Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Monday, May 27, 2024

[Film] Vina Sebelum 7 Hari: Dari Pembullyan Hingga Pelecehan

Cuplikan Film Vina Sebelum 7 Hari. Dok. Dee Company. Ist 


Film Vina: Sebelum Tujuh Hari merupakan karya garapan sutradara; Anggi Umbara yang diproduksi Dee Company dan rilis pada 8 Mei 2024 lalu. Film ini diangkat dari kisah nyata yang menceritakan tragedi pembunuhan dara muda di Kabupaten Cirebon pada tahun 2016 yang lalu.

Share:

Sunday, April 21, 2024

[Film] Air Mata di Ujung Sajadah: Bukti Ketulusan Cinta Seorang Ibu

Foto Poskota. Ist


 Hari kedua lebaran memang paling seru dihabiskan untuk menyenangkan diri. Setelah seharian bersilaturahmi kepada sanak-saudara terdekat di hari pertama - waktu untuk diri sendiri atau yang biasa orang bilang "me time" akhirnya tiba di hari berikutnya.

Share:

Wednesday, February 7, 2024

Menyingkap Dunia Malam dari Novel Re dan peRempuan

Novel Re dan peRempuan karya Kang Maman Suherman. Dokpri. 2023


       Dunia malam banyak dianggap sebagai dunia yang gemerlap dan menyesatkan bagi kehidupan. Namun, keindahan yang fana dan kenikmatan duniawi yang sesaat ini kian marak dan banyak diminati, padahal sudah jelas ia menjadi celah penghancur kehidupan.

Share:

Monday, January 1, 2024

Menyusuri Indahnya Parangtritis Yogyakarta

 



Yogyakarta, mendengar namanya seakan hati merindukan momen pertama kali menginjakkan kaki di sana. Dulu, modal nekat berangkat dari Sumatera ke Yogyakarta seorang diri menaiki bus dengan cara 'ngeteng'. Karena, kata saudara yang kala itu menjadi tempat bertanya; "supaya lebih hemat mending ngeteng naik bus." Sebab pada saat itu memang minim informasi dan 'kebelet' pingin tahu Yogyakarta seperti apa - pas juga dengan momen pada saat itu, jadinya langsung gas aja.


Rupanya salah, karena saat itu perdana melakukan perjalanan jauh sampai luar pulau juga. Alhasil, sekali salah turun - kebawa sama bus sampai terminal yang jalurnya berbeda. Dan, itu cukup menguras dompet, karena harus keluar dana tak terduga yang lumayan besar. Seandainya, memilih naik bus langsung, mungkin tidak akan seperti ini.


Inilah mengapa aku enggan kalau bepergian jauh naik bus ngeteng, mending yang langsung saja. Lagi pula harganya nggak seberapa jauh berbeda, dan tentunya lebih aman dan nyaman kalau langsung. Belum lagi kalau bawaannya banyak, bakal makin repot.


Senang sekali rasanya bisa kembali ke Yogya, Kota Pelajar yang menjadi salah satu impian teman-teman ku, dan menjadi perbincangan banyak orang juga. Jika dulu ke sini sendirian, sekarang sama rombongan - langsung di bawa ke pantainya pula. Dulu, waktu sekolah SMA cuma bisa dengar cerita teman di kelas, jika sewaktu liburan dia dan keluarga menghabiskan waktu di Paris. Ku kira Paris itu Perancis, rupanya Parangtritis. Kami pun terbahak-bahak usai mendengar bualan temanku saat membuka cerita.


Sebenarnya, pantai Parangtritis ini tidak termasuk destinasi wisata yang akan di kunjungi, hanya saja pada hari pertama keberangkatan bus yang membawa rombongan sempat mandek beberapa jam di kawasan Jawa Barat, sehingga dua lokasi terlewati. Pihak biro wisata bilang, dua lokasi tersebut bisa disinggahi saat jalan pulang. Biar kita nggak ngambek, jadi dikasih lah tambahan wisata gratis dari mereka. Katanya sudah kadung di Yogya, ya sekalian nyoba pantainya.


Baca: Dari "Raden Kian Santang" Jadi Candu Sholawat
 

Sekitar jam 5 pagi kita sudah berada di Parangtritis, setelah bersih diri dan sarapan, kita ziarah dulu ke Makam Syekh Bela-Belu di atas bukit. Lumayan buat olahraga pagi sembari menikmati segarnya udara dari atas sana. Dan, ternyata dari atas pemandangannya tidak kalah menarik - selain asri dan hijau, di sana pula kita bisa melihat indahnya pantai Parangtritis. 


Usai bertawasul (kirim Fatihah), tahlil, dan baca yasin bareng, kita melanjutkan perjalanan menuju pantai. Sekitar jam 9 rombongan memasuki area pantai, masih cukup pagi, namun pengunjung sudah lumayan ramai berdatangan. Matahari pun mulai menunjukkan kehangatan untuk menemani siapa saja yang hendak berjemur. 


Untuk tiket masuknya perorang dikenakan biaya Rp.15.000 dan untuk yang rombongan itu kisaran Rp. 300.000 untuk 50 orang. Harga ini tidak termasuk tiket wahana bermain, gazebo, toilet, dan sebagainya.


Tarif parkir di sini juga tergolong murah, sama seperti pada umumnya. Motor dikenakan dua ribu rupiah dan untuk mobil itu lima ribu. Kalau sekarang mungkin ada penambahan atau naik dikit, teman-teman bisa searching untuk pengetahuan lebih lanjutnya. Di sini juga tersedia penginapan lho, jadi buat yang dari jauh bisa nih menginap supaya nggak kecapean. 


Selain pantainya yang indah dengan ombaknya yang luar biasa menggoda, di Parangtritis juga tersedia banyak wahana. Ada Andong (kereta kuda), kalau naik wahana ini kalian akan diajak keliling  menyusuri tepian pantai. Tenang, kalian nggak sendiri kok, karena akan ada pemandunya. 


Selain itu, ada juga ATV atau All Terrain Vehicle. Motor ATV ini disewakan dengan harga Rp.50.000 - Rp. 100.000 dalam kurun waktu 30 menit. Kalian bisa mengendarainya sendiri, atau barengan dengan teman. Selain ATV, juga ada motor cross. Harga sewa untuk motor cross ini nggak jauh beda dengan ATV. 


Baca: Alasan Habib Umar bin Salim bin Hafidz Tidak Memperbolehkan Menaruh HP di Saku Baju!


Pantai Parangtritis terletak di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Dari Kota Yogyakarta, jaraknya sekitar 28 kilometer atau 50 menit berkendara


Sebagaimana dilansir Kompas, dari Titik Nol Kilometer Yogyakarta, wisatawan bisa mengarah ke Taman Pintar. Setelah menemukan Hotel Limaran, belok kanan menuju Jalan Brigjen Katamso. Tetap berada di Jalan Brigjen Katamso, hingga menemukan Pojok Benteng Wetan. Dari Pojok Benteng Wetan, ambil jalur ke Jalan Parangtritis. Kemudian, wisatawan hanya perlu tetap lurus berada di Jalan Parangtritis hingga sampai di lokasi Pantai Parangtritis.


Siur desiran angin laut yang menjelma dalam ombak - menyapu bibir pantai membuat diri tidak sabaran buat segera terjun mencebur ke laut. Sejak pertama kali melihat pantai dari atas bukit Makam Syekh Bela-Belu, aku sudah niatkan untuk mandi, rugi kalau audah di pantai nggak mandi. 


Pihak biro mengingat sebelum memasuki area pantai untuk tidak mengenakan pakaian berwarna hijau di sekitaran pantai, khawatirnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, karena pantai ini dikait-kaitkan dengan mitos Nyi Roro Kidul. Ya, kita mah ikut-ikut saja selagi itu untuk keselamatan. Percaya atau tidak, yang penting pulang dengan selamat dah. 


Meski nggak bawa celana pendek, aku dan teman-teman tetap enjoy, semangat menyelam dan berlarian mengejar ombak. Karena tujuan utama kita ziarah dan memang destinasi wisata pantai ini tidak masuk dalam daftar tujuan, alhasil mandinya pakai celana panjang. 


Pantainya bersih dan nyaman untuk bermain anak-anak, kita juga menyempatkan untuk membangun istana pasir bersama teman-teman di tengah asiknya mengarungi ombak. Jika tubuh sudah mulai menggigil karena dingin dan terpaan angin kaut, maka bermain pasir sembari berjemur adalah solusi.


Air lautnya sangat asin, selain harus hati-hati saat berenang, juga harus siap sedia sun screen agar kulit tidak gosong terkena paparan sinar matahari. Dan, yang harus diwaspadai ialah ketika menjelang pertengahan hari, saat matahari mulai di atas kepala maka pasir sekitar juga turut menyengat, panas pool. Harus pakai alas kaki, kalau nyeker, auto kepanasan, aku saja lari-larian saking nggak kuatnya menahan panas. 


Nah, setelah larut bermain di laut, yang paling tidak kalah penting ialah bilas atau membersihkan diri dengan air tawar. Tenang, di sini banyak kamar mandi, sekali pakai cuma bayar lima ribu rupiah, sampai kamu puas. Kalau lapar, kagak usah panik. Di sini juga tersedia berbagai macam makanan dan minuman. Dari jajanan pantai hingga makanan khas daerah juga tersedia. Dan, buat oleh-oleh juga banyak kok, dimulai dari souvenir, baju, celana, maupun cemilannya.


Untuk spot foto, di sudut-sudut pantai ini sangat layak untuk dijadikan latar guna mengabadikan momen perjalanan yang luar biasa ini. Baik di pantainya langsung, gazebo, maupun di tempat wahana dan jajanannya. Untuk hasil yang aesthetic kalian bisa mengambil gambar di saat matahari terbit (sunrise) atau di saat matahari terbenam (sunset), karena senja sore di sana luar biasa indahnya. 


Perjalanan ini adalah perjalanan yang tidak terduga, memang sesuatu yang kadang tidak direncanakan atau diadakan secara dadakan itu asyik ya. Di tengah lelah petualangan kita dari Sumatera hingga Yogyakarta, akhirnya ada pula kesempatan untuk melepas penat. Terima kasih untuk semua, semoga bisa kembali ke Yogya dengan catatan yang lebih berkesan dan membahagiakan.

Share:

Friday, August 11, 2023

Dari "Raden Kian Santang" Jadi Candu Sholawat

 



Kalian pernah nggak secara tiba-tiba kepingin sesuatu, melakukannya dengan keinginan yang amat begitu besar. Hal itu harus banget terlaksana - sesegera mungkin. 


Hal ini pernah aku alami taat kala menduduki bangku sekolah menengah pertama (SMP) di kelas tiga akhir. Kembali pada tahun 2012 silam, berawal dari sebuah sinetron yang tayang di televisi. 


Sebenarnya, aku nggak seberapa suka menonton televisi, lebih banyak bermain dengan teman sebaya. Apalagi saat itu detik-detik menjelang penilaian akhir ujian nasional (UN). Namun, karena ini serial sejarah yang menceritakan kisah masa lampau dan bercerita tentang kerjaan di Nusantara, tentu saja aku sangat antusias. Aku paling suka sekali membaca, mendengar, atau menyaksikan sesuatu yang membahas hal terkait sejarah kerjaan di Indonesia


Rasa ingin yang muncul di dalam diriku bisa dikategorikan sebagai "ngidam". Hanya saja aku bukan orang yang sedang hamil, juga bukan perempuan. Apalagi diriku masih remaja dan belum menikah. Secara kemauan itu besar dan harus banget dilaksanakan. Rasanya ada yang kurang jika hal itu tidak dilaksanakan.


Sinetron Raden Kian Santang yang merupakan produksi MD Entertainment ini ditayangkan di MNCTV dan pertama tayang pada 28 Mei 2012, pukul 20.30 wib. Musim 1 berlangsung pada Mei 2012 hingga Oktober 2014. Berkisah tentang salah satu putra dari Prabu Siliwangi yang merupakan pemegang tahta kerajaan Padjadjaran. Sinetron ini disutradarai oleh Edi S. Jonatan, Iyon Priyoko, dan Udin Berantai. Dibintangi oleh Alwi Assegaf, Ananda George, Ahmad Ridho, dan beberapa aktris serta aktor lainnya.


Baca: Menyingkap Dunia Malam dari Novel Re dan peRempuan 


Salah satu scene atau adegan yang kala itu aku lihat ialah di mana sosok Raden Kian Santang kecil yang diperankan Alwi Assegaf melantunkan salah satu syair indah yang memuji Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Kala itu aku belum mengerti jika syair tersebut merupakan sholawat, yang aku pahami hanyalah lagu-lagu religi. Ya, sesuatu yang berhubungan dengan syair Islami, aku tahunya hanyalah lagu religi.


Syair itu begitu indah dan menyentuh kalbu (hati). Seketika hatiku senang dan merasa tenteram kala mendengar lantunan dari suara merdu si kecil Kian Santang tersebut. Sejak itu aku sering melantunkan syairnya di mana saja bahkan selalu terngiang, aku juga jadi mengidolakan sosok Alwi yang memerankan Kian Santang kecil.


Dari kesukaan yang secara tiba-tiba itulah membawaku pada sebuah pertemuan yang tidak disangka-sangka beberapa tahun setelahnya. Dari yang aku tidak tahu sholawat menjadi tahu, bahkan menyukainya. Memasuki dunia pesantren dan mengenalnya, serta mencintai majelis dan duduk di dalamnya. Semua berawal dari sinetron Raden Kian Santang ini. Keingintahuanku pula membawa diriku yang penasaran dengan sosok Alwi Assegaf sebagai Kian Santang kecil yang akhirnya membuat diriku mencari tahu siapa dirinya. Ternyata Alwi merupakan salah satu keturunan dari manusia yang mulia, Baginda Nabi Muhammad saw.


Lama syair itu tenggelam dalam diri, beberapa bulan pasca melepas pakaian putih abu-abu yang menyelimuti tubuh kurusku.  Aku kembali diperkenalkan dengan syair sholawat yang menggetarkan hati, hanya saja yang melantunkannya sosok yang berbeda. Meski keduanya masih sama-sama keturunan dari Nabi Muhammad saw. 


Baca: Tiga Puluh Jam Bersama Habibana 


Melalui untaian syair dan pujian yang disenandungkan Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf itu pula semakin menambah rasa kagum dan syukurku bisa mengenal dan menjadi umat Baginda Nabi Muhammad saw., yang pada akhirnya membawa diriku hanyut dalam lantunan sholawat. 


Sinetron kolosal Raden Kian Santang ini sangat berperan dalam perjalanan hidupku. Tentunya tak lepas dari sosok Sayyid Alwi Assegaf yang berhasil memerankan Kian Santang kecil dengan apik. Dua tahun lebih aku mengikuti kisah dalam sinetron tersebut, hingga akhirnya tamat (2014). Dan beberapa tahun setelahnya tayang kembali untuk musim kedua dan ketiga dengan cerita yang berbeda, namun pada edisi kala itu aku tidak seberapa suka. Sebab beberapa cerita seakan-akan lepas dari sejarah.


Sinetron ini banyak diminati pada masanya, apalagi beberapa pemerannya kala itu sedang menjadi idola anak-anak dan remaja. Tim produksi patut diacungi jempol dalam memilih sosok pemeran dalam sinetron tersebut, seperti Alwi Assegaf yang memiliki background agamis, hafal Al-Qur'an, sehingga sangat sejalan dengan kisah dan karakter Raden Kian Santang yang ia bawakan. Prabu Siliwangi yang diperankan oleh Ananda George pun tak kalah kerennya, ia banyak menuai pujian dari berbagai kalangan, terutama masyarakat Jawa; Sunda. Menurut mereka, sosok Ananda George sudah sangat pas dalam memerankan Siliwangi. Terbukti kedua pemeran tersebut hingga kini banyak dikenal dengan sebutan sosok yang mereka perankan; Kian Santang dan Prabu Siliwangi. 


Baca: Novel Sesuk Tekankan Peran Penting Orang Tua 

Share:

Saturday, July 29, 2023

Ganjaran Bagi Wanita yang Memasak untuk Suami dan Anaknya

Ilustrasi memasak. Sumber, Tribun Lombok. ist



      Ada banyak hal yang dapat menjadikan seorang wanita itu mulia di sisi Allah swt., salah satunya ialah dengan peran yang dilakukan melalui aktivitas dapur; memasak.

Memasak merupakan salah satu perbuatan mulia, karena buah dari apa yang dimasak akan dirasakan oleh banyak orang. Apalagi jika aktivitas memasak itu dilakukan dengan keikhlasan dan ketulusan, maka akan bertambah keberkahan. Pun demikian jika diringi dengan berdzikir - mengingat Allah dan bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam.

Pernah suatu ketika, Baginda Nabi Muhammad saw., berkunjung ke rumah putrinya; Fatimah Az-Zahra. Kala itu beliau melihat Fatimah sedang menggiling gandum di atas penggilingan dari batu sembari menangis. Rasulullah yang melihat hal itu heran dan bertanya, "Kenapa engkau menangis, wahai putriku?"

Fatimah pun menjawab, "Duhai ayahku, aku menangis karena batu penggilingan ini, juga karena pekerjaan rumah yang berat." -"Bagaimana jika ayah meminta Ali untuk membelikanku seorang budak perempuan yang bisa membantu pekerjaan rumah!"

Rasulullah yang sedari tadi duduk di dekat Fatimah lalu mendekati penggilingan gandum. Beliau mengambil gandum dengan tangannya yang penuh berkah dan meletakkannya di atas penggilingan seraya membaca bismillahirrahmanirrahim. Kemudian atas izin Allah penggilingan itu berputar dengan sendirinya menggiling gandum.  Bahkan, si batu itu bertasbih kepada Allah dengan bahasa yang berbeda-beda. 


Mungkin, anda menyukai ini;

     • Dua Poin Penting Pada Novel Merindu Baginda Nabi karya Kang Abik

     • Terima Kasih Untuk Waktu yang Lupa Aku Syukuri

     • Si Kecil yang Membuatku Cemburu


Ketika dirasa sudah beres menggiling, Baginda Rasul berkata kepada penggilingan itu, "Diamlah engkau dengan izin Allah!" Seketika itu juga batu penggilingan itu diam. Namun, tidak lama dari itu batu penggilingan berkata dengan bahasa Arab yang fasih, "Wahai Rasulullah, demi Allah yang telah mengutusmu dengan benar sebagai nabi dan rasul, sekiranya engkau memerintahkanku untuk menggiling gandum sebanyak yang ada di Timur dan Barat, niscaya akan aku lakukan semuanya."

Aku telah mendengar dalam kitab Allah firman-nya, "'Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya dari manusia dan batu, yang dijaga oleh malaikat yang kuat lagi keras. Dan tidak pernah menyalahi semua perintah Allah yang diberikan kepadanya. Mereka senantiasa melaksanakan perintah-Nya.'  Tentu aku takut akan menjadi batu yang masuk neraka."

Rasulullah saw., menjawab, "Bergembiralah engkau, karen sesungguhnya engkau termasuk batu yang akan menjadi bagian istana Fatimah di surga kelak." Batu itu pun merasa gembira mendengarnya, akhirnya ia pun diam.

Baginda Nabi berkata kepada putrinya, "Wahai Fatimah, sekiranya Allah berkehendak, niscaya batu ini akan berputar sendiri untukmu. Namun, Allah ingin menuliskan kebaikan bagimu, menghapus kejelekan darimu, dan mengangkat derajatmu karena engkau menggiling gandum dengan tanganmu sendiri. Wahai anakku, siapapun wanita yang memasak untuk suami dan anak-anaknya, Allah akan menulis satu kebaikan, menghapus satu keburukan, dan mengangkat satu derajat dari setiap biji yang dimasaknya." 


Buku Tiga Malam Bersama Penghuni Surga. Gambar oleh Pecandu Sastra©2023.ist


Kisah ini diambil dari buku Tiga Malam Bersama Penghuni Surga (3MBPS) karya Fuad Abdurahman yang diterbitkan melalui Rene Islam. Berisi kisah-kisah romantik para sahabat dan sahabiyat dalam kehidupan Baginda Nabi saw.

Masya Allah, begitu mulianya wanita di sisi Allah dengan peran yang ia lakukan. Itu baru dari aktivitas memasak, belum yang lainnya. Subhanallah, indahnya Islam.

Bagi pembaca budiman yang ingin meminang buku 3MPBS, bisa dibeli di toko buku terdekat ya. Beli yang original, jangan yang bajakan. Atau bisa melalui instagram maupun marketplace resmi milik Rene Islam. Masih ada banyak kisah-kisah menarik menggugah jiwa dan menghidupkan cahaya-cahaya keimanan di hati kita.


Baca artikel menarik lainnya;

     • Bagian 1 - Tiga Puluh Jam Bersama Habibana 

     • Puisi-Puisi Disisi, Kekasih, Purnama

     • Dari Niat yang Terealisasi Berkah Wasilah Tawasul Kepada Baginda Nabi SAW dan Para Wali Allah

Share:

Wednesday, July 12, 2023

Bagian 1 - Tiga Puluh Jam Bersama Habibana

1/


Nabastala biru kian memudar, merah, jingga, orange, menggantikan peran memadati pemandangan senja yang kian tenggelam. Segera, usai berdzikir Jum'at petang itu, aku bergegas telah bersiap menemani abah beserta jamaah Majelis Ta’lim wal Mudzakarah Al-Maujud guna memenuhi undangan majelis peringatan hari besar Islam (Isra’ Mi’raj) di salah satu desa di Bogor bagian Timur.

Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive