tawa, atau buat kamu yang sedang belajar mencintai dengan tenang dan tulus, novel ini bisa jadi teman yang manis di hari mendung.


Dan oh, covernya cantik banget. Judulnya seperti huruf yang kehujanan beneran. Filosofis Banget. Estetik, dan Bikin mupeng.


Awalnya saya sempat ngomel saat dikirim gambar foto buku ini oleh teman saya yang sudah lebih dulu membelinya. Di bagian sampul (cover) ada bercak bekas hujan, dalam hati saya membatin; "katanya buku baru, masa baru berapa hari udah lecek kena ujan begitu." Rupanya memang begitulah konsep seninya.

Share:

Monday, July 28, 2025

Puisi: Detik yang Menyimpan Wajahmu

 
Aku dan sepupuku, di suatu hari di sudut rumah sakit. (Dokpri).


Di bawah kanopi langit seng yang berkarat senja,
kau datang - serupa angin kecil yang menyingkap sunyi,
ringan seperti daun gugur yang tak tahu ia indah,
dan senyummu... ah, senyummu menusuk pelan seperti cahaya pagi
yang menelusup celah dada,
menggetarkan sesuatu yang tak sempat kupanggil dengan nama.
Share:

Tuesday, July 15, 2025

Di Bawah Bulan yang Tak Berdaya

Bulan menggantung di langit malam, memantulkan cahaya sendu di antara rumah dan pepohonan-seperti rindu yang diam-diam menunggu pulang. (Foto: Dokpri)


Di bawah bulan yang tak bertanya, adalah kalimat-kalimat yang kurangkai dalam larut malam yang tak kunjung padam. Sendiri, menyepi di bawah cahaya rembulan yang seakan redup. Seperti hatiku tanpa hadirmu.
Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive