Cerita Cendekia adalah ruang ekspresi dan refleksi dari Cendekia Alazzam (Pecandu Sastra) — berisi rangkaian puisi, cerpen, cerbung, esai, opini, serta ulasan buku dan film. Melalui tulisan, aku bercerita tentang kehidupan, gagasan, dan imajinasi, dengan harapan bisa mengajak pembaca berpikir, merasa, dan merdeka.

Terbaru

Memuat postingan...

Friday, August 11, 2023

Dari "Raden Kian Santang" Jadi Candu Sholawat

 



Kalian pernah nggak secara tiba-tiba kepingin sesuatu, melakukannya dengan keinginan yang amat begitu besar. Hal itu harus banget terlaksana - sesegera mungkin. 


Hal ini pernah aku alami taat kala menduduki bangku sekolah menengah pertama (SMP) di kelas tiga akhir. Kembali pada tahun 2012 silam, berawal dari sebuah sinetron yang tayang di televisi. 


Sebenarnya, aku nggak seberapa suka menonton televisi, lebih banyak bermain dengan teman sebaya. Apalagi saat itu detik-detik menjelang penilaian akhir ujian nasional (UN). Namun, karena ini serial sejarah yang menceritakan kisah masa lampau dan bercerita tentang kerjaan di Nusantara, tentu saja aku sangat antusias. Aku paling suka sekali membaca, mendengar, atau menyaksikan sesuatu yang membahas hal terkait sejarah kerjaan di Indonesia


Rasa ingin yang muncul di dalam diriku bisa dikategorikan sebagai "ngidam". Hanya saja aku bukan orang yang sedang hamil, juga bukan perempuan. Apalagi diriku masih remaja dan belum menikah. Secara kemauan itu besar dan harus banget dilaksanakan. Rasanya ada yang kurang jika hal itu tidak dilaksanakan.


Sinetron Raden Kian Santang yang merupakan produksi MD Entertainment ini ditayangkan di MNCTV dan pertama tayang pada 28 Mei 2012, pukul 20.30 wib. Musim 1 berlangsung pada Mei 2012 hingga Oktober 2014. Berkisah tentang salah satu putra dari Prabu Siliwangi yang merupakan pemegang tahta kerajaan Padjadjaran. Sinetron ini disutradarai oleh Edi S. Jonatan, Iyon Priyoko, dan Udin Berantai. Dibintangi oleh Alwi Assegaf, Ananda George, Ahmad Ridho, dan beberapa aktris serta aktor lainnya.


Baca: Menyingkap Dunia Malam dari Novel Re dan peRempuan 


Salah satu scene atau adegan yang kala itu aku lihat ialah di mana sosok Raden Kian Santang kecil yang diperankan Alwi Assegaf melantunkan salah satu syair indah yang memuji Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Kala itu aku belum mengerti jika syair tersebut merupakan sholawat, yang aku pahami hanyalah lagu-lagu religi. Ya, sesuatu yang berhubungan dengan syair Islami, aku tahunya hanyalah lagu religi.


Syair itu begitu indah dan menyentuh kalbu (hati). Seketika hatiku senang dan merasa tenteram kala mendengar lantunan dari suara merdu si kecil Kian Santang tersebut. Sejak itu aku sering melantunkan syairnya di mana saja bahkan selalu terngiang, aku juga jadi mengidolakan sosok Alwi yang memerankan Kian Santang kecil.


Dari kesukaan yang secara tiba-tiba itulah membawaku pada sebuah pertemuan yang tidak disangka-sangka beberapa tahun setelahnya. Dari yang aku tidak tahu sholawat menjadi tahu, bahkan menyukainya. Memasuki dunia pesantren dan mengenalnya, serta mencintai majelis dan duduk di dalamnya. Semua berawal dari sinetron Raden Kian Santang ini. Keingintahuanku pula membawa diriku yang penasaran dengan sosok Alwi Assegaf sebagai Kian Santang kecil yang akhirnya membuat diriku mencari tahu siapa dirinya. Ternyata Alwi merupakan salah satu keturunan dari manusia yang mulia, Baginda Nabi Muhammad saw.


Lama syair itu tenggelam dalam diri, beberapa bulan pasca melepas pakaian putih abu-abu yang menyelimuti tubuh kurusku.  Aku kembali diperkenalkan dengan syair sholawat yang menggetarkan hati, hanya saja yang melantunkannya sosok yang berbeda. Meski keduanya masih sama-sama keturunan dari Nabi Muhammad saw. 


Baca: Tiga Puluh Jam Bersama Habibana 


Melalui untaian syair dan pujian yang disenandungkan Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf itu pula semakin menambah rasa kagum dan syukurku bisa mengenal dan menjadi umat Baginda Nabi Muhammad saw., yang pada akhirnya membawa diriku hanyut dalam lantunan sholawat. 


Sinetron kolosal Raden Kian Santang ini sangat berperan dalam perjalanan hidupku. Tentunya tak lepas dari sosok Sayyid Alwi Assegaf yang berhasil memerankan Kian Santang kecil dengan apik. Dua tahun lebih aku mengikuti kisah dalam sinetron tersebut, hingga akhirnya tamat (2014). Dan beberapa tahun setelahnya tayang kembali untuk musim kedua dan ketiga dengan cerita yang berbeda, namun pada edisi kala itu aku tidak seberapa suka. Sebab beberapa cerita seakan-akan lepas dari sejarah.


Sinetron ini banyak diminati pada masanya, apalagi beberapa pemerannya kala itu sedang menjadi idola anak-anak dan remaja. Tim produksi patut diacungi jempol dalam memilih sosok pemeran dalam sinetron tersebut, seperti Alwi Assegaf yang memiliki background agamis, hafal Al-Qur'an, sehingga sangat sejalan dengan kisah dan karakter Raden Kian Santang yang ia bawakan. Prabu Siliwangi yang diperankan oleh Ananda George pun tak kalah kerennya, ia banyak menuai pujian dari berbagai kalangan, terutama masyarakat Jawa; Sunda. Menurut mereka, sosok Ananda George sudah sangat pas dalam memerankan Siliwangi. Terbukti kedua pemeran tersebut hingga kini banyak dikenal dengan sebutan sosok yang mereka perankan; Kian Santang dan Prabu Siliwangi. 


Baca: Novel Sesuk Tekankan Peran Penting Orang Tua 

Share:

Saturday, July 29, 2023

Ganjaran Bagi Wanita yang Memasak untuk Suami dan Anaknya

Ilustrasi memasak. Sumber, Tribun Lombok. ist



      Ada banyak hal yang dapat menjadikan seorang wanita itu mulia di sisi Allah swt., salah satunya ialah dengan peran yang dilakukan melalui aktivitas dapur; memasak.

Memasak merupakan salah satu perbuatan mulia, karena buah dari apa yang dimasak akan dirasakan oleh banyak orang. Apalagi jika aktivitas memasak itu dilakukan dengan keikhlasan dan ketulusan, maka akan bertambah keberkahan. Pun demikian jika diringi dengan berdzikir - mengingat Allah dan bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam.

Pernah suatu ketika, Baginda Nabi Muhammad saw., berkunjung ke rumah putrinya; Fatimah Az-Zahra. Kala itu beliau melihat Fatimah sedang menggiling gandum di atas penggilingan dari batu sembari menangis. Rasulullah yang melihat hal itu heran dan bertanya, "Kenapa engkau menangis, wahai putriku?"

Fatimah pun menjawab, "Duhai ayahku, aku menangis karena batu penggilingan ini, juga karena pekerjaan rumah yang berat." -"Bagaimana jika ayah meminta Ali untuk membelikanku seorang budak perempuan yang bisa membantu pekerjaan rumah!"

Rasulullah yang sedari tadi duduk di dekat Fatimah lalu mendekati penggilingan gandum. Beliau mengambil gandum dengan tangannya yang penuh berkah dan meletakkannya di atas penggilingan seraya membaca bismillahirrahmanirrahim. Kemudian atas izin Allah penggilingan itu berputar dengan sendirinya menggiling gandum.  Bahkan, si batu itu bertasbih kepada Allah dengan bahasa yang berbeda-beda. 


Mungkin, anda menyukai ini;

     • Dua Poin Penting Pada Novel Merindu Baginda Nabi karya Kang Abik

     • Terima Kasih Untuk Waktu yang Lupa Aku Syukuri

     • Si Kecil yang Membuatku Cemburu


Ketika dirasa sudah beres menggiling, Baginda Rasul berkata kepada penggilingan itu, "Diamlah engkau dengan izin Allah!" Seketika itu juga batu penggilingan itu diam. Namun, tidak lama dari itu batu penggilingan berkata dengan bahasa Arab yang fasih, "Wahai Rasulullah, demi Allah yang telah mengutusmu dengan benar sebagai nabi dan rasul, sekiranya engkau memerintahkanku untuk menggiling gandum sebanyak yang ada di Timur dan Barat, niscaya akan aku lakukan semuanya."

Aku telah mendengar dalam kitab Allah firman-nya, "'Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya dari manusia dan batu, yang dijaga oleh malaikat yang kuat lagi keras. Dan tidak pernah menyalahi semua perintah Allah yang diberikan kepadanya. Mereka senantiasa melaksanakan perintah-Nya.'  Tentu aku takut akan menjadi batu yang masuk neraka."

Rasulullah saw., menjawab, "Bergembiralah engkau, karen sesungguhnya engkau termasuk batu yang akan menjadi bagian istana Fatimah di surga kelak." Batu itu pun merasa gembira mendengarnya, akhirnya ia pun diam.

Baginda Nabi berkata kepada putrinya, "Wahai Fatimah, sekiranya Allah berkehendak, niscaya batu ini akan berputar sendiri untukmu. Namun, Allah ingin menuliskan kebaikan bagimu, menghapus kejelekan darimu, dan mengangkat derajatmu karena engkau menggiling gandum dengan tanganmu sendiri. Wahai anakku, siapapun wanita yang memasak untuk suami dan anak-anaknya, Allah akan menulis satu kebaikan, menghapus satu keburukan, dan mengangkat satu derajat dari setiap biji yang dimasaknya." 


Buku Tiga Malam Bersama Penghuni Surga. Gambar oleh Pecandu Sastra©2023.ist


Kisah ini diambil dari buku Tiga Malam Bersama Penghuni Surga (3MBPS) karya Fuad Abdurahman yang diterbitkan melalui Rene Islam. Berisi kisah-kisah romantik para sahabat dan sahabiyat dalam kehidupan Baginda Nabi saw.

Masya Allah, begitu mulianya wanita di sisi Allah dengan peran yang ia lakukan. Itu baru dari aktivitas memasak, belum yang lainnya. Subhanallah, indahnya Islam.

Bagi pembaca budiman yang ingin meminang buku 3MPBS, bisa dibeli di toko buku terdekat ya. Beli yang original, jangan yang bajakan. Atau bisa melalui instagram maupun marketplace resmi milik Rene Islam. Masih ada banyak kisah-kisah menarik menggugah jiwa dan menghidupkan cahaya-cahaya keimanan di hati kita.


Baca artikel menarik lainnya;

     • Bagian 1 - Tiga Puluh Jam Bersama Habibana 

     • Puisi-Puisi Disisi, Kekasih, Purnama

     • Dari Niat yang Terealisasi Berkah Wasilah Tawasul Kepada Baginda Nabi SAW dan Para Wali Allah

Share:

Wednesday, July 12, 2023

Bagian 1 - Tiga Puluh Jam Bersama Habibana

1/


Nabastala biru kian memudar, merah, jingga, orange, menggantikan peran memadati pemandangan senja yang kian tenggelam. Segera, usai berdzikir Jum'at petang itu, aku bergegas telah bersiap menemani abah beserta jamaah Majelis Ta’lim wal Mudzakarah Al-Maujud guna memenuhi undangan majelis peringatan hari besar Islam (Isra’ Mi’raj) di salah satu desa di Bogor bagian Timur.

Share:

Tuesday, June 13, 2023

Puisi-Puisi Disisi, Kekasih, Kau Purnama

 

Foto diambil saat Maulid Nabi Muhammad SAW 10 Desember 2022/Pecandu Sastra©2022.ist


Kekasih, Kau Purnama


Malam ini purnama, kekasih

Sebagaimana hati menghamba padamu

Semua mahluk tunduk dan khusyuk

Menyambut kedatanganmu Ya Habubullah


Ya Nabi, Salam 'Alaika

Ya Rasul, Salam 'Alaika

Ya Habib, Salam 'Alaika

Sholawatullah 'Alaika


Al Musthofawiyah, 101222


Sunyi


Sesekali takbir penguasa malamMu yang terdengar

Mataku masih terjaga

Mengenang dosa yang tak pernah memberi jarak

Antara alfa dan detak yang masih terjaga


Ya Allah

Semoga

Pintu maaf dan taubatMu selalu terbuka


Namen, 181222


Tafakkur


Fisik meronta

Netra menyala

Bibir, qalbu, dan denyut nadi terus berdzikir

Masihkah esok waktu untukku? 



Namen, 181222


Malam Lelaki Paruh Baya


 Di tengah malam, 

Seorang lelaki masih terjaga

Ia tengah gundah, akan dunia yang masih belum jelas untuknya

Akhirat pun, bekalnya belum seberapa


Lelaki paruh baya itu pun mencoba mengakhiri cerita, 

memejamkan mata, dengan harap lupa segala

Justru ia kian bimbang

Antara nafsu dunia dan akhirat yang sama-sama jauh dari jangkauannya

"Ah, sudahlah. Sami'na waato'na saja pada-Nya," demikian doanya.


Namen, 181222


IBUKU


Ibu adalah pejuang kehidupan sejati. 

Jauh sebelum kita nampak pada rahimnya

telah ia korbankan cinta, kasih, dan sayang

untuk sosok yang rupanya banyak membangkang


Al-Maujud, 231222

Share:

Friday, May 12, 2023

Alasan Habib Umar bin Salim bin Hafidz Tidak Memperbolehkan Menaruh HP di Saku Baju!

 

Foto Pexels. Its


Pada suatu ketika, entah kesekian berapa kalinya aku ikut mengawal Abah dalam mensyiarkan dakwah Islam di kampung nun jauh dari keramaian dan hingar-bingar kota. Sejak tidak lagi disibukkan oleh aktivitas pabrik, aku senang mendampingi beliau. Bukan keterpaksaan atau ingin mengambil hatinya, bagiku suatu kesenangan dan memang nyaman berada di dekat beliau, apalagi melakukan hal yang memberi dampak baik juga kemaslahatan.


Jika ikutnya diriku bersama beliau adalah suatu keterpaksaan atau kepura-puraan guna mendapat perhatian, sudah jauh mentalku tumbang. Panas, hujan, bahkan berkali-kali merasakan dinginnya terpaan angin malam. Aku salut dengan beliau yang masih gigih, penuh energik, dan istiqomah dalam pengembaraan syiar dakwah pada usia yang sudah memasuki tahun emas.


Di sini, aku hendak ingin berbagi sesuatu yang menurutku sangat layak untuk dibagikan dan diketahui khalayak ramai. Kelihatannya sangat sederhana, sepele, tapi memiliki dampak yang besar. Sebagaimana hadist mengatakan, sampaikan ilmu walau satu ayat, dan ada pula yang menyatakan; sampaikanlah kebenaran meski itu pahit. Jadi, aku tambahkan; sampaikan kebenaran sesuai dengan pemahaman orang banyak. 


Baca: Dari "Raden Kian Santang" Jadi Candu Sholawat
 

Bukan. Bukan itu yang hendak aku sampaikan. Seperti yang aku katakan pada bait pertama di paragraf ketiga, hal ini simpel dan sepele, tapi memiliki dampak yang besar jika kita terapkan. Apa itu?


Jadi, pada suatu ketika, saat kita sedang berbincang di beranda majelis. Abah pernah berkata kepadaku, agar tidak sembarang menaruh smartphone atau yang lebih dekat dengan sebutan kita; HP. Terutama agar tidak menaruhnya di saku baju atas, yang berada di dekat area dada. Mengutip pesan dari Habib Umar bin Salim bin Hafidz, Tarim, dalam nasihat beliau pernah berpesan agar tidak menaruh HP di saku baju; terutama di dekat area dada. Hal ini dikarenakan di area dada itu ada hati.


Dalam maqala beliau, ujar Abah menuturkan, sembari menikmati secangkir kopi tanpa gula. HP sering kita gunakan untuk hal-hal yang banyak mudharatnya (tidak baik atau tidak bermanfaat); banyak digunakan untuk kemaksiatan. Contohnya saja dalam era yang semakin canggih ini saja, jari kita sangat mudah untuk berjulid ria, ya kan! Nah, hal itu juga termasuk maksiat. Belum lagi tayangan-tayangan yang sering berseliweran di layar HP kita, baik itu disengaja atau pun tidak, hal-hal yang tidak layak untuk kita tonton dan lihat, bahkan mungkin banyak aurat lawan jenis yang kita tonton. Dan masih banyak lainnya.


Baca: Tiga Puluh Jam Bersama Habibana 


Mengapa beliau tidak memperbolehkan? Sebab, apabila HP ditaruh di dekat dada, yang mana di situ juga berada dekat letaknya hati. Dikhawatirkan segala keburukan, kejelekan, dan hal-hal mudharat yang kita lakukan dengan smartphone atau HP itu terserap oleh hati kita. Hati kita itu mudah menyerap apa saja. Hal itu dapat membuat hati kita menjadi kotor, hitam, sehingga besar kemungkinannya bisa menjauhkan kita untuk mengingat Allah.


Sepele memang, tapi ada benarnya juga. Sudahlah, jangan diperdebatkan, untuk hal baik sudah seharusnya kita ambil dan petik hikmahnya, lalu terapkan dalam hidup. Jadi, yuk mari, mulai saat ini jangan lagi menaruh HP di saku baju atau kantong yang berhubungan dengan area dada. Selain itu juga, secara ilmu kesehatan memang kurang baik bagi kesehatan tubuh. 


Wallahu alam. Salam. Pecandu Sastra.


Baca: Pentingnya Menata Niat
 

Konten ini telah tayang di Kompasiana pada Mei 2023.

Share:

Thursday, February 23, 2023

Pentingnya Menata Niat

Dokpri


Ada sebuah kisah yang sangat menyentuh, perihal pentingnya menata niat dalam hal apapun itu. Kisah ini diceritakan oleh guru kami, Habibana Sayyid Mustofa bin Usman bin Yahya, Pimpinan Majelis Ta'lim Al-Musthofawiyah Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat - saat mengawal beliau ziarah ke waliyullah di Gunung Gambir, Cianjur, beberapa hari lalu.


Sembari jagongan, menikmati kudapan buah rambutan dan mineral yang disajikan Kang  Karim di gubuk beliau yang rindang, ditemani sejuknya sepoi angin khas pegunungan. Beliau, Habib Mustofa berkisah.


Ada seorang santri yang bersilaturahmi ke rumah salah satu ajengan, ia membawa buah pisang. Sedari rumah ia sudah berniat untuk menyambung silaturahmi, sama sekali tidak ada niat lain.


Ajengan ini terkenal darmawan, ramah, dan baik. Baginya siapapun tamu harus dijamu dan diperlakukan dengan baik. Setiap tamu tidak boleh pulang dengan tangan kosong. Ajengan itu bingung hendak membalas buah tangan santri tersebut, sebab di rumahnya tidak tersedia apa-apa. Setelah ia mencari dan memperhatikan sekitar, ia terpana dengan anak kambing miliknya, hanya itu satu-satunya yang bisa ia berikan. Akhirnya diberikan lah anak kambing tersebut sebagai pengganti buah tangan si santri.


Baca: Santri Ganteng yang Disangka Teroris


Melihat hal tersebut, tetangga ajengan itu pun tertarik. Ia langsung berpikir, jika ia turut silaturahmi dan membawa buah tangan, maka ia akan mendapatkan balasan juga. Dirinya berspekulasi, jika santri datang membawa buah pisang dan diberi kambing, lantas bagaimana jika ia datang membawa kambing, pasti akan dibalas dengan sapi.


Singkat cerita, datanglah tetangga ajengan tersebut dengan membawa seekor kambing. Mereka berbincang-bincang dan menikmati kudapan. Tiba saatnya waktu berpisah, si ajengan bingung mau ngasih tetangganya apa. Dan, ia ingat bahwa kemarin dikasih pisang, masih utuh. Akhirnya tetangganya tersebut dikasih pisang sebagai ganti kambing yang dibawa tadi. Orang tersebut kecewa sebab tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.


Dari kisah di atas kita bisa menyimpulkan, bahwasanya penting untuk menata niat dalam hal apapun. Jangan karena menginginkan sesuatu yang berlandaskan nafsu, niat menjadi rusak, sebagaimana tetangga ajengan berniat silaturahmi karena melihat seorang santri yang datang membawa pisang dan pulang dengan seekor kambing. Berharap jika ia datang membawa kambing, maka akan dibalas dengan seekor sapi. Sapi tidak didapat, justru kekecewaan. Semoga para pembaca budiman lebih bijak dan lebih baik lagi dalam menata niat, Aamiin.


Baca juga:

       • Masihkah Cinta di Wayka?

       • Hikmah | Bersedekah Dengan Cara Bersedekah 

       • Dengan Tekad dan Basmallah 

Share:

Wednesday, February 22, 2023

Tiga Puluh Jam Bersama Habibana

Kenangan Habibana dan Abah serta rombongan. Foto Pecandu Sastra. Dokpri


 Jum'at itu menjadi pembuka perjalanan yang mengesankan. Nabastala biru menghampar semesta sore, perlahan mulai memudar. Segera usai berdzikir aku telah bersiap menemani Abah dan jamaah memenuhi undangan majelis peringatan Isra' Mi'raj di salah satu desa di bagian Bogor Timur.


Abah, demikian aku memanggil laki-laki yang tengah berusia 50 tahun itu. Seorang pendakwah yang begitu istiqomah, gigih, penyabar, dan sangat mencintai ilmu.


Beberapa bulan belakang, aku kerap menemani beliau berdakwah di desa tersebut, sepekan sekali. Tak peduli gerimis, hujan, dingin, ataupun panasnya cuaca, lelah setelah beraktivitas sekalipun, beliau terus istiqomah tanpa absen. Kecuali uzur yang mendesak. Hal tersebut yang menjadi salah satu yang aku kagumi dari sosok Abah.


Sore itu, rombongan dijadwalkan berangkat sebelum maghrib. Dikarenakan perjalanan yang cukup memakan waktu, apalagi hari kerja, jam-jam segitu adalah puncak macetnya lalu lintas. Orang-orang lalu-lalang setelah seharian beraktivitas. Aku tidak ikut gabung bersama rombongan kali itu, Abah meminta agar aku menemani pihak panitia guna menjemput Habaib (guru beliau) yang dijadwalkan mengisi ta'lim malam itu. Biasanya, kalau berangkat selalu bareng Abah dan rombongan. Sebab Abah yang memerintah, aku sami'na wa athona dengan beliau.


Singkat cerita, setelah kurang lebih tiga puluh menit menembus padatnya lalu lintas, kami pun tiba di kediaman Habib Musthofa. Karena waktu maghrib telah berjalan dan awan hitam kian mengebul di langit Citeureup, aku dan pihak panitia segera bersuci-mendirikan shalat di pelataran majelis milik Habib. Selepas itu kita berbincang sebentar dan bergegas melanjutkan perjalanan.


Hujan deras tepat turun setelah kami menunaikan shalat maghrib. Karena perjalanan akan menempuh waktu dua hingga tiga jam, kami pun bergegas berangkat. Rintik hujan kian deras melepas kerinduan di bumi Citereup, aku berbisik pada Bang Obay, apakah di mobil ada payung, sayangnya tidak! Sembari berpikir mencari solusi, aku bergegas menuju parkiran-mengangkut barang-barang yang akan dibawa. Sesekali memerhatikan rumah warga sekitar. Namun sepi yang didapat, semua tertutup rapi. Lagi pula belum tentu ada yang mau membukakan pintu untukku, apalagi meminjamkan payung. Selain cuaca yang hujan, juga aku kan orang asing (bukan penduduk setempat).


Seketika hatiku berdesir, menangis, air mata jatuh tak terasa bersama rintik hujan, melihat pemandangan yang mencekam ulu hati. Bagaimana tidak, beliau (para habib) basah kuyup menebas hujan yang deras menuju parkiran. Hatiku bergeming; Ya Rabb, maafkan aku, aku bersalah, telah membiarkan guruku kehujanan. Keturunan kekasihMu basah kuyup. Maafkan aku Ya Rabb. Segera aku bergegas menghampiri Habib, mengambil tas yang beliau bawa dan membukakan pintu mobil. Tidak peduli deras hujan kian membasahi tubuh, jika Habib basah kuyup, aku pun harus lebih.


Perjalanan malam ditemani dingin dan derasnya hujan. Membuat tubuh gigil dan mengundang kantuk. Aku berusaha terjaga. Sekira pukul dua puluh dua waktu Indonesia bagian barat,kami tiba di Desa Nameng, istirahat melepas penat sejenak di kediaman Bang Joni (shohibul wilayah) sembari menikmati kudapan, menghangatkan badan.


Baca: Ramadhan Rindu Bersama Guru


Lantunan sholawat Tholaal Badru menggema diiringi tabuhan hadrah menyambut kedatangan yang mulia, Habibana Musthofa dan rombongan. Aku ikut mengiring di bagian belakang. 


Usai menyampaikan mauidatul khasanah, Habib dan rombongan kembali ke rumah shohibul wilayah, santapan jasmani dan bincang-bincang. Tidak begitu banyak hal yang aku tangkap dari materi yang beliau sampaikan, karena penyampaian lebih banyak memakai bahasa daerah; Sunda. Di mana aku hanya mengerti sangat-sangat sedikit, lebih banyak tidak mengertinya. Doaku selalu; semoga Allah memberikan pemahaman kepadaku terhadap yang baik-baik. Aamiin.


Usai santap malam, jamaah rombongan Majelis Ta'lim Al-Maujud pamitan-balik kanan. Aku menyengaja tidak ikut pulang bareng rombongan. Selain bertugas mengawal Habib, sedari rumah memang sudah berniat untuk mengawal sampai tuntas, apalagi Abah juga tidak pulang dan beliau pula sudah berpesan agar aku pulang belakangan. Bagiku, Abah adalah orang tua, bukan sekadar guru, jadi samina wa atona dengan beliau. 


Kesempatan ini tentu tidak aku sia-siakan, sangat jarang bisa bersama Habib dan dekat (mengawal) beliau. Tidak semua orang bisa, apalagi untuk orang yang sepertiku; banyak salah, khilaf, dan dosa. Semoga berkah dari mengawal beliau-beliau, para keturunan manusia yang agung, yang insyaallah kita semua mengidolakannya; Habibana wa Nabiyuna Muhammad SAW. Semoga dengannya Allah mengampuni segala salah, khilaf, dan dosaku, Aamiin. 


Jika ditanya apakah bangga? Tentu, kebanggaan dan kebahagiaan itu tidak bisa diungkap dengan kata-kata. Sekalinya mengawal Habib, langsung tiga; Habib Musthofa bin Usman bin Yahya, Habib Hamid Al-Kaff, dan Habib Sholeh. Siapa yang tidak bangga dan senang hatinya, bisa duduk bersama, memandang wajahnya secara lama. MasyaAllah.


Baca: Konbes dan Rakernas Persatukan Ukhuwah
 

Meski kantuk kian berat, aku berusaha tetap terjaga. Bagiku pantang rebahan sebelum Habib terlebih dulu istirahat. Sebagai pengawal, masa tumbang lebih dulu! Di tengah pekatnya malam, kopi hitam tanpa gula menjadi andalan. Dan malam itu larut sampai pukul dua dini hari.


Kekuatan Al-Fatihah dan Doa


Rasanya, rasa syukur harus terus bertambah. Sangat beruntung gusti Allah pertemukan diri ini dengan orang-orang shalih. Jika bukan wasilah manut dawuh Abah, mungkin aku nggak akan bisa sedekat dan akrab dengan para habib, sebagaimana malam ini. Tentunya pula atas izin-Nya Sang Khalik.


Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari para guru. Benar apa yang Abah pernah katakan, banyak pelajaran yang bisa diambil dari orang-orang shalih. Tidak hanya dari bicaranya, bahkan dari cara mereka duduk, berdiri sekalipun bisa menjadi pelajaran. Tergantung dari sudut mana kita mengambil hikmahnya.


Alhamdulillah, pagi-pagi menemani beliau-beliau ngopi sembari bincang santai, dilanjutkan dengan sarapan pagi. 


Pagi itu kita melanjutkan perjalanan ke Gunung Gambir yang terletak di antara perbatasan salah satu desa di Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Bogor dengan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Sudah tiga kali aku berniat ke sini sejak Abah bercerita tentang wilayah tersebut, namun selalu gagal. Setelah aku benar-benar berniat dengan wasilah Al-Fatihah dan doa, Alhamdulillah pagi ini Allah beri kesempatan.


Bersama rombongan, Habib Musthofa mengawali ziarah maqam di wilayah setempat. Pertama kita ziarah ke makam Syaikh Jabaranta, tidak ada yang begitu paham akan sosok tersebut. Namun, menurut pengetahuan dan wawasan, serta sejarah yang Habib Musthofa telusuri, tidak ada yang memiliki nama Syaikh Jabaranta selain Syaikh Siti Jenar. Perihal itu benar atau tidak makamnya beliau, ya wallahu alam.


Ada sesuatu yang aneh menurutku, diakhir doa setelah ziarah di makam Syaikh Jabaranta, aku mencium wangi bunga, entahlah bunga apa itu, begitu jelas tercium wanginya. Padahal, diantara kita saat itu tidak ada yang memakai parfum dengan aroma tersebut.  Bahkan tidak hanya aku yang menciumnya, hampir kita semua menciumnya. Hal ini aku ketahui saat berbincang-bincang bersama rombongan usai kita ziarah, kala berteduh di gubuk Kang Karim sembari menikmati buah Rambutan ditemani sepoi angin menjelang sore. Ada tiga makam yang kita ziarahi kala itu; Makam Syaikh Jabaranta, Eyang Haji Surya Padang, dan Ki Tubagus Yusuf.


Di makan Eyang H Surya Padang


Ziarah Makam Syaikh Jabaranta


Malam menjelang ditemani gerimis yang kian melepas rindu. Adzan maghrib berkumandang dari gubuk tempat kita berteduh. Teduh, nyaring, kumandang adzan yang dilantunkan Habib Hamid Al-Kaff menggetarkan hati, masyaAllah suara beliau merdu, ditambah dengan nada khas Kota Makkah, semakin menggetarkan qalbu dan membuat rindu kian tumbuh dalam hati pada kota tersebut. Semoga suatu hari bisa memijakkan kaki di negeri Nabi bersama Mama, keluarga, dan para guru.


Baca: Terima Kasih Untuk Waktu yang Lupa Aku Syukuri
 

Dari beberapa kali kita berjamaah dalam shalat, ada sesuatu yang bagiku istimewa, dari mengimami shalat hingga berdoa. Di sini para habaib saling tunjuk siapa yang mengimami shalat dan siapa-siapa yang memimpin doa. Dari yang aku tangkap, hal ini merupakan suatu penghormatan atau saling menghormati atara sesama dan agar semuanya mendapatkan pahala. Juga, kita tidak tahu di antara yang berdoa entah doa siapa yang Allah kabulkan. Oleh karenanya setiap berdoa saling bergantian yang memimpin. Masya Allah sekali memang ya orang-orang shalih.


Malamnya kita ta'lim bersama, menyenandungkan Maulid Burdah. Meski hujan dan berada di tengah hutan, masyaAllah, jamaah yang hadir ramai, gubuknya penuh dan padat. Dingin cuaca pegunungan ditambah angin pasca hujan, sama sekali tidak menyurutkan semangat. 


Majelis usai sekira pukul sepuluh malam, dilanjutkan santapan jasmani bersama. Seperti kemarin, malam ini aku pun tetap terjaga. Meski rasa kantuk sisa semalam belum terbayarkan, lelah hari ini sama sekali tidak terasa. Sebenarnya badan sudah mendemo untuk merebah. Tapi, hati selalu menguatkan; sabar, jangan dulu, masa pengawal tumbang duluan. Dan, akhirnya rebahan bisa dirasakan pada tengah malam, setelah para Habaib dan Abah istirahat. 


Setengah dua dini hari kita terbangun dari lelap. Usai qiyamullail, akhirnya kita pun berpisah. Rombongan para habaib diantarkan oleh pihak panitia, kita ikut mengantarkan sampai depan. Entahlah, tiba-tiba hatiku gundah, ada rasa sedih datang melanda bersamaan taat kala melepas para guru kami pulang menuju rumah. Air mata jatuh tak tertahan, namun senyum tetap harus terangkai.  Saat mencium tangan beliau-beliau, dalam hati membatin, berdoa kepada Allah, agar guru-guru kita dijaga oleh-Nya dan Ia pertemukan kita kembali. Kita berjumpa atas-Nya, karena-Nya, dan oleh-Nya. Kita berpisah untuk bersua kembali.


Terima kasih Ya Allah tiga puluh jam bersama Habibana. Bersua, bercengkrama, menemani Syuriyahnya kekasih-Mu, Habibana wa Nabiyana Muhammad saw., semoga beliau-beliau, guru kami menjadi saksi bagi kami di hadapan kakeknya kelak.

Share:

Latest in Tech

Cendekia Al Azzam | Pecandu Sastra©2025. Powered by Blogger.

Pelayan Setia di Majelis Cahaya | Puisi

Ilustrasi dibuat oleh kecerdasan buatan (AI)/Gemini.    Sering kali, di sepertiga malam terakhir saat alam semesta tenggelam dalam kehening...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Blog Archive

Home - Recent Posts (show/hide)

Home - PageNavi (show/hide)

Random Posts

Recent Posts

Labels

Blog Archive